Bab 4: Skrining Massal dan Ujian Pertama

Ketegangan di dalam auditorium Universitas Nusantara malam itu terasa begitu pekat, seolah-olah udara telah berubah menjadi gelondongan timah yang siap meremukkan siapa saja di bawahnya. Tatapan mata Aditia Pramono, sang perwakilan Kementerian Pertahanan, masih terpaku ke arah sudut belakang—tepat di mana Arkana Wijaya berada. Sepasang mata tajam itu menyipit, memancarkan rasa curiga yang mendalam. Sebagai seorang yang telah berhasil memaksakan dirinya masuk ke pertengahan ranah Body Tempering melalui metode eksperimental pemerintah, Aditia memiliki kepekaan sensorik yang jauh melampaui manusia biasa.

​Semalam, radar pemantau energi spiritual milik kementerian mendeteksi adanya lonjakan Qi murni yang sangat masif di radius satu kilometer dari kampus ini. Dan barusan, intuisi bertarungnya menangkap sekelebat riak energi yang sangat murni dari arah kerumunan mahasiswa di belakang.

​Namun, Arkana bukanlah pemuda amatir yang mudah panik. Menggunakan ketenangan jiwa yang diwariskan oleh sang Kaisar Abadi, ia segera menarik napas dalam-dalam secara teratur. Di dalam sistem meridiannya, Arkana dengan cepat memanipulasi aliran energi hangat yang baru terbentuk semalam. Ia memaksa energi tersebut untuk mundur dari permukaan kulitnya, lalu menekannya dalam-dalam hingga bersembunyi di balik sumsum tulang belakangnya yang paling dalam.

​Ketika Aditia mencoba menyapu pandangannya sekali lagi untuk mengunci target, riak energi misterius itu telah hilang tanpa bekas. Pria berjas abu-abu itu mengernyitkan dahi, merasa sedikit frustrasi.

​"Mungkin hanya ilusi dari sisa kelelahan semalam," gumam Aditia sangat pelan, hampir tidak terdengar bahkan oleh dosen di sampingnya. Ia akhirnya mengalihkan pandangan dan kembali memegang mikrofon. "Petugas medis dan keamanan akan segera memasuki ruangan. Saya harap semua mahasiswa bekerja sama demi kelancaran proses skrining ini."

​Begitu Aditia menurunkan mikrofonnya, pintu ganda auditorium terbuka lebar dengan suara dentuman keras. Belasan petugas berpakaian pelindung taktis lengkap—mirip kombinasi antara pakaian hazmat medis dan rompi antipeluru militer—melangkah masuk dengan teratur. Mereka membawa beberapa koper metalik berukuran besar yang langsung diletakkan di atas meja-meja panjang di depan panggung.

​Ketika koper-koper itu dibuka, mereka mengeluarkan perangkat elektronik berbentuk tongkat ramping hitam dengan ujung berupa kristal sintetis yang memancarkan cahaya biru neon redup. Di bagian pegangannya, terdapat layar digital kecil yang terus berkedip menampilkan angka-angka fluktuatif.

​"Gila... itu Aura-Meter generasi terbaru yang masih prototipe," bisik Dani di sebelah Arkana, matanya melebar menatap perangkat tersebut. Sebagai mahasiswa Teknik Informatika yang sering meretas forum teknologi militer bawah tanah, Dani tahu beberapa rahasia. "Alat itu dibuat buat ngukur tingkat kepadatan radiasi energi di dalam tubuh manusia. Ka, kalau kita ketahuan punya adaptasi tinggi, kita beneran bakal diseret ke lab militer?"

​Arkana menatap alat-alat tersebut dengan mata menyipit. Di dalam kepalanya, memori kuno Kaisar Abadi memberikan analisis yang jauh lebih akurat daripada pengetahuan teknologi Dani. Kristal di ujung tongkat itu adalah batu roh kualitas rendah yang dipotong secara paksa dan dihubungkan dengan sirkuit siber, batin Arkana menganalisis. Alat itu bekerja dengan cara memancarkan gelombang stimulasi Qi tingkat rendah ke tubuh target. Jika tubuh target memiliki jalur meridian yang mulai terbuka atau beradaptasi dengan Qi, batu roh itu akan beresonansi dan menampilkan tingkat persentasenya.

​Sial. Ini adalah masalah besar bagi Arkana. Tubuhnya semalam baru saja melewati proses Body Tempering tingkat pertama yang sempurna. Jika dia ditembak dengan gelombang stimulasi tersebut, resonansi energi spiritual di dalam tubuhnya pasti akan meledak dan membuat alat itu hancur, yang secara otomatis akan membongkar identitasnya sebagai kultivator sejati pertama di dunia modern.

​"Aku harus mencari cara untuk mengelabui alat itu," pikir Arkana, keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.

​Ia segera memejamkan mata, berpura-pura sedang memijat keningnya karena pusing, namun di dalam kesadarannya, ia menyelami lembaran-lembaran cahaya dari Kitab Primordial Kaisar Abadi. Ratusan teknik tingkat tinggi melintas di benaknya, mulai dari teknik membelah bintang hingga teknik menghidupkan orang mati, tetapi semua itu membutuhkan basis kultivasi yang sangat tinggi—minimal ranah Nascent Soul atau Spirit King. Sementara dirinya saat ini barulah seorang pemula di dasar ranah Body Tempering.

​Arkana terus mencari dengan panik, membalik halaman batinnya lebih cepat. Hingga akhirnya, di bagian paling pojok dari Bab Penempaan Tubuh, ia menemukan sebuah teknik tambahan kecil yang ditulis dengan tinta emas redup: Teknik Selubung Debu Fana.

​Teknik ini adalah teknik tingkat rendah yang digunakan oleh para murid sekte kuno di masa lalu untuk menyembunyikan bakat asli mereka dari intaian sekte musuh atau saat melakukan penyamaran di dunia fana. Cara kerjanya adalah dengan menggunakan sedikit Qi untuk mengunci seluruh titik meridian utama, lalu menciptakan sebuah lapisan palsu yang dipenuhi oleh energi mati atau impuritas di bawah permukaan kulit. Bagi mata awam atau alat pendeteksi, tubuh pengguna teknik ini akan terlihat seperti manusia biasa yang memiliki tubuh lemah, berpenyakit, dan sama sekali tidak memiliki bakat kultivasi.

​"Sempurna!" seru Arkana dalam hati.

​Tanpa membuang waktu, saat barisan mahasiswa mulai diatur untuk maju satu per satu, Arkana mulai mempraktikkan teknik tersebut. Ia menggerakkan sisa energi murni di dalam jantungnya, mengalirkan mereka membentuk jaring-jaring tak kasat mata yang mengunci dua belas meridian utamanya. Setelah itu, ia menarik kembali sebagian kecil racun tubuh (impuritas) yang semalam sempat ia bersihkan ke permukaan kulit bagian dalam, menciptakan ilusi bahwa tubuhnya masih dipenuhi oleh polusi modern.

​"Barisan kanan belakang, harap maju ke meja nomor tiga!" suara tegas seorang petugas memecah konsentrasi Arkana.

​Itu adalah barisan tempat duduk Arkana dan Dani.

​Dani menelan ludah dengan susah payah, wajahnya pucat. "Ka, gua duluan ya. Kalau gua gak kembali, tolong bilangin ke nyokap gua kalau gua sayang sama dia."

​"Jangan drama, Dan. Maju aja, lo pasti aman," ucap Arkana sambil menepuk punggung sahabatnya, memberikan sedikit ketenangan batin secara psikologis.

​Dani melangkah maju dengan ragu ke meja nomor tiga. Petugas medis di sana menyuruh Dani berdiri tegak, lalu mengangkat tongkat Aura-Meter dan mengarahkannya ke dada Dani dari jarak sepuluh sentimeter.

​BZZZZT.

​Kristal di ujung tongkat memancarkan cahaya biru terang yang menyelimuti tubuh Dani selama tiga detik. Di layar digital pegangan tongkat, angka-angka bergerak cepat sebelum akhirnya berhenti di sebuah angka: 7.4%.

​Petugas medis itu mengangguk pelan, wajahnya tampak bosan. "Adaptasi rendah, Kelas F (Mortal). Tubuhmu menyerap sedikit partikel secara pasif, tidak ada potensi bahaya struktural. Silakan keluar lewat pintu kiri dan langsung kembali ke rumah masing-masing."

​Dani menghela napas lega yang sangat panjang, seolah-olah beban seratus kilogram baru saja diangkat dari pundaknya. Ia menoleh ke arah Arkana, memberikan isyarat jempol sebelum bergegas berjalan menuju pintu keluar sesuai instruksi.

​"Selanjutnya!" panggil petugas itu.

​Arkana Wijaya melangkah maju dengan tenang. Setiap langkahnya diatur sedemikian rupa agar terlihat sedikit berat dan lesu, mencerminkan citra seorang mahasiswa miskin yang kurang tidur dan sering mengonsumsi mi instan. Namun di dalam tubuhnya, jaring-jaring energi dari Teknik Selubung Debu Fana telah terpasang dengan kokoh, siap menerima hantaman gelombang stimulasi dari alat tersebut.

​Arkana berdiri di depan meja. Di atas panggung, Aditia Pramono tampaknya kembali memperhatikan meja nomor tiga, matanya kembali tertuju pada sosok Arkana yang baru saja maju. Insting tajam Aditia masih belum sepenuhnya menyerah.

​Petugas medis mengangkat tongkat hitam itu, mengarahkannya tepat ke tengah dada Arkana. "Diam dan jangan bergerak."

​BZZZZT!

​Gelombang stimulasi tak kasat mata meletup dari ujung kristal biru, menembus pakaian dan langsung menghantam kulit dada Arkana. Begitu gelombang itu masuk, energi spiritual murni yang tersembunyi di dalam tulang-tulang Arkana langsung bergetar hebat, meronta-ronta ingin keluar untuk menghancurkan energi asing yang berani mengusiknya.

​Jantung Arkana berdegup kencang. Ia harus mengerahkan seluruh kekuatan batinnya untuk menahan gejolak tersebut. "Tetap diam! Jangan bergerak!" perintah Arkana pada energinya sendiri di dalam batin.

​Di bawah permukaan kulitnya, jaring-jaring Teknik Selubung Debu Fana bekerja dengan luar biasa. Gelombang stimulasi dari alat itu menabrak lapisan impuritas buatan Arkana, menyebabkan energi tersebut berputar-putar tanpa arah, seolah-olah tersesat di dalam labirin yang penuh dengan dinding lumpur kotor. Alat pemindai itu tidak mendeteksi adanya resonansi meridian sejati; yang terdeteksi hanyalah penolakan kasar dari tubuh yang dipenuhi racun polusi.

​Layar digital di tongkat pemindai mulai berkedip-kedip tidak teratur. Angkanya melompat dari 1% ke 25%, lalu turun drastis ke 0%, membuat petugas medis itu mengernyitkan dahi bingung. "Eh? Alatnya rusak?"

​Melihat fluktuasi aneh tersebut, Aditia Pramono yang berada di atas panggung langsung menegakkan tubuhnya. Ia melompat turun dari panggung setinggi dua meter dengan gerakan yang sangat ringan, mendarat tanpa suara, dan berjalan cepat menuju meja nomor tiga dengan aura intimidasi yang kuat.

​"Ada apa dengan alatnya?" tanya Aditia dengan suara dingin, matanya menatap tajam ke arah Arkana yang berdiri diam dengan wajah yang berpura-pura ketakutan.

​"Lapor, Pak. Alatnya menunjukkan fluktuasi yang tidak stabil pada mahasiswa ini. Angkanya melompat-lompat sebelum sempat mengunci hasil," jawab petugas medis itu sambil memberi hormat.

​Aditia mengambil alih tongkat Aura-Meter dari tangan petugas tersebut. Ia menatap Arkana dari atas ke bawah, mencoba menembus penyamaran pemuda di depannya dengan menggunakan pandangan energinya sendiri. Namun, berkat keagungan teknik dari Kitab Primordial Kaisar Abadi, apa yang dilihat oleh Aditia hanyalah seorang pemuda kurus dengan struktur tulang yang biasa saja, jalur energi yang tersumbat total oleh racun lingkungan, dan tidak memiliki bakat kultivasi sedikit pun.

​"Biar saya yang periksa sendiri," ucap Aditia dingin. Ia mengarahkan kembali tongkat itu ke dada Arkana, kali ini dengan meningkatkan intensitas output energi pada alat tersebut hingga batas maksimal.

​BZZZZZZZT!

​Cahaya biru dari kristal berubah menjadi biru tua yang pekat, memancarkan suara mendengung yang cukup keras. Energi stimulasi yang jauh lebih kuat menghantam dada Arkana. Arkana merasakan sensasi panas yang menyengat, namun ia tetap mempertahankan fokus mutlaknya pada Teknik Selubung Debu Fana. Lapisan impuritas palsunya menyerap hantaman itu dengan sempurna, mengubah energi stimulasi tersebut menjadi netral sebelum bisa menyentuh meridian aslinya.

​Setelah beberapa detik yang menegangkan, layar digital pada tongkat akhirnya mengeluarkan suara beep panjang dan mengunci sebuah angka tetap: 2.1%.

​Angka 2.1% adalah angka yang sangat rendah, bahkan berada di bawah rata-rata manusia biasa di kota besar. Itu adalah angka yang menunjukkan bahwa tubuh subjek hampir tidak memiliki kemampuan sama sekali untuk beradaptasi dengan energi spiritual baru, alias manusia fana kualitas terendah.

​Aditia Pramono menurunkan tongkat tersebut dengan ekspresi kecewa yang jelas di wajahnya. Rasa curiga dan intuisi yang ia rasakan sejak tadi seolah-olah dipatahkan mentah-mentah oleh hasil digital di tangansnya.

​"Hasilnya hanya dua persen. Dia hanyalah manusia biasa dengan kondisi fisik yang agak buruk akibat polusi kota," ucap Aditia dengan nada meremehkan, mengembalikan tongkat itu kepada petugas medis. Ia menatap Arkana sekali lagi dengan pandangan dingin. "Kamu boleh pergi. Bersihkan tubuhmu, konsumsi makanan yang lebih sehat."

​"Ba... baik, Pak. Terima kasih," jawab Arkana dengan suara yang dibuat sedikit bergetar, berpura-pura lega setelah melewati pemeriksaan ketat. Ia membungkuk hormat sejenak, lalu segera berbalik dan berjalan menuju pintu keluar dengan langkah yang teratur.

​Begitu melangkah keluar dari pintu auditorium dan menghirup udara malam luar yang dingin, Arkana mengembuskan napas panjang. Di dalam tubuhnya, ia perlahan melepaskan jaring-jaring Teknik Selubung Debu Fana, membiarkan Qi murninya kembali mengalir bebas ke seluruh penjuru tubuh untuk memulihkan rasa lelah akibat menahan energi tadi.

​"Sangat dekat," batin Arkana, matanya berkilat di bawah kegelapan koridor kampus. "Dunia luar sudah mulai bergerak dengan cepat. Pemerintah sudah memiliki alat pendeteksi seperti itu, dan mereka aktif memburu siapa saja yang memiliki potensi kultivasi. Aku tidak bisa terus-menerus bersembunyi di kampus jika situasi semakin memburuk."

​Tepat ketika Arkana berjalan mendekati gerbang luar kampus untuk mencari Dani, sebuah suara ledakan keras tiba-tiba terdengar dari arah dalam auditorium yang baru saja ia tinggalkan.

​BOOM!

​Suara kaca-kaca jendela yang pecah berserakan terdengar riuh, diikuti oleh teriakan histeris dari ratusan mahasiswa yang panik. Dari salah satu jendela lantai tiga auditorium, semburan api berwarna merah menyala meletup keluar, menerangi langit malam kampus yang gelap.

​Arkana menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang dengan mata melebar. Di bawah persepsi batinnya yang tajam, ia bisa merasakan sebuah fluktuasi energi spiritual yang sangat liar, kacau, dan tidak terkendali sedang mengamuk di dalam gedung tersebut. Salah satu mahasiswa di dalam tampaknya mengalami fenomena Qi Deviation—kebangkitan energi yang gagal akibat penyerapan pasif yang terlalu drastis hingga membakar jalur meridian dan merusak kewarasan otaknya.

​Era baru yang dibawa oleh kebangkitan energi spiritual ternyata tidak hanya menawarkan kekuatan, tetapi juga membawa kegilaan dan kehancuran massal bagi mereka yang tidak siap. Dan di tengah kekacauan yang baru saja dimulai ini, Arkana tahu bahwa ia harus melatih dirinya jauh lebih keras lagi untuk mencapai ranah selanjutnya: Spirit Gathering.

Episodes
1 ​Bab 1: Warisan di Ujung Senja Modern
2 Bab 2: Penempaan Fisik dan Dunia yang Berubah
3 Bab 3: Aura yang Tersembunyi
4 Bab 4: Skrining Massal dan Ujian Pertama
5 Bab 5: Pusaran Qi dan Langkah Pertama Kultivasi Sejati
6 Bab 6: Ancaman Pertama di Balik Kabut
7 Bab 7: Pemurnian Inti dan Isyarat Bahaya
8 Bab 8: Kilat Perak di Puri Indah
9 Bab 9: Pelarian di Bawah Bayang-Bayang
10 Bab 10: Simpul Spiritual Pelabuhan Tua
11 Bab 11: Bayang-Bayang di Dermaga Sunyi
12 Bab 12: Terowongan Kolonial Kuno
13 Bab 13: Tempat Perlindungan Kuno dan Jejak Sang Kakek
14 Bab 14: Ketenangan di Dalam Badai
15 Bab 15: Rahasia Glodok dan Peta Makam Purba
16 Bab 16: Badai Berkumpul di Sentul
17 Bab 17: Menyusup ke Ruang Makam Purba
18 Bab 18: Amukan Penjaga Akar
19 Bab 19: Altar Ilusi dan Jebakan Formasi Seribu Akar
20 Bab 20: Warisan Kamar Inti dan Terobosan Kilat
21 Bab 21: Pukulan Perak Melawan Pedang Plasma
22 Bab 22: Pengolahan Pil Pertama dan Target Nasional
23 Bab 23: Sinkronisasi Elemen dan Radar yang Bergetar
24 Bab 24: Penyergapan Senyap di Alun-Alun Fatahillah
25 Bab 25: Gempa Politik Siber dan Benih Organisasi Baru
26 Bab 26: Merajut Jaring Rahasia
27 Bab 27: Jebakan Akademis dan Intaian dari Atap
28 Bab 28: Badai di Gunung Salak dan Penyaringan Darah Baru
29 Bab 29: Baptisan Api dan Tatapan dari Puncak Langit
30 Bab 30: Badai yang Berbenturan
31 Bab 31: Riak di Pasar Gelap dan Undangan Berdarah
32 Bab 32: Topeng Asura dan Langkah Pertama di Arena
33 Bab 33: Taruhan Gila dan Intervensi Sang Genius
34 Bab 34: Duel Dua Aliran dan Patahan Pedang Giok
35 Bab 35: Murka Ranah Foundation dan Klaim Sang Kaisar
36 Bab 36: Penyerapan Murni dan Bayang-Bayang Badai
37 Bab 37: Aliansi Dua Sisi dan Baptisan Darah Pertama
38 Bab 38: Badai Kuantum dan Fondasi Abadi
39 Bab 39: Titah Kaisar di Pelabuhan Darah
40 Bab 40: Faksi Kaisar Abadi dan Cetak Biru Baru Jakarta
41 Bab 41: Topeng Baru di Menara Kaca
42 Bab 42: Restrukturisasi Jiwa dan Formula Baru
43 Bab 43: Intrik Naga Hitam dan Jaring Labah-Labah
44 Bab 44: Keajaiban Hijau Giok dan Kepanikan Korporat
45 Bab 45: Perjamuan Berdarah di Atas Awan
46 Bab 46: Harga Sebuah Nyawa dan Tunduknya sang Naga Finansial
47 Bab 47: Tambang Spiritual dan Kebangkitan Faksi Bayangan
48 Bab 48: Operasi Senyap Gunung Gede dan Gema Aliansi Kuno
49 Bab 49: Pertemuan di Batas Kota dan Gerbang Neraka Barat
50 Bab 50: Tarian Bayang dan Kepunahan Aliansi Kuno
51 Bab 51: Hancurnya Puncak Gunung Kuno
52 Bab 52: Gema Pasca-Badai dan Penyamaran Sempurna
53 Bab 53: Transaksi Gelap di Bawah Monumen Besi
54 Bab 54: Invasi Senyap dari Negeri Matahari Terbit
55 Bab 55: Pembaptisan Darah di Marunda
56 Bab 56: Runtuhnya Algojo Neo-Tokyo dan Kepanikan Bawah Tanah Monas
57 Bab 57: Riak Merah dari Neo-Tokyo
58 Bab 58: Amukan Badai di Selat Malaka
59 Bab 59: Ultimatum Sang Kaisar
60 Bab 60: Badai Baru di Horizon Barat
61 Bab 61: Uji Coba Nano-Teknologi di Kaki Gunung Gede
62 Bab 62: Benturan Logika dan Kehampaan Molekuler
63 Bab 63: Mobilisasi Armada Diego Garcia dan Jaringan Pertahanan Jawa
64 Bab 64: Jaring Konduktor Langit
65 Bab 65: Senjata Makan Tuan
66 Bab 66: Penghakiman di Anjungan Hyperion
67 Bab 67: Gejolak di Jantung Krakatau
68 Bab 68: Penjinakan Krakatau dan Akhir Sang Jenderal
69 Bab 69: Invasi Sunyi di Jantung Kromium
70 Bab 70: Takhta Mutlak di Atas Puing Kromium
71 Bab 71: Fajar Baru dan Guncangan Global
72 Bab 72: Benturan Dua Era di Kaki Kerinci
73 Bab 73: Murka dari Langit dan Payung Primordial
74 Bab 74: Jembatan Langit dan Pembalasan Kuantum
75 Bab 75: Tarian Pedang di Ruang Hampa
76 Bab 76: Penetrasi Koridor Perak dan Kegagalan Logika OMNI-2
77 Bab 77: Runtuhnya Singgasana Langit Triumvirat
78 Bab 78: Hujan Bintang dan Kepulangan Sang Asura
79 Bab 79: Konsili Rahasia Para Tetua Kuno
80 Bab 80: Badai Menyapa Dieng
81 Bab 81: Kehancuran Ilusi Kuno
82 Bab 82: Kehancuran Dua Faksi Kuno
83 Bab 83: Sinkronisasi Dieng dan Cetak Biru Nirwana
84 Bab 84: Guncangan Ibu Kota dan Ambang Inti Emas
85 Bab 85: Konfrontasi Selat Sunda dan Fajar Inti Emas Sejati
86 Bab 86: Murka Asura dan Kehancuran Armada Leviathan
87 Bab 87: Guncangan Global dan Langkah Strategis Pertama
88 Bab 88: Mobilisasi Armada Hitam dan Target Pertama benteng Samudra
89 Bab 89: Badai Pengaburan Dan Strategi Kesunyian
90 Bab 90: Pembongkaran Kubah Malice
91 Bab 91: Pendaratan Divisi Bayangan Dan Pembantaian Paladin Kelas Penjaga
92 Bab 92: Konsolidasi Diego Garcia dan Gema Teror ke Dunia Barat
93 Bab 93: Intersepsi Malaikat Jatuh dan Dominasi Ruang Batin
94 Bab 94: Kehancuran Tirani Mekanis dan Pintu Gerbang Laut Merah
95 Bab 95: Terobosan Bab-el-Mandeb dan Runtuhnya Tembok Api Barat
96 Bab 96: Blokade Sinai dan Keputusasaan Terusan Suez
97 Bab 97: Runtuhnya Kunci Suez dan Fajar Mediterania
98 Bab 98: Badai Mediterania dan Armada Hantu Olympia
99 Bab 99: Pembantaian di Selat Sisilia dan Pembebasan Jiwa
100 Bab 100: Pendaratan Marseille dan Invasi Daratan Eropa
101 Bab 101: Eksekusi Protokol Kiamat Siber dan Runtuhnya Garis Pertahanan Rhine
102 Bab 102: Pengepungan Brussels dan Singgasana Panik Euro-Tech
103 Bab 103: Runtuhnya Takhta Barat dan Kehancuran Direktur Agung
104 Bab 104: Konsolidasi Global dan Kepulangan Agung Sang Asura
Episodes

Updated 104 Episodes

1
​Bab 1: Warisan di Ujung Senja Modern
2
Bab 2: Penempaan Fisik dan Dunia yang Berubah
3
Bab 3: Aura yang Tersembunyi
4
Bab 4: Skrining Massal dan Ujian Pertama
5
Bab 5: Pusaran Qi dan Langkah Pertama Kultivasi Sejati
6
Bab 6: Ancaman Pertama di Balik Kabut
7
Bab 7: Pemurnian Inti dan Isyarat Bahaya
8
Bab 8: Kilat Perak di Puri Indah
9
Bab 9: Pelarian di Bawah Bayang-Bayang
10
Bab 10: Simpul Spiritual Pelabuhan Tua
11
Bab 11: Bayang-Bayang di Dermaga Sunyi
12
Bab 12: Terowongan Kolonial Kuno
13
Bab 13: Tempat Perlindungan Kuno dan Jejak Sang Kakek
14
Bab 14: Ketenangan di Dalam Badai
15
Bab 15: Rahasia Glodok dan Peta Makam Purba
16
Bab 16: Badai Berkumpul di Sentul
17
Bab 17: Menyusup ke Ruang Makam Purba
18
Bab 18: Amukan Penjaga Akar
19
Bab 19: Altar Ilusi dan Jebakan Formasi Seribu Akar
20
Bab 20: Warisan Kamar Inti dan Terobosan Kilat
21
Bab 21: Pukulan Perak Melawan Pedang Plasma
22
Bab 22: Pengolahan Pil Pertama dan Target Nasional
23
Bab 23: Sinkronisasi Elemen dan Radar yang Bergetar
24
Bab 24: Penyergapan Senyap di Alun-Alun Fatahillah
25
Bab 25: Gempa Politik Siber dan Benih Organisasi Baru
26
Bab 26: Merajut Jaring Rahasia
27
Bab 27: Jebakan Akademis dan Intaian dari Atap
28
Bab 28: Badai di Gunung Salak dan Penyaringan Darah Baru
29
Bab 29: Baptisan Api dan Tatapan dari Puncak Langit
30
Bab 30: Badai yang Berbenturan
31
Bab 31: Riak di Pasar Gelap dan Undangan Berdarah
32
Bab 32: Topeng Asura dan Langkah Pertama di Arena
33
Bab 33: Taruhan Gila dan Intervensi Sang Genius
34
Bab 34: Duel Dua Aliran dan Patahan Pedang Giok
35
Bab 35: Murka Ranah Foundation dan Klaim Sang Kaisar
36
Bab 36: Penyerapan Murni dan Bayang-Bayang Badai
37
Bab 37: Aliansi Dua Sisi dan Baptisan Darah Pertama
38
Bab 38: Badai Kuantum dan Fondasi Abadi
39
Bab 39: Titah Kaisar di Pelabuhan Darah
40
Bab 40: Faksi Kaisar Abadi dan Cetak Biru Baru Jakarta
41
Bab 41: Topeng Baru di Menara Kaca
42
Bab 42: Restrukturisasi Jiwa dan Formula Baru
43
Bab 43: Intrik Naga Hitam dan Jaring Labah-Labah
44
Bab 44: Keajaiban Hijau Giok dan Kepanikan Korporat
45
Bab 45: Perjamuan Berdarah di Atas Awan
46
Bab 46: Harga Sebuah Nyawa dan Tunduknya sang Naga Finansial
47
Bab 47: Tambang Spiritual dan Kebangkitan Faksi Bayangan
48
Bab 48: Operasi Senyap Gunung Gede dan Gema Aliansi Kuno
49
Bab 49: Pertemuan di Batas Kota dan Gerbang Neraka Barat
50
Bab 50: Tarian Bayang dan Kepunahan Aliansi Kuno
51
Bab 51: Hancurnya Puncak Gunung Kuno
52
Bab 52: Gema Pasca-Badai dan Penyamaran Sempurna
53
Bab 53: Transaksi Gelap di Bawah Monumen Besi
54
Bab 54: Invasi Senyap dari Negeri Matahari Terbit
55
Bab 55: Pembaptisan Darah di Marunda
56
Bab 56: Runtuhnya Algojo Neo-Tokyo dan Kepanikan Bawah Tanah Monas
57
Bab 57: Riak Merah dari Neo-Tokyo
58
Bab 58: Amukan Badai di Selat Malaka
59
Bab 59: Ultimatum Sang Kaisar
60
Bab 60: Badai Baru di Horizon Barat
61
Bab 61: Uji Coba Nano-Teknologi di Kaki Gunung Gede
62
Bab 62: Benturan Logika dan Kehampaan Molekuler
63
Bab 63: Mobilisasi Armada Diego Garcia dan Jaringan Pertahanan Jawa
64
Bab 64: Jaring Konduktor Langit
65
Bab 65: Senjata Makan Tuan
66
Bab 66: Penghakiman di Anjungan Hyperion
67
Bab 67: Gejolak di Jantung Krakatau
68
Bab 68: Penjinakan Krakatau dan Akhir Sang Jenderal
69
Bab 69: Invasi Sunyi di Jantung Kromium
70
Bab 70: Takhta Mutlak di Atas Puing Kromium
71
Bab 71: Fajar Baru dan Guncangan Global
72
Bab 72: Benturan Dua Era di Kaki Kerinci
73
Bab 73: Murka dari Langit dan Payung Primordial
74
Bab 74: Jembatan Langit dan Pembalasan Kuantum
75
Bab 75: Tarian Pedang di Ruang Hampa
76
Bab 76: Penetrasi Koridor Perak dan Kegagalan Logika OMNI-2
77
Bab 77: Runtuhnya Singgasana Langit Triumvirat
78
Bab 78: Hujan Bintang dan Kepulangan Sang Asura
79
Bab 79: Konsili Rahasia Para Tetua Kuno
80
Bab 80: Badai Menyapa Dieng
81
Bab 81: Kehancuran Ilusi Kuno
82
Bab 82: Kehancuran Dua Faksi Kuno
83
Bab 83: Sinkronisasi Dieng dan Cetak Biru Nirwana
84
Bab 84: Guncangan Ibu Kota dan Ambang Inti Emas
85
Bab 85: Konfrontasi Selat Sunda dan Fajar Inti Emas Sejati
86
Bab 86: Murka Asura dan Kehancuran Armada Leviathan
87
Bab 87: Guncangan Global dan Langkah Strategis Pertama
88
Bab 88: Mobilisasi Armada Hitam dan Target Pertama benteng Samudra
89
Bab 89: Badai Pengaburan Dan Strategi Kesunyian
90
Bab 90: Pembongkaran Kubah Malice
91
Bab 91: Pendaratan Divisi Bayangan Dan Pembantaian Paladin Kelas Penjaga
92
Bab 92: Konsolidasi Diego Garcia dan Gema Teror ke Dunia Barat
93
Bab 93: Intersepsi Malaikat Jatuh dan Dominasi Ruang Batin
94
Bab 94: Kehancuran Tirani Mekanis dan Pintu Gerbang Laut Merah
95
Bab 95: Terobosan Bab-el-Mandeb dan Runtuhnya Tembok Api Barat
96
Bab 96: Blokade Sinai dan Keputusasaan Terusan Suez
97
Bab 97: Runtuhnya Kunci Suez dan Fajar Mediterania
98
Bab 98: Badai Mediterania dan Armada Hantu Olympia
99
Bab 99: Pembantaian di Selat Sisilia dan Pembebasan Jiwa
100
Bab 100: Pendaratan Marseille dan Invasi Daratan Eropa
101
Bab 101: Eksekusi Protokol Kiamat Siber dan Runtuhnya Garis Pertahanan Rhine
102
Bab 102: Pengepungan Brussels dan Singgasana Panik Euro-Tech
103
Bab 103: Runtuhnya Takhta Barat dan Kehancuran Direktur Agung
104
Bab 104: Konsolidasi Global dan Kepulangan Agung Sang Asura

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!