Episode 2

Bab 2

Kembali ke Jakarta

Lima tahun setelah angka merah itu membuat Bagus Permadi kehilangan napas, Nikita kembali menginjak Jakarta dengan koper hitam di satu tangan dan seorang anak perempuan kecil di sisi lainnya.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta Terminal 3 ramai seperti biasa. Suara roda koper bergesekan dengan lantai, pengumuman penerbangan berganti-ganti di pengeras suara, aroma kopi dari kafe dekat pintu kedatangan bercampur dengan wangi parfum orang-orang yang baru turun dari pesawat.

Nikita berjalan di antara keramaian itu dengan langkah tenang. Rambut hitamnya diikat rendah. Kemeja putih polos dan celana panjang hitam membuatnya terlihat sederhana, tetapi ada jarak tak terlihat yang membuat orang-orang refleks menyingkir saat ia lewat.

Di sampingnya, Sisi tidak bisa diam.

"Mami, itu pesawatnya besar banget! Kalau Sisi berdiri di atas sayapnya, bisa lihat rumah kita nggak?"

Nikita menunduk. Wajah dinginnya melembut setipis napas.

"Kalau kamu berdiri di atas sayap pesawat, Mami yang pertama kena serangan jantung."

Sisi langsung menutup mulut dengan dua tangan kecilnya, lalu tertawa. Gaun kuning lembutnya bergerak-gerak setiap kali ia melompat kecil. Rambutnya diikat dua dengan pita putih, matanya bulat dan cerah, seperti Jakarta tidak pernah punya debu, tidak pernah punya luka.

"Berarti Sisi jangan berdiri. Sisi duduk aja. Tapi tetap di sayap."

"Sisi."

"Iya, Mami. Bercanda."

Nikita meremas jemari kecil itu. Lima tahun lalu, ia membawa bayi yang menangis keluar dari rumah Permadi tanpa tahu harus ke mana. Hari ini, bayi itu berjalan di sampingnya, cerewet, sehat, dan terlalu manis untuk dunia yang pernah mencoba membuangnya.

Alasan Nikita pulang bukan untuk bernostalgia.

Lidia, ibu angkat yang pernah benar-benar menyayanginya sebelum meninggal, tidak mati wajar. Laporan lama terlalu bersih, saksi terlalu sedikit, dan Bagus terlalu cepat menikahi Sri setelah pemakaman. Selain itu, asal-usul Sisi masih tertutup kabut. DNA mengatakan mereka ibu dan anak, tetapi lima tahun penyelidikan belum memberi jawaban yang utuh.

Jakarta menyimpan dua utang untuknya.

Kematian Lidia.

Dan kelahiran Sisi.

Ponsel Nikita bergetar.

Nama Satria muncul di layar.

Nikita mengangkat panggilan dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap memegang Sisi.

"Nona, maaf mengganggu. Posisi saham tambang yang kemarin diburu grup itu tiba-tiba digoreng lawan. Kalau kita ikut arus, mereka bisa menjebak dana ritel sampai sore."

Suara Satria di seberang terdengar cepat, tetapi tetap terkendali. Di belakangnya ada ketukan keyboard dan suara orang berbicara pelan.

Nikita melirik papan penunjuk arah di atas kepala. "Kode?"

Satria menyebutkan tiga huruf.

Nikita berhenti sebentar di dekat tiang, matanya menajam seolah melihat grafik yang tidak ada di depannya. Hanya tiga detik.

"Batalkan. Tambah. Angkat."

Di seberang, Satria hening sesaat.

"Dipahami."

"Jangan biarkan mereka tutup di bawah garis tengah."

"Siap, Nona."

Panggilan berakhir. Sisi mendongak penuh rasa ingin tahu.

"Mami ngomong apa tadi? Batalkan, tambah, angkat. Itu mantra?"

"Bukan."

"Kalau Sisi ucapkan, bisa dapat es krim?"

"Tidak."

"Kalau Sisi ucapkan sambil tersenyum?"

Nikita menatap wajah kecil yang sengaja dibuat paling imut sedunia itu. Sudut bibirnya bergerak tipis.

"Nanti setelah sampai hotel."

"Yes!"

Kegembiraan Sisi belum selesai ketika suara teriakan memecah keramaian di sisi kanan aula kedatangan.

Orang-orang berhamburan.

Seorang pria bertubuh besar mengenakan jaket hitam mundur sambil menyeret anak laki-laki kecil. Tangan kirinya mengunci leher anak itu, tangan kanannya memegang pistol yang ditempelkan ke pelipisnya. Wajah pria itu berkeringat deras. Matanya liar. Di belakangnya, beberapa pria berpakaian biasa bergerak hati-hati, tetapi posisi mereka terlalu jelas untuk disebut penumpang biasa.

"Mundur!" teriak pria itu. "Satu langkah lagi, anak ini mati!"

Keramaian berubah menjadi kepanikan. Seorang ibu menjerit. Koper terbalik. Petugas keamanan mengangkat tangan, mencoba menenangkan orang-orang. Papan iklan digital di atas kepala tetap menampilkan promo kartu kredit, terlalu terang untuk suasana yang tiba-tiba mencekik.

Nikita menarik Sisi ke belakang tubuhnya.

"Mami..." Suara Sisi mengecil.

"Pegang koper. Jangan lepas dari tiang ini."

Sisi langsung memeluk gagang koper dengan dua tangan. Bibir kecilnya mengerucut, tetapi ia tidak menangis.

Anak laki-laki yang disandera itu mungkin seusia Sisi. Wajahnya pucat, matanya berkaca-kaca, tetapi ia tidak memberontak. Ada bekas merah di lehernya karena kuncian pria itu terlalu kuat. Di bajunya, pin kecil bertuliskan Hiram miring hampir lepas.

Nikita membaca keadaan dalam satu tarikan napas.

Tiga polisi berpakaian sipil.

Dua pintu keluar.

Jarak dua belas langkah.

Pria itu kidal atau pura-pura kidal? Tidak. Jari telunjuk kanan sudah terlalu kaku di pelatuk. Ia panik, bukan profesional. Orang seperti itu paling berbahaya karena tangannya bisa bergerak lebih cepat daripada pikirannya.

"Naga!" salah satu pria berpakaian sipil berseru. "Lepaskan anak itu. Jalan keluar bandara sudah ditutup."

Nama itu membuat beberapa petugas saling pandang.

Naga. Buronan narkoba yang fotonya beberapa hari terakhir tersebar di berita, pemimpin jaringan kecil yang lari setelah penggerebekan gudang di Tangerang. Nikita pernah melihat wajahnya di laporan yang dikirim Satria, bukan karena ia peduli pada berita kriminal, tetapi karena salah satu aliran dana jaringan itu pernah menyentuh rekening yang sedang ia telusuri.

Naga tertawa serak. "Kalau jalan keluar ditutup, buka! Atau otak anak ini pecah di sini!"

Anak laki-laki itu memejamkan mata.

Di saat yang sama, dada Nikita terasa ditarik sesuatu yang sangat tipis.

Rasa itu datang tanpa alasan. Sama seperti lima tahun lalu ketika ia pertama kali menyentuh jari Sisi di dalam bedong. Asing, tetapi dekat. Tidak masuk akal, tetapi terlalu nyata untuk diabaikan.

Nikita melepas tangan dari koper.

"Mami?" bisik Sisi.

"Tutup mata kalau Mami bilang tutup."

Sisi menelan ludah, lalu mengangguk.

Nikita berjalan.

Tidak cepat. Tidak mencolok. Ia bergerak seperti penumpang yang salah arah, melewati seorang pria yang panik memungut paspornya, lalu berhenti hanya satu langkah di belakang bahu kanan Naga.

Seorang polisi melihatnya. Matanya membesar.

Naga menyadari bayangan di belakangnya setengah detik terlambat.

Nikita menepuk bahunya.

"Pak."

Refleks manusia selalu jujur. Naga menoleh.

Pada detik itulah Nikita bergerak.

Pergelangan tangan yang memegang pistol dipelintir ke luar. Ujung pistol terangkat menjauh dari kepala Hiram. Lutut Nikita menghantam pergelangan kakinya, membuat pusat berat tubuh Naga runtuh. Sebelum pria itu sempat berteriak, satu pukulan pendek masuk tepat ke tulang bawah matanya.

Pistol jatuh.

Nikita menendangnya jauh ke arah polisi.

Naga masih mencoba menarik Hiram, tetapi tangan Nikita sudah menyambar kerah belakang anak itu, mendorong tubuh kecilnya ke belakang, lalu memutar pinggul. Kaki kanannya menghantam dada Naga.

Pria besar itu terlempar ke lantai.

Semuanya terjadi kurang dari sepuluh detik.

Baru setelah polisi menerjang dan memborgol Naga, keramaian seperti ingat cara bernapas. Teriakan pecah. Ada yang menangis. Ada yang mengangkat ponsel. Petugas bandara berlari memblokir orang-orang yang mendekat.

Nikita tidak melihat mereka.

Ia berjongkok di depan Hiram.

Anak laki-laki itu menatapnya. Wajahnya masih putih, napasnya pendek-pendek. Biasanya anak yang baru diselamatkan akan menjerit atau mencari keluarganya, tetapi Hiram hanya berdiri kaku, seolah seluruh tubuhnya belum percaya bahwa bahaya sudah lewat.

"Kamu terluka?" tanya Nikita.

Hiram menggeleng kecil.

"Namamu Hiram?"

Jari kecilnya menyentuh pin di dada, lalu ia mengangguk.

Nikita hendak berdiri, tetapi Hiram tiba-tiba menggenggam ujung lengan bajunya.

Gerakan itu sangat pelan.

Namun cukup membuat mata seorang pria muda di belakang petugas membelalak. Pria itu baru datang berlari, napasnya berantakan, wajahnya tampan tetapi tampak sangat panik.

"Hiram!"

Hiram tidak menoleh. Tangannya tetap memegang baju Nikita.

Nikita merasakan telapak kecil itu dingin. Tanpa berpikir terlalu lama, ia mengangkat Hiram ke dalam pelukannya. Anak itu menegang sebentar, lalu wajahnya pelan-pelan jatuh ke bahu Nikita.

Di belakangnya, Sisi berlari dengan koper yang hampir lebih besar dari tubuhnya.

"Mami! Sisi buka mata sekarang boleh?"

Nikita menahan Hiram dengan satu tangan, lalu meraih Sisi dengan tangan lainnya.

"Boleh."

Sisi melihat anak laki-laki di pelukan Nikita. Matanya langsung melebar.

"Wah, Mami dapat anak baru?"

Beberapa orang yang tegang tanpa sadar tertawa kecil.

Nikita menatapnya.

Sisi cepat-cepat melipat tangan di dada. "Maksud Sisi, Mami menyelamatkan anak baru. Bukan mengambil."

Pria muda yang tadi berlari menghampiri mereka. Usianya pertengahan dua puluhan, matanya masih tertuju pada Hiram dengan kaget bercampur lega.

"Saya Axel," katanya cepat. "Dia Hiram, keponakan saya. Terima kasih. Sungguh, terima kasih."

Nikita menyerahkan Hiram pelan, tetapi anak itu menolak. Tangannya malah mengerat di baju Nikita.

Axel tercengang.

"Hiram..." suaranya melembut. "Kamu mau sama Om Axel, kan?"

Hiram menggeleng nyaris tak terlihat.

Axel menatap Nikita seolah ia baru melihat sesuatu yang tidak mungkin. "Dia... biasanya tidak mau disentuh wanita asing."

Nikita menunduk pada Hiram. "Ayahmu akan datang?"

Sebelum Hiram menjawab, hawa di sekitar mereka berubah.

Bukan karena bandara mendadak sepi. Justru suara di sekitar masih ramai. Tetapi dari arah pintu jalur VIP, beberapa pria berjas hitam bergerak cepat, membelah kerumunan dengan cara yang tidak perlu berteriak. Di tengah mereka, seorang pria tinggi berjalan dengan wajah sedingin kaca.

Tinggi hampir seratus sembilan puluh sentimeter. Setelan gelapnya rapi tanpa satu kerutan. Wajahnya tajam, mata hitamnya menekan seluruh ruangan. Orang-orang yang tadi sibuk merekam langsung menurunkan ponsel tanpa sadar.

Axel menoleh, lalu menghela napas lega.

"Ko Ethan!"

Nama itu jatuh di telinga Nikita seperti nada rendah yang belum punya arti.

Pria itu berhenti beberapa langkah dari mereka. Tatapannya turun ke Hiram yang masih menempel di pelukan Nikita, lalu naik ke wajah Nikita.

Selama satu detik, bandara yang riuh terasa seperti tertahan.

Axel cepat berkata, "Ko, dia yang menyelamatkan Hiram."

Ethan tidak langsung menjawab. Matanya tetap pada Nikita, dingin dan waspada, tetapi di dasarnya ada sesuatu yang lebih tajam dari sekadar curiga.

Axel menelan ludah, lalu menambahkan dengan suara lebih rendah, seolah hanya bicara pada dirinya sendiri, "Aneh sekali... sebelas tahun Ko Ethan mencari gadis berusia tiga belas tahun yang pernah menyelamatkannya, dan hari ini Hiram justru diselamatkan wanita ini."

Nikita mengangkat alis tipis.

Sebelas tahun.

Gadis berusia tiga belas tahun.

Di tengah bandara yang masih kacau, kalimat itu menggantung seperti pintu yang baru terbuka sedikit.

Terpopuler

Comments

Tri Septi

Tri Septi

Nikita bisa bela diri ya 👍

2026-07-30

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
140 Episode 140
141 Episode 141
142 Episode 142
Episodes

Updated 142 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139
140
Episode 140
141
Episode 141
142
Episode 142

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!