Bukan Putrimu, Aku Sudah Jadi Konglomerat

Bukan Putrimu, Aku Sudah Jadi Konglomerat

Episode 1

Bab 1

Surat Pelepasan

Pagi itu, udara Jakarta belum sempat terang, tapi bayi di pelukan Nikita sudah menangis seolah seluruh rumah sedang mengusirnya.

Jam dinding di ruang tamu Keluarga Permadi baru menunjuk pukul enam. Kipas angin tua berputar lambat, tidak cukup mengusir hawa lembap. Di depan Nikita, tiga pasang mata menatapnya seperti ia bukan manusia, melainkan noda yang jatuh di lantai marmer.

Bayi itu menggeliat dalam bedong tipis. Wajahnya merah. Jari-jarinya yang mungil mencengkeram ujung kaus Nikita, seolah hanya kain murah itu yang bisa menahannya dari dunia yang terlalu keras.

Nikita merapatkan bayi itu ke dada.

Lengan kirinya terbuka sedikit ketika ia membenarkan bedong. Di bawah cahaya lampu ruang tamu, bekas luka pucat memanjang di kulitnya terlihat jelas. Tidak menonjol, tidak berdarah, tapi cukup untuk membuat siapa pun tahu bahwa luka itu tidak lahir dari kecelakaan kecil.

"Jadi ini yang kau bawa pulang?" Suara Bagus Permadi terdengar rendah, kasar, penuh jijik. Ia berdiri di depan sofa dengan sarung masih melilit pinggang, rambutnya belum disisir, tapi matanya sudah siap menghakimi. "Anak haram?"

Tangisan bayi itu tersendat. Nikita menunduk, menepuk punggung mungilnya dengan ritme pelan.

"Namanya Sisi," kata Nikita.

"Aku tidak tanya namanya!" Bagus membentak.

Sri Rahayu, yang duduk di sofa dengan daster mahal dan gelang emas di pergelangan tangannya, mencibir. "Baru sembilan belas tahun sudah pulang bawa bayi. Dasar tidak tahu malu. Kalau tetangga dengar, muka kami taruh di mana?"

Di sebelah Sri, Dewi Permadi memeluk bantal sofa sambil tersenyum tipis. Rambutnya tergerai rapi, wajahnya masih halus karena tidur cukup. Ia menatap Sisi seperti melihat barang kotor yang salah masuk rumah.

"Kak Nikita," ucap Dewi manis, terlalu manis untuk pagi sepagi itu, "kalau memang kamu punya masalah, kenapa harus bawa pulang? Kasihan Papa. Kasihan Mama."

Kata "kasihan" dari mulut Dewi membuat jari Nikita berhenti sekejap di punggung Sisi.

Tiga hari lalu, tepat setelah ulang tahunnya yang kesembilan belas, sebuah kotak bayi ditinggalkan di depan kos kecil tempat Nikita biasa tidur setelah kerja paruh waktu. Tidak ada nama pengirim. Hanya ada selembar laporan tes DNA yang dilipat rapi dalam map plastik, satu botol susu, dan bayi perempuan yang menangis sampai napasnya putus-putus.

Di laporan itu tertulis jelas, kecocokan biologis ibu dan anak.

Nikita membaca kalimat itu berulang kali sampai matanya perih. Ibu dan anak. Dia dan bayi ini. Padahal ia tidak pernah hamil. Tidak pernah melahirkan. Bahkan tidak pernah menyerahkan tubuhnya pada laki-laki mana pun.

Namun satu hal jelas. Bayi ini hidup. Bayi ini memegang jarinya. Dan ketika semua orang melihat Sisi sebagai aib, Nikita justru melihat bayi itu sebagai seseorang yang juga dibuang tanpa sempat memilih.

Sama seperti dirinya dulu.

"Pak Bagus," Nikita berkata, suaranya tidak tinggi, "jangan sebut dia begitu."

Bagus tertawa pendek. "Jangan? Kau masih berani melarangku di rumahku sendiri?"

"Kalau Bapak menghina saya, saya diam. Tapi jangan hina bayi ini."

Sri memukul sandaran sofa. "Dengar, Gus? Anak pungut ini sudah mulai mengajari orang tua!"

Kata anak pungut tidak lagi menyakitkan seperti dulu. Tubuh Nikita sudah terlalu hafal menerima pukulan dari kata-kata itu. Yang tersisa hanya rasa dingin di dalam dada, cukup dingin untuk membuatnya berdiri tegak meski semalaman tidak tidur.

Pak Liem, pengurus rumah tua itu, berdiri di dekat pintu lorong. Matanya menunduk. Tangannya yang keriput meremas lap piring. Seperti biasa, ia melihat semuanya, tapi tidak punya tempat untuk bicara.

Bagus menunjuk pintu. "Buang bayi itu. Sekarang. Taruh di panti asuhan, masjid, kantor polisi, mana saja. Aku tidak mau ada anak haram di rumah ini."

Nikita mengangkat wajah.

Untuk pertama kalinya pagi itu, matanya benar-benar menatap Bagus.

"Coba sentuh dia," katanya pelan, "dan saya pastikan Bapak menyesal."

Ruang tamu mendadak senyap.

Bagus tertegun satu detik, lalu wajahnya memerah. "Kau mengancamku?"

"Saya memperingatkan."

Tangan Sri terangkat. Gerakannya cepat, terlalu akrab bagi tubuh Nikita.

Sekejap, usia Nikita seperti terseret mundur ke umur delapan tahun.

Hari itu ia menumpahkan segelas susu milik Dewi. Bukan sengaja. Dewi menyenggol sikunya lebih dulu, lalu menangis sebelum Nikita sempat bicara. Sri mengambil gantungan baju dari kamar belakang. Punggung tangan Nikita dihantam sampai gantungan plastik itu patah. Dewi berdiri di balik kaki meja, memegang gelas baru, lalu menjulurkan lidah kepadanya.

"Anak tidak berguna," kata Sri waktu itu. "Susu Dewi lebih mahal daripada seluruh hidupmu."

Kini, tangan Sri berhenti di udara karena Nikita tidak mundur.

Nikita hanya menatapnya. Tenang. Terlalu tenang.

"Pukul saya," ucap Nikita, "dan pengacara yang saya panggil akan mencatatnya sebagai kekerasan."

Mata Sri membelalak. "Pengacara?"

Seolah menunggu kalimat itu, bel rumah berbunyi.

Pak Liem tersentak. Bagus menoleh tajam. Dewi menegakkan badan, senyumnya menghilang untuk pertama kalinya.

"Pak Liem," kata Nikita, "tolong buka pintu."

Bagus membentak, "Jangan!"

Tapi Pak Liem sudah bergerak. Suara Nikita sederhana, datar, tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat orang tua itu menurut.

Beberapa detik kemudian, seorang pria berkemeja putih masuk membawa map cokelat dan tas dokumen hitam. Ia membungkuk singkat.

"Selamat pagi. Saya pengacara yang dihubungi Mbak Nikita."

"Mbak?" Sri mendengus. "Dia tidak punya uang untuk bayar pengacara. Jangan-jangan kamu teman kampusnya?"

Pria itu tidak terpancing. "Saya datang untuk menjadi saksi penandatanganan dokumen dan memastikan tidak ada paksaan dari pihak mana pun."

Dewi menyipitkan mata. "Dokumen apa?"

Nikita menggeser Sisi ke satu lengan, lalu mengambil map dari tas kain lusuh yang sejak tadi tergantung di bahunya. Map itu tampak terlalu rapi untuk tas yang sudah sobek di bagian bawah. Di atas kertas pertama, huruf tebal terbaca jelas.

Surat Pelepasan Hak.

Bagus merampas kertas itu sebelum pengacara sempat meletakkannya di meja. Matanya bergerak cepat membaca baris demi baris. Wajahnya berubah dari marah menjadi bingung, lalu kembali marah.

"Apa-apaan ini?"

"Surat bahwa saya melepaskan semua hubungan hak dan kewajiban dengan Keluarga Permadi," jawab Nikita. "Saya tidak akan memakai nama Permadi. Saya tidak akan menuntut warisan, nafkah, biaya hidup, atau apa pun dari rumah ini. Sebagai gantinya, Keluarga Permadi tidak punya hak mengatur hidup saya, menjual saya, menikahkan saya, atau mengklaim saya ketika nanti saya berguna."

Kata terakhir jatuh pelan, tapi terasa seperti gelas retak di lantai.

Dewi tertawa kecil, kali ini suaranya dibuat ringan. "Kak, jangan sok dramatis. Tidak ada yang mau menjualmu."

Nikita menoleh kepadanya. "Tidak?"

Dewi mengangkat bahu. "Yah, kalaupun ada, itu demi kebaikanmu. Pak Liem juga tahu, ada Pak Rahmat dari Serpong. Duda, mapan, rumahnya besar. Memang usianya sudah lima puluh lebih, tapi dia bisa menerima perempuan yang... punya masa lalu."

Nikita tidak menjawab.

"Tiga istrinya meninggal karena sakit, bukan karena apa-apa," lanjut Dewi, pura-pura polos. "Kamu harus bersyukur masih ada laki-laki yang mau. Daripada bawa bayi tanpa ayah seperti ini."

Udara di ruang tamu terasa makin lembap. Aroma tanah basah masuk lewat celah jendela.

Bau itu menusuk ingatan Nikita.

Umur lima tahun, hujan turun deras. Ia berdiri di balkon belakang, terkunci dari dalam. Bajunya basah sampai kulitnya menggigil. Di balik pintu kaca, Dewi duduk di pangkuan Sri, memakan kue ulang tahun berkrim merah muda. Nikita mengetuk kaca sampai buku jarinya sakit.

"Mama," panggilnya waktu itu.

Sri hanya menoleh sebentar. "Anak pungut jangan ikut acara keluarga."

Malam itu, Nikita belajar bahwa pintu bisa tertutup dari dalam bahkan ketika orang yang kau panggil ibu berada tepat di baliknya.

Sekarang, pintu yang sama ada di hadapannya. Bedanya, kali ini ia yang memegang kuncinya.

Sri bangkit. "Bagus, jangan dengarkan omong kosongnya. Sebelum pergi, dia harus bayar semua biaya kami membesarkannya. Makan, sekolah, obat, listrik, semuanya. Jangan sampai dia keluar dari rumah ini seolah kami yang jahat."

Bagus langsung menangkap peluang itu. Ia melempar kertas ke meja dan tersenyum menghina. "Benar. Kau mau putus hubungan? Bisa. Bayar dulu biaya membesarkanmu. Dua miliar rupiah."

Dewi menutup mulut, menahan tawa. "Papa, terlalu murah. Tapi untuk Kak Nikita, itu juga mustahil."

Sri melipat tangan di dada. "Kalau tidak sanggup, taruh bayi itu, masuk kamar, dan besok ikut Mama menemui Pak Rahmat."

Sisi menangis lagi, lebih keras. Mungkin lapar. Mungkin takut. Mungkin hanya merasakan dada Nikita yang tiba-tiba menjadi kaku.

Nikita mencium kening bayi itu. Panas tubuh Sisi membuat matanya sedikit perih, tapi tidak ada air mata yang jatuh.

"Pengacara," katanya, "tolong siapkan pasal tambahan. Pembayaran dua miliar rupiah sebagai penyelesaian akhir. Setelah dana diterima, tidak ada tuntutan apa pun dari pihak Permadi terhadap saya dan anak ini."

Bagus tertawa keras. "Dengar dia! Dua miliar, katanya seperti beli gorengan."

Pengacara itu membuka map, mengeluarkan lembar tambahan yang sudah disiapkan. Jelas sekali Nikita telah memikirkan kemungkinan ini sebelum datang.

Tawa Bagus tersendat.

Nikita duduk di kursi tunggal, masih menggendong Sisi. Dengan satu tangan, ia mengambil pena. Tanda tangannya kecil, tegas, tanpa goresan ragu. Setelah itu ia menekan ibu jarinya pada bantalan tinta, lalu membubuhkan cap di atas meterai.

Sri menatapnya seolah melihat orang asing.

"Dari mana kamu belajar semua ini?" bisiknya.

Nikita tidak menjawab. Ia membuka ponsel murahnya. Layarnya retak di pojok kanan, tapi aplikasi m-banking di dalamnya berjalan mulus. Jari-jarinya bergerak cepat memasukkan nomor rekening yang diberikan pengacara sebagai rekening penerima. Nominalnya ia ketik tanpa jeda.

2.000.000.000.

Dewi berdiri. "Tidak mungkin."

Bagus maju satu langkah. "Kau mencuri?"

"Kalau Bapak yakin, silakan lapor polisi," kata Nikita.

Kode OTP masuk. Nikita membacanya sekali, mengetik, lalu menekan tombol konfirmasi.

Beberapa detik yang terlalu panjang berlalu.

Sisi berhenti menangis. Hanya napas kecilnya yang terdengar di sela putaran kipas angin.

Layar ponsel menampilkan notifikasi hijau.

Transfer berhasil.

Pengacara menerima pesan masuk di ponselnya hampir bersamaan. Ia mengecek, lalu mengangguk. "Dana dua miliar rupiah telah masuk ke rekening penyelesaian. Dokumen sah sebagai kesepakatan para pihak, dengan saksi."

Tidak ada yang bicara.

Bagus menatap layar ponsel Nikita seperti angka di sana menampar wajahnya. Sri mencengkeram sandaran sofa sampai buku jarinya memutih. Dewi kehilangan senyum manisnya. Mulutnya terbuka sedikit, tapi tidak ada kalimat yang keluar.

Untuk pertama kalinya dalam sembilan belas tahun hidup Nikita di rumah itu, mereka melihatnya bukan sebagai anak pungut yang bisa disuruh diam.

Mereka melihat celah yang selama ini mereka abaikan.

Nikita melipat salinan surat, memasukkannya ke dalam tas. Salinan lain tetap dipegang pengacara.

"Mulai pagi ini," katanya, "saya bukan anak Keluarga Permadi. Sisi juga tidak ada hubungan apa pun dengan kalian."

Sri tersentak ketika mendengar nama bayi itu disebut sejajar dengan mereka. "Kau akan menyesal, Nikita. Di luar sana, siapa yang mau menerima perempuan dengan bayi tanpa ayah?"

Nikita berdiri. Sisi tertidur lagi, pipinya menempel di dada Nikita, napasnya lembut dan hangat.

"Lebih baik tidak diterima siapa pun," jawab Nikita, "daripada diterima rumah yang setiap hari mengajari saya bahwa kasih sayang harus dibayar dengan darah."

Pak Liem menunduk lebih dalam. Bahunya bergetar sedikit.

Nikita berjalan melewati mereka. Sandal tipisnya menyentuh lantai marmer yang pernah ia pel berkali-kali saat Dewi belajar piano di ruang tengah. Di pintu, ia berhenti sebentar karena Sisi menggeliat.

Ia membetulkan bedong bayi itu, menutupi telinganya dari suara rumah yang tidak pantas menjadi ingatan pertama.

Di luar, langit Jakarta mulai berubah abu-abu muda. Sebuah taksi online berhenti di depan pagar. Sopirnya turun untuk membantu membuka pintu belakang, lalu terdiam ketika melihat bayi dalam pelukan Nikita.

"Ke mana, Mbak?"

Nikita menatap rumah itu untuk terakhir kali.

Tidak ada wajah yang ia rindukan di sana. Tidak ada pelukan yang tertinggal. Hanya pintu, dinding, dan suara masa kecil yang akhirnya berhenti mengejarnya.

"Ke tempat yang aman," katanya.

Pintu mobil tertutup. Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk memutus sesuatu yang selama ini mengikatnya.

Di dalam rumah, Bagus baru tersadar ketika deru mobil menjauh dari pagar.

"Anak itu..." Ia menyambar ponselnya dari meja, wajahnya masih merah antara malu dan marah. "Dua miliar. Dari mana dia punya dua miliar?"

Dewi menggigit bibir. "Papa, jangan-jangan dia punya simpanan lain?"

"Diam!" bentak Bagus.

Ia membuka aplikasi sahamnya dengan tangan gemetar. Sejak semalam ia menunggu pasar bergerak naik. Ada posisi besar yang ia pasang setelah mendengar bisikan dari grup investor. Uang itu seharusnya menjadi jalan pintas untuk menggandakan modal.

Namun begitu layar terbuka, warna merah memenuhi portofolionya.

Satu per satu saham yang ia pegang jatuh dalam, seolah seseorang menarik lantai dari bawah kakinya. Bagus menekan refresh berkali-kali, tapi angka itu tidak berubah. Malah makin buruk.

Sri mendekat. "Gus, kenapa?"

Bagus tidak menjawab. Matanya melekat pada satu angka yang membuat tenggorokannya tercekat.

Angka merah itu berhenti di minus 1,8 miliar rupiah.

Terpopuler

Comments

Tri Septi

Tri Septi

aku mampir thor....ceritanya bagus, semoga sampai ending ya 👍😍🙏

2026-07-30

0

Tri Septi

Tri Septi

misteri "sisi" 😍😍😍 bakal seru nih

2026-07-30

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
140 Episode 140
141 Episode 141
142 Episode 142
Episodes

Updated 142 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139
140
Episode 140
141
Episode 141
142
Episode 142

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!