Episode 5

Bab 5

Orang Tua yang Menangis

Calon tunangan yang tidak diketahui itu masuk ke Hotel Rafaelo Jakarta tanpa menoleh ke belakang.

Suite di lantai teratas sudah disiapkan sebelum Nikita mendarat. Ruang tamunya luas, jendela kacanya menghadap gedung-gedung Jakarta yang berkilau di bawah matahari sore. Sisi langsung melepas sepatu dan berlari ke sofa besar, lalu berhenti sendiri sebelum melompat.

"Mami, sofa ini boleh diduduki anak kecil?"

"Boleh."

"Kalau dilompat?"

"Tidak."

Sisi menarik napas panjang, kecewa tetapi patuh. "Sofa mahal memang tidak seru."

Nikita meletakkan koper di samping meja. Di ponselnya, Satria mengirim satu pesan pendek.

Mereka sudah sampai lobi. Dua orang. Membawa laporan DNA.

Nikita membaca pesan itu tanpa ekspresi. Sejak di mobil, ia sudah tahu mereka akan datang. Orang seperti Kin Surya tidak mungkin menunggu berhari-hari setelah menemukan putri kandung yang hilang dua puluh empat tahun.

Pertanyaannya hanya satu.

Apa yang mereka harapkan dari seorang anak yang sudah terlalu lama hidup tanpa mereka?

Bel suite berbunyi.

Sisi menoleh. "Tamu?"

"Iya."

"Sisi harus sopan?"

"Selalu."

Nikita membuka pintu.

Di luar berdiri sepasang suami istri yang terlalu mudah dikenali bahkan tanpa perkenalan. Pria itu tinggi, berwibawa, rambut hitamnya mulai disisipi abu-abu di pelipis. Setelan jasnya rapi, tetapi matanya merah seperti orang yang berhari-hari tidak tidur.

Di sampingnya, seorang wanita cantik berwajah pucat memegang map putih di dada. Matanya sudah basah sebelum Nikita sempat mengatakan apa pun. Tubuhnya ramping, elegan, tetapi jari-jarinya gemetar kuat sampai ujung map bergetar.

Tan Liana.

Kin Surya.

Nama yang beberapa jam lalu hanya terdengar seperti data, kini berdiri di depan pintu.

"Nikita..." suara Liana pecah.

Nikita tidak mempersilakan mereka masuk segera. Ia berdiri di ambang pintu dengan satu tangan masih memegang handle.

"Ada urusan?"

Wajah Liana seperti baru ditampar oleh kalimat sederhana itu.

Surya menahan napas. Ia jelas sudah menyiapkan banyak kata, tetapi begitu melihat wajah Nikita, semua kalimatnya runtuh.

"Kami..." Surya menelan ludah. "Kami orang tua kandungmu."

Nikita menatapnya. "Saya sudah tahu."

Liana memeluk map itu makin erat. Air matanya jatuh tanpa suara. "Kamu sudah tahu?"

"Beberapa jam lalu."

"Kalau begitu, kamu tahu Mama..."

"Bu Kin," potong Nikita pelan.

Liana membeku.

Panggilan itu sopan. Terlalu sopan. Justru karena sopan, ia terasa lebih jauh daripada pintu tertutup.

Sisi turun dari sofa dan berjalan mendekat. Ia bersembunyi setengah badan di balik kaki Nikita, menatap kedua orang asing itu dengan mata bulat.

Liana melihat Sisi. Dalam sekejap, rasa sakit di wajahnya bertambah lapisan baru.

"Ini..." bisiknya.

"Putri saya," kata Nikita.

Surya menatap Sisi, lalu menunduk sedikit. "Halo."

Sisi menatap Nikita dulu. Setelah ibunya mengangguk, ia menjawab, "Halo, Om. Halo, Tante."

Om. Tante.

Dua kata itu membuat bahu Liana bergetar.

Nikita akhirnya membuka pintu lebih lebar. "Masuk. Lima menit."

Mereka masuk seperti orang yang takut menginjak terlalu keras. Surya duduk di sofa seberang, tetapi Liana tetap berdiri sampai Nikita menunjuk kursi. Setelah duduk, ia segera membuka map putih.

"Ini laporan DNA," kata Liana. Suaranya bergetar. "Kami melakukan tes tiga kali. Dua laboratorium di Jakarta, satu di Singapura. Hasilnya sama. Kamu... kamu anak kami."

Nikita tidak mengambil map itu.

"Saya percaya datanya."

"Tapi kamu belum tahu semuanya," kata Surya. Suaranya berat. "Dua puluh empat tahun lalu, Liana melahirkan di RS Bunda Jakarta. Malam itu hujan deras. Rumah sakit penuh karena ada kecelakaan beruntun. Di waktu yang sama, ada dua wanita hamil yang masuk memakai nama palsu."

Jari Nikita bergerak sedikit.

Sisi duduk di sampingnya, diam tidak seperti biasanya.

Liana menutup mata, seperti setiap kata mengiris tenggorokannya. "Mereka tidak melahirkan di ruang bersalin. Entah bagaimana, keduanya ditemukan di area toilet umum lantai dua. Satu bayi hilang beberapa menit. Satu bayi masuk ke inkubator dengan gelang identitas yang salah. Semua kacau. Semua orang bilang itu kelalaian rumah sakit."

"Tapi bukan kelalaian," kata Nikita.

Surya menggeleng pelan. "Kami baru mulai curiga setelah menemukan catatan lama yang disembunyikan. Ada orang yang sengaja menghapus rekaman CCTV. Ada perawat yang tiba-tiba pindah ke luar negeri. Dan bayi yang kami bawa pulang..."

"Celine," kata Nikita.

Liana menangis lebih keras saat nama itu disebut.

"Kami membesarkan dia sebagai anak kami," bisiknya. "Tapi bukan berarti kami tidak mencarimu. Kami hanya... kami bodoh. Kami terlambat. Kami percaya terlalu lama pada laporan yang salah."

Nikita menatap wanita di depannya.

Ada bagian kecil dalam dirinya yang ingin bertanya, kalau kalian mencari, kenapa aku tetap tumbuh di rumah Permadi?

Namun pertanyaan itu tidak keluar.

Karena apa pun jawabannya, masa kecilnya tidak akan kembali.

Surya tiba-tiba berdiri.

Lalu, di depan Nikita, pria yang disebut kepala Keluarga Kin itu berlutut.

Liana tersentak. "Surya..."

Surya tidak melihat istrinya. Matanya hanya menatap Nikita, merah dan basah.

"Papa minta maaf padamu."

Ruangan itu sunyi.

Sisi menggenggam tangan Nikita kecil-kecil.

Nikita memandang pria yang berlutut di depannya. Jika ini terjadi bertahun-tahun lalu, mungkin ia akan menangis. Mungkin ia akan berlari memeluknya dan bertanya kenapa baru datang.

Tapi usia sepuluh tahun mengajarinya sesuatu.

Hari itu, Bagus membawanya ke sebuah desa kecil di pinggir kota. Katanya hanya mengantar sebentar. Nikita duduk di kursi belakang mobil dengan tas sekolah di pangkuan. Ia tidak tahu bahwa di tas itu sudah dimasukkan dua potong baju dan sedikit uang receh.

Mobil berhenti di depan rumah reot milik kerabat jauh yang bahkan tidak mengingat namanya.

"Mulai hari ini, kamu tinggal di sini," kata Bagus. "Kalau bisa hidup, ya hidup. Kalau tidak, jangan salahkan siapa-siapa."

Mobil itu pergi dalam debu jalan tanah.

Nikita yang berusia sepuluh tahun berdiri di tempat yang sama sampai matahari turun. Ia tidak menangis. Ia hanya menggenggam tali tas sekolahnya begitu erat sampai kulit telapak tangannya terkelupas.

Sejak hari itu, ia berhenti menunggu orang dewasa kembali.

Sekarang, Surya berlutut.

Terlambat dua puluh empat tahun.

Nikita menarik tangannya dari genggaman Sisi dengan lembut, lalu berdiri.

"Saya akan pertimbangkan."

Liana mengangkat wajah. "Nikita..."

"Lima menit selesai."

Surya masih berlutut. "Kami tidak meminta kamu langsung memaafkan. Kami hanya ingin kesempatan."

"Kalau ingin kesempatan, tunggu."

Suara Nikita tidak keras, tetapi tidak ada ruang untuk memaksa.

Liana menutup mulutnya, menahan tangis yang hampir menjadi suara. Surya akhirnya berdiri perlahan. Dalam beberapa menit, pria yang biasanya membuat ruang rapat besar tunduk itu tampak menua bertahun-tahun.

Di pintu, Liana berbalik sekali lagi.

"Mama..." Ia berhenti, mengoreksi dirinya dengan bibir gemetar. "Bu Kin akan menunggu."

Nikita tidak menjawab.

Pintu suite tertutup.

Di saat yang hampir sama, di Budiman Estate, Ethan menerima panggilan dari dokter pribadi Nana.

"Pak, demam Nona Nana naik lagi. Sel darah putihnya turun lebih cepat dari perkiraan. Kami butuh data genetik ibu kandungnya secepat mungkin untuk memastikan opsi transplantasi."

Ethan berdiri di lorong rumah sakit kecil pribadi keluarga, wajahnya seketika membeku.

"Berapa lama?"

"Lebih cepat lebih baik, Pak. Dalam kondisi seperti ini, setiap hari berarti."

Ethan menutup panggilan dengan rahang mengeras.

Hiram berdiri di ujung lorong, memegang mainan kecilnya. "Papa, kalau Mami ditemukan, Nana sembuh?"

Ethan menatap putranya.

Untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak punya jawaban yang pasti.

Kembali di suite Hotel Rafaelo, Nikita masih berdiri membelakangi pintu.

Tangannya yang tadi memegang handle kini gemetar sangat halus.

Sisi mendekat tanpa suara. Anak itu memeluk pinggang Nikita dari belakang, menempelkan pipi kecilnya ke punggung ibunya.

"Mami jangan sedih," bisiknya.

Nikita menunduk. Di luar pintu, isak Liana masih terdengar samar.

Di dalam, Nikita memejamkan mata, dan tidak ada yang tahu apakah akhirnya ada air mata yang jatuh.

Terpopuler

Comments

Tri Septi

Tri Septi

lanjut Thor, semangat💪

2026-07-30

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
140 Episode 140
141 Episode 141
142 Episode 142
Episodes

Updated 142 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139
140
Episode 140
141
Episode 141
142
Episode 142

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!