EPISODE 4: Kesepakatan di Kamar yang Salah

Gisella mengeringkan tangannya yang basah setelah mencuci peralatan memasak dengan selembar kain bersih.

Jam di dinding dapur kini telah menunjuk ke angka delapan malam lewat lima belas menit.

Perutnya sudah terisi dengan sisa dada ayam panggang yang dia sisihkan tadi, dan energinya telah pulih sepenuhnya.

Namun, rasa lelah secara psikologis mulai menyerang.

Bagaimanapun, berpura-pura tenang di hadapan seorang pria ber-IQ tinggi seperti Adrian Arthur menguras fokusnya cukup banyak.

"Sekarang, waktunya tidur," gumam Gisella pada diri sendiri.

Dia melangkah keluar dari dapur bersih, mematikan sakelar lampu utama hingga menyisakan pendar lampu koridor yang temaram dan hangat.

Sambil membawa lipatan surat perceraian yang berharga itu, dia menaiki anak tangga marmer satu per satu menuju lantai dua.

Di dalam kepalanya, dia sudah membayangkan kehangatan kasur empuk berukuran king size yang sempat dia duduki sore tadi.

Tubuh ini butuh istirahat total agar sel-sel otak baru yang "diaktifkan oleh benturan jendela" bisa bekerja maksimal esok hari.

Ketika sampai di koridor lantai dua, langkah kaki Gisella mendadak melambat.

Suasana koridor malam hari tampak sedikit berbeda karena efek pencahayaan lampu dinding yang redup.

Ditambah lagi, rasa kantuk yang mulai menggelayuti kelopak matanya membuat fokus spasialnya sedikit terganggu.

Gisella berjalan lurus menuju ujung koridor.

Di sana, terdapat dua pintu kayu ek kokoh yang saling berhadapan.

Di dalam memori samar yang dia gali secara terburu-buru tadi sore, dia mengingat bahwa kamarnya berada di sisi paling ujung.

Tanpa ragu, Gisella mendekati pintu di sisi sebelah kanan. Dia memutar kenop pintu perlahan.

"Cklek."

Pintu tidak dikunci.

 Gisella tersenyum tipis, merasa beruntung karena tidak perlu repot-repot mencari kunci kamar di saku piyamanya.

Dia melangkah masuk ke dalam ruangan yang gelap gulita, menutup pintu rapat-rapat di belakangnya, dan menguncinya dari dalam dengan refleks keamanan yang tinggi.

"Ah, aromanya sedikit berbeda,"

 bisik Gisella saat menghirup udara di dalam kamar. Aroma manis bunga lavender dari kosmetiknya yang dia cium sore tadi tidak ada.

Sebagai gantinya, ruangan ini dipenuhi oleh aroma maskulin yang sangat pekat—aroma kayu cendana bercampur mint yang segar, persis seperti aroma tubuh Adrian yang mengintimidasinya di dapur beberapa menit lalu.

Namun, karena rasa kantuk yang sudah berada di puncaknya, Gisella mengabaikan kejanggalan tersebut.

 Dia mengira indra penciumannya sedang kacau karena terlalu lama mencium bau kaldu ayam di dapur.

Dengan mata yang setengah terpejam, dia berjalan terseok-seok mendekati ranjang besar yang terlihat samar di tengah kegelapan.

Gisella meletakkan lipatan surat cerai di atas meja nakas di samping tempat tidur.

Tanpa memeriksa selimut atau bantalnya, dia langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, menarik selimut tebal hingga ke dada, dan memejamkan mata.

Kasus ini terasa sangat nyaman, jauh lebih kokoh dan maskulin daripada yang dia ingat. Dalam hitungan detik, kesadaran Gisella mulai melayang perlahan menuju alam mimpi.

Sementara itu, di lantai bawah, Adrian Arthur baru saja mematikan komputer jinjingnya.

Mangkuk oatmeal gurih buatan Gisella terbukti memberikan keajaiban kecil. Biasanya, setelah meminum kopi hitam pekat di malam hari, lambungnya akan terasa perih dan kepalanya berdenyut karena efek kafein dan stres riset yang menumpuk.

Namun malam ini, tubuhnya terasa hangat dan rileks.

Energi dari karbohidrat kompleks itu mengalir dengan stabil, membuatnya bisa menyelesaikan laporan analisis data tiga puluh menit lebih cepat dari jadwal.

Adrian melepas kacamatanya, menggosok matanya yang lelah, lalu berjalan menaiki tangga.

Pikirannya masih dipenuhi oleh perubahan radikal pada diri istrinya.

Gisella yang biasanya sinis dan histeris, malam ini menjelma menjadi wanita yang tenang, rasional, dan... pandai memasak.

"Apakah amnesia pascatrauma bisa mengubah kepribadian seseorang sejauh itu?"

Adrian bergumam pelan sembari melangkah di koridor lantai dua.

Dia berjalan menuju kamarnya yang terletak di ujung koridor sebelah kanan.

Pintu kamar itu adalah ruang pribadinya yang paling suci di rumah ini.

Selama enam mingu pernikahan mereka, Gisella asli tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki ke dalam kamar ini karena dia sangat membenci Adrian dan bersumpah tidak ingin berbagi ruang dengannya.

Adrian memutar kenop pintunya.

 Dia sedikit mengernyit saat menyadari pintu itu terkunci dari dalam.

"Terkunci?" Adrian tertegun.

Dia selalu membiarkan kamarnya tidak terkunci jika dia berada di rumah.

Merasa ada yang tidak beres, Adrian merogoh saku celananya, mengeluarkan kunci cadangan universal yang selalu dia bawa, dan memasukkannya ke dalam lubang kunci.

"Klik."

Pintu terbuka.

Adrian melangkah masuk ke dalam kamarnya yang gelap.

Gerakan tubuhnya yang terlatih dan tanpa suara membuatnya bisa bergerak di dalam kegelapan tanpa menimbulkan bunyi sekecil pun.

Dia berjalan menuju sakelar lampu di dekat dinding, berniat untuk menyalakan lampu tidur yang temaram.

Namun, tepat sebelum jarinya menyentuh sakelar, pendengaran Adrian yang tajam menangkap suara embusan napas yang halus dan teratur dari arah ranjangnya.

Langkah kaki Adrian langsung membeku. Sepasang matanya yang telah beradaptasi dengan kegelapan perlahan-lahan menangkap siluet sesosok tubuh kecil yang sedang meringkuk di balik selimut tebal miliknya.

Rambut cokelat bergelombang yang panjang tergerai berantakan di atas bantal abu-abu gelap miliknya.

Itu Gisella.

Rahang Adrian mengeras seketika.

Rasa hangat dan simpati yang sempat tumbuh di dapurnya beberapa saat lalu menguap dalam sekejap, digantikan oleh gelombang kecurigaan baru yang lebih dingin.

"Jadi, ini trik aslinya?" batin Adrian dengan gusar.

Di dapur tadi, dia baru saja memuji kemampuan retorika Gisella yang menolak uang kompensasi demi

"belajar mandiri".

Namun sekarang, wanita itu sudah berada di dalam kamarnya, menyusup ke atas ranjangnya di tengah malam.

Di mata Adrian yang logis, tindakan ini hanya memiliki satu arti:

Gisella sedang mencoba menggodanya, atau sengaja menciptakan situasi ambigu agar pernikahan mereka tidak bisa dibatalkan secara hukum jika orang tuanya memergoki mereka esok pagi.

Adrian melangkah mendekati tepi ranjang dengan aura yang memancarkan kemarahan dingin.

Dia tidak menyalakan lampu utama, melainkan menundukkan tubuhnya, lalu mencengkeram bahu Gisella dengan cukup kuat untuk membangunkan wanita itu.

"Gisella. Bangun,"

desis Adrian tepat di depan wajah Gisella.

Gisella yang sedang berada di alam mimpi merasakan guncangan yang mengganggu tidurnya.

Dia melenguh pelan, mencoba menepis tangan yang mencengkeram bahunya.

"Eung... lima menit lagi... jangan ganggu, aku baru saja selesai lembur..."

gumamnya melantur dengan suara serak khas orang bangun tidur.

Mendengar gumaman yang tidak jelas itu, Adrian kehilangan kesabarannya.

Dia menarik selimut tebal itu dengan satu sentapan kuat, membuat tubuh Gisella langsung terekspos udara malam yang dingin.

"Gisella! Buka matamu!" perintah Adrian lebih tegas.

Efek dingin yang mendadak dan suara bariton yang menggelegar di dekat telinganya membuat Gisella tersentak bangun. Matanya langsung terbuka lebar.

Jantungnya berpacu cepat karena terkejut.

Di dalam keremangan kamar, wajah tampan Adrian yang sedang menatapnya dengan kemarahan dingin berada tepat beberapa sentimeter di hadapannya.

"A-Adrian?!"

Gisella refleks memundurkan tubuhnya hingga punggungnya membentur kepala ranjang.

Dia menarik piyama rajutnya yang sedikit melonggar.

"Apa yang kau lakukan di kamarku di tengah malam begini?!"

"Kamarmu?"

Adrian mendengus sinis, senyuman mengejek terukir di bibirnya.

Pria itu berdiri tegak, menyilangkan tangan di atas dada, dan menatap Gisella dengan pandangan menghakimi.

 "Lihat sekelilingmu dengan baik, Nyonya Arthur. Kamar siapa yang sedang kau tiduri sekarang?"

Gisella tertegun.

Pertanyaan Adrian membuat kesadarannya pulih 100%. Dia mengerjapkan mata, menyapu pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.

Desain interior minimalis maskulin, tirai jendela berwarna biru dongker, meja kerja dengan tumpukan buku sains di sudut ruangan...

Ini bukan kamar penuh kosmetik berantakan yang dia tempati sore tadi.

"Ini... ini kamarmu?"

bisik Gisella, suaranya mencicit kecil karena rasa malu yang mendadak menyerang seperti sengatan listrik.

"Ya. Ini kamarku. Kamar yang selama enam bulan ini kau sebut sebagai 'sarang monster kaku' dan bersumpah tidak akan pernah sudi kau injak," kata Adrian dengan nada sedingin es. "

"Jadi, bisa kau jelaskan kepadaku, Gisella?

Di bawah hukum kesepakatan baru yang kita buat di dapur lima belas menit yang lalu, apa arti dari tindakanmu menyusup ke ranjangku malam ini? Apa ini skenario baru dari Julian untuk menjebakku?"

Gisella memegangi kepalanya yang mendadak terasa pening lagi.

Kali ini bukan karena transmigrasi, melainkan karena kebodohannya sendiri yang salah memasuki kamar.

Koridor lantai dua ini memiliki dua pintu yang sangat mirip di ujungnya, dan dalam kondisi mengantuk berat, dia benar-benar salah memilih sisi kanan, bukannya sisi kiri!

"Ini salah paham! Demi Tuhan, Adrian, ini benar-benar salah paham!"

Gisella mencoba membela diri dengan panik.

Dia segera turun dari ranjang, berdiri di lantai marmer yang dingin dengan kaki telanjang untuk menunjukkan bahwa dia tidak memiliki niat buruk.

"Aku bersumpah aku tidak sedang menjebakmu atau merencanakan sesuatu dengan Julian!"

"Lalu kenapa kau mengunci pintunya dari dalam?"

 cecar Adrian, melangkah satu langkah maju, menekan posisi Gisella hingga wanita itu terdesak di antara dirinya dan meja nakas.

"Itu... itu refleks!" jawab Gisella setengah berteriak, wajahnya memerah padam antara malu dan frustrasi. "Di dunia... maksudku, kebiasaan lamaku selalu mengunci pintu kamar demi keamanan sebelum tidur! Aku bersumpah, aku salah masuk kamar karena koridor ini sangat redup dan aku sudah mengantuk berat! Aku mengira ini kamar yang ku tempati sore tadi!"

Adrian menatap Gisella lurus-lurus ke dalam matanya.

Di bawah jarak yang begitu dekat, dia bisa melihat kejujuran yang murni, kepanikan yang nyata, serta rasa malu yang membuat pipi wanita itu merona merah.

Tidak ada binar licik, tidak ada godaan murahan yang biasa ditampilkan wanita yang mencoba merayunya.

Gisella benar-benar tampak seperti seseorang yang baru saja tertangkap basah melakukan kesalahan konyol.

Pandangan Adrian perlahan turun ke bawah, ke arah meja nakas di samping tempat tidur.

Di sana, di bawah cahaya temaram yang menerobos dari jendela, tergeletak lipatan kertas putih yang sangat dia kenali:

surat perjanjian perceraian mereka.

Gisella yang menyadari arah pandangan Adrian langsung menyambar kertas tersebut dan mendekapnya di dada, persis seperti yang dia lakukan di ruang kerja Adrian tadi.

"Lihat? Aku bahkan membawa surat ini bersamaku agar tidak lupa untuk mengurusnya satu bulan lagi!"

kata Gisella defensif, napasnya naik turun karena panik.

"Jika aku berniat menjebakmu, untuk apa aku membawa bukti tertulis bahwa aku setuju bercerai tanpa kompensasi?"

Kehadiran surat cerai itu menjadi bukti fisik terkuat yang meruntuhkan tuduhan Adrian.

Seorang wanita yang ingin menjebak suaminya demi harta atau pernikahan tidak akan memeluk surat cerai se erat itu saat tidur.

Adrian menghela napas panjang.

Kemarahan dingin yang sempat menguasai dirinya perlahan mereda, digantikan oleh rasa geli yang aneh yang harus dia tahan setengah mati agar tidak merusak wibawanya sebagai seorang profesor.

"Kau benar-benar ceroboh,"

ucap Adrian akhirnya, suaranya melunak meskipun nadanya tetap datar. Pria itu mundur dua langkah, memberikan ruang bagi Gisella untuk bernapas.

"Bagaimana bisa seorang wanita dewasa salah mengenali kamarnya sendiri?"

"Aku baru saja terbangun dari pingsan panjang kemarin, ingatan spasiaku belum pulih sepenuhnya!"

kilah Gisella, mencari alasan darurat yang terdengar ilmiah agar sesuai dengan selera Adrian.

"Maafkan aku atas kekacauan ini. Aku akan segera pergi."

Gisella buru-buru melangkah menuju pintu kamar dengan tergesa-gesa, memeluk surat cerainya erat-erat.

Namun, sebelum dia sempat memutar kunci pintu, suara Adrian kembali terdengar dari belakang tubuhnya.

"Gisella."

Gisella menghentikan langkahnya, menoleh perlahan dengan wajah cemas.

"Ya?"

"Ingat kesepakatan kita. Ini adalah kesalahan pertama dan terakhir,"

kata Adrian, berdiri di tengah kegelapan kamar dengan postur tubuhnya yang kokoh.

"Mulai besok, pastikan mata dan otakmu bekerja dengan benar sebelum melangkah. Aku tidak akan mentoleransi 'salah paham' seperti ini untuk kedua kalinya."

Gisella menelan ludah, lalu mengangguk cepat.

"Mengerti, Profesor. Tidak akan ada yang kedua kalinya. Selamat malam!"

Dengan gerakan secepat kilat, Gisella

membuka kunci pintu, membuka pintu kamar, dan melesat keluar menuju kamar yang benar di seberang koridor.

Begitu berhasil masuk ke kamarnya yang asli, dia langsung mengunci pintu, menjatuhkan diri di balik pintu, dan mengembuskan napas dengan sangat keras.

"Sial... jantungku hampir copot,"

gumam Gisella sambil menyentuh dadanya yang berdebar menggila.

 "Hampir saja plotnya berubah menjadi genre yang salah. Fokus, Gisella! Satu bulan ini harus berjalan dengan aman!"

Sementara itu, di kamar seberang, Adrian Arthur berjalan mendekati ranjangnya.

Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur tempat Gisella sempat berbaring tadi. Aroma tubuh Gisella—perpaduan antara wangi sabun mandi apel yang segar dan sedikit sisa aroma masakan dapur—masih tertinggal samar di bantalnya.

Adrian menatap langit-langit kamarnya yang gelap.

Untuk pertama kalinya dalam enam bulan terakhir, dia merasa bahwa satu bulan penundaan perceraian ini mungkin tidak akan membosankan seperti yang dia bayangkan sebelumnya.

Episodes
1 EPISODE 1: Terbangun di Meja Perceraian
2 EPISODE 2: Takdir Tragis Sang Figuran
3 EPISODE 3: Beri Aku Waktu Satu Bulan
4 EPISODE 4: Kesepakatan di Kamar yang Salah
5 EPISODE 5: Menu Sarapan yang Berubah
6 EPISODE 6: Batasi Gula untuk Profesor Adrian
7 EPISODE 7: Kecurigaan Sang Adik Ipar
8 EPISODE 8: Langkah Kaki di Taman Kota
9 EPISODE 9: Mengapa Dia Menjadi Sangat Anggun?
10 EPISODE 10: Sisi Lain Adrian Arthur
11 EPISODE 11: Menghindari Jalanan Maut
12 EPISODE 12: Kamar Nomor Dua
13 EPISODE 13: Detak Jantung yang Salah Arah
14 EPISODE 14: Malam Pertama dengan Aturan Baru
15 EPISODE 15: Aroma Sup di Dapur Arthur
16 EPISODE 16: Pertanyaan Dingin Sang Suami
17 EPISODE 17: Perubahan yang Terlalu Tiba-tiba
18 EPISODE 18: Tatapan Mata yang Melelehkan Es
19 EPISODE 19: Membela Diri di Depan Valerie
20 EPISODE 20: Hadiah Kecil untuk Nyonya Arthur
21 EPISODE 21: Jebakan Masa Lalu yang Mengintai
22 EPISODE 22: Adrian yang Mulai Memperhatikan
23 EPISODE 23: Sepiring Iga Bakar Pengubah Suasana
24 EPISODE 24: Sandiwara yang Mulai Pudar
25 EPISODE 25: Ketakutan yang Menjadi Nyata
26 EPISODE 26: Janji Satu Bulan yang Tersisa
27 EPISODE 27: Surat Cerai di Dalam Laci
28 EPISODE 28: Langkah Kaki yang Seirama
29 EPISODE 29: Ketika Es Mulai Retak
30 EPISODE 30: Rahasia Kecil Gisella
31 EPISODE 31: Tamu Tak Diundang di Pintu Depan
32 EPISODE 32: Siapa yang Kau Sebut Pembantu?
33 EPISODE 33: Amarah Adrian yang Terpendam
34 EPISODE 34: Pembelaan di Depan Elena
35 EPISODE 35: Rasa Cemburu yang Tersamarkan
36 EPISODE 36: Malam yang Dingin dan Teh Hangat
37 EPISODE 37: Kepedulian yang Dianggap Kewajiban
38 EPISODE 38: Valerie Mulai Luluh
39 EPISODE 39: Masakan Gisella Mengubah Segalanya
40 EPISODE 40: Bayang-Bayang Julian yang Mendekat
41 EPISODE 41: Pesan Singkat dari Sang Parasit
42 EPISODE 42: Menolak Kembali ke Kubangan
43 EPISODE 43: Adrian Menjadi Perisai
44 EPISODE 44: Sentuhan Tak Sengaja di Lab
45 EPISODE 45: Kemampuan Tersembunyi Gisella
46 EPISODE 46: Profesor yang Terpukau
47 EPISODE 47: Siapa Kau Sebenarnya?
48 EPISODE 48: Teka-Teki Jiwa yang Berbeda
49 EPISODE 49: Makan Malam Keluarga yang Hangat
50 EPISODE 50: Hasil Tes Kesehatan Tuan Arthur
51 EPISODE 51: Peringatan Dini untuk Gula Darah
52 EPISODE 52: Rencana Elena yang Gagal Total
53 EPISODE 53: Sorot Mata Cemburu Sang Profesor
54 EPISODE 54: Berjalan Bersama di Bawah Hujan
55 EPISODE 55: Payung yang Hanya Cukup untuk Berdua
56 EPISODE 56: Hangatnya Mantel Adrian
57 EPISODE 57: Detak Jantung di Balik Dada Bidang
58 EPISODE 58: Mengapa Hatiku Berubah?
59 EPISODE 59: Julian Mencoba Memeras
60 EPISODE 60: Menghadapi Sang Mantan Toksik
61 EPISODE 61: Aku Bukan Gisella yang Dulu!
62 EPISODE 62: Adrian Datang Tepat Waktu
63 EPISODE 63: "Dia Adalah Istriku"
64 EPISODE 64: Pukulan Telak untuk Julian
65 EPISODE 65: Ketakutan Gisella Akan Akhir Cerita
66 EPISODE 66: Pelukan Penenang di Dalam Mobil
67 EPISODE 67: Rahasia yang Tersimpan Rapat
68 EPISODE 68: Valerie Menjadi Sekutu
69 EPISODE 69: Rencana Liburan Keluarga Arthur
70 EPISODE 70: Menunda Kepergian Selamanya
71 EPISODE 71: Perjalanan ke Area Perkemahan
72 EPISODE 72: Udara Segar dan Pertanyaan Baru
73 EPISODE 73: Kilauan Bintang di Atas Tenda
74 EPISODE 74: Percakapan Larut Malam
75 EPISODE 75: Kejutan Bahasa Asing Gisella
76 EPISODE 76: Adrian Menemukan Kejanggalan
77 EPISODE 77: Jiwa yang Tercuri
78 EPISODE 78: Aku Menyukai Dirimu yang Sekarang
79 EPISODE 79: Pengakuan di Bawah Langit Malam
80 EPISODE 80: Penolakan Terhadap Masa Lalu
81 EPISODE 81: Kita Mulai dari Titik Awal
82 EPISODE 82: Kembali ke Rumah dengan Status Baru
83 EPISODE 83: Elena yang Semakin Terdesak
84 EPISODE 84: Siasat Licik di Belakang Layar
85 EPISODE 85: Surat Cerai yang Dihancurkan
86 EPISODE 86: Menjadi Nyonya Arthur Seutuhnya
87 EPISODE 87: Pesta Dansa Universitas
88 EPISODE 88: Gaun Anggun yang Memukau Adrian
89 EPISODE 89: Dansa Pertama di Bawah Lampu
90 EPISODE 90: Pria Lain yang Mencoba Mendekat
91 EPISODE 91: Proteksi Berlebihan Sang Profesor
92 EPISODE 92: Bisikan Lembut di Sudut Ruangan
93 EPISODE 93: Kebenaran Tentang Kakek Gisella
94 EPISODE 94: Utang Budi yang Berubah Menjadi Cinta
95 EPISODE 95: Valerie Mengusir Elena
96 EPISODE 96: Kekalahan Sang Antagonis
97 EPISODE 97: Julian yang Putus Asa
98 EPISODE 98: Jebakan Terakhir Sang Mantan
99 EPISODE 99: Penyelamatan di Lorong Gelap
100 EPISODE 100: Adrian Terluka demi Gisella
101 EPISODE 101: Kepanikan di Rumah Sakit
102 EPISODE 102: Air Mata yang Menetes
103 EPISODE 103: Merawat Sang Profesor Dingin
Episodes

Updated 103 Episodes

1
EPISODE 1: Terbangun di Meja Perceraian
2
EPISODE 2: Takdir Tragis Sang Figuran
3
EPISODE 3: Beri Aku Waktu Satu Bulan
4
EPISODE 4: Kesepakatan di Kamar yang Salah
5
EPISODE 5: Menu Sarapan yang Berubah
6
EPISODE 6: Batasi Gula untuk Profesor Adrian
7
EPISODE 7: Kecurigaan Sang Adik Ipar
8
EPISODE 8: Langkah Kaki di Taman Kota
9
EPISODE 9: Mengapa Dia Menjadi Sangat Anggun?
10
EPISODE 10: Sisi Lain Adrian Arthur
11
EPISODE 11: Menghindari Jalanan Maut
12
EPISODE 12: Kamar Nomor Dua
13
EPISODE 13: Detak Jantung yang Salah Arah
14
EPISODE 14: Malam Pertama dengan Aturan Baru
15
EPISODE 15: Aroma Sup di Dapur Arthur
16
EPISODE 16: Pertanyaan Dingin Sang Suami
17
EPISODE 17: Perubahan yang Terlalu Tiba-tiba
18
EPISODE 18: Tatapan Mata yang Melelehkan Es
19
EPISODE 19: Membela Diri di Depan Valerie
20
EPISODE 20: Hadiah Kecil untuk Nyonya Arthur
21
EPISODE 21: Jebakan Masa Lalu yang Mengintai
22
EPISODE 22: Adrian yang Mulai Memperhatikan
23
EPISODE 23: Sepiring Iga Bakar Pengubah Suasana
24
EPISODE 24: Sandiwara yang Mulai Pudar
25
EPISODE 25: Ketakutan yang Menjadi Nyata
26
EPISODE 26: Janji Satu Bulan yang Tersisa
27
EPISODE 27: Surat Cerai di Dalam Laci
28
EPISODE 28: Langkah Kaki yang Seirama
29
EPISODE 29: Ketika Es Mulai Retak
30
EPISODE 30: Rahasia Kecil Gisella
31
EPISODE 31: Tamu Tak Diundang di Pintu Depan
32
EPISODE 32: Siapa yang Kau Sebut Pembantu?
33
EPISODE 33: Amarah Adrian yang Terpendam
34
EPISODE 34: Pembelaan di Depan Elena
35
EPISODE 35: Rasa Cemburu yang Tersamarkan
36
EPISODE 36: Malam yang Dingin dan Teh Hangat
37
EPISODE 37: Kepedulian yang Dianggap Kewajiban
38
EPISODE 38: Valerie Mulai Luluh
39
EPISODE 39: Masakan Gisella Mengubah Segalanya
40
EPISODE 40: Bayang-Bayang Julian yang Mendekat
41
EPISODE 41: Pesan Singkat dari Sang Parasit
42
EPISODE 42: Menolak Kembali ke Kubangan
43
EPISODE 43: Adrian Menjadi Perisai
44
EPISODE 44: Sentuhan Tak Sengaja di Lab
45
EPISODE 45: Kemampuan Tersembunyi Gisella
46
EPISODE 46: Profesor yang Terpukau
47
EPISODE 47: Siapa Kau Sebenarnya?
48
EPISODE 48: Teka-Teki Jiwa yang Berbeda
49
EPISODE 49: Makan Malam Keluarga yang Hangat
50
EPISODE 50: Hasil Tes Kesehatan Tuan Arthur
51
EPISODE 51: Peringatan Dini untuk Gula Darah
52
EPISODE 52: Rencana Elena yang Gagal Total
53
EPISODE 53: Sorot Mata Cemburu Sang Profesor
54
EPISODE 54: Berjalan Bersama di Bawah Hujan
55
EPISODE 55: Payung yang Hanya Cukup untuk Berdua
56
EPISODE 56: Hangatnya Mantel Adrian
57
EPISODE 57: Detak Jantung di Balik Dada Bidang
58
EPISODE 58: Mengapa Hatiku Berubah?
59
EPISODE 59: Julian Mencoba Memeras
60
EPISODE 60: Menghadapi Sang Mantan Toksik
61
EPISODE 61: Aku Bukan Gisella yang Dulu!
62
EPISODE 62: Adrian Datang Tepat Waktu
63
EPISODE 63: "Dia Adalah Istriku"
64
EPISODE 64: Pukulan Telak untuk Julian
65
EPISODE 65: Ketakutan Gisella Akan Akhir Cerita
66
EPISODE 66: Pelukan Penenang di Dalam Mobil
67
EPISODE 67: Rahasia yang Tersimpan Rapat
68
EPISODE 68: Valerie Menjadi Sekutu
69
EPISODE 69: Rencana Liburan Keluarga Arthur
70
EPISODE 70: Menunda Kepergian Selamanya
71
EPISODE 71: Perjalanan ke Area Perkemahan
72
EPISODE 72: Udara Segar dan Pertanyaan Baru
73
EPISODE 73: Kilauan Bintang di Atas Tenda
74
EPISODE 74: Percakapan Larut Malam
75
EPISODE 75: Kejutan Bahasa Asing Gisella
76
EPISODE 76: Adrian Menemukan Kejanggalan
77
EPISODE 77: Jiwa yang Tercuri
78
EPISODE 78: Aku Menyukai Dirimu yang Sekarang
79
EPISODE 79: Pengakuan di Bawah Langit Malam
80
EPISODE 80: Penolakan Terhadap Masa Lalu
81
EPISODE 81: Kita Mulai dari Titik Awal
82
EPISODE 82: Kembali ke Rumah dengan Status Baru
83
EPISODE 83: Elena yang Semakin Terdesak
84
EPISODE 84: Siasat Licik di Belakang Layar
85
EPISODE 85: Surat Cerai yang Dihancurkan
86
EPISODE 86: Menjadi Nyonya Arthur Seutuhnya
87
EPISODE 87: Pesta Dansa Universitas
88
EPISODE 88: Gaun Anggun yang Memukau Adrian
89
EPISODE 89: Dansa Pertama di Bawah Lampu
90
EPISODE 90: Pria Lain yang Mencoba Mendekat
91
EPISODE 91: Proteksi Berlebihan Sang Profesor
92
EPISODE 92: Bisikan Lembut di Sudut Ruangan
93
EPISODE 93: Kebenaran Tentang Kakek Gisella
94
EPISODE 94: Utang Budi yang Berubah Menjadi Cinta
95
EPISODE 95: Valerie Mengusir Elena
96
EPISODE 96: Kekalahan Sang Antagonis
97
EPISODE 97: Julian yang Putus Asa
98
EPISODE 98: Jebakan Terakhir Sang Mantan
99
EPISODE 99: Penyelamatan di Lorong Gelap
100
EPISODE 100: Adrian Terluka demi Gisella
101
EPISODE 101: Kepanikan di Rumah Sakit
102
EPISODE 102: Air Mata yang Menetes
103
EPISODE 103: Merawat Sang Profesor Dingin

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!