Satu Bulan Menunda Cerai

Satu Bulan Menunda Cerai

EPISODE 1: Terbangun di Meja Perceraian

Rasa pening yang luar biasa menghantam pelipis Gisella.

Matanya membuka menutup beberapa kali, mencoba menghalau buram yang menyiksa pandangan.

Aroma ruangan ini asing—bukan wangi kamarnya yang biasa, melainkan perpaduan antara aroma buku lama, kopi hitam yang pekat, dan sedikit wangi maskulin yang dingin.

"Jika kau memang sangat ingin bebas dari pernikahan ini, tanda tangani suratnya dan pergilah sekarang."

Sebuah suara bariton yang rendah, dingin, dan tanpa emosi memecah keheningan.

Gisella tersentak.

Kesadarannya ditarik paksa. Di hadapannya, berdiri seorang pria jangkung dengan postur tubuh yang luar biasa proporsional.

Tingginya pasti di atas 180 sentimeter, mengenakan kemeja putih yang disetrika sempurna dengan beberapa kancing atas yang terbuka, memperlihatkan garis leher yang tegas.

Wajahnya... luar biasa tampan. Rahangnya kokoh, hidungnya mancung bagai dipahat, dan sepasang matanya yang tajam tersembunyi di balik kacamata berbingkai perak tipis. Pria itu menatapnya dengan pandangan penuh rasa muak yang tertahan.

"Siapa pria ini? Mengapa dia terlihat seperti model papan atas, tapi auranya menyeramkan sekali?" batin Gisella panik.

Gisella menunduk.

Di atas meja kayu mahoni di depannya, tergeletak beberapa lembar kertas putih dengan tulisan tebal di bagian atas:

SURAT KESEPAKATAN BERSAMA UNTUK PERCERAIAN.

Otak Gisella mendadak kosong.

"Perceraian? Menikah saja belum pernah, bagaimana bisa aku mendadak bercerai?!"

Detik berikutnya, gelombang ingatan asing yang bukan miliknya menghantam kepalanya bagai air bah.

Rasa sakit itu membuat Gisella refleks memegangi kepalanya dan mendesah lirih.

Informasi demi informasi berputar di benaknya seperti rol film yang diputar dengan kecepatan tinggi.

Gisella, seorang wanita pekerja keras dari dunia modern yang baru saja meninggal karena kelelahan setelah lembur tiga hari berturut-turut, kini telah bertransmigrasi.

Dan sialnya, dia masuk ke dalam tubuh seorang karakter figuran berumur 24 tahun yang memiliki nama sama dengannya: Gisella.

Lebih buruknya lagi, ini adalah dunia dari sebuah novel roman picisan yang pernah dia baca sebelum mati.

Karakter Gisella di dunia ini adalah definisi nyata dari wanita bodoh yang dibutakan oleh cinta toksik.

Dia bisa menikah dengan pria di hadapannya—Adrian Arthur—hanya karena kakek Gisella pernah menyelamatkan nyawa Tuan Besar Arthur di masa lalu.

Sebagai bentuk balas budi, keluarga Arthur yang terpandang dan kaya raya menikahkan putra sulung mereka, Adrian, dengan Gisella.

Adrian Arthur di usianya yang baru 27 tahun adalah seorang profesor riset jenius di bidang sains dan teknologi.

Dia adalah pria idaman, sosok mandiri yang dihormati, dan memiliki masa depan yang luar biasa cerah.

Namun, Gisella asli justru menyia-nyiakannya. Merasa Adrian terlalu dingin dan kaku, Gisella asli memilih tidur di kamar terpisah selama enam bulan pernikahan mereka.

Dia justru mengejar-ngejar cinta pertamanya,

Julian, seorang pria parasit yang manipulatif.

Gisella asli terus-menerus membuat keributan, menangis, dan mengamuk menuntut perceraian agar bisa bersama Julian.

Dia bahkan meminta uang kompensasi sebesar satu juta dolar dari keluarga Arthur.

Di dalam plot asli novel, setelah mendapatkan uang itu dan bercerai, Julian dengan cepat menguras seluruh harta Gisella, berselingkuh dengan wanita lain, dan mencampakkannya.

Gisella asli yang malang akhirnya menderita depresi, jatuh miskin, dan tewas mengenaskan di pinggir jalan pada usia 27 tahun.

"Tunggu... mati tragis di jalanan?!"

Gisella bergidik ngeri. Kulit kuduknya meremang.

Tubuhnya gemetar menyadari takdir mengerikan yang sedang mengintainya.

Saat ini, garis waktu cerita berada tepat di titik awal kehancuran itu.

Di depannya adalah Adrian, sang pelindung yang akan melepaskannya menuju jurang maut.

"Kenapa diam saja?"

Adrian bersuara lagi, memecah lamunan Gisella. Dia melirik jam tangan Rolex di pergelangan tangan kirinya dengan tidak sabar.

"Bukankah ini yang kau teriakkan setiap hari sambil menangis? Kau bilang kau tidak tahan hidup denganku. Kau bilang kau ingin bebas bersama Julian-mu itu. Sekarang, setelah aku mengabulkannya, apa lagi yang kau tunggu? Tandatangani, dan bawa uang yang kau minta."

Adrian melemparkan sebuah pulpen mewah ke atas meja.

Pulpen itu menggelinding dan berhenti tepat di atas kertas putih tersebut.

Gisella menatap pulpen itu, lalu menatap wajah Adrian.

Di balik kacamata peraknya, mata Adrian memancarkan kekecewaan yang mendalam, dicampur dengan kepasrahan.

Pria ini telah habis kesabaran menghadapi tingkah gila Gisella asli.

"Tidak! Aku tidak boleh menandatanganinya sekarang!' teriak Gisella dalam hati.

Jika dia menandatanganinya hari ini, dia harus keluar dari kediaman keluarga Arthur.

Di luar sana, Julian si bajingan sudah bersiap untuk menjemputnya dan merampas uang kompensasi itu.

Tanpa koneksi, tanpa pekerjaan di dunia baru ini, dan dengan bayang-bayang plot novel yang kuat, Gisella tahu dia akan berakhir menjadi gelandangan dalam waktu singkat. Dia butuh waktu untuk menyusun strategi, memutus hubungan dengan Julian, dan mencari cara untuk bertahan hidup secara mandiri.

Gisella menarik napas dalam-dalam.

Sudut matanya mendadak memerah.

Bukan karena akting, melainkan karena dia benar-benar takut mati untuk kedua kalinya.

Dengan gerakan lambat, Gisella mendorong kembali pulpen itu menjauh dari surat cerai.

Dia mendongak, menatap Adrian dengan sepasang mata yang berkaca-kaca, memancarkan penyesalan yang amat sangat.

"Adrian..."

suaranya bergetar, terdengar serak dan rapuh.

Adrian sedikit mengernyit.

Biasanya, jika dia menyebut nama Julian, Gisella akan langsung meradang, membela pria itu mati-matian, atau berteriak histeris menuduh Adrian sebagai pria berhati batu.

Tapi hari ini, reaksi wanita di hadapannya sungguh berbeda.

Sorot mata Gisella tidak lagi dipenuhi kebencian atau kegilaan, melainkan ketakutan dan... ketulusan yang asing.

"Apalagi yang ingin kau katakan?"

tanya Adrian, nadanya sedikit melunak namun tetap menjaga jarak.

Gisella meremas ujung bajunya, mencoba menstabilkan emosinya.

"Aku... aku tahu aku sudah keterlaluan selama enam bulan ini. Aku tahu aku telah menyakiti Ayah, Ibu, Valerie, dan terutama... dirimu."

Adrian terdiam. Alisnya bertaut lebih dalam.

"Aku tidak akan membantah lagi. Aku tahu aku salah,"

lanjut Gisella, sebutir air mata fiktif yang berhasil dia paksa keluar akhirnya menetes membasahi pipinya.

"Surat ini... aku akan menandatanganinya. Aku setuju kita bercerai."

Mendengar kata 'setuju', ada kilat aneh yang melintas di mata Adrian.

Ada rasa lega, namun entah mengapa, ada sedikit kekosongan yang menyergap dadanya. Namun, kalimat Gisella berikutnya membuat sang profesor tertegun.

"Tapi... bisakah aku meminta satu permohonan terakhir?"

Gisella menatap Adrian dengan pandangan memohon yang amat sangat.

"Beri aku waktu satu bulan lagi. Biarkan aku tetap tinggal di rumah ini selama satu bulan, sampai proses administrasi di pengadilan benar-benar selesai. Setelah satu bulan... aku berjanji akan mengemas barang-amarku dan pergi dari kehidupanmu tanpa membawa satu sen pun uang kompensasi itu."

Seketika, keheningan mencekam menyelimuti ruangan kerja tersebut.

Adrian menatap Gisella dengan tatapan menyelidik, seolah sedang berusaha membaca apa yang sedang direncanakan oleh wanita di depannya.

"Satu bulan? Menolak uang kompensasi satu juta dolar? Apakah ini trik baru?" Selama ini, Gisella selalu menuntut uang dan kebebasan.

Mengapa tiba-tiba dia melepaskan uang sebesar itu hanya untuk tinggal satu bulan lagi?

"Gisella, trik apa lagi yang sedang kau mainkan?"

Adrian melangkah mendekat, bersedekap dada. Auranya yang intimidatif membuat Gisella menahan napas.

"Kau menangis berhari-hari menuntut kebebasan. Sekarang, setelah pintu gerbang itu kubuka, kau justru ingin mengulur waktu? Apa Julian yang menyuruhmu melakukan ini?"

Mendengar nama Julian, Gisella langsung menggelengkan kepala dengan cepat, ekspresinya berubah menjadi jijik yang spontan—sesuatu yang tidak luput dari pandangan tajam Adrian.

"Tidak! Ini tidak ada hubungannya dengan dia!" tegas Gisella.

"Aku hanya... aku hanya tersadar betapa bodohnya aku selama ini. Aku telah mengecewakan Tuan dan Nyonya Arthur yang begitu baik kepadaku. Aku hanya ingin menggunakan waktu satu bulan ini untuk menebus kesalahanku, berperilaku baik sebagai menantu, dan... mempersiapkan diriku sebelum benar-benar hidup mandiri. Aku bersumpah, aku tidak akan mengganggumu. Aku tidak akan masuk ke kamarmu tanpa izin, dan aku tidak akan membuat keributan lagi."

Gisella mengangkat tangan kanannya, membentuk gestur bersumpah.

Wajahnya yang pucat namun cantik terlihat sangat bersungguh-sungguh.

Adrian memperhatikannya lekat-lekat. Gisella di hadapannya terasa sangat berbeda.

Cara bicaranya yang tertata, sorot matanya yang jernih tanpa ada kemarahan histeris, dan ketakutan yang jujur di matanya... semua itu bukan seperti Gisella yang dia kenal selama enam bulan terakhir.

Apakah seseorang bisa berubah drastis hanya dalam semalam setelah kepalanya terbentur jendela saat mengamuk kemarin?

Adrian menghela napas panjang.

Dia melepas kacamatanya, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.

Mengusir Gisella sekarang juga sebenarnya bisa memicu kemarahan orang tuanya yang sangat menyayangi wanita itu karena utang budi masa lalu.

Jika Gisella mengajukan penundaan satu bulan secara damai dan menolak uang kompensasi, setidaknya itu akan memberi waktu bagi Adrian untuk menjelaskan situasi ini secara perlahan kepada keluarganya.

"Satu bulan," ucap Adrian akhirnya, suaranya kembali dingin namun tegas.

Dia memakai kembali kacamatanya dan menatap Gisella lurus-lurus.

"Hanya satu bulan. Jika dalam satu bulan ini kau membuat satu saja keributan, atau jika aku melihatmu berhubungan lagi dengan pria itu di lingkungan rumah ini, aku akan langsung mengusirmu tanpa peduli apa pun. Mengerti?"

Gisella merasa seolah beban seberat satu ton baru saja diangkat dari pundaknya.

Matanya berbinar cerah, senyuman lebar yang tulus tanpa sadar terukir di wajahnya yang jelita.

"Mengerti! Terima kasih, Adrian! Kau benar-benar pria yang baik!"

seru Gisella dengan nada riang yang tak bisa disembunyikan.

Adrian sedikit terpaku melihat senyuman itu.

Selama enam bulan pernikahan mereka, dia hanya pernah melihat Gisella cemberut, menangis, atau menatapnya dengan penuh dendam.

Ini adalah pertama kalinya dia melihat wanita itu tersenyum begitu lepas dan tulus.

Dada Adrian berdesir aneh, namun dia segera menepis perasaan itu dengan berdeham pelan.

"Simpan surat itu. Satu bulan lagi, kita bawa ke pengadilan,"

kata Adrian ketus sambil membalikkan badannya, kembali ke meja kerjanya yang dipenuhi tumpukan jurnal ilmiah.

"Sekarang, kembali ke kamarmu. Aku harus bekerja."

"Baik, Profesor! Selamat bekerja!"

Gisella dengan cekatan mengambil surat perceraian itu, melipatnya dengan rapi, dan memeluknya erat-erat bagai jimat keberuntungan.

.Dia berbalik dan melangkah keluar dari ruang kerja Adrian dengan hati yang jauh lebih ringan.

Begitu pintu kayu ek itu tertutup di belakangnya, Gisella bersandar pada dinding koridor rumah mewah keluarga Arthur.

Dia mengembuskan napas panjang yang tertahan sejak tadi.

"Fase pertama berhasil,"

bisik Gisella pada dirinya sendiri, seulas senyum penuh tekad muncul di bibirnya.

"Gisella yang asli mungkin memilih mati demi cinta bodoh. Tapi aku? Aku akan menggunakan satu bulan ini untuk membalikkan takdir. Aku tidak akan mati di jalanan!"

Di dalam ruang kerja yang sepi, Adrian Arthur menghentikan ketukan jarinya di atas papan tik komputer.

Pandangannya beralih ke arah pintu tempat Gisella baru saja keluar.

Dia menyentuh dagunya, tenggelam dalam pemikiran yang mendalam.

'Gisella... apa yang sebenarnya terjadi padamu?"

Terpopuler

Comments

Uthie

Uthie

Mampir thor 👍

2026-07-18

0

Mar lina

Mar lina

Aku mampir, Thor.

2026-07-11

1

lihat semua
Episodes
1 EPISODE 1: Terbangun di Meja Perceraian
2 EPISODE 2: Takdir Tragis Sang Figuran
3 EPISODE 3: Beri Aku Waktu Satu Bulan
4 EPISODE 4: Kesepakatan di Kamar yang Salah
5 EPISODE 5: Menu Sarapan yang Berubah
6 EPISODE 6: Batasi Gula untuk Profesor Adrian
7 EPISODE 7: Kecurigaan Sang Adik Ipar
8 EPISODE 8: Langkah Kaki di Taman Kota
9 EPISODE 9: Mengapa Dia Menjadi Sangat Anggun?
10 EPISODE 10: Sisi Lain Adrian Arthur
11 EPISODE 11: Menghindari Jalanan Maut
12 EPISODE 12: Kamar Nomor Dua
13 EPISODE 13: Detak Jantung yang Salah Arah
14 EPISODE 14: Malam Pertama dengan Aturan Baru
15 EPISODE 15: Aroma Sup di Dapur Arthur
16 EPISODE 16: Pertanyaan Dingin Sang Suami
17 EPISODE 17: Perubahan yang Terlalu Tiba-tiba
18 EPISODE 18: Tatapan Mata yang Melelehkan Es
19 EPISODE 19: Membela Diri di Depan Valerie
20 EPISODE 20: Hadiah Kecil untuk Nyonya Arthur
21 EPISODE 21: Jebakan Masa Lalu yang Mengintai
22 EPISODE 22: Adrian yang Mulai Memperhatikan
23 EPISODE 23: Sepiring Iga Bakar Pengubah Suasana
24 EPISODE 24: Sandiwara yang Mulai Pudar
25 EPISODE 25: Ketakutan yang Menjadi Nyata
26 EPISODE 26: Janji Satu Bulan yang Tersisa
27 EPISODE 27: Surat Cerai di Dalam Laci
28 EPISODE 28: Langkah Kaki yang Seirama
29 EPISODE 29: Ketika Es Mulai Retak
30 EPISODE 30: Rahasia Kecil Gisella
31 EPISODE 31: Tamu Tak Diundang di Pintu Depan
32 EPISODE 32: Siapa yang Kau Sebut Pembantu?
33 EPISODE 33: Amarah Adrian yang Terpendam
34 EPISODE 34: Pembelaan di Depan Elena
35 EPISODE 35: Rasa Cemburu yang Tersamarkan
36 EPISODE 36: Malam yang Dingin dan Teh Hangat
37 EPISODE 37: Kepedulian yang Dianggap Kewajiban
38 EPISODE 38: Valerie Mulai Luluh
39 EPISODE 39: Masakan Gisella Mengubah Segalanya
40 EPISODE 40: Bayang-Bayang Julian yang Mendekat
41 EPISODE 41: Pesan Singkat dari Sang Parasit
42 EPISODE 42: Menolak Kembali ke Kubangan
43 EPISODE 43: Adrian Menjadi Perisai
44 EPISODE 44: Sentuhan Tak Sengaja di Lab
45 EPISODE 45: Kemampuan Tersembunyi Gisella
46 EPISODE 46: Profesor yang Terpukau
47 EPISODE 47: Siapa Kau Sebenarnya?
48 EPISODE 48: Teka-Teki Jiwa yang Berbeda
49 EPISODE 49: Makan Malam Keluarga yang Hangat
50 EPISODE 50: Hasil Tes Kesehatan Tuan Arthur
51 EPISODE 51: Peringatan Dini untuk Gula Darah
52 EPISODE 52: Rencana Elena yang Gagal Total
53 EPISODE 53: Sorot Mata Cemburu Sang Profesor
54 EPISODE 54: Berjalan Bersama di Bawah Hujan
55 EPISODE 55: Payung yang Hanya Cukup untuk Berdua
56 EPISODE 56: Hangatnya Mantel Adrian
57 EPISODE 57: Detak Jantung di Balik Dada Bidang
58 EPISODE 58: Mengapa Hatiku Berubah?
59 EPISODE 59: Julian Mencoba Memeras
60 EPISODE 60: Menghadapi Sang Mantan Toksik
61 EPISODE 61: Aku Bukan Gisella yang Dulu!
62 EPISODE 62: Adrian Datang Tepat Waktu
63 EPISODE 63: "Dia Adalah Istriku"
64 EPISODE 64: Pukulan Telak untuk Julian
65 EPISODE 65: Ketakutan Gisella Akan Akhir Cerita
66 EPISODE 66: Pelukan Penenang di Dalam Mobil
67 EPISODE 67: Rahasia yang Tersimpan Rapat
68 EPISODE 68: Valerie Menjadi Sekutu
69 EPISODE 69: Rencana Liburan Keluarga Arthur
70 EPISODE 70: Menunda Kepergian Selamanya
71 EPISODE 71: Perjalanan ke Area Perkemahan
72 EPISODE 72: Udara Segar dan Pertanyaan Baru
73 EPISODE 73: Kilauan Bintang di Atas Tenda
74 EPISODE 74: Percakapan Larut Malam
75 EPISODE 75: Kejutan Bahasa Asing Gisella
76 EPISODE 76: Adrian Menemukan Kejanggalan
77 EPISODE 77: Jiwa yang Tercuri
78 EPISODE 78: Aku Menyukai Dirimu yang Sekarang
79 EPISODE 79: Pengakuan di Bawah Langit Malam
80 EPISODE 80: Penolakan Terhadap Masa Lalu
81 EPISODE 81: Kita Mulai dari Titik Awal
82 EPISODE 82: Kembali ke Rumah dengan Status Baru
83 EPISODE 83: Elena yang Semakin Terdesak
84 EPISODE 84: Siasat Licik di Belakang Layar
85 EPISODE 85: Surat Cerai yang Dihancurkan
86 EPISODE 86: Menjadi Nyonya Arthur Seutuhnya
87 EPISODE 87: Pesta Dansa Universitas
88 EPISODE 88: Gaun Anggun yang Memukau Adrian
89 EPISODE 89: Dansa Pertama di Bawah Lampu
90 EPISODE 90: Pria Lain yang Mencoba Mendekat
91 EPISODE 91: Proteksi Berlebihan Sang Profesor
92 EPISODE 92: Bisikan Lembut di Sudut Ruangan
93 EPISODE 93: Kebenaran Tentang Kakek Gisella
94 EPISODE 94: Utang Budi yang Berubah Menjadi Cinta
95 EPISODE 95: Valerie Mengusir Elena
96 EPISODE 96: Kekalahan Sang Antagonis
97 EPISODE 97: Julian yang Putus Asa
98 EPISODE 98: Jebakan Terakhir Sang Mantan
99 EPISODE 99: Penyelamatan di Lorong Gelap
100 EPISODE 100: Adrian Terluka demi Gisella
101 EPISODE 101: Kepanikan di Rumah Sakit
102 EPISODE 102: Air Mata yang Menetes
103 EPISODE 103: Merawat Sang Profesor Dingin
Episodes

Updated 103 Episodes

1
EPISODE 1: Terbangun di Meja Perceraian
2
EPISODE 2: Takdir Tragis Sang Figuran
3
EPISODE 3: Beri Aku Waktu Satu Bulan
4
EPISODE 4: Kesepakatan di Kamar yang Salah
5
EPISODE 5: Menu Sarapan yang Berubah
6
EPISODE 6: Batasi Gula untuk Profesor Adrian
7
EPISODE 7: Kecurigaan Sang Adik Ipar
8
EPISODE 8: Langkah Kaki di Taman Kota
9
EPISODE 9: Mengapa Dia Menjadi Sangat Anggun?
10
EPISODE 10: Sisi Lain Adrian Arthur
11
EPISODE 11: Menghindari Jalanan Maut
12
EPISODE 12: Kamar Nomor Dua
13
EPISODE 13: Detak Jantung yang Salah Arah
14
EPISODE 14: Malam Pertama dengan Aturan Baru
15
EPISODE 15: Aroma Sup di Dapur Arthur
16
EPISODE 16: Pertanyaan Dingin Sang Suami
17
EPISODE 17: Perubahan yang Terlalu Tiba-tiba
18
EPISODE 18: Tatapan Mata yang Melelehkan Es
19
EPISODE 19: Membela Diri di Depan Valerie
20
EPISODE 20: Hadiah Kecil untuk Nyonya Arthur
21
EPISODE 21: Jebakan Masa Lalu yang Mengintai
22
EPISODE 22: Adrian yang Mulai Memperhatikan
23
EPISODE 23: Sepiring Iga Bakar Pengubah Suasana
24
EPISODE 24: Sandiwara yang Mulai Pudar
25
EPISODE 25: Ketakutan yang Menjadi Nyata
26
EPISODE 26: Janji Satu Bulan yang Tersisa
27
EPISODE 27: Surat Cerai di Dalam Laci
28
EPISODE 28: Langkah Kaki yang Seirama
29
EPISODE 29: Ketika Es Mulai Retak
30
EPISODE 30: Rahasia Kecil Gisella
31
EPISODE 31: Tamu Tak Diundang di Pintu Depan
32
EPISODE 32: Siapa yang Kau Sebut Pembantu?
33
EPISODE 33: Amarah Adrian yang Terpendam
34
EPISODE 34: Pembelaan di Depan Elena
35
EPISODE 35: Rasa Cemburu yang Tersamarkan
36
EPISODE 36: Malam yang Dingin dan Teh Hangat
37
EPISODE 37: Kepedulian yang Dianggap Kewajiban
38
EPISODE 38: Valerie Mulai Luluh
39
EPISODE 39: Masakan Gisella Mengubah Segalanya
40
EPISODE 40: Bayang-Bayang Julian yang Mendekat
41
EPISODE 41: Pesan Singkat dari Sang Parasit
42
EPISODE 42: Menolak Kembali ke Kubangan
43
EPISODE 43: Adrian Menjadi Perisai
44
EPISODE 44: Sentuhan Tak Sengaja di Lab
45
EPISODE 45: Kemampuan Tersembunyi Gisella
46
EPISODE 46: Profesor yang Terpukau
47
EPISODE 47: Siapa Kau Sebenarnya?
48
EPISODE 48: Teka-Teki Jiwa yang Berbeda
49
EPISODE 49: Makan Malam Keluarga yang Hangat
50
EPISODE 50: Hasil Tes Kesehatan Tuan Arthur
51
EPISODE 51: Peringatan Dini untuk Gula Darah
52
EPISODE 52: Rencana Elena yang Gagal Total
53
EPISODE 53: Sorot Mata Cemburu Sang Profesor
54
EPISODE 54: Berjalan Bersama di Bawah Hujan
55
EPISODE 55: Payung yang Hanya Cukup untuk Berdua
56
EPISODE 56: Hangatnya Mantel Adrian
57
EPISODE 57: Detak Jantung di Balik Dada Bidang
58
EPISODE 58: Mengapa Hatiku Berubah?
59
EPISODE 59: Julian Mencoba Memeras
60
EPISODE 60: Menghadapi Sang Mantan Toksik
61
EPISODE 61: Aku Bukan Gisella yang Dulu!
62
EPISODE 62: Adrian Datang Tepat Waktu
63
EPISODE 63: "Dia Adalah Istriku"
64
EPISODE 64: Pukulan Telak untuk Julian
65
EPISODE 65: Ketakutan Gisella Akan Akhir Cerita
66
EPISODE 66: Pelukan Penenang di Dalam Mobil
67
EPISODE 67: Rahasia yang Tersimpan Rapat
68
EPISODE 68: Valerie Menjadi Sekutu
69
EPISODE 69: Rencana Liburan Keluarga Arthur
70
EPISODE 70: Menunda Kepergian Selamanya
71
EPISODE 71: Perjalanan ke Area Perkemahan
72
EPISODE 72: Udara Segar dan Pertanyaan Baru
73
EPISODE 73: Kilauan Bintang di Atas Tenda
74
EPISODE 74: Percakapan Larut Malam
75
EPISODE 75: Kejutan Bahasa Asing Gisella
76
EPISODE 76: Adrian Menemukan Kejanggalan
77
EPISODE 77: Jiwa yang Tercuri
78
EPISODE 78: Aku Menyukai Dirimu yang Sekarang
79
EPISODE 79: Pengakuan di Bawah Langit Malam
80
EPISODE 80: Penolakan Terhadap Masa Lalu
81
EPISODE 81: Kita Mulai dari Titik Awal
82
EPISODE 82: Kembali ke Rumah dengan Status Baru
83
EPISODE 83: Elena yang Semakin Terdesak
84
EPISODE 84: Siasat Licik di Belakang Layar
85
EPISODE 85: Surat Cerai yang Dihancurkan
86
EPISODE 86: Menjadi Nyonya Arthur Seutuhnya
87
EPISODE 87: Pesta Dansa Universitas
88
EPISODE 88: Gaun Anggun yang Memukau Adrian
89
EPISODE 89: Dansa Pertama di Bawah Lampu
90
EPISODE 90: Pria Lain yang Mencoba Mendekat
91
EPISODE 91: Proteksi Berlebihan Sang Profesor
92
EPISODE 92: Bisikan Lembut di Sudut Ruangan
93
EPISODE 93: Kebenaran Tentang Kakek Gisella
94
EPISODE 94: Utang Budi yang Berubah Menjadi Cinta
95
EPISODE 95: Valerie Mengusir Elena
96
EPISODE 96: Kekalahan Sang Antagonis
97
EPISODE 97: Julian yang Putus Asa
98
EPISODE 98: Jebakan Terakhir Sang Mantan
99
EPISODE 99: Penyelamatan di Lorong Gelap
100
EPISODE 100: Adrian Terluka demi Gisella
101
EPISODE 101: Kepanikan di Rumah Sakit
102
EPISODE 102: Air Mata yang Menetes
103
EPISODE 103: Merawat Sang Profesor Dingin

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!