EPISODE 5: Menu Sarapan yang Berubah

Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah tirai kamar Gisella, membentuk garis-garis emas di atas lantai marmer.

Gisella mengerjap, perlahan menyesuaikan penglihatannya dengan kecerahan kamar barunya.

Kesadarannya langsung pulih 100 persen begitu ingatan tentang insiden memalukan semalam melintas di benaknya.

"Salah masuk kamar. Mengunci pintu dari dalam. Ditangkap basah oleh Adrian."

Gisella menarik selimut untuk menutupi wajahnya yang mendadak terasa panas bahkan hanya karena mengingatnya.

"Bodoh, bodoh, bodoh!"

 pada diri sendiri dalam gulungan selimut.

Jika dia ingin bertahan hidup dengan tenang selama tiga puluh hari ke depan, dia harus menghapus citra sebagai wanita mencurigakan di mata Adrian.

Dan cara terbaik untuk memulainya adalah hari ini.

Gisella melompat dari ranjang.

Dia melirik jam dinding—pukul enam pagi.

Di dunia aslinya, jam segini adalah waktu baginya untuk bersiap-siap menghadapi kemacetan ibu kota demi pergi ke kantor.

Di dunia novel ini, jam enam pagi adalah waktu yang sangat tepat untuk menguasai dapur sebelum seluruh kediaman Arthur terbangun.

Setelah mencuci muka dan mengikat rambut cokelat bergelombangnya menjadi cepol kasual yang rapi, Gisella melangkah turun ke lantai satu.

Suasana rumah masih sepi, hanya terdengar suara sapu lidi dari halaman luar—para pelayan sedang membersihkan taman bawah.

Ketika Gisella menginjakkan kaki di dapur, seorang pelayan paruh baya bernama Bibi Martha sedang mengeluarkan beberapa stoples selai dan roti tawar putih dari lemari gantung.

Bibi Martha tersentak kaget hingga hampir menjatuhkan stoples selai stroberi di tangannya saat melihat Gisella.

"N-Nona Muda Gisella?"

Bibi Martha menatapnya dengan mata terbelalak dan tubuh sedikit bergetar.

Dalam ingatan tubuh ini, Gisella asli sering memaki para pelayan di pagi hari jika suasana hatinya buruk.

 Wajar jika Bibi Martha tampak ketakutan melihat sang nyonya muda sudah berada di dapur sepagi ini dengan rambut dicepol dan lengan baju yang disingsingkan.

Gisella segera memamerkan senyuman paling ramah dan hangat yang dia miliki.

"Selamat pagi, Bibi Martha. Maaf membuatmu kaget."

Bibi Martha mengerjap beberapa kali, tampak tidak percaya dengan kelembutan suara yang baru saja didengarnya.

"Ah, selamat pagi, Nona Muda. Apakah... apakah ada yang salah? Saya baru saja bersiap menyajikan sarapan seperti biasa untuk Anda dan Tuan Muda Adrian."

Gisella mendekati konter dapur, melirik ke arah roti tawar putih dan deretan selai industri yang dipenuhi pemanis buatan.

Di sudut lain, ada beberapa potong bacon berlemak yang siap digoreng. Ini adalah menu sarapan standar yang biasa disiapkan untuk Adrian—menu tinggi karbohidrat sederhana, lemak jenuh, dan gula, yang jika dikombinasikan dengan tingkat stres riset Adrian, akan menjadi bom waktu bagi kesehatannya.

"Bibi Martha, mulai hari ini, biar aku yang menyiapkan sarapan untuk Adrian... maksudku, untuk kami berdua,"

ujar Gisella lembut namun tegas.

"Tapi, Nona Muda..."

Bibi Martha tampak ragu sekaligus panik.

"Tuan Muda Adrian sangat ketat dengan jadwalnya. Beliau biasanya hanya makan roti bakar dengan selai manis dan kopi hitam sebelum pergi ke laboratorium universitas."

"Aku tahu. Dan menu itulah yang harus diubah,"

kata Gisella sambil membuka lemari pendingin besar.

"Percayalah padaku, Bibi. Aku tidak akan membuat kekacauan. Tolong bantu aku menyiapkan beberapa bahan saja, ya?"

Melihat binar mata Gisella yang begitu jernih dan penuh tekad—jauh dari ekspresi kosong atau kemarahan histeris yang biasanya mendominasi wajah wanita itu—Bibi Martha perlahan melunakkan sikapnya.

"Baik, Nona Muda. Apa yang perlu saya siapkan?"

Gisella mulai menyusun menu sarapan baru yang seimbang. Dia memilih untuk membuat Frittata—telur dadar panggang gaya Italia yang kaya akan protein dan serat—menggunakan putih telur yang dicampur dengan telur utuh, potongan dada ayam rebus yang disuir, jamur kancing, bayam segar, dan sedikit keju rendah lemak.

Sebagai pendamping karbohidratnya, dia menolak roti tawar putih dan beralih menggunakan roti gandum utuh yang dipanggang kering tanpa mentega, disajikan dengan alpukat tumbuk yang diberi sedikit perasan lemon dan sejumput lada hitam.

Gisella bekerja dengan cekatan.

Gerakannya yang luwes dalam memotong sayuran dan mengocok telur membuat Bibi Martha yang memperhatikan dari sudut dapur tertegun kagum.

Ini bukan gerakan seseorang yang baru pertama kali menyentuh dapur; ini adalah gerakan seorang ahli.

Pukul tujuh kurang lima belas menit, aroma harum dari telur panggang berbumbu lada hitam dan bawang putih, serta aroma roti gandum yang hangat, mulai memenuhi ruang makan.

Tepat pada saat itu, langkah kaki yang teratur terdengar dari arah tangga.

Adrian Arthur turun dengan pakaian formalnya—celana kain abu-abu gelap, kemeja putih bersih yang pas di tubuh, dan jas diletakkan di lengan kirinya.

 Kacamata berbingkai perak tipisnya bertengger sempurna di atas hidung mancungnya.

Dia tampak segar, namun guratan tipis kelelahan di dahinya menunjukkan bahwa dia kembali terjaga hingga larut malam setelah insiden salah kamar semalam.

Adrian menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu ruang makan.

Hidungnya mengendus aroma asing yang menggugah selera.

Matanya langsung tertuju pada meja makan.

Di atas meja, tidak ada lagi piring berisi roti putih berlumur selai stroberi merah pekat atau bacon berminyak.

Sebagai gantinya, sebuah piring keramik cantik menyajikan sepotong besar frittata kuning keemasan yang tebal dan mengepulkan uap hangat, bersanding dengan roti gandum panggang yang dilapisi warna hijau segar dari alpukat.

Di samping piring tersebut, segelas air lemon hangat dan secangkir teh hijau menggantikan kopi hitam pekatnya yang biasa.

Dan di seberang meja, Gisella sedang duduk manis sambil memegang segelas air putih, menatapnya dengan senyuman cerah tanpa dosa—seolah-olah insiden memalukan di mana dia menyusup ke ranjang Adrian semalam tidak pernah terjadi.

"Selamat pagi, Profesor Adrian," sapa Gisella riang.

"Silakan duduk. Sarapanmu sudah siap."

Adrian tidak langsung duduk. Dia menatap hidangan itu, lalu menatap Gisella dengan mata menyipit.

"Apa ini?"

"Ini sarapan barumu," jawab Gisella santai.

"Protein tinggi dari telur dan ayam, lemak sehat dari alpukat, serat dari bayam dan jamur, serta karbohidrat kompleks dari roti gandum. Ini akan memberimu energi konstan selama mengajar atau melakukan riset di lab tanpa membuatmu mengalami *sugar crash* di siang hari."

Adrian melangkah mendekat, menarik kursi kayu mahoni di hadapan Gisella, lalu duduk.

Dia meletakkan jasnya di sandaran kursi.

Pandangannya beralih ke cangkir yang biasanya berisi kopi hitam pekat sehitam arang.

"Di mana kopiku?"

tanya Adrian, nadanya terdengar menuntut. Bagi seorang peneliti, kopi adalah bahan bakar utama di pagi hari.

"Kopi hitammu dikurangi mulai hari ini," jawab Gisella dengan berani, memajukan tubuhnya sedikit ke arah meja.

"Kau meminum kopi pekat tadi malam, dan jika kau meminumnya lagi pagi ini dalam keadaan perut kosong, asam lambungmu akan naik. Ditambah lagi, kafein berlebih digabung dengan stres akan meningkatkan hormon kortisol yang memperburuk sensitivitas insulin mu. Singkatnya, teh hijau dan air lemon hangat ini jauh lebih baik untuk membersihkan sistem tubuhmu pagi ini."

Adrian bersandar pada kursi, menyilangkan tangannya di depan dada.

Dia menatap Gisella lurus-lurus di balik lensa kacamatanya.

"Gisella, apakah kemarin kepalamu benar-benar hanya terbentur jendela, atau ada bagian dari otakmu yang tertukar?"

Gisella tertawa kecil, suara tawa yang renyah dan terdengar sangat natural, membuat Adrian terpaku sesaat.

Gisella yang asli memiliki suara tawa yang melengking manja atau sinis, bukan tawa yang menenangkan seperti ini.

"Sudah kubilang, benturan kemarin mengaktifkan sel otakku yang tertidur,"

kilah Gisella dengan kedipan mata jenaka.

"Cobalah makan. Bibi Martha saksinya, aku memasak ini dengan higienis dan tanpa racun. Aku tidak berniat menjandakan diriku sendiri sebelum akta cerai resmi keluar satu bulan lagi."

Mendengar kata 'satu bulan lagi', Adrian teringat pada kesepakatan mereka.

Pria itu mengembuskan napas pendek.

Akhirnya, dia mengambil garpu dan pisau, lalu memotong sepotong kecil frittata panggang tersebut dan memasukkannya ke dalam mulut.

Teksturnya lembut namun padat.

Rasa gurih dari telur dan ayam berpadu sempurna dengan kesegaran bayam dan keju yang tidak berlebihan.

 Roti gandum dengan alpukat tumbuk di sampingnya memberikan rasa gurih dan renyah yang unik di lidah.

Ini adalah rasa yang sama sekali baru bagi Adrian, yang selama ini menganggap sarapan hanyalah formalitas pengisi perut yang harus diselesaikan secepat mungkin dengan rasa manis.

Adrian makan dalam keheningan yang teratur. Sendok demi sendok berpindah dengan ritme yang stabil.

Dia bahkan meminum teh hijau hangat itu hingga tersisa setengah tanpa komplain.

Gisella yang mengawasinya tersenyum puas dalam hati.

"Satu poin lagi untuk memperpanjang hidup."

Menjaga kesehatan Adrian adalah investasi terbaiknya saat ini. Jika Adrian sehat dan suasana hatinya baik, posisi Gisella di rumah ini akan aman selama tiga puluh hari ke depan.

"Bagaimana?"

tanya Gisella setelah Adrian meletakkan garpunya tanda selesai.

"Rasanya... bisa diterima,"

 jawab Adrian dengan nada datar khasnya, menolak memberikan pujian terbuka meskipun piringnya bersih tanpa sisa. Dia menyeka bibirnya dengan serbet.

"Tapi jangan mengira dengan mengubah menu sarapanku, kau bisa menghapus kelakuan ceroboh mu semalam, Gisella."

Pipi Gisella refleks merona merah mendengar sindiran tentang insiden salah kamar tersebut.

Dia berdeham, mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Itu... itu murni kesalahan teknis karena pencahayaan yang buruk! Lagipula, hari ini aku berencana untuk pergi keluar. Aku butuh izinmu."

Adrian yang sedang memakai jasnya kembali menghentikan gerakannya.

Matanya menatap Gisella dengan tajam.

"Pergi keluar? Menemui Julian?"

Suasana di ruang makan mendadak mendingin.

Aura posesif dan kecurigaan Adrian kembali mencuat.

Di dalam plot novel, setiap kali Gisella asli meminta izin keluar rumah, itu selalu untuk menemui Julian dan memberikan uang atau barang mewah milik keluarga Arthur kepada pria parasit itu.

"Bukan!"

bantah Gisella cepat dengan nada ketat. Dia menatap Adrian dengan pandangan jernih tanpa rasa bersalah.

"Aku pergi untuk urusan pribadiku sendiri. Aku perlu mencari beberapa buku referensi di perpustakaan kota dan... mengurus beberapa hal untuk persiapan kemandirian aku setelah keluar dari rumah ini."

Adrian memperhatikan ekspresi wajah Gisella selama beberapa detik.

Tidak ada kepanikan, tidak ada binar kebohongan yang biasa dia lihat jika wanita itu mencoba menyembunyikan hubungannya dengan Julian.

"Kau bisa pergi,"

ucap Adrian akhirnya sambil merapikan kerah jasnya.

"Tapi ingat peringatanku semalam. Jika aku mendengarmu berhubungan dengan pria itu atau pergi ke tempat yang mencurigakan, supir rumah ini akan langsung melaporkannya kepadaku, dan waktu satu bulan mu akan hangus detik itu juga."

"Aku mengerti, Profesor. Aku memegang kata-kataku,"

jawab Gisella tegas, memberikan gestur hormat yang sedikit jenaka.

Adrian menatapnya sekilas, seolah ingin mengatakan sesuatu, namun dia mengurungkannya.

Dia berbalik dan melangkah keluar dari ruang makan menuju mobil jemputannya yang sudah menunggu di depan rumah.

Begitu siluet Adrian menghilang di balik pintu utama, Gisella menyandarkan punggungnya ke kursi dengan senyuman puas.

"Menu sarapan yang berubah, langkah awal yang sukses,"

bisik Gisella pada diri sendiri. Dia melirik sisa teh hijau di cangkir Adrian.

"Sekarang, mari kita pergi ke perpustakaan kota dan mulai mencari cara untuk menghasilkan uang. Takdir tragis itu tidak akan pernah menyentuhku."

Terpopuler

Comments

Uthie

Uthie

semakin seruu 👍

2026-07-19

0

lihat semua
Episodes
1 EPISODE 1: Terbangun di Meja Perceraian
2 EPISODE 2: Takdir Tragis Sang Figuran
3 EPISODE 3: Beri Aku Waktu Satu Bulan
4 EPISODE 4: Kesepakatan di Kamar yang Salah
5 EPISODE 5: Menu Sarapan yang Berubah
6 EPISODE 6: Batasi Gula untuk Profesor Adrian
7 EPISODE 7: Kecurigaan Sang Adik Ipar
8 EPISODE 8: Langkah Kaki di Taman Kota
9 EPISODE 9: Mengapa Dia Menjadi Sangat Anggun?
10 EPISODE 10: Sisi Lain Adrian Arthur
11 EPISODE 11: Menghindari Jalanan Maut
12 EPISODE 12: Kamar Nomor Dua
13 EPISODE 13: Detak Jantung yang Salah Arah
14 EPISODE 14: Malam Pertama dengan Aturan Baru
15 EPISODE 15: Aroma Sup di Dapur Arthur
16 EPISODE 16: Pertanyaan Dingin Sang Suami
17 EPISODE 17: Perubahan yang Terlalu Tiba-tiba
18 EPISODE 18: Tatapan Mata yang Melelehkan Es
19 EPISODE 19: Membela Diri di Depan Valerie
20 EPISODE 20: Hadiah Kecil untuk Nyonya Arthur
21 EPISODE 21: Jebakan Masa Lalu yang Mengintai
22 EPISODE 22: Adrian yang Mulai Memperhatikan
23 EPISODE 23: Sepiring Iga Bakar Pengubah Suasana
24 EPISODE 24: Sandiwara yang Mulai Pudar
25 EPISODE 25: Ketakutan yang Menjadi Nyata
26 EPISODE 26: Janji Satu Bulan yang Tersisa
27 EPISODE 27: Surat Cerai di Dalam Laci
28 EPISODE 28: Langkah Kaki yang Seirama
29 EPISODE 29: Ketika Es Mulai Retak
30 EPISODE 30: Rahasia Kecil Gisella
31 EPISODE 31: Tamu Tak Diundang di Pintu Depan
32 EPISODE 32: Siapa yang Kau Sebut Pembantu?
33 EPISODE 33: Amarah Adrian yang Terpendam
34 EPISODE 34: Pembelaan di Depan Elena
35 EPISODE 35: Rasa Cemburu yang Tersamarkan
36 EPISODE 36: Malam yang Dingin dan Teh Hangat
37 EPISODE 37: Kepedulian yang Dianggap Kewajiban
38 EPISODE 38: Valerie Mulai Luluh
39 EPISODE 39: Masakan Gisella Mengubah Segalanya
40 EPISODE 40: Bayang-Bayang Julian yang Mendekat
41 EPISODE 41: Pesan Singkat dari Sang Parasit
42 EPISODE 42: Menolak Kembali ke Kubangan
43 EPISODE 43: Adrian Menjadi Perisai
44 EPISODE 44: Sentuhan Tak Sengaja di Lab
45 EPISODE 45: Kemampuan Tersembunyi Gisella
46 EPISODE 46: Profesor yang Terpukau
47 EPISODE 47: Siapa Kau Sebenarnya?
48 EPISODE 48: Teka-Teki Jiwa yang Berbeda
49 EPISODE 49: Makan Malam Keluarga yang Hangat
50 EPISODE 50: Hasil Tes Kesehatan Tuan Arthur
51 EPISODE 51: Peringatan Dini untuk Gula Darah
52 EPISODE 52: Rencana Elena yang Gagal Total
53 EPISODE 53: Sorot Mata Cemburu Sang Profesor
54 EPISODE 54: Berjalan Bersama di Bawah Hujan
55 EPISODE 55: Payung yang Hanya Cukup untuk Berdua
56 EPISODE 56: Hangatnya Mantel Adrian
57 EPISODE 57: Detak Jantung di Balik Dada Bidang
58 EPISODE 58: Mengapa Hatiku Berubah?
59 EPISODE 59: Julian Mencoba Memeras
60 EPISODE 60: Menghadapi Sang Mantan Toksik
61 EPISODE 61: Aku Bukan Gisella yang Dulu!
62 EPISODE 62: Adrian Datang Tepat Waktu
63 EPISODE 63: "Dia Adalah Istriku"
64 EPISODE 64: Pukulan Telak untuk Julian
65 EPISODE 65: Ketakutan Gisella Akan Akhir Cerita
66 EPISODE 66: Pelukan Penenang di Dalam Mobil
67 EPISODE 67: Rahasia yang Tersimpan Rapat
68 EPISODE 68: Valerie Menjadi Sekutu
69 EPISODE 69: Rencana Liburan Keluarga Arthur
70 EPISODE 70: Menunda Kepergian Selamanya
71 EPISODE 71: Perjalanan ke Area Perkemahan
72 EPISODE 72: Udara Segar dan Pertanyaan Baru
73 EPISODE 73: Kilauan Bintang di Atas Tenda
74 EPISODE 74: Percakapan Larut Malam
75 EPISODE 75: Kejutan Bahasa Asing Gisella
76 EPISODE 76: Adrian Menemukan Kejanggalan
77 EPISODE 77: Jiwa yang Tercuri
78 EPISODE 78: Aku Menyukai Dirimu yang Sekarang
79 EPISODE 79: Pengakuan di Bawah Langit Malam
80 EPISODE 80: Penolakan Terhadap Masa Lalu
81 EPISODE 81: Kita Mulai dari Titik Awal
82 EPISODE 82: Kembali ke Rumah dengan Status Baru
83 EPISODE 83: Elena yang Semakin Terdesak
84 EPISODE 84: Siasat Licik di Belakang Layar
85 EPISODE 85: Surat Cerai yang Dihancurkan
86 EPISODE 86: Menjadi Nyonya Arthur Seutuhnya
87 EPISODE 87: Pesta Dansa Universitas
88 EPISODE 88: Gaun Anggun yang Memukau Adrian
89 EPISODE 89: Dansa Pertama di Bawah Lampu
90 EPISODE 90: Pria Lain yang Mencoba Mendekat
91 EPISODE 91: Proteksi Berlebihan Sang Profesor
92 EPISODE 92: Bisikan Lembut di Sudut Ruangan
93 EPISODE 93: Kebenaran Tentang Kakek Gisella
94 EPISODE 94: Utang Budi yang Berubah Menjadi Cinta
95 EPISODE 95: Valerie Mengusir Elena
96 EPISODE 96: Kekalahan Sang Antagonis
97 EPISODE 97: Julian yang Putus Asa
98 EPISODE 98: Jebakan Terakhir Sang Mantan
99 EPISODE 99: Penyelamatan di Lorong Gelap
100 EPISODE 100: Adrian Terluka demi Gisella
101 EPISODE 101: Kepanikan di Rumah Sakit
102 EPISODE 102: Air Mata yang Menetes
103 EPISODE 103: Merawat Sang Profesor Dingin
Episodes

Updated 103 Episodes

1
EPISODE 1: Terbangun di Meja Perceraian
2
EPISODE 2: Takdir Tragis Sang Figuran
3
EPISODE 3: Beri Aku Waktu Satu Bulan
4
EPISODE 4: Kesepakatan di Kamar yang Salah
5
EPISODE 5: Menu Sarapan yang Berubah
6
EPISODE 6: Batasi Gula untuk Profesor Adrian
7
EPISODE 7: Kecurigaan Sang Adik Ipar
8
EPISODE 8: Langkah Kaki di Taman Kota
9
EPISODE 9: Mengapa Dia Menjadi Sangat Anggun?
10
EPISODE 10: Sisi Lain Adrian Arthur
11
EPISODE 11: Menghindari Jalanan Maut
12
EPISODE 12: Kamar Nomor Dua
13
EPISODE 13: Detak Jantung yang Salah Arah
14
EPISODE 14: Malam Pertama dengan Aturan Baru
15
EPISODE 15: Aroma Sup di Dapur Arthur
16
EPISODE 16: Pertanyaan Dingin Sang Suami
17
EPISODE 17: Perubahan yang Terlalu Tiba-tiba
18
EPISODE 18: Tatapan Mata yang Melelehkan Es
19
EPISODE 19: Membela Diri di Depan Valerie
20
EPISODE 20: Hadiah Kecil untuk Nyonya Arthur
21
EPISODE 21: Jebakan Masa Lalu yang Mengintai
22
EPISODE 22: Adrian yang Mulai Memperhatikan
23
EPISODE 23: Sepiring Iga Bakar Pengubah Suasana
24
EPISODE 24: Sandiwara yang Mulai Pudar
25
EPISODE 25: Ketakutan yang Menjadi Nyata
26
EPISODE 26: Janji Satu Bulan yang Tersisa
27
EPISODE 27: Surat Cerai di Dalam Laci
28
EPISODE 28: Langkah Kaki yang Seirama
29
EPISODE 29: Ketika Es Mulai Retak
30
EPISODE 30: Rahasia Kecil Gisella
31
EPISODE 31: Tamu Tak Diundang di Pintu Depan
32
EPISODE 32: Siapa yang Kau Sebut Pembantu?
33
EPISODE 33: Amarah Adrian yang Terpendam
34
EPISODE 34: Pembelaan di Depan Elena
35
EPISODE 35: Rasa Cemburu yang Tersamarkan
36
EPISODE 36: Malam yang Dingin dan Teh Hangat
37
EPISODE 37: Kepedulian yang Dianggap Kewajiban
38
EPISODE 38: Valerie Mulai Luluh
39
EPISODE 39: Masakan Gisella Mengubah Segalanya
40
EPISODE 40: Bayang-Bayang Julian yang Mendekat
41
EPISODE 41: Pesan Singkat dari Sang Parasit
42
EPISODE 42: Menolak Kembali ke Kubangan
43
EPISODE 43: Adrian Menjadi Perisai
44
EPISODE 44: Sentuhan Tak Sengaja di Lab
45
EPISODE 45: Kemampuan Tersembunyi Gisella
46
EPISODE 46: Profesor yang Terpukau
47
EPISODE 47: Siapa Kau Sebenarnya?
48
EPISODE 48: Teka-Teki Jiwa yang Berbeda
49
EPISODE 49: Makan Malam Keluarga yang Hangat
50
EPISODE 50: Hasil Tes Kesehatan Tuan Arthur
51
EPISODE 51: Peringatan Dini untuk Gula Darah
52
EPISODE 52: Rencana Elena yang Gagal Total
53
EPISODE 53: Sorot Mata Cemburu Sang Profesor
54
EPISODE 54: Berjalan Bersama di Bawah Hujan
55
EPISODE 55: Payung yang Hanya Cukup untuk Berdua
56
EPISODE 56: Hangatnya Mantel Adrian
57
EPISODE 57: Detak Jantung di Balik Dada Bidang
58
EPISODE 58: Mengapa Hatiku Berubah?
59
EPISODE 59: Julian Mencoba Memeras
60
EPISODE 60: Menghadapi Sang Mantan Toksik
61
EPISODE 61: Aku Bukan Gisella yang Dulu!
62
EPISODE 62: Adrian Datang Tepat Waktu
63
EPISODE 63: "Dia Adalah Istriku"
64
EPISODE 64: Pukulan Telak untuk Julian
65
EPISODE 65: Ketakutan Gisella Akan Akhir Cerita
66
EPISODE 66: Pelukan Penenang di Dalam Mobil
67
EPISODE 67: Rahasia yang Tersimpan Rapat
68
EPISODE 68: Valerie Menjadi Sekutu
69
EPISODE 69: Rencana Liburan Keluarga Arthur
70
EPISODE 70: Menunda Kepergian Selamanya
71
EPISODE 71: Perjalanan ke Area Perkemahan
72
EPISODE 72: Udara Segar dan Pertanyaan Baru
73
EPISODE 73: Kilauan Bintang di Atas Tenda
74
EPISODE 74: Percakapan Larut Malam
75
EPISODE 75: Kejutan Bahasa Asing Gisella
76
EPISODE 76: Adrian Menemukan Kejanggalan
77
EPISODE 77: Jiwa yang Tercuri
78
EPISODE 78: Aku Menyukai Dirimu yang Sekarang
79
EPISODE 79: Pengakuan di Bawah Langit Malam
80
EPISODE 80: Penolakan Terhadap Masa Lalu
81
EPISODE 81: Kita Mulai dari Titik Awal
82
EPISODE 82: Kembali ke Rumah dengan Status Baru
83
EPISODE 83: Elena yang Semakin Terdesak
84
EPISODE 84: Siasat Licik di Belakang Layar
85
EPISODE 85: Surat Cerai yang Dihancurkan
86
EPISODE 86: Menjadi Nyonya Arthur Seutuhnya
87
EPISODE 87: Pesta Dansa Universitas
88
EPISODE 88: Gaun Anggun yang Memukau Adrian
89
EPISODE 89: Dansa Pertama di Bawah Lampu
90
EPISODE 90: Pria Lain yang Mencoba Mendekat
91
EPISODE 91: Proteksi Berlebihan Sang Profesor
92
EPISODE 92: Bisikan Lembut di Sudut Ruangan
93
EPISODE 93: Kebenaran Tentang Kakek Gisella
94
EPISODE 94: Utang Budi yang Berubah Menjadi Cinta
95
EPISODE 95: Valerie Mengusir Elena
96
EPISODE 96: Kekalahan Sang Antagonis
97
EPISODE 97: Julian yang Putus Asa
98
EPISODE 98: Jebakan Terakhir Sang Mantan
99
EPISODE 99: Penyelamatan di Lorong Gelap
100
EPISODE 100: Adrian Terluka demi Gisella
101
EPISODE 101: Kepanikan di Rumah Sakit
102
EPISODE 102: Air Mata yang Menetes
103
EPISODE 103: Merawat Sang Profesor Dingin

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!