Episode 2

Bab 02 - Cinta yang Membuat Mual

Ruang tengah rumah Pak Darto mendadak sesak.

Padahal pintu depan terbuka lebar. Angin malam masuk dari halaman, menggoyang tirai tipis yang sudah kusam. Tapi napas orang-orang seperti tertahan di satu tempat, di antara Nadia yang berdiri tegak dan Bella yang masih memeluk lengan Bu Ratna sambil menangis.

Doa Nadia terdengar manis.

Terlalu manis sampai membuat kulit Bella meremang.

Semoga kalian berdua hidup bersama sampai tua.

Orang lain mungkin mengira itu ucapan pasrah. Bella tahu bukan. Ada sesuatu di mata Nadia. Sesuatu yang dingin, tajam, dan seperti sudah tahu akhir dari semua ini.

Bella menelan ludah.

Tidak mungkin.

Nadia tidak mungkin tahu.

Yang kembali dari kematian hanya dirinya. Bella yakin itu. Ia masih ingat jelas kehidupan lalu: Nadia menikah dengan Arman, tinggal di kompleks dinas, dipanggil Bu Arman oleh tetangga, datang ke kampung dengan mobil bagus dan gelang emas di tangan. Semua orang memuji keberuntungan Nadia.

Sementara Bella?

Ia menikah dengan lelaki miskin bernama Yusuf, lulusan kampus yang katanya pintar tapi akhirnya hanya jadi buruh serabutan setelah tersandung kasus pencurian di tempat kerja. Hidupnya sempit. Makan sering kurang. Ia berkali-kali mendatangi Nadia untuk meminjam uang, tapi Nadia semakin lama semakin dingin.

Bella mati-matian berpikir, kalau saja dulu ia yang menikah dengan Arman.

Lalu ia benar-benar kembali.

Maka ia mengambil Arman.

Ia tidak peduli malam itu lamaran Nadia. Ia tidak peduli orang-orang melihatnya keluar dari kamar. Lebih baik menanggung malu sebentar daripada kembali hidup miskin seumur hidup.

Tapi kenapa Nadia tersenyum seperti itu?

"Kak Nadia," ucap Bella lirih. "Aku tahu kamu marah. Tapi doamu tadi... kenapa terdengar seperti kutukan?"

Nadia menoleh perlahan.

"Kutukan? Aku mendoakan kalian langgeng, Bella. Bukankah itu yang kamu mau?"

Bella kehilangan kata.

Arman yang lebih dulu bicara. Ia berdiri, merapikan kemejanya yang basah oleh teh.

"Cukup, Nadia. Jangan membuat semuanya makin panjang."

Nadia menatap noda teh di kemejanya.

"Kamu baru basah sedikit sudah merasa tidak nyaman?"

"Apa maksudmu?"

"Tidak ada. Aku hanya sedang belajar. Rupanya orang yang hobi bermain di belakang orang lain juga bisa tersinggung kalau kena teh."

Beberapa orang menahan tawa. Satu ibu tetangga menutup mulut dengan ujung kerudung. Arman melihat ke sekeliling, rahangnya mengeras.

"Jaga mulutmu."

"Seharusnya kamu jaga celanamu dulu."

"Nadia!" Pak Darto berseru, wajahnya merah padam.

Nadia menoleh. "Kenapa, Pak? Kata-kataku lebih memalukan daripada perbuatan mereka?"

Pak Darto membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Bu Ratna langsung mengambil alih. Wajahnya penuh air mata, tapi suaranya tetap terukur.

"Nak, Ibu tahu kamu terluka. Tapi kalau kamu terus bicara kasar, orang-orang akan menilai kamu tidak punya adab."

Nadia tersenyum.

Bu Ratna selalu pandai memilih kata.

Adab.

Perempuan seperti Bu Ratna bisa menyembunyikan pisau di balik kata adab, sabar, keluarga, dan kasihan. Ia tidak perlu berteriak. Cukup membuat korban merasa bersalah karena berani berdarah.

"Bu Ratna," kata Nadia, "adab itu dimulai dari tidak tidur dengan calon suami orang."

Bu Ratna tersedak.

Sari hampir tertawa, tapi ia menahannya.

Eyang Marni memukul lantai lagi.

"Sudah! Jangan melawan ibu tirimu. Bagaimanapun dia yang mengurus rumah ini sejak kamu pulang dari panti."

Nadia memandang neneknya.

"Mengurus rumah atau mengurus rencana agar Bella bisa mengambil semuanya?"

Wajah Bu Ratna berubah tipis.

Hanya sedetik, tapi Nadia melihatnya.

"Nadia," kata Bu Ratna pelan, "jangan asal menuduh. Ibu tidak pernah membedakan kamu dan Bella."

"Benarkah?"

"Tentu."

"Kalau begitu, kenapa waktu aku kecil, aku yang dikirim ke panti? Kenapa Bella yang dibawa pulang?"

Ruangan seketika diam.

Beberapa saudara yang lebih muda saling pandang. Mereka pernah mendengar cerita itu, tapi tidak pernah ada yang berani membicarakannya di depan banyak orang.

Bu Ratna menunduk, air matanya jatuh.

"Itu keputusan orang tua dulu. Ada banyak hal yang tidak kamu mengerti."

"Aku memang tidak mengerti," jawab Nadia. "Aku tidak mengerti kenapa anak kandung Bapak harus dibuang karena dibilang membawa sial, sementara anak bawaan Ibu diperlakukan seperti pembawa rezeki."

"Nadia!" Pak Darto bangkit. "Jaga ucapanmu."

Nadia menatap bapaknya lama.

Dulu, tatapan seperti itu membuatnya takut. Ia akan langsung diam, meminta maaf, dan merasa berdosa karena membuat bapaknya malu.

Sekarang tidak.

"Pak, malam ini aku yang dikhianati. Kalau Bapak masih ingin memarahiku, setidaknya tunggu sampai orang yang masuk kamar dengan calon suamiku selesai dimarahi dulu."

Pak Darto duduk kembali seperti kehabisan tenaga.

Keluarga Wiratmaja yang sejak tadi diam mulai tidak nyaman. Pak Hendra, ayah Arman, berdeham. Ia laki-laki besar dengan kumis tipis, kemeja batik rapi, dan wajah orang yang terbiasa dihormati.

"Nadia," katanya, "kami dari pihak Arman tentu meminta maaf. Ini kesalahan besar. Tapi kita perlu mencari penyelesaian yang tidak merusak dua keluarga."

Nadia menoleh.

"Dua keluarga? Yang rusak duluan itu nama saya, Pak."

Ibu Arman, Bu Lilis, langsung menghela napas.

"Anak muda memang mudah emosi. Kami tidak lepas tangan. Kalau Arman harus menikahi Bella, kami akan bertanggung jawab."

"Bagus."

Bu Lilis tampak lega.

Nadia melanjutkan, "Tanggung jawab kepada Bella tidak menghapus tanggung jawab kepada saya."

Lega itu hilang.

Arman mengerutkan kening.

"Maksudmu apa?"

Nadia berjalan ke meja tamu. Di sana masih ada kotak seserahan yang dibawa keluarga Wiratmaja: kain, kue, buah, seperangkat alat salat, dan amplop mahar simbolis untuk acara lamaran.

Ia menyentuh salah satu kotak.

"Malam ini kalian datang melamar saya. Tetangga melihat. Saudara melihat. Setelah makan di rumah ini, kamu ketahuan dengan Bella. Kalau besok orang kampung bicara, mereka tidak akan hanya menyebut nama Bella. Mereka akan menyebut namaku juga."

Bella cepat berkata, "Aku tidak akan membiarkan orang menyalahkanmu, Kak."

Nadia tertawa kecil.

"Kamu bahkan tidak bisa menjaga pintu kamar tertutup rapat. Jangan berjanji menjaga namaku."

Bella pucat.

Bu Ratna memelototi Nadia. "Cukup menyindir adikmu."

"Dia bukan adik yang sedang jatuh dari sepeda. Dia perempuan dewasa yang masuk kamar dengan calon suamiku."

Sari maju setengah langkah.

"Nadia benar. Kalau keluarga Wiratmaja mau menikahkan Arman dan Bella, silakan. Tapi nama Nadia harus dibersihkan."

Pak Hendra menatap Sari, lalu Nadia.

"Apa yang kamu minta?"

Eyang Marni langsung menyela, "Tidak perlu macam-macam. Nadia nanti dijodohkan dengan Yusuf. Anak itu lulusan universitas. Keluarganya memang sederhana, tapi—"

"Aku tidak mau Yusuf," potong Nadia.

Eyang Marni terkejut. "Kamu belum dengar selesai."

"Aku sudah dengar di kehidupan..." Nadia berhenti sejenak, lalu mengganti kalimatnya. "Aku sudah cukup mendengar selama dua puluh tahun."

Bu Ratna menegang.

Nadia hampir keceplosan. Ia tidak boleh membiarkan mereka tahu dirinya juga kembali.

"Yusuf itu calon Bella," lanjut Nadia. "Kalau Bella mengambil Arman, bukan berarti aku harus mengambil sisa pilihan Bella."

Arman tertawa sinis.

"Jadi kamu masih mau menikah denganku?"

Nadia menatapnya seperti melihat sampah basah.

"Denganmu? Tidak."

Wajah Arman langsung gelap.

"Lalu apa maumu?"

Nadia melihat Pak Hendra.

"Lamaran keluarga Wiratmaja kepada keluarga Pak Darto tetap harus dipertanggungjawabkan. Kalau Arman memilih Bella, maka keluarga Wiratmaja tetap harus menyelesaikan urusan denganku secara terhormat."

Bu Lilis mulai gusar.

"Kami akan memberi uang ganti malu."

"Berapa?"

Bu Lilis tersentak. Ia mungkin tidak menyangka Nadia akan bertanya setegas itu.

"Nadia," kata Bu Ratna cepat, "jangan membuat dirimu terlihat seperti menjual harga diri."

Nadia berbalik.

"Harga diriku sudah kalian injak. Sekarang aku hanya meminta kalian membayar sandal yang kalian pakai."

Sari tidak tahan lagi. Ia tertawa pendek.

Beberapa tetangga ikut menunduk, bahu mereka bergetar.

Bu Ratna malu setengah mati.

Eyang Marni marah. "Dasar anak tidak tahu diri! Perempuan kok bicara uang di depan tamu!"

"Perempuan boleh dijadikan korban di depan tamu, tapi tidak boleh bicara uang?"

"Kamu..."

"Eyang," Nadia memotong, suaranya rendah, "kalau malam ini Eyang masih memaksa aku diam, besok aku sendiri yang akan pergi ke rumah Pak RT, ke kantor kelurahan, lalu ke Polsek. Aku akan bilang keluarga ini memaksaku menerima laki-laki lain setelah calon suamiku tidur dengan adik tiriku."

Ruangan membeku.

Pak Darto panik. "Nadia, jangan bawa-bawa polisi."

"Kenapa? Takut malu?"

Tidak ada jawaban.

Nadia menatap Bella.

"Kamu mau Arman, kan?"

Bella mengangguk pelan.

"Ambil."

Lalu Nadia menatap Arman.

"Kamu mau Bella?"

Arman, demi harga dirinya, menjawab, "Ya."

Nadia tersenyum.

"Bagus. Kalau begitu, mulai malam ini jangan pernah lagi memakai namaku sebagai alasan. Kalian bukan korban cinta. Kalian cuma dua orang tidak tahu malu yang ketahuan terlalu cepat."

Arman melangkah maju, tapi Pak Hendra menahan bahunya.

Nadia menunduk mengambil amplop di atas meja, lalu mengangkatnya di depan semua orang.

"Sekarang kita bicara urusan saya."

Bella mendadak merasa jantungnya jatuh.

Karena untuk pertama kalinya, ia sadar satu hal.

Nadia tidak menangis karena kehilangan Arman.

Nadia terlihat seperti orang yang baru saja bebas.

Terpopuler

Comments

chataleya

chataleya

detik-detik kemerdekaan Nadia 😍

2026-07-21

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!