Takdir Baru di Malam Lamaran

Takdir Baru di Malam Lamaran

Episode 1

Bab 01 - Terbangun di Malam Lamaran

Malam itu, rumah keluarga Pak Darto penuh orang.

Tenda biru masih berdiri di halaman. Kursi plastik berserakan. Piring bekas nasi kuning dan ayam opor belum sempat dibereskan dari meja panjang. Dari dapur belakang, bau bawang goreng bercampur teh manis yang tumpah membuat udara terasa pengap.

Nadia membuka mata perlahan.

Langit-langit kamarnya rendah. Cat putihnya mengelupas di beberapa sudut. Di luar kamar, suara orang berbisik terdengar seperti dengung lebah.

"Astaghfirullah, malu-maluin keluarga."

"Padahal malam ini lamaran Nadia."

"Tapi yang ketangkap malah Bella sama Mas Arman."

Nadia diam.

Tangannya mencengkeram kain sprei.

Bella.

Arman.

Dua nama itu seperti batu dilempar ke dada.

Bukankah ia sudah mati?

Dalam ingatan terakhirnya, ia berdiri di pinggir jalan depan toko obat, menolak memberi uang kepada Bella. Bella menjerit, menuduhnya pelit, lalu mendorongnya ke jalan. Suara klakson truk, rem yang menjerit, dan tubuhnya yang terlempar masih terasa jelas.

Lalu gelap.

Namun sekarang ia ada di kamar lamanya, di rumah kampung keluarga Darto, pada malam lamaran yang pernah mengubah seluruh hidupnya.

Nadia menutup mata lagi.

Ia tidak sedang bermimpi.

Tahun ini bukan masa setelah ia menikah dan hancur di rumah Arman. Ini malam ketika keluarga Wiratmaja datang melamarnya. Malam ketika Arman seharusnya resmi menjadi calon suaminya.

Tapi di ruang tengah, Bella dan Arman sedang berlutut.

Mereka ketahuan keluar dari kamar belakang dengan pakaian berantakan.

Nadia menarik napas pelan.

Bagus.

Sangat bagus.

Di kehidupan lalu, Arman memang menjadi suaminya. Semua orang bilang ia beruntung. Menantu keluarga Wiratmaja. Tinggal di kompleks dinas. Suaminya calon perwira yang punya masa depan. Mertuanya terpandang. Setiap Lebaran, orang kampung menatapnya seperti ia naik derajat.

Mereka tidak tahu.

Arman suka memukul kalau makanan kurang asin. Ia pulang membawa bau parfum perempuan lain. Ia tidak bisa punya anak, tapi keluarganya menyuap orang klinik agar hasil pemeriksaan dibuat seolah Nadia yang mandul. Ibu Arman menyuruhnya mengasuh anak kakak ipar, lalu membiarkan anak itu memanggilnya perempuan asing.

Tahun demi tahun Nadia hidup seperti pembantu yang diberi gelar istri.

Dan Bella iri pada hidup itu.

Bella selalu berkata, "Kalau dulu aku yang dinikahi Mas Arman, pasti hidupku beda. Aku lebih cocok jadi istri orang terpandang."

Sekarang, sepertinya Tuhan mengabulkan keinginan Bella.

Nadia hampir tertawa.

Di luar kamar, suara Eyang Marni terdengar keras.

"Sudah! Jangan ribut lagi. Arman sudah menyentuh Bella. Mau bagaimana lagi? Mereka harus dinikahkan."

"Bu!" suara Mbak Sari, kakak kandung Nadia, langsung meninggi. "Malam ini keluarga Wiratmaja datang melamar Nadia. Bagaimana bisa tiba-tiba Bella yang dinikahkan?"

"Lamaran itu untuk keluarga kita," balas Eyang Marni. "Nadia dan Bella sama-sama anak rumah ini."

"Bella bukan anak kandung Bapak," kata Sari, suaranya bergetar. "Dia anak yang dibawa Bu Ratna."

Hening setengah detik.

Lalu suara Bu Ratna, ibu tiri Nadia, terdengar lirih dan basah.

"Mbak Sari, jangan bicara begitu. Bella memang bukan lahir dari rahimku setelah menikah dengan bapakmu, tapi dia juga anak yang dibesarkan di rumah ini. Kalau malam ini dia tidak dinikahkan, apa kamu mau dia menanggung malu seumur hidup?"

Nadia membuka mata.

Masih sama.

Bu Ratna selalu begitu.

Kalau ingin merampas sesuatu, ia tidak pernah langsung memaksa. Ia menangis, merendah, lalu membuat orang lain merasa kejam kalau menolak.

Sari menjawab, "Lalu Nadia? Dia tidak malu? Dia tidak hancur?"

"Nadia itu anak baik," kata Bu Ratna cepat. "Dia pasti bisa mengerti."

Nadia duduk.

Kepalanya masih sedikit pening, mungkin karena tubuh ini baru saja pingsan setelah mendengar calon suaminya ketahuan dengan adik tirinya. Tapi rasa pening itu kalah oleh panas yang naik ke dada.

Anak baik.

Dulu, dua kata itu mengikat lehernya seperti tali.

Anak baik harus mengalah.

Anak baik tidak boleh membantah orang tua.

Anak baik harus menjaga nama keluarga.

Karena menjadi anak baik, ia dikirim ke panti asuhan saat kecil dengan alasan membawa sial. Karena menjadi anak baik, ia kembali ke rumah ini dan menerima semua perintah mereka. Karena menjadi anak baik, ia menikah dengan Arman, menanggung pukulan, fitnah mandul, dan mati di tangan Bella.

Kali ini ia tidak mau baik.

Kalau mereka ingin melihat perempuan gila, ia akan memberi mereka satu.

Di ruang tengah, Pak Darto akhirnya bicara.

"Bu, kasihan Nadia."

Suara bapaknya masih sama. Lemah. Ragu. Seperti orang yang tahu benar dan salah, tapi tidak punya keberanian memilih.

Eyang Marni mendengus.

"Kasihan? Kalau kasihan, kamu cari jalan. Bella sudah dilihat orang sekampung keluar kamar dengan Arman. Apa keluarga Wiratmaja mau lepas tangan?"

Suara laki-laki muda menyusul. Arman.

"Eyang, Pak Darto, Bu Ratna, saya minta maaf. Tapi saya dan Bella memang saling mencintai. Lamaran dengan Nadia itu kemauan keluarga. Saya tidak mau membohongi hati saya."

Nadia tersenyum dingin.

Saling mencintai.

Di kehidupan lalu, Arman berkata ia mencintai Nadia saat akad. Tiga bulan kemudian, ia menamparnya karena Nadia lupa menyetrika baju dinas. Setahun kemudian, ia membawa perempuan lain ke rumah kontrakan. Lima tahun kemudian, ia membuat Nadia percaya bahwa rahimnya rusak.

Cinta Arman murah sekali.

Sari membentak, "Kalau saling mencintai, kenapa menunggu malam lamaran Nadia baru masuk kamar?"

Bella menangis pelan.

"Mbak, jangan kasar. Aku tahu aku salah. Aku sudah tidak punya muka. Tapi aku dan Mas Arman benar-benar tidak sengaja..."

Nadia berdiri dari tempat tidur.

Tidak sengaja?

Pintu kamar ia buka.

Semua kepala langsung menoleh.

Ruang tengah penuh orang. Saudara dari pihak bapak, tetangga yang tadi membantu acara lamaran, keluarga Wiratmaja, semua ada. Di tengah ruangan, Bella duduk bersimpuh dengan jilbab miring. Arman berlutut di sampingnya, wajahnya dibuat menyesal, tapi matanya tetap angkuh.

Bu Ratna langsung bangkit.

"Nadia, kamu sudah sadar? Nak, jangan terlalu banyak berpikir dulu. Kamu masih lemah."

Nadia menatapnya.

"Aku lemah?"

Bu Ratna terdiam.

Nadia berjalan ke meja. Di atasnya ada gelas enamel berisi teh manis yang sudah dingin. Ia mengambil gelas itu.

Pak Darto gugup. "Nadia, kamu mau minum?"

"Tidak."

Nadia menatap Arman dan Bella.

"Aku mau membantu mereka sadar."

Sebelum siapa pun mengerti, Nadia melempar gelas itu.

Gelas menghantam bahu Arman, lalu teh manis tumpah ke dada Bella. Bella menjerit. Orang-orang berteriak. Arman terhuyung, wajahnya berubah merah.

"Nadia! Kamu gila?"

Nadia tertawa pendek.

"Belum. Kalau aku benar-benar gila, gelas itu tidak akan kena bahumu."

Bu Ratna berlari ke Bella.

"Ya Allah, Bella! Panas tidak? Sakit?"

"Tehnya dingin, Bu," kata Nadia. "Jangan drama."

Beberapa tetangga yang tadinya pura-pura menunduk mulai saling pandang. Sari berdiri di belakang Nadia, wajahnya pucat, tapi matanya bersinar.

Arman mengepalkan tangan.

"Kamu tidak perlu mempermalukan kami seperti ini."

Nadia menatapnya dari ujung kepala sampai kaki.

"Kamu masuk kamar dengan adik tiriku di malam lamaran kita, lalu aku yang mempermalukan kalian?"

"Aku sudah bilang, aku dan Bella saling mencintai."

"Cinta?" Nadia melangkah mendekat. "Kalau cinta, datang baik-baik. Batalkan lamaran sebelum acara. Jangan makan nasi lamaran dari keluargaku, lalu masuk kamar belakang seperti pencuri."

Wajah Arman mengeras.

Bella menangis makin keras.

"Kak Nadia, aku salah. Tapi aku juga perempuan. Jangan hancurkan aku di depan orang-orang."

Nadia menoleh padanya.

"Waktu kamu masuk kamar dengan calon suamiku, kamu ingat aku juga perempuan?"

Bella menggigit bibir.

Bu Ratna langsung memeluknya.

"Nadia, cukup. Bella sudah minta maaf."

"Minta maaf tidak membuatku kembali bersih dari malu."

"Kamu jangan bicara begitu. Semua ini bisa diselesaikan secara keluarga."

"Secara keluarga?" Nadia tersenyum. "Maksudnya, Bella menikah dengan Arman, aku diam, uang seserahan tetap kalian simpan, lalu aku disuruh menerima laki-laki lain?"

Eyang Marni memukul lantai dengan tongkat.

"Memang itu jalan terbaik!"

Nadia menatap neneknya.

"Terbaik untuk siapa?"

Tidak ada yang menjawab.

Nadia melihat satu per satu wajah di ruangan itu. Orang-orang yang dulu menundukkan kepalanya, menyuruhnya sabar, lalu menyaksikan ia dikirim ke neraka bernama rumah tangga.

Kali ini, ia ingin melihat mereka yang menunduk.

"Baik," kata Nadia pelan. "Kalau Bella dan Arman saling mencintai, aku restui."

Bella mengangkat wajah. Arman juga tampak lega.

Tapi Nadia belum selesai.

"Aku doakan kalian menikah. Jangan bercerai. Jangan kabur. Jangan saling melepaskan. Semoga kalian berdua hidup bersama sampai tua."

Suaranya lembut.

Tapi Bella mendadak menggigil.

Nadia tersenyum.

"Karena aku ingin Bella menikmati semua yang dulu sangat ia inginkan."

Terpopuler

Comments

chataleya

chataleya

aku bacanya seperti sedang menonton film India 🤭 jadi agak greget gitu dengan kelakuan keluarga Nadia 🤣🤣🤣

2026-07-21

0

Endang Sulistia

Endang Sulistia

🤪🤪🤪🤪

2026-07-28

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!