Episode 3

Bab 03 - Harga Malu

Amplop itu tidak tebal.

Isinya hanya uang simbolis untuk lamaran, bukan mahar akad nikah. Tapi begitu Nadia mengangkatnya, semua mata mengikuti gerakan tangannya seolah ia sedang memegang bara api.

Bu Lilis langsung berdiri.

"Itu uang lamaran dari keluarga kami."

"Untuk siapa?" tanya Nadia.

Bu Lilis tertahan.

Nadia menatapnya tenang.

"Malam ini keluarga Ibu datang untuk melamar saya. Kalau uang ini diberikan sebagai tanda keseriusan kepada calon pengantin perempuan, berarti ini untuk saya."

Eyang Marni menyahut cepat, "Itu untuk keluarga. Belum akad, belum jadi mahar. Jangan serakah."

Nadia menoleh.

"Serakah?"

"Iya. Baru juga ada masalah sedikit, kamu sudah pegang uang."

Sari langsung naik darah.

"Masalah sedikit? Calon suaminya ketahuan dengan Bella, Bu!"

"Kamu diam, Sari. Kamu sudah menikah, jangan ikut campur rumah ini."

Sari terdiam, wajahnya memucat. Kalimat itu selalu dipakai Eyang Marni untuk membungkamnya. Begitu seorang anak perempuan menikah, ia dianggap tamu di rumah orang tuanya sendiri. Tidak punya suara, kecuali diminta membawa oleh-oleh.

Nadia meremas amplop.

"Mbak Sari boleh bicara. Dia kakak kandungku. Justru orang-orang yang menjual harga diriku malam ini yang seharusnya diam."

"Nadia!" Pak Darto berseru lagi.

Nadia tidak menoleh.

Ia sudah terlalu hafal nada itu. Nada bapak yang malu pada tetangga, tapi tidak cukup marah pada orang yang menyakiti anaknya.

Pak Hendra mengusap wajah.

"Baik. Kita jangan berputar. Nadia, kalau kamu merasa perlu kompensasi, sebutkan angka yang wajar."

Bu Lilis langsung menarik lengan suaminya.

"Pak, jangan turuti. Nanti anak ini makin menjadi."

Nadia tersenyum.

"Saya memang akan menjadi. Menjadi orang yang tidak bisa kalian injak lagi."

Arman mendengus.

"Kamu berubah sekali malam ini."

Nadia menatapnya.

"Kamu juga. Tadi sore masih jadi calon suamiku. Sekarang jadi calon suami adik tiriku."

Wajah Arman merah.

Bella yang sejak tadi diam akhirnya berkata pelan, "Kak, jangan memperpanjang. Kalau uang yang kamu mau, nanti aku dan Mas Arman akan menggantinya setelah menikah."

Nadia tertawa.

"Kamu mengganti dengan apa? Dengan uang Mas Arman yang masih minta bensin ke ibunya?"

Beberapa saudara menoleh ke Arman. Arman tampak ingin meledak.

Bu Lilis tersinggung.

"Anak saya tidak seperti itu."

"Kalau begitu bagus. Berarti keluarga Wiratmaja mampu mengganti malu saya."

Eyang Marni menunjuk Nadia.

"Kamu ini benar-benar tidak tahu malu. Di depan calon mertua sendiri bicara seperti pedagang pasar."

Nadia melangkah mendekat ke neneknya.

"Calon mertua siapa, Eyang?"

Eyang Marni terdiam.

"Bu Lilis sebentar lagi jadi mertua Bella, bukan aku."

Bella menunduk. Bu Ratna memeluk bahunya lebih erat, seperti sedang melindungi anak tersayangnya dari seluruh dunia.

Nadia melihat pelukan itu.

Dulu ia sering bertanya-tanya, kenapa Bu Ratna tidak pernah memeluknya seperti itu. Kenapa setiap ia sakit, Bu Ratna hanya menaruh obat di meja dan berkata ia tidak boleh manja. Kenapa setiap Bella menangis sedikit, seluruh rumah berlari.

Jawabannya baru ia ketahui di kehidupan lalu, saat semuanya terlambat.

Bella bukan anak pungut yang kebetulan dibawa pulang.

Bella adalah anak kandung Bu Ratna.

Anak yang disembunyikan agar Bu Ratna bisa menikah dengan Pak Darto.

Nadia menahan napas.

Belum waktunya.

Kalau ia membongkar sekarang, mereka akan panik dan menyangkal. Bukti belum ada di tangan. Lebih baik ia biarkan Bu Ratna merasa masih aman.

Orang yang merasa aman biasanya lebih ceroboh.

"Saya minta tiga hal," kata Nadia akhirnya.

Pak Hendra mengangguk pelan. "Sebutkan."

"Pertama, keluarga Wiratmaja harus menjelaskan kepada Pak RT dan para tetangga bahwa saya tidak bersalah. Arman dan Bella yang mengkhianati lamaran."

Bu Lilis hendak menolak, tapi Pak Hendra mengangkat tangan.

"Masuk akal."

"Pak!" Bu Lilis menatap suaminya.

"Diam dulu," kata Pak Hendra.

Nadia melanjutkan, "Kedua, uang lamaran dan seserahan yang memang ditujukan untuk saya tidak boleh diambil keluarga ini. Semuanya jadi milik saya."

Eyang Marni berdiri dengan tongkat gemetar.

"Tidak bisa! Itu untuk biaya acara. Kursi, tenda, makanan, semua pakai uang rumah."

"Acara untuk lamaranku. Yang merusak acara Bella dan Arman. Kalau mau ganti biaya, tagih mereka."

Bella terkejut. "Kak..."

"Apa? Kamu mau laki-lakinya, tapi tidak mau biayanya?"

Bu Ratna menatap Nadia tajam.

"Nadia, jangan membuat adikmu makin tertekan."

"Aku tidak membuatnya masuk kamar. Aku hanya membuatnya membayar pintu yang ia buka sendiri."

Pak Hendra menekan pelipis.

"Baik. Yang ketiga?"

Nadia memandang keluarga Wiratmaja satu per satu.

"Lamaran keluarga Wiratmaja kepada saya tetap harus diselesaikan."

Semua orang kaget.

Arman yang pertama tertawa.

"Tadi kamu bilang tidak mau denganku."

"Memang."

"Lalu siapa? Kamu mau ayahku menikahimu?"

"Jaga mulutmu," Pak Hendra membentak.

Nadia tidak marah. Ia justru menatap Arman dengan senyum kecil.

"Keluarga Wiratmaja bukan hanya kamu, Mas Arman."

Bu Lilis langsung memahami arah kalimat itu. Wajahnya berubah.

"Tidak."

Pak Hendra menoleh. "Lilis."

"Tidak, Pak. Jangan bilang anak ini mau menyeret Raka."

Nama itu jatuh di ruangan seperti gelas pecah.

Om Raka.

Adik bungsu Pak Hendra. Usianya hanya beberapa tahun di atas Arman karena lahir dari pernikahan kedua kakek mereka. Tubuhnya lemah sejak kecil setelah hanyut saat banjir besar. Ia jarang ikut acara keluarga karena mudah lelah, tapi malam ini ia datang, duduk di kursi dekat pintu dengan wajah pucat dan batuk tertahan.

Sejak Nadia keluar kamar, Raka belum banyak bicara.

Tapi Nadia tahu.

Di kehidupan lalu, Raka mati muda.

Ia pernah mendengar ibu mertuanya berkata sambil menangis bahwa Raka terlalu baik untuk keluarga mereka. Nadia saat itu masih menjadi istri Arman, masih terlalu sibuk bertahan dari pukulan dan fitnah untuk memahami duka itu.

Sekarang Raka duduk di sana.

Hidup.

Matanya tenang, tapi tidak kosong. Ia melihat semua kekacauan ini seolah sedang menimbang satu per satu kebusukan yang disembunyikan keluarganya.

Nadia menatapnya.

"Om Raka belum menikah, kan?"

Bu Lilis langsung berseru, "Kamu lancang!"

Arman tertawa kasar.

"Kamu mau jadi tanteku?"

Nadia menatap Arman.

"Kenapa? Takut harus memanggilku Tante Nadia?"

Wajah Arman mengeras. Tawa beberapa orang tertahan di tenggorokan.

Bella mendadak panik.

Kalau Nadia menikah dengan Raka, posisinya berubah. Nadia tidak lagi menjadi perempuan yang kalah. Ia akan masuk keluarga Wiratmaja dari pintu yang lebih tinggi. Ia akan menjadi istri orang yang dihormati Pak Hendra.

"Kak," Bella berkata cepat, "jangan begini. Om Raka sakit. Kamu nanti menderita."

Nadia menoleh pelan.

"Kamu peduli aku menderita?"

Bella tersedak.

Raka akhirnya batuk pelan. Semua mata beralih padanya.

Ia berdiri, gerakannya tidak cepat, tapi tegap. Wajahnya pucat, namun suaranya jelas.

"Nadia, kamu yakin tahu apa yang kamu minta?"

Nadia menatapnya.

"Saya tahu."

"Tubuh saya tidak sehat."

"Saya lihat."

"Saya tidak bisa menjanjikan hidup mudah."

"Saya tidak mencari hidup mudah."

Raka diam.

Untuk pertama kalinya malam itu, suasana tidak terasa seperti pasar yang ribut. Ada keheningan yang lebih dalam, seolah semua orang tidak berani ikut campur.

Nadia melangkah mendekat.

"Saya hanya ingin keluarga yang berjanji datang melamar saya tidak membuang saya seperti barang rusak karena anaknya sendiri berkhianat. Kalau Om Raka keberatan, saya tidak akan memaksa."

Arman mencibir.

"Bagus. Raka pasti tidak mau."

Raka menoleh ke Arman.

"Kamu diam."

Arman membeku. Seumur hidup, ia jarang mendengar pamannya bicara dengan nada seperti itu.

Raka kembali menatap Nadia.

"Kalau saya menerima, kamu tidak bisa menjadikannya sekadar pembalasan."

Nadia menjawab tanpa ragu.

"Saya tidak akan menikah hanya untuk membalas. Tapi kalau ada orang tersiksa karena melihat saya hidup lebih baik, itu urusan mereka."

Sudut bibir Raka bergerak tipis.

Sari menahan napas.

Pak Hendra memandang adiknya, lalu Nadia, seperti melihat jalan keluar yang tidak ia duga.

Bu Lilis tampak hampir pingsan.

Bella menggenggam tangan Bu Ratna.

Raka berkata, "Baik. Kalau kamu tetap ingin keluarga Wiratmaja bertanggung jawab, saya bersedia melamarmu."

Ruang tengah meledak.

"Raka!" Bu Lilis menjerit.

"Om!" Arman berseru tidak percaya.

Eyang Marni menatap Nadia seperti melihat hantu.

Nadia justru tersenyum.

Ia memandang Arman dan Bella.

"Mulai sekarang, kalian boleh lanjutkan cinta kalian."

Lalu ia menatap Arman lebih lama.

"Tapi lain kali, panggil aku dengan benar."

Arman tidak menjawab.

Nadia membantu dengan suara lembut.

"Tante Nadia."

Terpopuler

Comments

chataleya

chataleya

duar..duar..duar... Shok kan kaliannnn... 🤣🤣🤣 jantung aman kan Arman... Bella... 🙈

2026-07-21

0

Endang Sulistia

Endang Sulistia

oke Tante..🤪🤪🤪

2026-07-28

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!