Bab 3- Balas dendam

Sebelum penyerangan terjadi...

Markas Black Seraph berada.

Sebuah gudang besar di kawasan industri tua yang terlihat sepi dari luar dan tidak ada aktivitas yang mencurigakan.

Namun di dalam sana, puluhan pria bersenjata siap berjaga. Beberapa tengah duduk santai, merokok, dan tertawa kecil, seolah dunia berada dalam kendali mereka.

Kemudian salah satu dari mereka menyandarkan senjatanya ke meja dan berkata, “Kau yakin Vanzara tidak akan bergerak?” tanyanya santai.

"He he" Pria lain terkekeh. “Bos bilang mereka sudah hancur sejak kematian Marko. Ratu mereka? Hilang entah ke mana.”

Tawa kecil pun terdengar saling bersahutan. Tanpa mereka sadari, kesalahan terbesar mereka adalah meremehkan seorang ratu.

Sementara di luar gedung tak jauh dari sana. Beberapa mobil hitam berhenti tanpa suara. Saat pintu terbuka, sosok-sosok bersenjata keluar dengan gerakan yang cepat dan terlatih.

Dan di antara mereka Aurelia Vanzara tengah berdiri dan siap tempur. Matanya menatap gedung di depannya dengan tatapan dingin. Seolah tempat itu… sudah menjadi kuburan.

Lalu, Vincent bergerak dan sedikit mendekat “Semua unit siap, Nona.”

Aurelia tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat tangannya perlahan sebagai satu isyarat dan seluruh pasukan pun langsung bersiap.

Aurelia menatap lurus ke depan dan berkata, “Tidak ada yang keluar hidup-hidup.”

Suaranya terdengar pelan namun cukup untuk menggetarkan siapa pun yang mendengarnya.

“Dimengerti.” jawab Vincent seraya menunduk.

Aurelia menurunkan tangannya.

Lalu—

“Mulai.”

SERANGAN PUN DIMULAI

DOR! DOR! DOR!

Pintu depan ditembus dengan ledakan keras dan memecahkan kaca di sekitar.

Seketika teriakan pun langsung memenuhi ruangan.

“Apa—?! SERANGAN!!”

Belum sempat mereka bereaksi, peluru sudah lebih dulu menyapa hingga satu per satu tubuh jatuh. Lalu pasukan Vanzara masuk dari segala arah dengan cepat, presisi dan tanpa ampun.

Di dalam kekacauan, seorang anggota Black Seraph mencoba membalas. Namun...

DOR!

Ia jatuh sebelum sempat mengangkat senjatanya. Lalu langkah sepatu hak tinggi terdengar di tengah suara tembakan dengan perlahan dan tenang.

Tap... Tap... tap...

Bertolak belakang dengan kekacauan di sekitarnya, Aurelia berjalan masuk tanpa tergesa-gesa dan tanpa perlindungan.

Namun tidak ada satu peluru pun yang mendekatinya. Seolah kematian… berpihak padanya.

Di sebrang Aurelia sedang berjalan, seorang pria yang melihatnya nampak membeku. “Itu… itu dia… Crimson Queen—”

DOR.

Aurelia menembaknya tepat di kepala tanpa ekspresi. Ia menurunkan pistolnya perlahan dan matanya menyapu ruangan dengan tatapan kosong dan tidak ada belas kasihan.

Kemudian dua pria menyerangnya dari sisi kiri namun Aurelia bergerak dengan cepat, menunduk, lalu menangkap tangan salah satu dari mereka dan memutar kepalanya.

KRAK!

Suara tulang yang patah.

Tanpa jeda, ia mengambil pistol dari tangan pria itu dan,

DOR! DOR!

Keduanya pun jatuh tersungkur.

Melihat teman-teman nya mati satu persatu, para musuh pun semakin panik.

“LARI!!”

“INI JEB—”

DOR!

Suara mereka terhenti satu per satu. Namun tidak semua, beberapa berhasil melarikan diri melalui pintu belakang.

“Sebagian kabur, Nona!” teriak Vincent.

Aurelia pun berhenti. Lalu menoleh perlahan. Matanya… lebih dingin dari sebelumnya.

“Biarkan," perintah Aurelia.

Vincent terdiam dan menurut saja.

Lalu Aurelia melangkah melewati tubuh-tubuh yang bergelimpangan sementara cairan berwarna merah mulai menggenang di lantai.

“Biarkan mereka lari,” ulangnya pelan, seraya tersenyum tipis menyeramkan.

“Supaya mereka tau… siapa yang memburu mereka.”

Beberapa menit kemudian...

Tak ada lagi suara tembakan. Tak ada lagi perlawanan. Yang ada hanya mayat yang bergelimpangan… dan bau mesiu.

Vincent berdiri di tengah ruangan lalu berkata, "Semua target di lokasi ini… telah dihabisi.”

Aurelia tidak menjawab. Ia hanya berdiri di tengah kehancuran itu. Matanya menatap lurus ke depan. Namun pikirannya jauh ke malam itu.

Ke suara terakhir Marko.

Tangannya perlahan mengepal lalu memekik, “Ini belum cukup…"

_____

Di luar api mulai membakar sisa markas. Langit malam pun memantulkan warna merah seperti darah.

Aurelia berdiri di depan gedung yang kini menjadi puing dengan ekspresi wajah yang tetap tenang. Namun di dalam hatinya api balas dendam semakin membesar.

“Dante Moretti…” bisiknya. “Aku akan menemukanmu.”

##

Malam belum berakhir. Namun bagi Dante Moretti ini adalah akhir dari segalanya.

Saat itu hujan turun deras ketika sebuah mobil hitam berhenti di halaman markas utama Vanzara Empire. Lalu pintu pun terbuka dengan kasar.

Blug!!

Dante diseret keluar dari mobil. Tubuhnya kotor, jas mahalnya sudah tidak lagi menunjukkan wibawa jika ia seorang pemimpin mafia.

Wajahnya penuh luka, napasnya terdengar berat, dan untuk pertama kalinya ketakutan terlihat jelas di matanya.

“Jalan!” bentak salah satu anak buah Aurelia.

Dante terhuyung, bahkan lututnya beberapa kali hampir menyentuh tanah sebelum akhirnya ia didorong masuk ke dalam ruangan besar yang remang dan sunyi.

Di ujung ruangan, Alena sedang duduk di kursinya. Tenang, elegant, dan mematikan

Cahaya lampu redup jatuh tepat di wajahnya, sehingga mempertegas kecantikannya yang sempurna, namun juga memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan yakni tatapan tanpa belas kasihan.

Brukkkk!

Dante langsung dijatuhkan dan berlutut.

“Nona…” suara pria yang membawanya terdengar hormat. “Target sudah kami bawa.”

Seperti biasa, Alena tidak langsung menjawabnya dan hanya menatap musuh dengan lama dalam diam.

Dan diam itulah yang justru membuat Dante semakin gemetar.

“A—Aurelia…” suara Dante bergetar. “Dengarkan aku… ini semua bisa dijelaskan—”

“Diam.”

Satu kata. Pelan. Namun cukup untuk membuat ruangan itu membeku.

Alena lalu bangkit dari kursinya dan perlahan melangkah mendekat. Setiap langkahnya seperti tekanan yang menghancurkan mental Dante sedikit demi sedikit dan Alena pun berhenti tepat di depan pria itu.

Alena menunduk sedikit dan menatapnya. “Jadi… kau orangnya.”

Glek!!!

Dante menelan ludahnya.

“Aku… aku tidak berniat membunuhnya!” katanya cepat. “Itu bukan target kami! Kami hanya ingin wilayah—”

PLAK.

Sebuah tamparan yang tidak keras mendarat di pipi Dante namun cukup untuk menghentikan semua kata-katanya.

Alena menatapnya tanpa ekspresi lalu berkata dengan pelan, “Namanya."

Dante membisu.

“Apa kau bahkan ingat namanya?” lanjut Alena.

Suasana semakin mencekam lalu Dante menjawab dengan setengah berbisik, “Marko…”

Alena menutup matanya sejenak lalu membukanya kembali. “Dan kau pikir,” katanya perlahan, “setelah kau mengambil nyawanya… aku akan membiarkanmu tetap bernapas?”

Dante langsung menunduk, dan seketika suaranya langsung pecah.

“Tolong… aku bisa memberimu segalanya! Uang, wilayah, orang-orangku—semua milikmu! Aku akan menghilang! Aku bersumpah!”

Ia lalu mendekat dan hampir merangkak.

“Biarkan aku hidup… aku mohon…” pohon Dante memelas.

Namun Alena hanya terdiam. Lalu ia tersenyum tipis. “Lucu. Kau memohon… seolah-olah aku masih manusia.”

Dante membeku seraya mendongak dengan mata yang membesar. Dan detik itu juga ia sadar, jika ia tidak sedang berbicara dengan wanita biasa tapi wanita yang berbahaya.

Kemudian Alena berdiri tegak dan menatap anak buahnya tanpa menoleh.

“Tidak ada yang masuk dan tidak ada yang mengganggu.”

“Siap, Nona.”

Pintu pun ditutup dan terkunci.

Dan yang tersisa hanyalah keheningan… dan penghakiman. Tidak ada yang tau pasti apa yang terjadi di dalam.

Yang mereka tau, penghakiman itu tidak ada ampun dan tidak ada belas kasihan. Hanya satu hal yang pasti, Crimson Queen sedang menuntaskan dendamnya.

_____

________

Beberapa saat kemudian...

Pintu terbuka kembali dan Alena keluar dengan langkah yang tetap tenang. Wajahnya bersih dan tidak ada emosi. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Vincent menunduk dan bertanya, “Selesai, Nona?”

“Selesai," jawab Alena singkat.

Ia lalu berjalan melewati mereka. Namun sebelum benar-benar pergi, ia berhenti dan tanpa menoleh berkata, “Bersihkan dan berikan sisanya pada hewan.”

“Siap, Nona.”

##

Malam itu nama Dante Moretti menghilang dari dunia. Tanpa jejak. Tanpa makam dan tanpa sisa.

Adapun Alena, kini ia berdiri kembali di balkon tinggi markasnya sambil menatap kota.

“Marko…” bisiknya lirih.

“Aku sudah menepati janjiku.”

Episodes
1 Bab 1- Malam yang tiada akhir
2 Bab 2- Crimson queen
3 Bab 3- Balas dendam
4 Bab 4- Sebuah keputusan
5 Bab 5- Identitas Baru
6 Bab 6- Dua pria
7 Bab 7- Arogan
8 Bab 8- Perkelahian
9 Bab 9- Panik
10 Bab 10- Status
11 Bab 11- Administrasi
12 Bab 12- Repot?
13 Bab 13- Pengacau
14 Bab 14- Tiga arah
15 Bab 15- Ibu tiri
16 Bab 16- Toko bunga
17 Bab 17- Alena’s Floral Boutique
18 Bab 18- Bak pahlawan
19 Bab 19- Mengatakan Cinta?
20 Bab 20- Pendamping
21 Bab 21- Hubungan resmi
22 Bab 22- Di perkenalkan
23 Bab 23- Ular berbisa
24 Bab 24- Kencan pertama
25 Bab 25- Max kembali
26 Bab 26- Jangan melebihi batas, Max
27 Bab 27- Lamaran Larut Malam
28 Bab 28- Kepastian
29 Bab 29- Sebuah Restu
30 Bab 30- Menuju hari -H
31 Bab 31- Kilau Pengantin
32 Bab 32- Sah
33 Bab 33- Unboxing
34 Bab 34- Jamuan Malam
35 Bab 35- Ketegangan di Meja Makan
36 Bab 36- Obsesi
37 Bab 37- Jebakan
38 Bab 38- Perangkap Busuk
39 Bab 39- Topeng yang Hancur
40 Bab 40- Ketukan Palu sang Ayah
41 Bab 41- Seiring waktu
42 Bab 42- Hamil
43 Bab 43- Singkat cerita
44 Bab 44- Doa di Ujung Keputusasaan
45 Bab 45- Putri kecil
46 Bab 46- Gelak Tawa sang Kakek
47 Bab 47- Rumah Kita
48 Bab 48- Sisi Lain Bramantyo
49 Bab 49- Ambisi Terselubung
50 Bab 50- 4 tahun kemudian...
51 Bab 51- Badai
52 Bab 52- Badai 2
53 Bab 53- Napas Terakhir sang Pelindung
54 Bab 54- Sebuah panggilan
55 Bab 55- Firasat
56 Bab 56- Berita duka
57 Bab 57- di Kamar Jenazah
58 Bab 58- Di Atas Tanah Merah
59 Bab 59- Hasil TKP
60 Bab 60- Sosok Sahabat yang Kembali
61 Bab 61: Moana hilang!
62 Bab 62- Kebangkitan Ratu Mafia
63 Bab 63- Kembalinya Aurelia Vanzara
64 Bab 64- Plot Twist!
65 Bab 65- Penguasa Kegelapan
66 Bab 66- Pengadilan Aurelia
67 Bab 67- Jejak
68 Bab 68- Akhirnya...
69 Bab 69- Antara Cinta & Dendam
70 Bab 70- Cinta di ujung senapan
71 Bab 71- Peluru Bersarang
72 Bab 72- Penyesalan
73 Bab 73- Operasi Darurat
74 Mengasuh anak dari Maduku
75 Bab 75- Tatapan Sang Istri
76 Bab 76- Keputusan Terakhir
77 Bab 77- The End
78 Notes Author
79 Promo novel baru
Episodes

Updated 79 Episodes

1
Bab 1- Malam yang tiada akhir
2
Bab 2- Crimson queen
3
Bab 3- Balas dendam
4
Bab 4- Sebuah keputusan
5
Bab 5- Identitas Baru
6
Bab 6- Dua pria
7
Bab 7- Arogan
8
Bab 8- Perkelahian
9
Bab 9- Panik
10
Bab 10- Status
11
Bab 11- Administrasi
12
Bab 12- Repot?
13
Bab 13- Pengacau
14
Bab 14- Tiga arah
15
Bab 15- Ibu tiri
16
Bab 16- Toko bunga
17
Bab 17- Alena’s Floral Boutique
18
Bab 18- Bak pahlawan
19
Bab 19- Mengatakan Cinta?
20
Bab 20- Pendamping
21
Bab 21- Hubungan resmi
22
Bab 22- Di perkenalkan
23
Bab 23- Ular berbisa
24
Bab 24- Kencan pertama
25
Bab 25- Max kembali
26
Bab 26- Jangan melebihi batas, Max
27
Bab 27- Lamaran Larut Malam
28
Bab 28- Kepastian
29
Bab 29- Sebuah Restu
30
Bab 30- Menuju hari -H
31
Bab 31- Kilau Pengantin
32
Bab 32- Sah
33
Bab 33- Unboxing
34
Bab 34- Jamuan Malam
35
Bab 35- Ketegangan di Meja Makan
36
Bab 36- Obsesi
37
Bab 37- Jebakan
38
Bab 38- Perangkap Busuk
39
Bab 39- Topeng yang Hancur
40
Bab 40- Ketukan Palu sang Ayah
41
Bab 41- Seiring waktu
42
Bab 42- Hamil
43
Bab 43- Singkat cerita
44
Bab 44- Doa di Ujung Keputusasaan
45
Bab 45- Putri kecil
46
Bab 46- Gelak Tawa sang Kakek
47
Bab 47- Rumah Kita
48
Bab 48- Sisi Lain Bramantyo
49
Bab 49- Ambisi Terselubung
50
Bab 50- 4 tahun kemudian...
51
Bab 51- Badai
52
Bab 52- Badai 2
53
Bab 53- Napas Terakhir sang Pelindung
54
Bab 54- Sebuah panggilan
55
Bab 55- Firasat
56
Bab 56- Berita duka
57
Bab 57- di Kamar Jenazah
58
Bab 58- Di Atas Tanah Merah
59
Bab 59- Hasil TKP
60
Bab 60- Sosok Sahabat yang Kembali
61
Bab 61: Moana hilang!
62
Bab 62- Kebangkitan Ratu Mafia
63
Bab 63- Kembalinya Aurelia Vanzara
64
Bab 64- Plot Twist!
65
Bab 65- Penguasa Kegelapan
66
Bab 66- Pengadilan Aurelia
67
Bab 67- Jejak
68
Bab 68- Akhirnya...
69
Bab 69- Antara Cinta & Dendam
70
Bab 70- Cinta di ujung senapan
71
Bab 71- Peluru Bersarang
72
Bab 72- Penyesalan
73
Bab 73- Operasi Darurat
74
Mengasuh anak dari Maduku
75
Bab 75- Tatapan Sang Istri
76
Bab 76- Keputusan Terakhir
77
Bab 77- The End
78
Notes Author
79
Promo novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!