Bab 4- Sebuah keputusan

Hari ini semua orang berkumpul di markas Vanzara Empire. Para petinggi, para eksekutor. Orang-orang yang selama ini hidup dan mati di bawah satu nama,

Crimson Queen.

Kini Alena tengah berdiri di hadapan mereka. Ia tampak anggun dan tenang.

Namun kali ini sorot matanya berbeda. Bukan dingin bukan juga amarah melainkan rasa kelelahan yang mendalam.

Kini Vincent melangkah maju sedikit seraya menunduk. "Semua sudah berkumpul, Nona.”

Alena pun mengangguk dan melangkah ke depan. Tatapannya menyapu seluruh ruangan, menatap semua orang yang menunggu dalam diam.

Dan saat ia berbicara, suaranya tetap sama, terdengar tegas dan berwibawa.

“Aku akan langsung ke inti.”

Kalimat itu sederhana, namun cukup membuat beberapa orang mulai saling berpandangan.

“Aku… akan mundur," lanjut Alena.

“Apa…?” salah satu dari mereka tak mampu menahan suaranya saking terkejut.

“Nona… maksud Anda—” Vincent mengernyit dan mencoba memastikan.

“Aku akan meninggalkan semuanya,” lanjut Alena tanpa ragu. “Mulai hari ini… aku bukan lagi bagian dari dunia ini.”

“Tidak bisa!”“Ini tidak masuk akal!”“Kita butuh Anda!”“Tanpa Anda—kita akan hancur!”

Suasana pun menjadi pecah, suara-suara itu saling bersahutan.

Namun...

“Cukup.”

Satu kata dari Alena dan membuat semua kembali terdiam.

Ia menatap mereka satu per satu dengan tatapan yang tidak menekan melainkan dengan tatapan yang jujur.

“Aku sudah menyelesaikan apa yang harus kuselesaikan. Aku lelah hidup seperti ini. Setiap hari… darah, pengkhianatan, dan kehilangan.”

Alena menarik napas sejenak lalu melanjutkan kata-katanya.

“Aku ingin… hidup sebagai manusia biasa.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi mereka, para anak buah, itu hampir mustahil.

Kemudian, Vincent melangkah maju lebih dekat. “Dan kami?” suaranya lebih rendah, namun penuh arti. “Apa yang harus kami lakukan tanpa Anda?”

Alena menatapnya cukup lama.

“Kalian kuat,” jawabnya. “Bahkan sebelum aku ada.”

“Itu tidak benar,” potong Vincent dengan tegasnya. “Kami menjadi seperti sekarang karena Anda.”

Yang lain pun mengangguk.

“Nona… kami bisa berubah.”“Kita bisa kurangi operasi…”“Kita bisa cari jalan lain—”

Namun Alena menggeleng pelan-pelan.

“Kalian tidak mengerti. Ini bukan tentang organisasi ini.”

Ia meletakkan tangannya di dadanya sendiri. “Ini tentang aku. Aku tidak ingin lagi menjadi seseorang yang ditakuti.”

Alena tersenyum tipis seakan lelah.

“Aku ingin… menjadi seseorang yang bisa tertawa tanpa harus melihat ke belakang.”

Tidak ada yang langsung menjawab, karena untuk pertama kalinya mereka melihat Alena sebagai manusia bukan sebagai ratu pembantai.

Beberapa detik pun telah berlalu dalam keheningan. Lalu Vincent menghela napas panjang dan menunduk.

“Kalau itu keputusan Anda…”

Semua mata pun tertuju Vincent.

“…maka kami akan menghormatinya.”

Beberapa orang terkejut mendengar penuturan Vincent. Namun perlahan satu per satu di antara mereka ikut menunduk.

“Terima kasih atas segalanya, Nona.”“Anda menyelamatkan hidup kami…”“Kami tidak akan melupakan itu.”

Suasana pun berubah. Kini tidak ada penolakan lagi, melainkan rasa perpisahan yang membuat sorot mata Alena sedikit melembut karena terharu.

“Jangan panggil aku ‘Nona’ lagi,” katanya pelan. “Mulai sekarang… aku hanya Alena.”

“Baik… Nona Alena.”

______

___________

Beberapa jam kemudian...

Alena berdiri di depan gerbang besar markas dengan hanya membawa satu tas kecil. Tanpa pengawal dan tanpa simbol kekuasaan.

Sementara Vincent berdiri di belakangnya lalu bertanya, “Apakah Anda yakin… ingin pergi sendirian?”

Alena menatap ke depan, ke jalan yang panjang, ke arah yang tidak pasti, namun menuju kebebasan.

“Aku sudah terlalu lama tidak sendiri,” jawabnya.

Ia pun melangkah, namun berhenti sejenak tanpa menoleh.

“Jaga mereka.”

“Selalu,” jawab Vincent.

Gerbang terbuka dengan perlahan dan Alena melangkah keluar dengan ringan sebagai seseorang yang baru.

_______

____________

Dua tahun telah berlalu.

Dunia bawah tanah yang dulu mengenal nama Crimson Queen kini hanya menyisakan bisikan-bisikan samar. Sebagian mengira ia telah mati. Sebagian lagi percaya jika ia menghilang.

Namun tidak ada yang benar-benar tau, bahwa sang ratu… memilih untuk hidup sebagai manusia biasa di sebuah kota kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kekuasaan.

Ya, kini Alena berdiri di balik etalase toko bunganya. Sebuah toko sederhana di pinggir jalan yang cukup ramai. Tokonya tidak besar, namun selalu dipenuhi warna-warni bunga segar yang tertata rapi.

Aroma mawar dan lavender bercampur lembut di udara. Dan di sanalah ia menjalani hidupnya dengan nama baru dan dengan kehidupan baru meski dengan hati yang belum sepenuhnya pulih.

“Selamat pagi, Kak Alena!”

Seorang gadis kecil berlari menghampirinya dengan wajah yang ceria. Alena pun tersenyum hangat, ekspresi yang dulu hampir mustahil ia lakukan.

“Pagi juga, Rina. Mau bunga lagi untuk ibumu?” tanyanya lembut.

Gadis kecil bernama Rina itu mengangguk semangat. “Iya! Ibu bilang bunga dari kakak selalu bikin rumah jadi wangi.”

Alena tertawa kecil lalu mengambil beberapa bunga segar dan merangkainya dengan cekatan. Gerakannya lembut dan terlatih, tidak nampak jika ia dulu pemegang senjata yang handal.

“Ini untuk ibumu,” katanya sambil menyerahkan buket kecil.

Rina pun menerimanya dengan mata yang berbinar. “Terima kasih!”

“Titip salam untuk ibumu, ya.”

Gadis kecil itu mengangguk lalu berlari pergi. Alena memperhatikannya sesaat dengan senyumnya yang masih tersungging di pipi. Namun perlahan senyumnya memudar ketika pandangannya menjadi kosong.

##

Hari-hari terus berjalan. Pembeli datang silih berganti. Dan seperti biasa, beberapa dari mereka bukan hanya datang untuk membeli bunga.

“Alena, kamu tidak capek kerja sendirian?” tanya seorang pria muda dengan senyum yang percaya diri.

Namun Alena tetap merangkai bunga tanpa menatapnya. “Tidak juga. Saya sudah terbiasa.”

“Kalau begitu… bagaimana kalau aku yang bantu? Sekalian… kita makan malam nanti?”

Alena akhirnya menoleh seraya tersenyum sopan. “Terima kasih, tapi tidak perlu.”

Pria itu tertawa kecil, namun tidak mau menyerah. “Kamu selalu menolak. Memangnya belum ada yang berhasil mengambil hatimu?” tanyanya.

Sejenak tangan Alena berhenti. “Tidak,” jawabnya singkat.

Bukan karena tidak ada yang mencoba. Namun karena hatinya itu sudah tertinggal di masa lalu dan belum pernah benar-benar kembali.

Saat sore menjelang langit mulai berubah menjadi jingga. Alena berdiri di depan tokonya sambil menyiram bunga-bunga yang tersisa.

Angin yang berhembus pelan memainkan rambutnya yang kini lebih sederhana dengan mengenakan gaun ringan, tanpa kemewahan dan tanpa aura menakutkan.

Ia tampak seperti gadis biasa. Cantik, ramah, hangat. Namun, jika seseorang melihat lebih dalam ke matanya, mereka akan menemukan sesuatu yang berbeda.

“Cantik sekali.”

Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari belakang hingga membuat Alena menoleh dan melihat seorang pria berdiri di sana yang nampak tidak seperti pelanggan biasanya.

Tatapannya tajam namun ia tersenyum santai sambil berkata, “Bunganya… atau yang menjualnya?”

Alena menatapnya beberapa detik dan merasakan keanehan tapi ia tidak menunjukkannya.

“Kalau ingin membeli bunga, silakan pilih,” jawabnya datar.

“Menarik," sahut sang pria seraya tersenyum tipis.

Ia lalu melangkah mendekat namun segera berhenti untuk menjaga jarak.

“Sudah lama aku tidak melihat orang seperti kamu di kota ini.”

Alena tidak menjawab. Ia hanya kembali fokus pada bunganya.

“Apa maksudmu?” tanyanya akhirnya.

“Hanya… firasat," jawab pria itu sambil mengangkat bahunya.

“Kalau tidak jadi membeli, saya harus tutup toko," ujar Alena.

“Baiklah. Sampai jumpa Nona. Kita pasti akan bertemu lagi.”

Episodes
1 Bab 1- Malam yang tiada akhir
2 Bab 2- Crimson queen
3 Bab 3- Balas dendam
4 Bab 4- Sebuah keputusan
5 Bab 5- Identitas Baru
6 Bab 6- Dua pria
7 Bab 7- Arogan
8 Bab 8- Perkelahian
9 Bab 9- Panik
10 Bab 10- Status
11 Bab 11- Administrasi
12 Bab 12- Repot?
13 Bab 13- Pengacau
14 Bab 14- Tiga arah
15 Bab 15- Ibu tiri
16 Bab 16- Toko bunga
17 Bab 17- Alena’s Floral Boutique
18 Bab 18- Bak pahlawan
19 Bab 19- Mengatakan Cinta?
20 Bab 20- Pendamping
21 Bab 21- Hubungan resmi
22 Bab 22- Di perkenalkan
23 Bab 23- Ular berbisa
24 Bab 24- Kencan pertama
25 Bab 25- Max kembali
26 Bab 26- Jangan melebihi batas, Max
27 Bab 27- Lamaran Larut Malam
28 Bab 28- Kepastian
29 Bab 29- Sebuah Restu
30 Bab 30- Menuju hari -H
31 Bab 31- Kilau Pengantin
32 Bab 32- Sah
33 Bab 33- Unboxing
34 Bab 34- Jamuan Malam
35 Bab 35- Ketegangan di Meja Makan
36 Bab 36- Obsesi
37 Bab 37- Jebakan
38 Bab 38- Perangkap Busuk
39 Bab 39- Topeng yang Hancur
40 Bab 40- Ketukan Palu sang Ayah
41 Bab 41- Seiring waktu
42 Bab 42- Hamil
43 Bab 43- Singkat cerita
44 Bab 44- Doa di Ujung Keputusasaan
45 Bab 45- Putri kecil
46 Bab 46- Gelak Tawa sang Kakek
47 Bab 47- Rumah Kita
48 Bab 48- Sisi Lain Bramantyo
49 Bab 49- Ambisi Terselubung
50 Bab 50- 4 tahun kemudian...
51 Bab 51- Badai
52 Bab 52- Badai 2
53 Bab 53- Napas Terakhir sang Pelindung
54 Bab 54- Sebuah panggilan
55 Bab 55- Firasat
56 Bab 56- Berita duka
57 Bab 57- di Kamar Jenazah
58 Bab 58- Di Atas Tanah Merah
59 Bab 59- Hasil TKP
60 Bab 60- Sosok Sahabat yang Kembali
61 Bab 61: Moana hilang!
62 Bab 62- Kebangkitan Ratu Mafia
63 Bab 63- Kembalinya Aurelia Vanzara
64 Bab 64- Plot Twist!
65 Bab 65- Penguasa Kegelapan
66 Bab 66- Pengadilan Aurelia
67 Bab 67- Jejak
68 Bab 68- Akhirnya...
69 Bab 69- Antara Cinta & Dendam
70 Bab 70- Cinta di ujung senapan
71 Bab 71- Peluru Bersarang
72 Bab 72- Penyesalan
73 Bab 73- Operasi Darurat
74 Mengasuh anak dari Maduku
75 Bab 75- Tatapan Sang Istri
76 Bab 76- Keputusan Terakhir
77 Bab 77- The End
78 Notes Author
79 Promo novel baru
Episodes

Updated 79 Episodes

1
Bab 1- Malam yang tiada akhir
2
Bab 2- Crimson queen
3
Bab 3- Balas dendam
4
Bab 4- Sebuah keputusan
5
Bab 5- Identitas Baru
6
Bab 6- Dua pria
7
Bab 7- Arogan
8
Bab 8- Perkelahian
9
Bab 9- Panik
10
Bab 10- Status
11
Bab 11- Administrasi
12
Bab 12- Repot?
13
Bab 13- Pengacau
14
Bab 14- Tiga arah
15
Bab 15- Ibu tiri
16
Bab 16- Toko bunga
17
Bab 17- Alena’s Floral Boutique
18
Bab 18- Bak pahlawan
19
Bab 19- Mengatakan Cinta?
20
Bab 20- Pendamping
21
Bab 21- Hubungan resmi
22
Bab 22- Di perkenalkan
23
Bab 23- Ular berbisa
24
Bab 24- Kencan pertama
25
Bab 25- Max kembali
26
Bab 26- Jangan melebihi batas, Max
27
Bab 27- Lamaran Larut Malam
28
Bab 28- Kepastian
29
Bab 29- Sebuah Restu
30
Bab 30- Menuju hari -H
31
Bab 31- Kilau Pengantin
32
Bab 32- Sah
33
Bab 33- Unboxing
34
Bab 34- Jamuan Malam
35
Bab 35- Ketegangan di Meja Makan
36
Bab 36- Obsesi
37
Bab 37- Jebakan
38
Bab 38- Perangkap Busuk
39
Bab 39- Topeng yang Hancur
40
Bab 40- Ketukan Palu sang Ayah
41
Bab 41- Seiring waktu
42
Bab 42- Hamil
43
Bab 43- Singkat cerita
44
Bab 44- Doa di Ujung Keputusasaan
45
Bab 45- Putri kecil
46
Bab 46- Gelak Tawa sang Kakek
47
Bab 47- Rumah Kita
48
Bab 48- Sisi Lain Bramantyo
49
Bab 49- Ambisi Terselubung
50
Bab 50- 4 tahun kemudian...
51
Bab 51- Badai
52
Bab 52- Badai 2
53
Bab 53- Napas Terakhir sang Pelindung
54
Bab 54- Sebuah panggilan
55
Bab 55- Firasat
56
Bab 56- Berita duka
57
Bab 57- di Kamar Jenazah
58
Bab 58- Di Atas Tanah Merah
59
Bab 59- Hasil TKP
60
Bab 60- Sosok Sahabat yang Kembali
61
Bab 61: Moana hilang!
62
Bab 62- Kebangkitan Ratu Mafia
63
Bab 63- Kembalinya Aurelia Vanzara
64
Bab 64- Plot Twist!
65
Bab 65- Penguasa Kegelapan
66
Bab 66- Pengadilan Aurelia
67
Bab 67- Jejak
68
Bab 68- Akhirnya...
69
Bab 69- Antara Cinta & Dendam
70
Bab 70- Cinta di ujung senapan
71
Bab 71- Peluru Bersarang
72
Bab 72- Penyesalan
73
Bab 73- Operasi Darurat
74
Mengasuh anak dari Maduku
75
Bab 75- Tatapan Sang Istri
76
Bab 76- Keputusan Terakhir
77
Bab 77- The End
78
Notes Author
79
Promo novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!