Wajah Kedua Seorang MAFIA

Wajah Kedua Seorang MAFIA

Bab 1- Malam yang tiada akhir

Tik...tik...tik...

Hujan yang turun perlahan membasahi kaca jendela besar di sebuah kafe sederhana di sudut kota. Aroma kopi hangat bercampur dengan udara dingin hingga menciptakan suasana yang tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang pernah hidup di tengah suara tembakan dan teriakan kematian.

Aurelia… tidak. Sekarang, namanya Alena.

“Pesan latte satu,” ucapnya pelan, memesan secangkir minuman dengan tersenyum tipis yang nyaris sempurna.

Tak ada yang tau siapa dirinya dulu. Tak ada yang mengenal bagaimana tangannya pernah berlumuran darah, bagaimana satu perintah darinya bisa menentukan hidup dan mati seseorang. Di mata orang-orang di kafe ini, ia hanyalah perempuan biasa. Ramah, tenang, dan sedikit tertutup.

Dan ia ingin tetap seperti itu.

Selamanya… jika bisa.

Namun, hidup tak pernah benar-benar memberi kesempatan kedua tanpa harga. Hingga...

Ting tong!

Bel pintu kafe berdenting pelan lalu seorang pria masuk dengan langkah yang tenang namun berat. Mantel hitamnya basah oleh hujan, dan wajahnya pun tertutup bayangan.

Tidak ada yang aneh bagi pengunjung lain.

Kecuali bagi Alena.

Tangannya yang sedang menggenggam cangkir tiba-tiba berhenti. Nafasnya pun tertahan sepersekian detik. Dan ia pun mengenali aura itu.

Bukan wajahnya. Bukan suaranya. Tapi bahaya yang ia bawa.

Pria itu duduk di sudut ruangan, di tempat yang paling gelap, seolah sengaja memilih posisi yang tak mudah terlihat. Namun matanya… terus mengarah pada satu titik.

Padanya.

Alena hanya menunduk dan mencoba menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba tak terkendali.

Tidak… tidak mungkin. Semua sudah berakhir.

Ia ingin meninggalkan dunia itu. Mengubur namanya. Menghapus jejaknya. Bahkan bersumpah tidak akan pernah kembali. Sejak malam itu… malam ketika ia kehilangan satu-satunya alasan untuk bertahan.

Namun saat ia kembali mengangkat kepala, pria tadi sudah berdiri di hadapannya lalu berkata,

“Sudah lama, Nona Vanzara.”

Teg!!

Dunia seolah berhenti.

Nama itu…Nama yang ingin ia kubur bersama masa lalunya, kini terdengar lagi.

Cangkir di tangannya pun terlepas, jatuh dan pecah di lantai hingga suara pecahan itu menggema seperti sesuatu yang ikut retak di dalam dirinya.

“Aku tidak tau siapa yang kau maksud,” jawabnya Alena dingin, dan berusaha mempertahankan kebohongan yang telah ia bangun selama ini.

Namun pria itu hanya tersenyum tipis dan menjawab, “Sungguh? Bahkan ketika seluruh kota mulai mencarimu lagi?”

Deg.

“Pergi dari sini,” bisik Alena tajam. “Kau salah orang.”

Namun pria itu malah mendekat, dan suaranya pun kini lebih rendah dan hanya bisa didengar olehnya.

“Kalau begitu… bagaimana kalau aku mulai dengan menyebutkan nama orang yang kau cintai terakhir kali?”

Alena menatap pria itu dan nafasnya pun tercekat. Dunia yang selama ini ingin ia bangun runtuh dalam satu kalimat.

“Dia belum benar-benar pergi, Aurelia.”

Detik itu juga, sesuatu dalam dirinya bangkit. Bukan Alena yang lembut. Bukan wanita biasa yang mencoba hidup damai.

Tapi sosok yang telah lama ingin ia kubur.

Matanya yang semula tenang kini berubah menjadi tajam, dingin, dan mematikan.

"Aku katakan pergi!!!"

......

............

Brushhhh!!

"Hah hah hah...!."

Aurelia terbangun dengan napas yang terengah-engah.

Keringat dingin membasahi pelipisnya, jemarinya mencengkeram seprai dengan kuat seolah baru saja terjatuh dari jurang yang dalam. Dadanya naik turun tak beraturan. Matanya berkeliaran seakan mencari seseorang.

Lagi.

Mimpi itu… lagi. Mimpi yang selalu menghantuinya seakan tiada henti.

Setelah napasnya sedikit tenang, Ia menatap langit-langit kamar yang gelap dan mencoba meyakinkan dirinya bahwa semuanya sudah berakhir. Namun bayangan itu terlalu nyata. Suara tembakan, pecahan kaca, dan… suara terakhir itu.

“Marko…”

Namanya keluar lirih dari bibirnya dan hampir tak terdengar.

Sudah berbulan-bulan berlalu sejak malam itu. Malam yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan… justru berubah menjadi akhir dari segalanya.

Dan setiap kali ia memejamkan mata, ia selalu kembali ke sana.

__________

_______________

Flashback...

Beberapa bulan lalu…

Langit malam itu tampak cerah karena lampu kota berkilauan seperti bintang yang jatuh ke bumi. Mobil hitam yang dikendarai Marko melaju dengan tenang di jalanan yang relatif sepi.

Sementara Aurelia duduk di kursi penumpang, dengan mengenakan gaun merah pekat elegant. Tatapannya sesekali mengarah ke luar jendela, namun senyum kecilnya tak lepas dari wajahnya.

“Jadi… kita mau ke mana sebenarnya?” tanyanya sambil melirik pria di sampingnya.

Marko hanya tersenyum, sedangkan satu tangannya memegang setir dan satu lagi dengan santai mengetuk pelan kemudi.

“Rahasia.”

"Hufth..." Aurelia menghela napasnya dan pura-pura kesal. “Kau tau aku tidak suka kejutan.”

“Oh ya?” canda Marko seraya meliriknya sekilas dengan senyumnya yang melebar. “Padahal dulu kau bilang hidupmu terlalu penuh rencana. Katanya, sekali-sekali ingin sesuatu yang tak terduga.”

Aurelia menatapnya namun hanya terdiam lalu terkekeh kecil. “Tidak untuk hal besar.”

Marko tidak menjawab. Namun sorot matanya… menyimpan sesuatu yang lebih dari sekadar candaan.

Beberapa detik telah berlalu dalam keheningan yang nyaman.

Hingga...

Sorot lampu tiba-tiba menyilaukan mereka dari arah depan. Marko langsung mengerem sedikit dan matanya pun menyipit.

“Aneh…” gumamnya.

Dua mobil hitam pun muncul dari depan dan melintang menutup jalan.

Belum sempat Aurelia bereaksi, ia mendengar suara mesin yang meraung dari belakang. Lalu satu mobil lain datang dan berhenti tepat di belakang mereka hingga tiga mobil mengurung mobil mereka.

Suasana pun berubah menjadi tegang.

“Aurelia…” suara Marko yang terdengar rendah namun serius. “Tunduk.”

Nada itu.

Nada yang tak pernah ia gunakan kecuali dalam situasi bahaya.

Aurelia menatap Marko tanpa bertanya dan ia pun langsung menunduk.

Dan detik berikutnya...

DOR! DOR! DOR!

Rentetan peluru menghujani mobil mereka sehingga kaca depan retak, beradu dengan suara logam yang memekakkan telinga.

“Brengsek!” teriak Marko sambil membanting setir dan mencoba mencari celah.

Melihat situasi semakin tidak baik, dengan cepat Aurelia membuka laci dashboard dan mengambil pistol yang sudah sangat familiar.

“Kiri dua orang, kanan satu di balik pintu!” ucapnya cepat dengan sorot mata yang tajam.

Marko pun tersenyum tipis meski situasi semakin kacau. “Sepertinya aku tidak pernah benar-benar bisa mengajakmu kencan normal.”

Aurelia menoleh sekilas dengan tatapan yang dingin namun penuh arti. “Denganmu? Mustahil.”

DOR DOR DOR!!!

Peluru pun kembali menghantam.

Marko menginjak gas dan memutar setir tajam sehingga menabrak salah satu mobil di depan hingga bergeser sedikit.

“Pegangan!”

Mobil pun melesat, namun tembakan semakin brutal.

DOR DOR DOR DOR!!!

Aurelia membuka jendela sedikit lalu mengangkat pistolnya hingga satu pria di sisi kanan terjatuh kena tembakannya.

Namun...

DOR! DOR!

Balasan datang lebih cepat sehingga kaca samping mobil mereka pecah dan pecahannya pun melukai lengan Aurelia.

"Ishh!!" Ia meringis, tapi tak berhenti dan tetap waspada.

“Jumlah mereka lebih banyak dari biasanya,” gumamnya.

“Ini bukan serangan biasa,” jawab Marko tegas. “Mereka tau rute kita.”

Aurelia pun terdiam sejenak.

Pengkhianatan.

Kata itu langsung terlintas di benaknya sehingga mobil di belakang menabrak mereka dengan keras.

BRAK!

Mobil mereka pun oleng hingga tubuh mereka pun sempat terombang ambing.

“Marko!” teriak Aurelia.

“Aku masih pegang!” sahut Marko sambil mencoba menstabilkan kendaraan.

Namun...

DOR!!!

Satu tembakan menembus kaca depan dan mengenai Marko.

“A—”

Suaranya terhenti. Tangannya yang memegang setir pun mulai melemah sehingga mobil kehilangan kendali.

“MARKO!!”

Aurelia langsung memegang setir dengan satu tangan dan mencoba menjaga arah, sementara tangan lainnya menahan tubuh Marko yang mulai kehilangan kesadaran.

“Hey! Lihat aku! Jangan tutup mata!” teriak Aurelia dengan suara yang bergetar untuk pertama kalinya.

Marko menatap Aurelia dengan tersenyum samar meskipun darahnya mulai mengalir dari sisi tubuhnya.

“Sepertinya… kejutan malam ini… gagal ya…”

“Diam!” bentak Aurelia, padahal matanya mulai memanas. “Kau tidak boleh bicara seperti itu!”

"he-he..." Marko tertawa pelan, meski suaranya melemah.

“Aku sudah menyiapkan… semuanya… Kau pasti akan marah… karena ini terlalu berlebihan…” lanjutnya terbata-bata.

“Marko… tolong…” pekik Aurelia sementara air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

Untuk pertama kalinya, Aurelia Vanzara, wanita yang tak pernah takut pada kematian tapi kini terlihat rapuh.

Marko mengangkat tangannya dengan susah payah lalu menyentuh pipi Aurelia.

“Kalau aku tidak sempat bilang nanti…” bisiknya pelan. “Aurelia… aku mencintaimu.”

Kini...dunia serasa hening. Tembakan, suara mesin, semuanya seolah hilang hingga detik berikutnya...

Tangan Marko jatuh dan matanya pun terpejam.

“Aku… juga…” suara Aurelia terpatah-patah.

Namun semuanya sudah terlambat. Karena pada saat itu Marko sudah menghembuskan nafas terakhirnya.

_________

_____________

Kembali ke Masa Kini

Aurelia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sementara napasnya masih berantakan.

Mimpi itu tidak pernah berubah. Tidak pernah selesai dengan cara yang berbeda. Selalu sama. Selalu berakhir dengan rasa kehilangan.

Episodes
1 Bab 1- Malam yang tiada akhir
2 Bab 2- Crimson queen
3 Bab 3- Balas dendam
4 Bab 4- Sebuah keputusan
5 Bab 5- Identitas Baru
6 Bab 6- Dua pria
7 Bab 7- Arogan
8 Bab 8- Perkelahian
9 Bab 9- Panik
10 Bab 10- Status
11 Bab 11- Administrasi
12 Bab 12- Repot?
13 Bab 13- Pengacau
14 Bab 14- Tiga arah
15 Bab 15- Ibu tiri
16 Bab 16- Toko bunga
17 Bab 17- Alena’s Floral Boutique
18 Bab 18- Bak pahlawan
19 Bab 19- Mengatakan Cinta?
20 Bab 20- Pendamping
21 Bab 21- Hubungan resmi
22 Bab 22- Di perkenalkan
23 Bab 23- Ular berbisa
24 Bab 24- Kencan pertama
25 Bab 25- Max kembali
26 Bab 26- Jangan melebihi batas, Max
27 Bab 27- Lamaran Larut Malam
28 Bab 28- Kepastian
29 Bab 29- Sebuah Restu
30 Bab 30- Menuju hari -H
31 Bab 31- Kilau Pengantin
32 Bab 32- Sah
33 Bab 33- Unboxing
34 Bab 34- Jamuan Malam
35 Bab 35- Ketegangan di Meja Makan
36 Bab 36- Obsesi
37 Bab 37- Jebakan
38 Bab 38- Perangkap Busuk
39 Bab 39- Topeng yang Hancur
40 Bab 40- Ketukan Palu sang Ayah
41 Bab 41- Seiring waktu
42 Bab 42- Hamil
43 Bab 43- Singkat cerita
44 Bab 44- Doa di Ujung Keputusasaan
45 Bab 45- Putri kecil
46 Bab 46- Gelak Tawa sang Kakek
47 Bab 47- Rumah Kita
48 Bab 48- Sisi Lain Bramantyo
49 Bab 49- Ambisi Terselubung
50 Bab 50- 4 tahun kemudian...
51 Bab 51- Badai
52 Bab 52- Badai 2
53 Bab 53- Napas Terakhir sang Pelindung
54 Bab 54- Sebuah panggilan
55 Bab 55- Firasat
56 Bab 56- Berita duka
57 Bab 57- di Kamar Jenazah
58 Bab 58- Di Atas Tanah Merah
59 Bab 59- Hasil TKP
60 Bab 60- Sosok Sahabat yang Kembali
61 Bab 61: Moana hilang!
62 Bab 62- Kebangkitan Ratu Mafia
63 Bab 63- Kembalinya Aurelia Vanzara
64 Bab 64- Plot Twist!
65 Bab 65- Penguasa Kegelapan
66 Bab 66- Pengadilan Aurelia
67 Bab 67- Jejak
68 Bab 68- Akhirnya...
69 Bab 69- Antara Cinta & Dendam
70 Bab 70- Cinta di ujung senapan
71 Bab 71- Peluru Bersarang
72 Bab 72- Penyesalan
73 Bab 73- Operasi Darurat
74 Mengasuh anak dari Maduku
75 Bab 75- Tatapan Sang Istri
76 Bab 76- Keputusan Terakhir
77 Bab 77- The End
78 Notes Author
79 Promo novel baru
Episodes

Updated 79 Episodes

1
Bab 1- Malam yang tiada akhir
2
Bab 2- Crimson queen
3
Bab 3- Balas dendam
4
Bab 4- Sebuah keputusan
5
Bab 5- Identitas Baru
6
Bab 6- Dua pria
7
Bab 7- Arogan
8
Bab 8- Perkelahian
9
Bab 9- Panik
10
Bab 10- Status
11
Bab 11- Administrasi
12
Bab 12- Repot?
13
Bab 13- Pengacau
14
Bab 14- Tiga arah
15
Bab 15- Ibu tiri
16
Bab 16- Toko bunga
17
Bab 17- Alena’s Floral Boutique
18
Bab 18- Bak pahlawan
19
Bab 19- Mengatakan Cinta?
20
Bab 20- Pendamping
21
Bab 21- Hubungan resmi
22
Bab 22- Di perkenalkan
23
Bab 23- Ular berbisa
24
Bab 24- Kencan pertama
25
Bab 25- Max kembali
26
Bab 26- Jangan melebihi batas, Max
27
Bab 27- Lamaran Larut Malam
28
Bab 28- Kepastian
29
Bab 29- Sebuah Restu
30
Bab 30- Menuju hari -H
31
Bab 31- Kilau Pengantin
32
Bab 32- Sah
33
Bab 33- Unboxing
34
Bab 34- Jamuan Malam
35
Bab 35- Ketegangan di Meja Makan
36
Bab 36- Obsesi
37
Bab 37- Jebakan
38
Bab 38- Perangkap Busuk
39
Bab 39- Topeng yang Hancur
40
Bab 40- Ketukan Palu sang Ayah
41
Bab 41- Seiring waktu
42
Bab 42- Hamil
43
Bab 43- Singkat cerita
44
Bab 44- Doa di Ujung Keputusasaan
45
Bab 45- Putri kecil
46
Bab 46- Gelak Tawa sang Kakek
47
Bab 47- Rumah Kita
48
Bab 48- Sisi Lain Bramantyo
49
Bab 49- Ambisi Terselubung
50
Bab 50- 4 tahun kemudian...
51
Bab 51- Badai
52
Bab 52- Badai 2
53
Bab 53- Napas Terakhir sang Pelindung
54
Bab 54- Sebuah panggilan
55
Bab 55- Firasat
56
Bab 56- Berita duka
57
Bab 57- di Kamar Jenazah
58
Bab 58- Di Atas Tanah Merah
59
Bab 59- Hasil TKP
60
Bab 60- Sosok Sahabat yang Kembali
61
Bab 61: Moana hilang!
62
Bab 62- Kebangkitan Ratu Mafia
63
Bab 63- Kembalinya Aurelia Vanzara
64
Bab 64- Plot Twist!
65
Bab 65- Penguasa Kegelapan
66
Bab 66- Pengadilan Aurelia
67
Bab 67- Jejak
68
Bab 68- Akhirnya...
69
Bab 69- Antara Cinta & Dendam
70
Bab 70- Cinta di ujung senapan
71
Bab 71- Peluru Bersarang
72
Bab 72- Penyesalan
73
Bab 73- Operasi Darurat
74
Mengasuh anak dari Maduku
75
Bab 75- Tatapan Sang Istri
76
Bab 76- Keputusan Terakhir
77
Bab 77- The End
78
Notes Author
79
Promo novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!