Nota Perhiasan

"Minum dulu Ra," Arhan membawakan segelas air putih dan pil berwarna putih yang rutin Dira minum setiap harinya.

Dira yang sedang merapikan selimut tebal diranjang langsung menghela nafas pelan, kesabarannya mulai menipis.

"Mas, Dira Minum setiap hari pil penyubur ini tapi belum juga menunjukan keberhasilan. Mas, apa kita gak mau coba periksa ke dokter." ucap Dira sambil memandangi segelas air putih dan pil yang berada pada tangan Arhan.

Tanpa Dira sadari cengkraman tangan Arhan pada segelas air semakin kuat, rahangnya mengatup rapat dan menegas, sorot matanya menajam tapi berusaha Arhan untuk menyembunyikan kekesalannya dari hadapan Dira.

"Sabar Ra, kamu tau kan biaya periksa kandungan itu mahal. Mas lagi keteteran sama biaya pengobatan ibu dirumah sakit. Kita coba aja dulu rutin dengan meminum pil ini, siapa tahu tahun depan atau bulan depan kamu bisa hamil" ucap Arhan dengan nada bicara dibuat sehalus mungkin.

Akhirnya Dira lagi-lagi harus menurut, tidak mampu membantah ucapan Arhan. Ia meneguk lagi pil putih itu dengan segelas air, kemudian senyum terukir di wajah Arhan.

"Kamu nurut sekali Ra, mas memang gak salah pilih buat jadikan kamu sebagai istri. Mas berangkat, jaga ibu ya." ucap Arhan sambil mengambil ponsel dan kunci mobilnya.

"Mau kemana mas, hari ini kan hari libur. Apa gak mau mas nikmatin hari libur dirumah?" ucap Dira sambil menahan lengan kokoh milik Arhan.

"Mas suntuk kalau dirumah Ra, mas mau cari angin dulu dirumah. Mas titip ibu ya, hanya sebentar saja." ucap Arhan kemudian langsung pergi meninggalkan Nadhira yang masih mematung diambang pintu.

"Padahal aku juga mau mas, pergi liburan setiap akhir pekan. Sekedar menghilangkan penat dan setres dengan pekerjaan rumah. Tapi kamu tidak pernah sekalipun mengajak aku untuk pergi keluar." gumam Dira setelah melihat punggung Arhan yang perlahan menghilang dibalik pintu utama.

Kemudian Dira berjalan kearah ruang cuci pakaian, akhir pekan biasanya Dira habiskan untuk memicu pakaian kerja milik Arhan, dengan cekatan Dira mulai memisahkan pakaian putih dengan pakaian berwarna milik Arhan. Tidak lupa Dira selalu cek bagian saku celana, takutnya ada suatu benda yang tertinggal disana.

Ketika Dira memeriksa saku celana hitam yang dipakai oleh Arhan kemarin, Dira mendapati suatu kertas yang ternyata sebuah nota pembelian.

"Nota perhiasan?" Dira mengernyitkan dahinya, jantungnya berdebar kencang. Kejanggalan yang paling besar selama menikah dengan Arhan.

"Mas Arhan beli cincin untuk siapa?" wanita bermata bening itu menyapu semua tulisan yang tertera pada nota. Jantungnya kian berdebar dan tangannya sedikit bergetar.

"Apa mas Arhan?"

Tapi kemudian Dira langsung menggelengkan kepalanya, menghapus semua perasaanku buruk yang datang pada pikirannya.

"Tidak, tidak mungkin. Selama ini mas Arhan pria yang baik, tidak mungkin dia melakukan hal buruk di belakangku." ucap Dira seraya mengambil ponselnya untuk menelpon Arhan.

Dira : Halo mas...

Arhan : Iya ada apa Ra?

Dira : Emh... ini ada nota pembelian perhiasan, ini punya kamu mas? Soalnya ada disaku celananya mas.

Arhan : Bukan. itu punya rekan mas Ra, dia mau ngasih suprise pada istrinya yang lagi ulangtahun, jadi dia titip mas buat beliin cincin itu. Oh ya Ra, simpan aja nota itu nanti mas ambil buat dikasih ke rekan kerja mas sebagai bukti pembelian.

Dira : oh ya udah, Dira sempet kaget juga si. Kirain mas....

Arhan : ya gak mungkinlah Ra, jangan berpikir aneh-aneh ya. Mas tidak akan melakukan hal itu tenang aja.

Setelah menutup telponnya senyum Arhan mengembang sempurna, "Untung banget kamu mudah sekali dibohongi Ra, dasar wanita bodoh." umpat Arhan kemudian kembali tanjab gas menuju rumah yang sering ia kunjungi.

Arhan memarkirkan mobil sedan hitamnya dengan sempurna, senyum mengembang pada wajahnya yang manis. ia turun dengan kacamata hitam yang bertengger dihidungnya yang mancung.

Senyumnya semakin melebar kala mendapati seorang wanita yang berdiri diambang pintu sambil tersenyum pada Arhan.

"Hari ini seperti ada yang berbeda mas?" ucap wanita berambut hitam tebal dengan sebagian rambutnya ia ikat.

"Bahagia karena mau ketemu sama pujaan hati mas, kangen banget." ucap Arhan seraya memeluk tubuh wanita itu, seraya mengecup pipi wanita itu.

"Didalam yuk mas, takutnya ada orang yang lewat kesini." ajak Ayu, wanita yang selama ini dicintai Arhan, tapi belum bisa dinikahi karena ayu ini adalah wanita yang materialistis alias pandang harta. Ia tidak mau menikah dengan Arhan jika Arhan belum naik jabatan di tempat kerjanya.

Arhan mengangguk, ia berjalan bersisian dengan Ayu, dengan tangan yang merangkul pundak Ayu.

"Lihat sayang.." Arhan memperlihatkan sebuah kontak beludru yang berisikan sebuah cincin emas seharga limapuluh juta.

"Astaga mas, ini bagus sekali. Aku suka...." ucap ayu yang kini duduk diatas pangkuan Arhan.

"Jelas ini harganya sangat mahal sekali sayang." ucap Arhan lagi-lagi mengecup pipi Ayu.

"Mas pakein!..." ucap ayu dengan nada bicara dibuat seimut mungkin dan terkesan manja.

"Sangat pas sekali dijari kamu sayang, cincin ini begitu sangat terlihat cantik pada jari kamu yang lentik dan bagus ini." Arhan mengecup punggung tangan ayu.

"Makasih ya mas.... Aku seneng banget." kini tangannya memeluk leher Arhan.

"Mas mau hadiah dari aku?" ucap ayu, sorot mata yang sayu bertabrakan dengan mata milik Arhan yang sudah sarat akan hal normal sebagai seorang pria.

Arhan perlahan mengangguk, sorot matanya tidak beralih pada wajah Ayu. Tubuhnya kian menghangat dan semburat merah memenuhi wajah kedua manusia itu.

"Mas kangen banget sama kamu yu." bisik Arhan saat mengangkat tubuh Ayu, kini langkah tegap itu mulai memasuki sebuah kamar dengan sinar lampu temaram.

Beberapa menit kemudian, dengan nafas yang masih terengah-engah. Arhan memeluk tubuh ayu erat.

"Mas tadi tembak didalam?" tanya Ayu dengan sorot mata yang sangat lelah, setelah melakukan pertempuran panas. Tangannya membetulkan posisi tangan Arhan yang masih melingkar diatas perutnya.

"Heem, karena kita akan segera menikah sayang. Posisi mas Minggu depan sudah naik jadi direktur." ucap Arhan dengan suara serak.

"Lalu istri kamu gimana mas, aku takut nanti dia sering marah terus jambak-jambak rambut aku yang sangat indah ini."

"Kamu tengang aja, wanita itu sangat bodoh sekali sayang. Setelah kamu jadi istri aku kamu tinggal duduk manis sambil menikmati semua uang aku, karena semua pekerjaan rumah akan dikerjakan oleh wanita bodoh itu."

Ayu menghadapkan tubuhnya pada Arhan. tangannya menangkup pada wajah Arhan yang masih terasa panas.

"Aku mau nikah sama kamu mas, tapi apa alasan yang akan kamu ucapkan pada ibumu mas."

"Alasan kalau Dira tidak bisa hamil dan aku akan nikah lagi buat beri ibu cucu. Aku sangat yakin sekali jika soal cucu ibu akan luluh." ucap Arhan.

"Kamu tau kan sayang, setiap pagi mas kasih Dira pil KB agar dia gak hamil-hamil."

"Kamu pintar sekali sayang...." ucap ayu sambil mengecup ujung hidung Arhan. Senyum penuh kemenangan mengembang sempurna diwajah Ayu.

"Lagi?" ucap Arhan dengan binar mata yang sulit diartikan.

Ayu mengangguk, tangannya sudah mencengkram erat bahu Arhan. Kemudian Arhan bangkit dan langsung mengukung tubuh Ayu dibawahnya.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Dibalik Senja

Dibalik Senja

Perempuan sbaik dira dpt suami bejat kyk arhan,semoga nanti mereka berpisah dan dira dpt suami yg bnr2 tulus mencintai dia

2026-07-29

0

lihat semua
Episodes
1 Menikah Karena Kasihan
2 Pil Penyubur
3 Nota Perhiasan
4 Izin Nikah dari Dira
5 Noda Merah dibalik Kerah Kemeja
6 Kecupan yang Terasa Hambar
7 Pil Kontrasepsi & Akal Cerdik Dira
8 Pulang dengan Membawa Istri Kedua
9 Servis Terbaik dari Istri Pertama
10 Istri Kedua dari Neraka
11 Dua Garis Merah yang Membuat Dilema.
12 Hanya Istri yang dimanfaatkan
13 Benih yang Gugur
14 Memadu Kasih diatas Penderitaan Istri Pertama
15 Mas Arhan Pahlawanku
16 Kemana Harus Pulang
17 Kemenangan Ayu dan Penderitaan Dira
18 Tali Pertolongan
19 Tinggal dirumah Mewah
20 Jejak yang Masih Tertinggal
21 Pertemuan yang Penuh Haru
22 Ibu Sambung yang Tepat
23 Anggap Saja Sebagai Ibu Lara
24 Tragedi Heels nyangkut
25 Biar Waktu yang Menjawab
26 Tawaran Bu Mira
27 Perhatian dari Arya Terasa Berbeda
28 Kasih Sayang yang Berlimpah
29 Sidang Perceraian
30 Penyesalan yang Mulai Terasa
31 Aib yang Terbongkar
32 Mantan Suami Dira
33 Penurunan Jabatan
34 Pertengkaran Hebat
35 Cincin Bermata Biru
36 Anggukan Samar
37 Pengungkapan Cinta yang Tertunda
38 Bertemu Mantan
39 Kartu Undangan dan Kecurigaan
40 Mandi Kembang
41 Hari Pernikahan
42 Terimakasih Telah Melepas Berlian
43 Pertengkaran Hebat
44 Godaan Selepas Akad
45 Deep Talk Menjelang Tidur
46 Honeymoon
47 Hangat Dalam Dekapan
48 Foto yang Membuat Panas
49 Cinta yang Salah Kehidupan yang Hancur
50 Rasa Cinta yang Semakin Kuat
51 Saat Kenangan Menjadi Hukuman
52 Bahagia Dalam Dekapan yang Tepat
53 Panggilan Masalalu
54 Satu Bulan Penuh Cinta
Episodes

Updated 54 Episodes

1
Menikah Karena Kasihan
2
Pil Penyubur
3
Nota Perhiasan
4
Izin Nikah dari Dira
5
Noda Merah dibalik Kerah Kemeja
6
Kecupan yang Terasa Hambar
7
Pil Kontrasepsi & Akal Cerdik Dira
8
Pulang dengan Membawa Istri Kedua
9
Servis Terbaik dari Istri Pertama
10
Istri Kedua dari Neraka
11
Dua Garis Merah yang Membuat Dilema.
12
Hanya Istri yang dimanfaatkan
13
Benih yang Gugur
14
Memadu Kasih diatas Penderitaan Istri Pertama
15
Mas Arhan Pahlawanku
16
Kemana Harus Pulang
17
Kemenangan Ayu dan Penderitaan Dira
18
Tali Pertolongan
19
Tinggal dirumah Mewah
20
Jejak yang Masih Tertinggal
21
Pertemuan yang Penuh Haru
22
Ibu Sambung yang Tepat
23
Anggap Saja Sebagai Ibu Lara
24
Tragedi Heels nyangkut
25
Biar Waktu yang Menjawab
26
Tawaran Bu Mira
27
Perhatian dari Arya Terasa Berbeda
28
Kasih Sayang yang Berlimpah
29
Sidang Perceraian
30
Penyesalan yang Mulai Terasa
31
Aib yang Terbongkar
32
Mantan Suami Dira
33
Penurunan Jabatan
34
Pertengkaran Hebat
35
Cincin Bermata Biru
36
Anggukan Samar
37
Pengungkapan Cinta yang Tertunda
38
Bertemu Mantan
39
Kartu Undangan dan Kecurigaan
40
Mandi Kembang
41
Hari Pernikahan
42
Terimakasih Telah Melepas Berlian
43
Pertengkaran Hebat
44
Godaan Selepas Akad
45
Deep Talk Menjelang Tidur
46
Honeymoon
47
Hangat Dalam Dekapan
48
Foto yang Membuat Panas
49
Cinta yang Salah Kehidupan yang Hancur
50
Rasa Cinta yang Semakin Kuat
51
Saat Kenangan Menjadi Hukuman
52
Bahagia Dalam Dekapan yang Tepat
53
Panggilan Masalalu
54
Satu Bulan Penuh Cinta

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!