Air Mata Istri Pertama

Air Mata Istri Pertama

Menikah Karena Kasihan

Seorang gadis berusia dua puluh tahun menangis pilu di lorong putih rumah sakit yang dingin, di sebelahnya ada dua brankar rumah sakit dengan dua jasad yang sudah tidak bernyawa dan ditutupi oleh kain putih.

"Papah... Mama... jangan tinggalkan Dira, hidup Dira akan sepi tanpa kalian." begitu terdengar pilu, seorang suster disebelahnya ikut merasakan atmosfer kesedihan. Namun suster itu tidak bisa berkutik dengan peraturan rumah sakit elit itu.

Sementara itu seorang pria berkemeja hitam tidak sengaja memperhatikan adegan yang sangat menyedihkan itu, langkahnya seketika terhenti. Matanya menatap awas pada seorang gadis yang sedang memeluk kedua jasad, kemudian entah dorongan dari mana langkahnya perlahan mengayun mendekat ke arah Dira yang masih memeluk kedua jasad orangtuanya.

"Saya pamit dulu ya mbak, mbaknya boleh untuk menghubungi keluarga dulu untuk mengurus semua administrasi rumah sakit." ucap suster itu sopan, kemudian pergi meninggalkan Dira yang masih memeluk kedua jasad orangtuanya.

"Saya tidak punya siapa-siapa lagi suster...saya tidak punya keluarga lagi disini." lirihnya pilu disela Isak tangisnya.

Arhan pun mendengar apa yang diucapkan Dira, seketika otaknya berputar dengan ucapan ibunya tadi pagi.

Arhan usia kamu sudah 27 tahun, ekonomi kamu juga sudah stabil dengan posisi sebagai menejer di perusahaan besar. Ibu sudah tua, ibu minta sama kamu untuk segera menikah, carilah istri yang baik yang bisa ngurus kamu dan sebagai teman ibu dirumah. Jujur ibu kesepian sekali dirumah.

"Kasihan juga ibu, tenang buk Arhan sudah menemukan orang yang tepat " senyum manis terukir pada wajah pria keturunan Jawa dan Sumatra itu.

"Suster..." panggil Arhan saat melihat suster yang tadi berdiri disebelah Dira berjalan ke arahnya.

"Kenapa jasad kedua orangtua gadis itu belum di urus?"

"Mohon maaf sekali pak, ini adalah peraturan dari rumah sakit. Jika keluarga korban belum mengurus administrasi maka kami akan menunda untuk pengurusan jenazah."

"Saya yang akan bertanggung jawab." ucap Arhan mantap. Kemudian melangkah mendekat pada Dira. Gadis yang masih terlihat sangat muda Dimata Arhan.

Langkah Arhan terhenti, matanya fokus menatap pundak Dira yang bergetar karena tangis kesedihan.

"Saya yang akan bantu kamu," ucap Arhan Sura baritonnya mampu membuat Dira menghentikan tangisnya sejenak. Dira membalikan tubuhnya, tatapan matanya langsung tertuju pada seorang pria tinggi.

"Siapa kamu?" dengan sorot mata penuh kesedihan, mata yang merah dan basah oleh air mata.

"Saya Arhan, saya yang akan bantu anda. Mohon maaf sekali saya sudah mendengar ucapanmu kalau kamu tidak memiliki keluarga disini. Kini kamu tidak usah bersedih lagi, anggaplah aku sebagai kakak mu. Saya yang akan menanggung semuanya, dari pengurusan jenazah sampai dengan pemakaman." ucap Arhan.

Dira masih menatap pria yang ada dihadapannya, seorang pria dewasa dengan wajah yang begitu manis.

"Atas dasar apa kakak menolong saya?" ucap Dira pelan.

"Atas dasar kemanusiaan, saya tidak suka melihat orang yang butuh pertolongan lalu dibiarkan begitu saja, izinkan saya untuk membantumu."

Atas persetujuan Dira akhirnya Arhan bisa mengurus semua administrasi sekaligus biaya pemakaman. Pemakaman langsung dilakukan dihari itu juga, tidak banyak orang yang mengantar karena Dira merupakan seorang pendatang baru di komplek perumahan yang sangat sepi. Jadi tidak banyak orang yang mengenal kedua orangtua Dira, bahkan Arhan tidak melihat satu orangpun yang mengaku sebagai kerabat atau saudara Dira. Kehidupan Dira betul-betul sebatang kara, setelah ditinggal oleh kedua orangtuanya.

Setelah pemakaman selesai, Arhan pun mengurus semua urusan pengajian tahlilan untuk kedua orangtua Dira, tahlilan tidak dilakukan dikomplek perumahan Dira, akan tetapi tahlilan dilakukan di pondok pesantren yatim piatu. Tanpa Arhan sadari kebaikan terselebung niat itu mampu membuat hati Dira kian menghangat.

Satu bulan kemudian.

"Dek, tadi malam aman? Jujur mas khawatir sekali sama kamu, mas baru dapat kabar dari satpam depan kalau tadi malam ada maling didaerah sekitar sini." ucap Arhan yang sedang mengunjungi kediaman Nadhira, satu bulan penuh Arhan memang rutin untuk menjenguk Nadhira.

Gadis berusia dua puluh tahun dengan rambut digerai sebahu itu menundukkan wajahnya, ada semburat kemerahan yang menghiasi wajahnya. Tangannya memegang erat nampan kayu terlihat sedikit bergetar.

"Dira aman kok mas, walaupun tadi malam Dira sempat dengar ada suara-suara aneh dari luar." ucap Dira sambil sesekali melirik wajah Arhan.

Kini mereka semakin dekat, bahkan Arhan sering mengajak Dira untuk jalan-jalan keluar sekedar membuang rasa suntuk sambil mencoba mengambil hati Dira.

"Dir..."

"Iya mas...?"

Arhan menghela nafasnya sejenak.

Dira menatap wajah manis pria didepannya, jantungnya kian berdebar saat sorot mata Arhan berseri kepadanya.

"Dir jujur mas khawatir sekali melihat kamu tinggal sendirian dirumah sebesar ini. setelah banyak kejadian kejahatan diluar sana mas jadi was was sekali, apalagi kamu tinggal sendirian dan sangat jauh dari keluarga."

Dira hanya menganggukkan kecil kepalanya, hatinya kian berdebar halus.

"Maka dari itu mas mau ngajak kamu menjadi sepenuhnya milik mas, biar mas tidak khawatir lagi ketika berjauhan sama kamu Dir, jujur ini sangat cepat sekali untuk kita yang baru mengenal kurang lebih satu bulan. tapi percaya lah Ra, mas sangat serius. Mas mau ngajak kamu nikah." Arhan menatap manik mata indah milik Dira, sorot matanya serius.

Ada semburat merah yang menghiasi pipi gadis itu, semburat senyum tipis terbit diwajahnya yang manis.

"Apa yang membuat mas yakin dengan Dira?, perbedaan umur kita terpaut cukup jauh mas. Dira masih berusia 20 tahun sedangkan mas sudah berusia 27 tahun. Dira yakin masih banyak wanita diluar sana yang mau dengan mas Arhan." ucap Dira sambil menundukkan wajahnya.

"Hati mas yakin banget sama kamu Ra, kamu wanita yang baik. Dari pandangan pertama mas sudah jatuh hati sama kamu Ra."

****

Dua Minggu kemudian

"Saya terima nikah dan kawinnya Nadhira Oktora binti Helmi dengan maskawin seperangkat alat solat dan cincin perhiasan dibayar tunai..."

Arhan dan Nadhira melangsungkan pernikahan secara sederhana, hanya dikantor KUA dan dihadiri oleh sanak saudara dan teman dekat Arhan saja.

Nadhira yang tampak cantik dengan balutan kebaya putih dan untaian melati pada sanggul rambutnya, serta riasan wajah yang sangat sederhana tanpa menghilangkan kecantikan alami Nadhira. Nadhira tersenyum melirik Arhan yang kini sudah sah menjadi suaminya.

Bagi Nadhira Arhan adalah malaikat penolong saat dia jatuh terpuruk lalu Arhan datang dan langsung mengangkat Nadhira dari kesedihan itu. Nadhira sadar, bahwa ia sudah jatuh hati dengan sosok pria yang kini berdiri disebelahnya.

Nadhira mencium punggung tangan suaminya, bibirnya yang lembut mencium punggung tangan Arhan. Sangat lama sampai Nadhira meneteskan air matanya.

"Makasih mas, udah mau jadi penolong buat Dira." suaranya begitu mengalun lembut.

Sementara Arhan hanya menatap datar pada Nadhira, hanya anggukan singkat dari kepalanya. Sebagai simbolis, kemudian Arhan mencium kening Dira, sampai ada jepretan yang menyilaukan mata menangkap gambar mereka.

Ibu Arhan sudah menunaikan keinginan ibu, memilihkan menantu yang baik yang bisa menemani masa tua untuk ibu. Nadhira adalah wanita yang paling tepat, gadis yatim piatu yang masih sangat polos. Otaknya masih sangat bersih.

Batin Arhan dengan tatapan yang tertuju pada ibunya yang sedang tersenyum bahagia.

Terpopuler

Comments

Dibalik Senja

Dibalik Senja

Dira anak yatim piatu arhan niat jhtmu pst akan mendptkan krmanya

2026-07-29

0

lihat semua
Episodes
1 Menikah Karena Kasihan
2 Pil Penyubur
3 Nota Perhiasan
4 Izin Nikah dari Dira
5 Noda Merah dibalik Kerah Kemeja
6 Kecupan yang Terasa Hambar
7 Pil Kontrasepsi & Akal Cerdik Dira
8 Pulang dengan Membawa Istri Kedua
9 Servis Terbaik dari Istri Pertama
10 Istri Kedua dari Neraka
11 Dua Garis Merah yang Membuat Dilema.
12 Hanya Istri yang dimanfaatkan
13 Benih yang Gugur
14 Memadu Kasih diatas Penderitaan Istri Pertama
15 Mas Arhan Pahlawanku
16 Kemana Harus Pulang
17 Kemenangan Ayu dan Penderitaan Dira
18 Tali Pertolongan
19 Tinggal dirumah Mewah
20 Jejak yang Masih Tertinggal
21 Pertemuan yang Penuh Haru
22 Ibu Sambung yang Tepat
23 Anggap Saja Sebagai Ibu Lara
24 Tragedi Heels nyangkut
25 Biar Waktu yang Menjawab
26 Tawaran Bu Mira
27 Perhatian dari Arya Terasa Berbeda
28 Kasih Sayang yang Berlimpah
29 Sidang Perceraian
30 Penyesalan yang Mulai Terasa
31 Aib yang Terbongkar
32 Mantan Suami Dira
33 Penurunan Jabatan
34 Pertengkaran Hebat
35 Cincin Bermata Biru
36 Anggukan Samar
37 Pengungkapan Cinta yang Tertunda
38 Bertemu Mantan
39 Kartu Undangan dan Kecurigaan
40 Mandi Kembang
41 Hari Pernikahan
42 Terimakasih Telah Melepas Berlian
43 Pertengkaran Hebat
44 Godaan Selepas Akad
45 Deep Talk Menjelang Tidur
46 Honeymoon
47 Hangat Dalam Dekapan
48 Foto yang Membuat Panas
49 Cinta yang Salah Kehidupan yang Hancur
50 Rasa Cinta yang Semakin Kuat
51 Saat Kenangan Menjadi Hukuman
52 Bahagia Dalam Dekapan yang Tepat
53 Panggilan Masalalu
54 Satu Bulan Penuh Cinta
Episodes

Updated 54 Episodes

1
Menikah Karena Kasihan
2
Pil Penyubur
3
Nota Perhiasan
4
Izin Nikah dari Dira
5
Noda Merah dibalik Kerah Kemeja
6
Kecupan yang Terasa Hambar
7
Pil Kontrasepsi & Akal Cerdik Dira
8
Pulang dengan Membawa Istri Kedua
9
Servis Terbaik dari Istri Pertama
10
Istri Kedua dari Neraka
11
Dua Garis Merah yang Membuat Dilema.
12
Hanya Istri yang dimanfaatkan
13
Benih yang Gugur
14
Memadu Kasih diatas Penderitaan Istri Pertama
15
Mas Arhan Pahlawanku
16
Kemana Harus Pulang
17
Kemenangan Ayu dan Penderitaan Dira
18
Tali Pertolongan
19
Tinggal dirumah Mewah
20
Jejak yang Masih Tertinggal
21
Pertemuan yang Penuh Haru
22
Ibu Sambung yang Tepat
23
Anggap Saja Sebagai Ibu Lara
24
Tragedi Heels nyangkut
25
Biar Waktu yang Menjawab
26
Tawaran Bu Mira
27
Perhatian dari Arya Terasa Berbeda
28
Kasih Sayang yang Berlimpah
29
Sidang Perceraian
30
Penyesalan yang Mulai Terasa
31
Aib yang Terbongkar
32
Mantan Suami Dira
33
Penurunan Jabatan
34
Pertengkaran Hebat
35
Cincin Bermata Biru
36
Anggukan Samar
37
Pengungkapan Cinta yang Tertunda
38
Bertemu Mantan
39
Kartu Undangan dan Kecurigaan
40
Mandi Kembang
41
Hari Pernikahan
42
Terimakasih Telah Melepas Berlian
43
Pertengkaran Hebat
44
Godaan Selepas Akad
45
Deep Talk Menjelang Tidur
46
Honeymoon
47
Hangat Dalam Dekapan
48
Foto yang Membuat Panas
49
Cinta yang Salah Kehidupan yang Hancur
50
Rasa Cinta yang Semakin Kuat
51
Saat Kenangan Menjadi Hukuman
52
Bahagia Dalam Dekapan yang Tepat
53
Panggilan Masalalu
54
Satu Bulan Penuh Cinta

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!