BAB 1. Anak Cahaya dari Banua Ginjang

..."Tidak semua kelahiran diawali tangis. Ada kehidupan yang lahir bersama nyanyian alam."...

Tak seorang pun di Banua Ginjang dapat mengingat kapan cahaya pertama kali bersinar.

Di sana, cahaya bukanlah lawan kegelapan, sebab kegelapan tidak pernah benar-benar ada. Cahaya adalah napas, adalah air, adalah udara yang memenuhi segala ruang. Ia mengalir lembut di antara pulau-pulau yang melayang tanpa penyangga, membelai dedaunan yang berkilau bagai helaian emas, lalu menetes menjadi embun yang setiap pagi berubah menjadi mutiara bening di ujung daun.

Langit Banua Ginjang bukan satu hamparan yang diam. Ia hidup.

Kadang berwarna keemasan seperti padi menjelang panen, kadang memerah laksana ulos sirara yang baru selesai ditenun, lalu perlahan berubah menjadi nila tua yang dipenuhi bintang-bintang hidup. Bintang-bintang itu tidak sekadar bercahaya; mereka bergerak perlahan, saling menyapa, seolah setiap titik cahaya memiliki jiwa dan kisahnya sendiri.

Di tengah keluasan langit itu menjulang Hariara Bolon, sang Pohon Kehidupan Agung.

Batangnya begitu besar sehingga seratus burung garuda langit terbang berdampingan pun belum mampu mengelilinginya. Kulit batangnya berkilau seperti tembaga yang disiram cahaya fajar. Dari cabang-cabangnya bergelantungan buah-buah bening sebesar kendi kecil. Bila masak, buah itu tidak jatuh ke tanah, melainkan berubah menjadi cahaya yang beterbangan, lalu menjelma bagaikan kupu-kupu berwarna keemasan yang sangat indah.

Akar Hariara Bolon tidak hanya menembus tanah Banua Ginjang.

Ia menjalar hingga Banua Tonga yang masih berupa samudra purba, lalu terus merambat ke Banua Toru yang sunyi. Melalui akar-akar itulah keseimbangan ketiga dunia dijaga. Orang-orang bijak di Banua Ginjang percaya bahwa bila satu akar terluka, ketiga dunia akan ikut merasakan sakitnya.

Karena itulah Hariara tidak pernah dipandang sekadar pohon. Ia adalah pengingat bahwa segala kehidupan saling terhubung.

...****************...

Pada suatu pagi yang tidak pernah tercatat oleh sang waktu, embun turun lebih banyak daripada biasanya. Burung-burung berhenti bernyanyi. Angin yang biasanya berlarian di antara taman-taman langit mendadak melambat, seolah takut mengganggu sesuatu yang agung.

Di sebuah taman yang disebut Sopo ni Hasurungan —Taman Permulaan— ribuan bunga cahaya bermekaran serentak.

Kelopaknya bukan hanya berwarna merah ataupun putih. Sebagian berwarna biru seperti langit setelah hujan. Sebagian lagi hijau seperti daun muda. Sebagian lagi memancarkan cahaya keemasan yang lembut.

Bunga-bunga itu hanya mekar ketika Banua Ginjang hendak menyambut sebuah kehidupan baru. Para penjaga taman saling berpandangan. Mereka telah menyaksikan banyak kelahiran. Namun tak pernah sekali pun seluruh bunga mekar bersamaan.

"Pertanda apakah ini?" bisik seorang penjaga tua.

Belum sempat pertanyaan itu dijawab, terdengarlah desir angin yang membawa aroma tanah basah —aroma yang belum pernah ada di Banua Ginjang sebelumnya, sebab di sana belum pernah turun hujan.

Aroma itu begitu asing, tetapi entah mengapa menghadirkan rasa rindu yang sulit untuk dijelaskan logika.

...****************...

Di istana cahaya, Mulajadi Nabolon berdiri memandang ke arah taman.

Takhta-Nya tidak dibuat dari emas ataupun batu mulia, namun terbuat dari sinar yang memadat. Sederhana, tapi memancarkan kewibawaan yang membuat siapa pun yang memandangnya menundukkan kepala, bukan karena takut, melainkan karena hormat.

Di hadapan-Nya berkumpul para penghuni Banua Ginjang. Ada penjaga mata angin. Ada penenun cahaya. Ada pembawa embun. Ada pemahat awan.

Masing-masing memiliki tugas menjaga keteraturan semesta. Mereka hidup tanpa iri hati. Tanpa rasa rakus. Tanpa niat perang. Sebab mereka memahami satu ajaran yang kelak akan menjadi dasar kebijaksanaan banyak keturunan manusia:

..."Tidak ada kehidupan yang berdiri sendiri."...

...Segala sesuatu hanya dapat menjadi utuh ketika semuanya saling menopang....

Dalam budaya Batak kelak, kebijaksanaan itu akan hidup dalam banyak bentuk —dalam gotong royong, dalam penghormatan kepada keluarga dan dalam keseimbangan hubungan antar-manusia.

Benihnya telah tumbuh sejak Banua Ginjang ada.

...****************...

"Sudah waktunya." Suara Mulajadi Nabolon mengalun lembut. Tidak keras. Tetapi setiap daun Hariara bergetar mendengarnya.

Setiap tetes embun berkilau lebih terang. Setiap burung mengepakkan sayapnya bersamaan. Lalu, cahaya turun dari langit seperti hujan.

Bukan seperti cahaya yang menyilaukan mata. Melainkan ribuan benang-benang halus berwarna emas. Benang itu berkumpul di tengah taman. Berputar seakan sedang menari. Semakin lama semakin padat. Sampai akhirnya membentuk sebuah kepompong bercahaya.

Seluruh Banua Ginjang menahan napas ketika retakan kecil muncul di permukaan kepompong. Satu. Dua. Tiga. Lalu perlahan, kelopaknya terbuka.

Di dalamnya terbaring seorang bayi perempuan. Kulitnya secerah embun pagi. Rambutnya hitam legam seperti warna langit persis sebelum fajar. Matanya masih terpejam. Namun senyum kecil telah menghiasi wajahnya.

Anehnya, bayi itu tidak menangis. Ia justru menghela napas pelan. Dan ketika napas kecil itu akhirnya keluar, ribuan bunga di seluruh Banua Ginjang langsung bermekaran untuk kedua kalinya.

Burung-burung bernyanyi. Air terjun cahaya mengalir lebih deras. Pelangi-pelangi kecil bermunculan di udara.

Bahkan Hariara Bolon menggugurkan satu helai daun emasnya. Daun itu melayang perlahan. Turun. Hingga menutupi dada bayi tersebut seperti selimut.

Para tetua Banua Ginjang saling berpandangan. Belum pernah Hariara melakukan itu.

"Anak ini..." bisik seorang tetua, "...telah dipilih oleh semesta."

Mulajadi Nabolon mendekat. Untuk pertama kalinya sejak terciptanya tiga banua, senyum tipis menghiasi wajah Sang Pencipta. Ia mengangkat bayi itu dengan kedua tangan.

Mulanya mata si-bayi masih terpejam, namun sesaat kemudian, mata bayi mungil itu terbuka. Tatapan mereka bertemu.

Bukan cahaya yang terpancar dari kedua matanya. Melainkan rasa ingin tahu. Seolah-olah ia sedang bertanya kepada seluruh alam: "Dunia apakah ini?"

Mulajadi Nabolon menjawab dengan suara yang hanya dapat didengar oleh angin. "Ini adalah rumahmu... untuk sementara."

Kalimat terakhir itu tidak dipahami siapa pun. Namun angin menyimpan informasi itu rapat-rapat.

Sebab suatu hari nanti, ketika sang putri harus meninggalkan Banua Ginjang, angin akan mengembalikan kalimat itu sebagai pengingat, bahwa takdir sering kali memaksa seseorang meninggalkan rumahnya agar dapat membangun rumah bagi banyak orang lainnya.

Sang Pencipta lalu mengangkat bayi itu tinggi ke arah langit sambil berkata: "Namamu adalah Si Boru Deak Parujar."

Begitu nama itu diucapkan, seluruh Banua Ginjang bergema. Bukan oleh suara para penghuni langit. Melainkan oleh suara alam itu sendiri. Hariara Bolon berdesir. Air terjun cahaya bernyanyi. Bintang-bintang berkelip serempak.

Dan jauh... sangat jauh... di dasar Banua Toru, seekor naga purba yang telah tertidur selama ribuan zaman perlahan membuka sebelah matanya.

Belum ada yang mengetahui bahwa pada saat nama Deak Parujar pertama kali menggema di langit, takdir telah mengetuk pintu dunia bawah.

Naga Padoha juga telah mendengar nama itu.

...****************...

Horas! 🌿

Mauliate godang.. 🤎

📖 Bersambung ke Bab 2: Taman Para Dewa dan Ramalan Sang Burung Erung.

Terpopuler

Comments

Zed Analytical Number Nine

Zed Analytical Number Nine

warna kelopak nya indah

2026-07-30

1

MayAyunda

MayAyunda

lanjut kak keren

2026-07-19

2

B042

B042

Horas bah.. 😉😆😋😅🥰

2026-07-17

3

lihat semua
Episodes
1 PROLOG (Sebelum Dunia Mengenal Namanya)
2 BAB 1. Anak Cahaya dari Banua Ginjang
3 BAB 2. Taman Para Dewa & Ramalan Sang Burung Erung
4 BAB 3. Putri yang Berbicara kepada Angin (Bagian I)
5 BAB 3. Putri yang Berbicara kepada Angin (Bagian II)
6 BAB 4. Sahabat Bersayap Perak & Telaga Sipaet, Cermin Kemungkinan
7 BAB 5. Sekolah Semesta (Bagian I)
8 BAB 5. Sekolah Semesta (Bagian II)
9 BAB 5. Sekolah Semesta (Bagian III)
10 BAB 6. Penenun Ulos Cahaya (Bagian I)
11 BAB 6. Penenun Ulos Cahaya (Bagian II)
12 BAB 6. Penenun Ulos Cahaya (Bagian III)
13 BAB 7. Perpustakaan Angin (Bagian I)
14 BAB 7. Perpustakaan Angin (Bagian II)
15 BAB 7. Perpustakaan Angin (Bagian III)
16 BAB 8. Penjaga Waktu & Jam Pasir Bintang (Bagian I)
17 BAB 8. Penjaga Waktu & Jam Pasir Bintang (Bagian II)
18 BAB 8. Penjaga Waktu & Jam Pasir Bintang (Bagian III)
19 BAB 9. Tarian Matahari & Bulan (Bagian I)
20 BAB 9. Tarian Matahari & Bulan (Bagian II)
21 BAB 9. Tarian Matahari & Bulan (Bagian III)
22 BAB 10. Benih yang Belum Menjadi Hutan (Bagian I)
23 BAB 10. Benih yang Belum Menjadi Hutan (Bagian II)
24 BAB 11. Panggilan dari Dunia yang Belum Bernama (Bagian I)
25 BAB 11. Panggilan dari Dunia yang Belum Bernama (Bagian II)
26 BAB 12. Pertanyaan yang Tidak Disukai para Tetua (Bagian I)
27 BAB 12. Pertanyaan yang Tidak Disukai para Tetua (Bagian II)
28 BAB 13. Sidang (Bagian I)
29 BAB 13. Sidang (Bagian II)
30 BAB 14. Panggilan
31 BAB 15. Pengadilan Semesta (Bagian I)
32 BAB 15. Pengadilan Semesta (Bagian II)
33 BAB 15. Pengadilan Semesta (Bagian III)
34 BAB 16. Langkah Pertama di Tanah yang Sunyi
35 BAB 17. Sahabat Pertama di Dunia yang Sepi
36 BAB 18. Mata Air yang Menjawab Air Mata
37 BAB 19. Benih yang Tidak Takut Angin
38 BAB 20. Nyanyian Batu dan Akar Pertama
39 BAB 21. Doa untuk Seekor Ikan
40 BAB 22. Rumah Pertama
41 BAB 23. Musim yang Belum Memiliki Nama
42 BAB 24. Ketika Alam Menjawab
43 BAB 25. Jejak yang Akan Diikuti
44 BAB 26. Penjaga yang Tak Pernah Terlihat
45 BAB 27. Suara dari Kedalaman
46 BAB 28. Ketika Dua Kesunyian Bertemu
47 BAB 29. Dunia yang Mulai Berubah
48 BAB 30. Penjaga Keseimbangan
49 BAB 31. Dua Jalan yang Berbeda
50 BAB 32. Retakan Pertama
51 BAB 33. Gunung yang Terbangun
52 BAB 34. Kata-kata yang Terlambat
53 BAB 35. Langit Memilih Pihak
54 BAB 36. Api di Bawah Samudra
55 BAB 37. Air Mata Penjaga
56 BAB 38. Sidang Langit
57 BAB 39. Perang Semesta
58 BAB 40. Keseimbangan Baru
59 BAB 41. Hutan yang Mengingat
60 BAB 42. Janji di Gerbang Kedalaman
61 BAB 43. Bahasa yang Sama
62 BAB 44. Benih untuk Masa Depan
63 BAB 45. Hari Ketika Langit Turun
64 BAB 46. Raja yang Melepaskan Langit
65 BAB 47. Ihat Manisia
66 BAB 48. Pertemuan Itu
67 BAB 49. Belajar Menjadi Manusia Sejati
68 BAB 50. Tiga Penjaga, Satu Dunia.
69 BAB 51. Dalihan Na Tolu
70 BAB 52. Ulos yang Menghangatkan Dunia
71 BAB 53. Bahasa Kasih
72 BAB 54. Pusuk Buhit
73 BAB 55. Rumah Bolon
74 BAB 56. Anak Pertama Manusia di Banua Tonga
75 BAB 57. Warisan Para Penjaga (Bagian 1)
76 BAB 57. Warisan Para Penjaga (Bagian 2)
77 BAB 58. Legenda yang Mulai Dilupakan (Bagian 1)
78 BAB 58. Legenda yang Mulai Dilupakan (Bagian 2)
79 BAB 59. Epilog — Dunia yang Terus Bersenandung (Bagian 1)
80 BAB 59. Epilog - Dunia yang Terus Bersenandung (Bagian 2)
Episodes

Updated 80 Episodes

1
PROLOG (Sebelum Dunia Mengenal Namanya)
2
BAB 1. Anak Cahaya dari Banua Ginjang
3
BAB 2. Taman Para Dewa & Ramalan Sang Burung Erung
4
BAB 3. Putri yang Berbicara kepada Angin (Bagian I)
5
BAB 3. Putri yang Berbicara kepada Angin (Bagian II)
6
BAB 4. Sahabat Bersayap Perak & Telaga Sipaet, Cermin Kemungkinan
7
BAB 5. Sekolah Semesta (Bagian I)
8
BAB 5. Sekolah Semesta (Bagian II)
9
BAB 5. Sekolah Semesta (Bagian III)
10
BAB 6. Penenun Ulos Cahaya (Bagian I)
11
BAB 6. Penenun Ulos Cahaya (Bagian II)
12
BAB 6. Penenun Ulos Cahaya (Bagian III)
13
BAB 7. Perpustakaan Angin (Bagian I)
14
BAB 7. Perpustakaan Angin (Bagian II)
15
BAB 7. Perpustakaan Angin (Bagian III)
16
BAB 8. Penjaga Waktu & Jam Pasir Bintang (Bagian I)
17
BAB 8. Penjaga Waktu & Jam Pasir Bintang (Bagian II)
18
BAB 8. Penjaga Waktu & Jam Pasir Bintang (Bagian III)
19
BAB 9. Tarian Matahari & Bulan (Bagian I)
20
BAB 9. Tarian Matahari & Bulan (Bagian II)
21
BAB 9. Tarian Matahari & Bulan (Bagian III)
22
BAB 10. Benih yang Belum Menjadi Hutan (Bagian I)
23
BAB 10. Benih yang Belum Menjadi Hutan (Bagian II)
24
BAB 11. Panggilan dari Dunia yang Belum Bernama (Bagian I)
25
BAB 11. Panggilan dari Dunia yang Belum Bernama (Bagian II)
26
BAB 12. Pertanyaan yang Tidak Disukai para Tetua (Bagian I)
27
BAB 12. Pertanyaan yang Tidak Disukai para Tetua (Bagian II)
28
BAB 13. Sidang (Bagian I)
29
BAB 13. Sidang (Bagian II)
30
BAB 14. Panggilan
31
BAB 15. Pengadilan Semesta (Bagian I)
32
BAB 15. Pengadilan Semesta (Bagian II)
33
BAB 15. Pengadilan Semesta (Bagian III)
34
BAB 16. Langkah Pertama di Tanah yang Sunyi
35
BAB 17. Sahabat Pertama di Dunia yang Sepi
36
BAB 18. Mata Air yang Menjawab Air Mata
37
BAB 19. Benih yang Tidak Takut Angin
38
BAB 20. Nyanyian Batu dan Akar Pertama
39
BAB 21. Doa untuk Seekor Ikan
40
BAB 22. Rumah Pertama
41
BAB 23. Musim yang Belum Memiliki Nama
42
BAB 24. Ketika Alam Menjawab
43
BAB 25. Jejak yang Akan Diikuti
44
BAB 26. Penjaga yang Tak Pernah Terlihat
45
BAB 27. Suara dari Kedalaman
46
BAB 28. Ketika Dua Kesunyian Bertemu
47
BAB 29. Dunia yang Mulai Berubah
48
BAB 30. Penjaga Keseimbangan
49
BAB 31. Dua Jalan yang Berbeda
50
BAB 32. Retakan Pertama
51
BAB 33. Gunung yang Terbangun
52
BAB 34. Kata-kata yang Terlambat
53
BAB 35. Langit Memilih Pihak
54
BAB 36. Api di Bawah Samudra
55
BAB 37. Air Mata Penjaga
56
BAB 38. Sidang Langit
57
BAB 39. Perang Semesta
58
BAB 40. Keseimbangan Baru
59
BAB 41. Hutan yang Mengingat
60
BAB 42. Janji di Gerbang Kedalaman
61
BAB 43. Bahasa yang Sama
62
BAB 44. Benih untuk Masa Depan
63
BAB 45. Hari Ketika Langit Turun
64
BAB 46. Raja yang Melepaskan Langit
65
BAB 47. Ihat Manisia
66
BAB 48. Pertemuan Itu
67
BAB 49. Belajar Menjadi Manusia Sejati
68
BAB 50. Tiga Penjaga, Satu Dunia.
69
BAB 51. Dalihan Na Tolu
70
BAB 52. Ulos yang Menghangatkan Dunia
71
BAB 53. Bahasa Kasih
72
BAB 54. Pusuk Buhit
73
BAB 55. Rumah Bolon
74
BAB 56. Anak Pertama Manusia di Banua Tonga
75
BAB 57. Warisan Para Penjaga (Bagian 1)
76
BAB 57. Warisan Para Penjaga (Bagian 2)
77
BAB 58. Legenda yang Mulai Dilupakan (Bagian 1)
78
BAB 58. Legenda yang Mulai Dilupakan (Bagian 2)
79
BAB 59. Epilog — Dunia yang Terus Bersenandung (Bagian 1)
80
BAB 59. Epilog - Dunia yang Terus Bersenandung (Bagian 2)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!