BAB 2. Taman Para Dewa & Ramalan Sang Burung Erung

..."Setiap bunga memiliki musimnya. Setiap bintang memiliki lintasannya. Tetapi hanya takdir yang mampu membuat keduanya bertemu."...

Pagi di Banua Ginjang tidak pernah datang dengan tergesa. Ia lahir perlahan, seolah-olah cahaya sendiri sedang menenun selimut baru bagi alam semesta.

Di ufuk timur, hamparan awan bening berwarna keperakan mulai mengembang seperti helaian ulos yang dibentangkan oleh tangan-tangan tak kasatmata. Sinar keemasan tidak langsung memenuhi langit. Mula-mula ia hanya berupa butiran embun cahaya yang melayang dari pucuk Hariara Bolon, lalu jatuh perlahan ke udara dan berubah menjadi ribuan kunang-kunang keemasan.

Ketika kunang-kunang itu menyentuh dedaunan, daun-daun pun terbangun. Mereka tidak bergemerisik. Mereka bernyanyi.

Setiap helai daun mengeluarkan nada yang berbeda. Jika didengar dari kejauhan, seluruh Banua Ginjang terdengar seperti sebuah gondang yang dimainkan tanpa tangan manusia. Irama itu mengalun lembut, mengisi udara dengan ketenangan yang hanya dimiliki dunia para dewa.

Para penghuni Banua Ginjang percaya bahwa selama Hariara Bolon masih bernyanyi setiap pagi, keseimbangan tiga banua akan tetap terjaga.

Mereka menyebut keseimbangan itu Hasangapon ni Banua —kemuliaan semesta yang lahir ketika setiap makhluk menjalankan tugasnya tanpa kesombongan.

Di kemudian hari, ketika manusia mulai menghuni bumi, kebijaksanaan itu akan menjelma menjadi nilai hidup: bahwa kehormatan tidak datang dari kekuasaan, melainkan dari kesediaan menjaga keseimbangan dengan sesama, alam dan iman kepada Sang Pencipta.

...****************...

Tidak jauh dari akar Hariara Bolon terbentang sebuah taman yang sangat indah, bahkan cahaya pun melangkah dengan hormat ketika mendekatinya.

Namanya Taman Sihaporas.

Tidak ada bunga yang layu di sana, karena tidak ada ranting yang patah. Setiap pohon tumbuh sesuai kehendaknya sendiri, namun tak satu pun saling berebut cahaya. Pohon-pohon berbuah kristal biru, bunga-bunga memancarkan aroma yang berubah mengikuti musim langit dan kolam-kolam bening-nya memantulkan bukan hanya pantulan wajah, melainkan isi hati siapa pun yang menatapnya.

Di taman inilah para dewa berkumpul setiap awal putaran waktu. Mereka bukan penguasa yang duduk di singgasana sepanjang hari. Masing-masing memikul amanah.

Ada yang menjaga angin agar tak pernah lupa jalan pulang. Ada yang mengatur hujan cahaya agar turun pada saat yang tepat. Ada yang membangunkan bintang setiap malam dan ada pula yang bertugas menenangkan mimpi seluruh penghuni Banua Ginjang.

Tak ada tugas yang dianggap lebih mulia daripada yang lain. Karena di hadapan keseimbangan, semua memiliki arti.

...****************...

Pagi itu, taman dipenuhi wajah-wajah yang jarang berkumpul dalam satu waktu. Penjaga empat penjuru langit datang. Para penenun cahaya datang. Para pemahat awan datang. Bahkan roh-roh sungai langit meninggalkan aliran mereka untuk beberapa saat.

Mereka semua berdiri menghadap ke arah balai batu kristal di tengah taman. Di sanalah Mulajadi Nabolon telah menunggu. Di pangkuannya tertidur tenang seorang bayi perempuan. Si Boru Deak Parujar.

Usianya baru beberapa hari menurut hitungan Banua Ginjang, tetapi setiap makhluk yang memandangnya dapat merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan.

Seolah-olah anak kecil itu membawa musim baru yang belum pernah dikenal alam semesta. Saat ia menarik napas, bunga-bunga bermekaran. Saat ia tersenyum dalam tidurnya, burung-burung seakan bernyanyi dengan lebih merdu. Dan saat ia membuka mata, warna langit menjadi sedikit lebih cerah daripada biasanya.

Tidak seorang pun berani mengucapkannya. Namun semua merasakan hal yang sama. Anak itu tidak sekadar hidup di Banua Ginjang. Banua Ginjang sendiri seolah ikut hidup bersamanya.

...****************...

"Sudah lama kita tidak menyaksikan pertanda sebesar ini." Suara itu berasal dari seorang tetua berjanggut putih yang rambutnya memanjang hingga menyentuh tanah cahaya.

Ia dikenal sebagai Parbaringin, penjaga Pohon Kehidupan. Konon, setiap urat pada rambutnya menyimpan satu kisah sejak awal penciptaan.

Mulajadi Nabolon mengangguk perlahan, lalu berkata: "Semesta telah memilihnya."

"Tetapi..." Parbaringin menatap bayi itu dengan sorot mata yang dipenuhi kekhawatiran. "Setiap pilihan selalu meminta harga."

Angin tiba-tiba berhenti. Para dewa saling berpandangan. Kalimat itu menggantung seperti kabut yang enggan menghilang.

Belum sempat percakapan dilanjutkan, langit bergetar pelan. Bukan karena badai. Bukan pula karena petir. Melainkan oleh suara kepakan sayap yang sangat besar.

Bayangan panjang melintas di atas taman. Semua kepala menengadah. Seekor burung raksasa melayang turun dari ketinggian yang bahkan belum pernah dijelajahi penghuni Banua Ginjang.

Bulu-bulunya hitam kebiruan, tetapi setiap ujung sayap memancarkan cahaya keperakan seperti gugusan bintang. Paruhnya melengkung anggun. Matanya keemasan. Tatapannya tajam, namun tidak menakutkan.

Dialah Burung Erung.

Dalam kepercayaan para penghuni Banua Ginjang, Erung bukan sekadar burung. Ia adalah pembawa pertanda. Ia tidak pernah datang untuk memberi kabar baik ataupun buruk. Ia hanya menyampaikan apa yang telah ditulis oleh sang empunya waktu.

Selama ribuan putaran langit, Burung Erung hanya muncul sembilan kali. Dan setiap kemunculannya selalu mengubah sejarah semesta.

...****************...

Burung itu tidak hinggap di tanah. Ia melayang tepat di atas kepala Mulajadi Nabolon. Kemudian mengepakkan sayapnya sekali.

Seluruh bunga di taman menunduk. Kolam-kolam cahaya bergetar. Hariara Bolon menggugurkan tujuh helai daun emas. Lalu, Burung Erung mengeluarkan suara.

Bukan kicau. Bukan pekikan. Melainkan nada panjang yang terdengar seperti ribuan gondang dipukul bersamaan dari kejauhan.

Semua makhluk memejamkan mata. Karena mereka tahu, ramalan hanya dapat didengar oleh hati yang tenang.

Suara Burung Erung perlahan berubah menjadi kata-kata:

..."Anak cahaya akan berjalan menuju air. Air akan menjadi tanah. Tanah akan menjadi kehidupan. Kehidupan akan melahirkan manusia. Namun sebelum itu..."...

Burung Erung terdiam. Matanya yang keemasan menatap jauh melewati Banua Ginjang, seolah mampu melihat hingga ke dasar Banua Toru. Suasana menjadi sunyi.

Lalu ia melanjutkan dengan suara yang lebih berat:

..."Ia harus kehilangan langit... agar dunia memiliki rumah."...

Kalimat itu mengguncang hati setiap penghuni taman. Beberapa dewa menundukkan kepalanya merenung. Sebagian lain menatap bayi yang masih tertidur damai dengan raut khawatir.

Hanya Mulajadi Nabolon yang tetap tenang. Seakan-akan ramalan itu bukanlah kejutan baginya. Melainkan sesuatu yang telah lama ia ketahui.

Burung Erung kembali mengepakkan sayap.

Namun sebelum terbang meninggalkan taman, ia menjatuhkan sehelai bulu berwarna perak. Bulu itu melayang perlahan dan berhenti tepat di dada Deak Parujar.

Ajaibnya, bulu itu tidak jatuh lagi ke bawah. Ia melebur menjadi cahaya, lalu menghilang ke dalam tubuh sang bayi.

Tak seorang pun mengerti maknanya.

Tetapi Parbaringin berbisik lirih, "Mulai hari ini... takdir telah mengenali namanya."

Dan jauh di dasar Banua Toru, tempat cahaya tak pernah menyentuh dasar samudra purba, sepasang mata berwarna hijau tua kembali terbuka.

Naga Padoha tidak bergerak.

Namun untuk pertama kalinya sejak zaman tanpa waktu, ia mengangkat kepalanya, seolah mendengar gema ramalan yang baru saja diucapkan di langit.

Takdir mulai bergerak.

Dan bahkan para dewa belum mengetahui ke mana ia akan membawa putri kecil yang sedang tertidur damai di pangkuan Sang Pencipta.

...****************...

Horas! 🌿

Mauliate godang.. 🤎

📖 Bersambung ke bab 3. Putri yang Berbicara kepada Angin.

Terpopuler

Comments

B042

B042

Keren lah.. epic sekali, seperti membaca kisah Harpot di awal² peluncuran bukunya, tapi seperti lagi nonton Moana jg neh.. pasti terinspirasi dari kedua kisah² itu ya cerita ini dibuat? 😏😎

2026-07-17

2

MayAyunda

MayAyunda

mampir kak ..cerita bagus ..lanjut

2026-08-03

1

lihat semua
Episodes
1 PROLOG (Sebelum Dunia Mengenal Namanya)
2 BAB 1. Anak Cahaya dari Banua Ginjang
3 BAB 2. Taman Para Dewa & Ramalan Sang Burung Erung
4 BAB 3. Putri yang Berbicara kepada Angin (Bagian I)
5 BAB 3. Putri yang Berbicara kepada Angin (Bagian II)
6 BAB 4. Sahabat Bersayap Perak & Telaga Sipaet, Cermin Kemungkinan
7 BAB 5. Sekolah Semesta (Bagian I)
8 BAB 5. Sekolah Semesta (Bagian II)
9 BAB 5. Sekolah Semesta (Bagian III)
10 BAB 6. Penenun Ulos Cahaya (Bagian I)
11 BAB 6. Penenun Ulos Cahaya (Bagian II)
12 BAB 6. Penenun Ulos Cahaya (Bagian III)
13 BAB 7. Perpustakaan Angin (Bagian I)
14 BAB 7. Perpustakaan Angin (Bagian II)
15 BAB 7. Perpustakaan Angin (Bagian III)
16 BAB 8. Penjaga Waktu & Jam Pasir Bintang (Bagian I)
17 BAB 8. Penjaga Waktu & Jam Pasir Bintang (Bagian II)
18 BAB 8. Penjaga Waktu & Jam Pasir Bintang (Bagian III)
19 BAB 9. Tarian Matahari & Bulan (Bagian I)
20 BAB 9. Tarian Matahari & Bulan (Bagian II)
21 BAB 9. Tarian Matahari & Bulan (Bagian III)
22 BAB 10. Benih yang Belum Menjadi Hutan (Bagian I)
23 BAB 10. Benih yang Belum Menjadi Hutan (Bagian II)
24 BAB 11. Panggilan dari Dunia yang Belum Bernama (Bagian I)
25 BAB 11. Panggilan dari Dunia yang Belum Bernama (Bagian II)
26 BAB 12. Pertanyaan yang Tidak Disukai para Tetua (Bagian I)
27 BAB 12. Pertanyaan yang Tidak Disukai para Tetua (Bagian II)
28 BAB 13. Sidang (Bagian I)
29 BAB 13. Sidang (Bagian II)
30 BAB 14. Panggilan
31 BAB 15. Pengadilan Semesta (Bagian I)
32 BAB 15. Pengadilan Semesta (Bagian II)
33 BAB 15. Pengadilan Semesta (Bagian III)
34 BAB 16. Langkah Pertama di Tanah yang Sunyi
35 BAB 17. Sahabat Pertama di Dunia yang Sepi
36 BAB 18. Mata Air yang Menjawab Air Mata
37 BAB 19. Benih yang Tidak Takut Angin
38 BAB 20. Nyanyian Batu dan Akar Pertama
39 BAB 21. Doa untuk Seekor Ikan
40 BAB 22. Rumah Pertama
41 BAB 23. Musim yang Belum Memiliki Nama
42 BAB 24. Ketika Alam Menjawab
43 BAB 25. Jejak yang Akan Diikuti
44 BAB 26. Penjaga yang Tak Pernah Terlihat
45 BAB 27. Suara dari Kedalaman
46 BAB 28. Ketika Dua Kesunyian Bertemu
47 BAB 29. Dunia yang Mulai Berubah
48 BAB 30. Penjaga Keseimbangan
49 BAB 31. Dua Jalan yang Berbeda
50 BAB 32. Retakan Pertama
51 BAB 33. Gunung yang Terbangun
52 BAB 34. Kata-kata yang Terlambat
53 BAB 35. Langit Memilih Pihak
54 BAB 36. Api di Bawah Samudra
55 BAB 37. Air Mata Penjaga
56 BAB 38. Sidang Langit
57 BAB 39. Perang Semesta
58 BAB 40. Keseimbangan Baru
59 BAB 41. Hutan yang Mengingat
60 BAB 42. Janji di Gerbang Kedalaman
61 BAB 43. Bahasa yang Sama
62 BAB 44. Benih untuk Masa Depan
63 BAB 45. Hari Ketika Langit Turun
64 BAB 46. Raja yang Melepaskan Langit
65 BAB 47. Ihat Manisia
66 BAB 48. Pertemuan Itu
67 BAB 49. Belajar Menjadi Manusia Sejati
68 BAB 50. Tiga Penjaga, Satu Dunia.
69 BAB 51. Dalihan Na Tolu
70 BAB 52. Ulos yang Menghangatkan Dunia
71 BAB 53. Bahasa Kasih
72 BAB 54. Pusuk Buhit
73 BAB 55. Rumah Bolon
74 BAB 56. Anak Pertama Manusia di Banua Tonga
75 BAB 57. Warisan Para Penjaga (Bagian 1)
76 BAB 57. Warisan Para Penjaga (Bagian 2)
77 BAB 58. Legenda yang Mulai Dilupakan (Bagian 1)
78 BAB 58. Legenda yang Mulai Dilupakan (Bagian 2)
79 BAB 59. Epilog — Dunia yang Terus Bersenandung (Bagian 1)
80 BAB 59. Epilog - Dunia yang Terus Bersenandung (Bagian 2)
Episodes

Updated 80 Episodes

1
PROLOG (Sebelum Dunia Mengenal Namanya)
2
BAB 1. Anak Cahaya dari Banua Ginjang
3
BAB 2. Taman Para Dewa & Ramalan Sang Burung Erung
4
BAB 3. Putri yang Berbicara kepada Angin (Bagian I)
5
BAB 3. Putri yang Berbicara kepada Angin (Bagian II)
6
BAB 4. Sahabat Bersayap Perak & Telaga Sipaet, Cermin Kemungkinan
7
BAB 5. Sekolah Semesta (Bagian I)
8
BAB 5. Sekolah Semesta (Bagian II)
9
BAB 5. Sekolah Semesta (Bagian III)
10
BAB 6. Penenun Ulos Cahaya (Bagian I)
11
BAB 6. Penenun Ulos Cahaya (Bagian II)
12
BAB 6. Penenun Ulos Cahaya (Bagian III)
13
BAB 7. Perpustakaan Angin (Bagian I)
14
BAB 7. Perpustakaan Angin (Bagian II)
15
BAB 7. Perpustakaan Angin (Bagian III)
16
BAB 8. Penjaga Waktu & Jam Pasir Bintang (Bagian I)
17
BAB 8. Penjaga Waktu & Jam Pasir Bintang (Bagian II)
18
BAB 8. Penjaga Waktu & Jam Pasir Bintang (Bagian III)
19
BAB 9. Tarian Matahari & Bulan (Bagian I)
20
BAB 9. Tarian Matahari & Bulan (Bagian II)
21
BAB 9. Tarian Matahari & Bulan (Bagian III)
22
BAB 10. Benih yang Belum Menjadi Hutan (Bagian I)
23
BAB 10. Benih yang Belum Menjadi Hutan (Bagian II)
24
BAB 11. Panggilan dari Dunia yang Belum Bernama (Bagian I)
25
BAB 11. Panggilan dari Dunia yang Belum Bernama (Bagian II)
26
BAB 12. Pertanyaan yang Tidak Disukai para Tetua (Bagian I)
27
BAB 12. Pertanyaan yang Tidak Disukai para Tetua (Bagian II)
28
BAB 13. Sidang (Bagian I)
29
BAB 13. Sidang (Bagian II)
30
BAB 14. Panggilan
31
BAB 15. Pengadilan Semesta (Bagian I)
32
BAB 15. Pengadilan Semesta (Bagian II)
33
BAB 15. Pengadilan Semesta (Bagian III)
34
BAB 16. Langkah Pertama di Tanah yang Sunyi
35
BAB 17. Sahabat Pertama di Dunia yang Sepi
36
BAB 18. Mata Air yang Menjawab Air Mata
37
BAB 19. Benih yang Tidak Takut Angin
38
BAB 20. Nyanyian Batu dan Akar Pertama
39
BAB 21. Doa untuk Seekor Ikan
40
BAB 22. Rumah Pertama
41
BAB 23. Musim yang Belum Memiliki Nama
42
BAB 24. Ketika Alam Menjawab
43
BAB 25. Jejak yang Akan Diikuti
44
BAB 26. Penjaga yang Tak Pernah Terlihat
45
BAB 27. Suara dari Kedalaman
46
BAB 28. Ketika Dua Kesunyian Bertemu
47
BAB 29. Dunia yang Mulai Berubah
48
BAB 30. Penjaga Keseimbangan
49
BAB 31. Dua Jalan yang Berbeda
50
BAB 32. Retakan Pertama
51
BAB 33. Gunung yang Terbangun
52
BAB 34. Kata-kata yang Terlambat
53
BAB 35. Langit Memilih Pihak
54
BAB 36. Api di Bawah Samudra
55
BAB 37. Air Mata Penjaga
56
BAB 38. Sidang Langit
57
BAB 39. Perang Semesta
58
BAB 40. Keseimbangan Baru
59
BAB 41. Hutan yang Mengingat
60
BAB 42. Janji di Gerbang Kedalaman
61
BAB 43. Bahasa yang Sama
62
BAB 44. Benih untuk Masa Depan
63
BAB 45. Hari Ketika Langit Turun
64
BAB 46. Raja yang Melepaskan Langit
65
BAB 47. Ihat Manisia
66
BAB 48. Pertemuan Itu
67
BAB 49. Belajar Menjadi Manusia Sejati
68
BAB 50. Tiga Penjaga, Satu Dunia.
69
BAB 51. Dalihan Na Tolu
70
BAB 52. Ulos yang Menghangatkan Dunia
71
BAB 53. Bahasa Kasih
72
BAB 54. Pusuk Buhit
73
BAB 55. Rumah Bolon
74
BAB 56. Anak Pertama Manusia di Banua Tonga
75
BAB 57. Warisan Para Penjaga (Bagian 1)
76
BAB 57. Warisan Para Penjaga (Bagian 2)
77
BAB 58. Legenda yang Mulai Dilupakan (Bagian 1)
78
BAB 58. Legenda yang Mulai Dilupakan (Bagian 2)
79
BAB 59. Epilog — Dunia yang Terus Bersenandung (Bagian 1)
80
BAB 59. Epilog - Dunia yang Terus Bersenandung (Bagian 2)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!