BAB 3. Putri yang Berbicara kepada Angin (Bagian I)

...Nyanyian yang Hanya Didengar Satu Anak...

"Angin tidak pernah membawa suara. Ia membawa ingatan." —Hikmat Tua Banua Ginjang.

...****************...

Tahun-tahun pertama kehidupan Si Boru Deak Parujar berlalu tanpa pernah dihitung oleh matahari. Di Banua Ginjang, waktu tidak berjalan seperti aliran sungai. Ia berputar seperti helaian ulos yang sedang ditenun. Setiap putaran membawa warna baru, namun benangnya tetap sama.

Karena itu, para penghuni dunia atas tidak pernah bertanya berapa usia seseorang. Mereka lebih suka bertanya, "Sudah berapa musim bunga cahaya mengenal namamu?"

Bagi Deak Parujar, bunga-bunga telah mengenalnya selama tujuh musim.

Ia kini tumbuh menjadi seorang anak perempuan dengan rambut hitam yang menjuntai hingga pinggang, mata sebening embun fajar dan senyum yang selalu membuat burung-burung berhenti bernyanyi sesaat, seolah ingin menikmati keheningan sebelum ikut tersenyum bersamanya.

Namun, bukan kecantikannya yang membuat seluruh Banua Ginjang membicarakannya.

Melainkan sebuah keajaiban yang bahkan tidak dimiliki para dewa.

Ia dapat mendengar suara angin.

...****************...

Angin di Banua Ginjang bukanlah udara yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ia adalah makhluk tua. Jauh lebih tua daripada gunung pertama. Lebih tua daripada bintang-bintang. Lebih tua bahkan daripada para penjaga langit.

Para tetua menyebut mereka Siboru Angin, roh-roh halus yang bertugas membawa keseimbangan dari satu banua ke banua lainnya.

Mereka tidak memiliki tubuh yang dapat disentuh atau terlihat oleh mata. Mereka hanya dapat dirasakan melalui hembusan yang lembut, harum bunga yang datang tanpa sebab, atau desir dedaunan yang bergerak meski tak seekor burung pun sedang melintas.

Tidak ada seorang pun yang dapat memahami bahasa mereka. Tidak Mulajadi Nabolon. Tidak para penenun cahaya. Tidak pula para penjaga empat penjuru langit. Mereka hanya bisa merasakan kehadirannya.

Tetapi, Deak Parujar ternyata dapat mendengarnya berbicara.

...****************...

Semuanya bermula pada suatu pagi. Embun baru saja turun dari pucuk Hariara Bolon.

Langit Banua Ginjang berwarna biru muda yang dihiasi garis-garis emas seperti benang berwarna emas pada ulos yang disulam dengan hati-hati.

Deak Parujar berlari kecil menyusuri padang bunga cahaya. Kakinya yang mungil tidak pernah menginjak kelopak bunga. Aneh memang, karena setiap kali telapak kakinya hampir menyentuh tanah, bunga-bunga itu justru merunduk dengan sukarela, memberi jalan bagi sang putri.

Di belakangnya berlarian belasan makhluk kecil bercahaya. Mereka sebesar telapak tangan manusia. Tubuh mereka bening seperti tetesan embun. Sayapnya tipis menyerupai daun muda.

Merekalah Partondion, roh-roh penjaga kehidupan yang bertugas membangunkan bunga setiap pagi.

"Putri!" seru salah satu dari mereka sambil tertawa, "Tunggu kami!"

Deak Parujar menoleh dan sambil tersenyum ia berujar: "Kalian terlalu lambat."

"Kami tidak lambat." jawab Partondion, dan menambahkan: "Kamu yang terlalu cepat."

Anak perempuan kecil itu tertawa lepas. Tawanya membuat kupu-kupu emas beterbangan keluar dari rumpun bunga.

Hariara Bolon terlihat menggugurkan beberapa helai daun keemasan. Bagi penghuni Banua Ginjang, gugurnya daun Hariara bukan pertanda kematian. Justru sebaliknya. Itu adalah cara Hariara mengucapkan syukur.

Kelak, ketika manusia mulai mengenal pohon hayat, mereka akan mewarisi keyakinan bahwa alam selalu berbicara kepada mereka yang mau mendengar.

...****************...

Setelah lelah bermain, Deak Parujar merebahkan tubuh di atas hamparan lumut hijau yang terasa lebih lembut daripada kapas.

Ia memandangi langit. Awan-awan putih melayang perlahan. Sebagian menyerupai rusa. Sebagian lagi menyerupai kerbau bertanduk emas.

Di Banua Ginjang, awan selalu memilih bentuk sesuai cerita yang ingin disampaikan kepada anak-anak.

Tiba-tiba... terdengar sebuah bisikan lembut. Sangat lembut, "...Deak..."

Anak itu bangkit. Ia menoleh ke kanan. Tidak ada siapa-siapa.

"...Deak..." Suara itu datang lagi. Kali ini dari arah pohon.

"Siapa?" tanya anak kecil itu.

Tidak ada jawaban. Yang terdengar hanyalah desir angin, "...ikutlah..."

Deak Parujar berdiri. Partondion yang sedari tadi bermain di sekitarnya mendadak saling berpandangan.

"Putri?" panggil salah satu Partindion bingung.

"Mengapa kalian tidak mendengarnya?" jawab sang Putri juga tampak bingung.

"Mendengar apa?" tanya Partindion lagi.

"Itu..." Deak menunjuk ke arah udara, "Angin memanggilku."

Para Partondion saling memandang kebingungan. Bagi mereka, angin hanyalah angin. Tak pernah sekali pun mereka mendengar suara apa pun. "Putri sedang bercanda." ujar mereka lagi.

"Tidak." sergah sang Putri dan lanjut berkata: "Angin itu berbicara."

Mereka tertawa. Namun Deak Parujar tidak ikut tertawa. Ia melangkah perlahan mengikuti arah datangnya bisikan.

Semakin jauh ia berjalan, taman-taman Banua Ginjang mulai berubah. Pepohonan menjadi semakin tinggi. Daunnya memantulkan warna pelangi. Air mengalir di udara seperti pita-pita bening. Burung-burung bernyanyi dengan bahasa yang belum pernah ia dengar.

Tak lama kemudian, ia tiba di sebuah lembah yang belum pernah ia kunjungi. Lembah itu sunyi. Di tengahnya berdiri sebuah batu putih berbentuk bundar. Tidak besar. Namun memancarkan cahaya lembut.

Saat Deak Parujar mendekat, angin kembali berbisik: "Sentuhlah..."

Ia mengulurkan tangan kecilnya. Begitu telapak tangannya menyentuh batu itu, pemandangan seluruh lembah berubah. Udara bergetar. Cahaya berputar mengelilinginya.

Daun-daun Hariara yang berada sangat jauh tiba-tiba berguguran serempak.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Deak Parujar tidak melihat Banua Ginjang. Ia melihat lautan. Laut yang begitu luas hingga langit dan air seolah menyatu menjadi satu warna.

Tidak ada daratan.

Tidak ada pohon.

Tidak ada kehidupan.

Hanya ombak yang bergulung tanpa henti. Kabut putih menyelimuti semuanya. Di balik kabut itu, sesuatu bergerak. Panjang. Sangat panjang. Seperti seekor ular raksasa yang sedang tertidur di dasar samudra.

Anak kecil itu menahan napas. "Siapa... dia?"

Angin menjawab, "Ia adalah Penunggu Kesunyian... Ia tidur... Tetapi suatu hari... Ia akan membuka matanya..."

Tiba-tiba bayangan raksasa itu bergerak. Sepasang mata hijau menyala menatap lurus ke arah Deak Parujar.

Meski dipisahkan oleh dua dunia. Meski dipisahkan oleh ruang yang tak terhingga. Anak kecil itu dapat merasakan, bahwa makhluk itu benar-benar melihatnya. Ia menjerit kecil. Seketika penglihatan itu menghilang.

Lembah kembali sunyi. Angin berhenti berbisik. Namun jantung Deak Parujar masih berdegup dengan kencang.

Ia belum mengetahui siapa makhluk itu. Ia belum mengetahui mengapa angin memperlihatkan dunia yang belum pernah dilihat penghuni Banua Ginjang.

Dan ia sama sekali belum mengetahui, bahwa pada saat yang sama, di dasar Banua Toru, Naga Padoha perlahan membuka mata untuk kedua kalinya sejak nama Deak Parujar pertama kali bergema di langit.

...****************...

Horas! 🌿

Mauliate godang.. 🤎

📖 Bersambung ke Bab 3 – Bagian II: Rahasia Batu Ingatan dan Pertanyaan kepada Sang Pencipta.

Terpopuler

Comments

Keysa_Bom

Keysa_Bom

wow keren😭

2026-07-13

1

lihat semua
Episodes
1 PROLOG (Sebelum Dunia Mengenal Namanya)
2 BAB 1. Anak Cahaya dari Banua Ginjang
3 BAB 2. Taman Para Dewa & Ramalan Sang Burung Erung
4 BAB 3. Putri yang Berbicara kepada Angin (Bagian I)
5 BAB 3. Putri yang Berbicara kepada Angin (Bagian II)
6 BAB 4. Sahabat Bersayap Perak & Telaga Sipaet, Cermin Kemungkinan
7 BAB 5. Sekolah Semesta (Bagian I)
8 BAB 5. Sekolah Semesta (Bagian II)
9 BAB 5. Sekolah Semesta (Bagian III)
10 BAB 6. Penenun Ulos Cahaya (Bagian I)
11 BAB 6. Penenun Ulos Cahaya (Bagian II)
12 BAB 6. Penenun Ulos Cahaya (Bagian III)
13 BAB 7. Perpustakaan Angin (Bagian I)
14 BAB 7. Perpustakaan Angin (Bagian II)
15 BAB 7. Perpustakaan Angin (Bagian III)
16 BAB 8. Penjaga Waktu & Jam Pasir Bintang (Bagian I)
17 BAB 8. Penjaga Waktu & Jam Pasir Bintang (Bagian II)
18 BAB 8. Penjaga Waktu & Jam Pasir Bintang (Bagian III)
19 BAB 9. Tarian Matahari & Bulan (Bagian I)
20 BAB 9. Tarian Matahari & Bulan (Bagian II)
21 BAB 9. Tarian Matahari & Bulan (Bagian III)
22 BAB 10. Benih yang Belum Menjadi Hutan (Bagian I)
23 BAB 10. Benih yang Belum Menjadi Hutan (Bagian II)
24 BAB 11. Panggilan dari Dunia yang Belum Bernama (Bagian I)
25 BAB 11. Panggilan dari Dunia yang Belum Bernama (Bagian II)
26 BAB 12. Pertanyaan yang Tidak Disukai para Tetua (Bagian I)
27 BAB 12. Pertanyaan yang Tidak Disukai para Tetua (Bagian II)
28 BAB 13. Sidang (Bagian I)
29 BAB 13. Sidang (Bagian II)
30 BAB 14. Panggilan
31 BAB 15. Pengadilan Semesta (Bagian I)
32 BAB 15. Pengadilan Semesta (Bagian II)
33 BAB 15. Pengadilan Semesta (Bagian III)
34 BAB 16. Langkah Pertama di Tanah yang Sunyi
35 BAB 17. Sahabat Pertama di Dunia yang Sepi
36 BAB 18. Mata Air yang Menjawab Air Mata
37 BAB 19. Benih yang Tidak Takut Angin
38 BAB 20. Nyanyian Batu dan Akar Pertama
39 BAB 21. Doa untuk Seekor Ikan
40 BAB 22. Rumah Pertama
41 BAB 23. Musim yang Belum Memiliki Nama
42 BAB 24. Ketika Alam Menjawab
43 BAB 25. Jejak yang Akan Diikuti
44 BAB 26. Penjaga yang Tak Pernah Terlihat
45 BAB 27. Suara dari Kedalaman
46 BAB 28. Ketika Dua Kesunyian Bertemu
47 BAB 29. Dunia yang Mulai Berubah
48 BAB 30. Penjaga Keseimbangan
49 BAB 31. Dua Jalan yang Berbeda
50 BAB 32. Retakan Pertama
51 BAB 33. Gunung yang Terbangun
52 BAB 34. Kata-kata yang Terlambat
53 BAB 35. Langit Memilih Pihak
54 BAB 36. Api di Bawah Samudra
55 BAB 37. Air Mata Penjaga
56 BAB 38. Sidang Langit
57 BAB 39. Perang Semesta
58 BAB 40. Keseimbangan Baru
59 BAB 41. Hutan yang Mengingat
60 BAB 42. Janji di Gerbang Kedalaman
61 BAB 43. Bahasa yang Sama
62 BAB 44. Benih untuk Masa Depan
63 BAB 45. Hari Ketika Langit Turun
64 BAB 46. Raja yang Melepaskan Langit
65 BAB 47. Ihat Manisia
66 BAB 48. Pertemuan Itu
67 BAB 49. Belajar Menjadi Manusia Sejati
68 BAB 50. Tiga Penjaga, Satu Dunia.
69 BAB 51. Dalihan Na Tolu
70 BAB 52. Ulos yang Menghangatkan Dunia
71 BAB 53. Bahasa Kasih
72 BAB 54. Pusuk Buhit
73 BAB 55. Rumah Bolon
74 BAB 56. Anak Pertama Manusia di Banua Tonga
75 BAB 57. Warisan Para Penjaga (Bagian 1)
76 BAB 57. Warisan Para Penjaga (Bagian 2)
77 BAB 58. Legenda yang Mulai Dilupakan (Bagian 1)
78 BAB 58. Legenda yang Mulai Dilupakan (Bagian 2)
79 BAB 59. Epilog — Dunia yang Terus Bersenandung (Bagian 1)
80 BAB 59. Epilog - Dunia yang Terus Bersenandung (Bagian 2)
Episodes

Updated 80 Episodes

1
PROLOG (Sebelum Dunia Mengenal Namanya)
2
BAB 1. Anak Cahaya dari Banua Ginjang
3
BAB 2. Taman Para Dewa & Ramalan Sang Burung Erung
4
BAB 3. Putri yang Berbicara kepada Angin (Bagian I)
5
BAB 3. Putri yang Berbicara kepada Angin (Bagian II)
6
BAB 4. Sahabat Bersayap Perak & Telaga Sipaet, Cermin Kemungkinan
7
BAB 5. Sekolah Semesta (Bagian I)
8
BAB 5. Sekolah Semesta (Bagian II)
9
BAB 5. Sekolah Semesta (Bagian III)
10
BAB 6. Penenun Ulos Cahaya (Bagian I)
11
BAB 6. Penenun Ulos Cahaya (Bagian II)
12
BAB 6. Penenun Ulos Cahaya (Bagian III)
13
BAB 7. Perpustakaan Angin (Bagian I)
14
BAB 7. Perpustakaan Angin (Bagian II)
15
BAB 7. Perpustakaan Angin (Bagian III)
16
BAB 8. Penjaga Waktu & Jam Pasir Bintang (Bagian I)
17
BAB 8. Penjaga Waktu & Jam Pasir Bintang (Bagian II)
18
BAB 8. Penjaga Waktu & Jam Pasir Bintang (Bagian III)
19
BAB 9. Tarian Matahari & Bulan (Bagian I)
20
BAB 9. Tarian Matahari & Bulan (Bagian II)
21
BAB 9. Tarian Matahari & Bulan (Bagian III)
22
BAB 10. Benih yang Belum Menjadi Hutan (Bagian I)
23
BAB 10. Benih yang Belum Menjadi Hutan (Bagian II)
24
BAB 11. Panggilan dari Dunia yang Belum Bernama (Bagian I)
25
BAB 11. Panggilan dari Dunia yang Belum Bernama (Bagian II)
26
BAB 12. Pertanyaan yang Tidak Disukai para Tetua (Bagian I)
27
BAB 12. Pertanyaan yang Tidak Disukai para Tetua (Bagian II)
28
BAB 13. Sidang (Bagian I)
29
BAB 13. Sidang (Bagian II)
30
BAB 14. Panggilan
31
BAB 15. Pengadilan Semesta (Bagian I)
32
BAB 15. Pengadilan Semesta (Bagian II)
33
BAB 15. Pengadilan Semesta (Bagian III)
34
BAB 16. Langkah Pertama di Tanah yang Sunyi
35
BAB 17. Sahabat Pertama di Dunia yang Sepi
36
BAB 18. Mata Air yang Menjawab Air Mata
37
BAB 19. Benih yang Tidak Takut Angin
38
BAB 20. Nyanyian Batu dan Akar Pertama
39
BAB 21. Doa untuk Seekor Ikan
40
BAB 22. Rumah Pertama
41
BAB 23. Musim yang Belum Memiliki Nama
42
BAB 24. Ketika Alam Menjawab
43
BAB 25. Jejak yang Akan Diikuti
44
BAB 26. Penjaga yang Tak Pernah Terlihat
45
BAB 27. Suara dari Kedalaman
46
BAB 28. Ketika Dua Kesunyian Bertemu
47
BAB 29. Dunia yang Mulai Berubah
48
BAB 30. Penjaga Keseimbangan
49
BAB 31. Dua Jalan yang Berbeda
50
BAB 32. Retakan Pertama
51
BAB 33. Gunung yang Terbangun
52
BAB 34. Kata-kata yang Terlambat
53
BAB 35. Langit Memilih Pihak
54
BAB 36. Api di Bawah Samudra
55
BAB 37. Air Mata Penjaga
56
BAB 38. Sidang Langit
57
BAB 39. Perang Semesta
58
BAB 40. Keseimbangan Baru
59
BAB 41. Hutan yang Mengingat
60
BAB 42. Janji di Gerbang Kedalaman
61
BAB 43. Bahasa yang Sama
62
BAB 44. Benih untuk Masa Depan
63
BAB 45. Hari Ketika Langit Turun
64
BAB 46. Raja yang Melepaskan Langit
65
BAB 47. Ihat Manisia
66
BAB 48. Pertemuan Itu
67
BAB 49. Belajar Menjadi Manusia Sejati
68
BAB 50. Tiga Penjaga, Satu Dunia.
69
BAB 51. Dalihan Na Tolu
70
BAB 52. Ulos yang Menghangatkan Dunia
71
BAB 53. Bahasa Kasih
72
BAB 54. Pusuk Buhit
73
BAB 55. Rumah Bolon
74
BAB 56. Anak Pertama Manusia di Banua Tonga
75
BAB 57. Warisan Para Penjaga (Bagian 1)
76
BAB 57. Warisan Para Penjaga (Bagian 2)
77
BAB 58. Legenda yang Mulai Dilupakan (Bagian 1)
78
BAB 58. Legenda yang Mulai Dilupakan (Bagian 2)
79
BAB 59. Epilog — Dunia yang Terus Bersenandung (Bagian 1)
80
BAB 59. Epilog - Dunia yang Terus Bersenandung (Bagian 2)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!