BAB 3. Putri yang Berbicara kepada Angin (Bagian II)

...Rahasia Batu Ingatan dan Pertanyaan kepada Sang Pencipta...

Deak Parujar berlari meninggalkan lembah itu. Napasnya memburu. Bukan karena tubuhnya lelah, melainkan karena jantung kecilnya belum pernah mengenal rasa takut sebesar itu.

Bayangan mata hijau yang muncul dari balik kabut masih menempel di benaknya. Mata itu bukan sekadar melihat. Mata itu seakan mengenal dirinya.

"Putri!" Suara-suara kecil Partondion terdengar berlarian dari balik rumpun bunga.

Mereka menemukan Deak yang terduduk di bawah lengkungan akar Hariara Bolon. Rambutnya yang hitam menutupi sebagian wajahnya. Tangannya masih gemetar.

"Putri... apakah ada yang menyakitimu?" salah satu Partondion bertanya.

Deak menggeleng pelan, lalu sesaat kemidian ia manjawab: "Aku... melihat laut."

Para Partondion saling berpandangan. "Laut?"

"Apakah laut itu seperti kolam cahaya?" tanya salah satu Partondion.

"Bukan." jawab Deak cepat.

"Apakah seperti Sungai Aek Na Mardalan?" tanya salah satu Partondion yang lain.

"Bukan..." Suara Deak hampir berbisik ketika melanjutkan penjelasannya: "Laut itu tidak bertepi. Tidak ada bunga. Tidak ada pohon. Tidak ada langit yang bernyanyi. Hanya air... dan dibawahnya ada seekor makhluk yang sangat besar. Apakah kalian mengetahuinya?"

Para Partondion terdiam. Mereka memang mengetahui banyak hal tentang bunga, embun dan kehidupan kecil di Banua Ginjang. Namun tentang dunia di bawah sana, mereka hanya pernah mendengarnya dari cerita para tetua. Tidak seorang pun berani menjawab dan mereka pun hanya terdiam.

...****************...

Menjelang senja langit, Banua Ginjang berubah warna menjadi jingga keemasan. Pada saat itulah Mulajadi Nabolon biasa berjalan seorang diri mengelilingi Hariara Bolon.

Beliau tidak sedang mengawasi. Tidak pula memerintah. Beliau hanya mendengarkan.

Sebab menurut kebijaksanaan Banua Ginjang, seorang pemimpin yang berhenti mendengar alam akan kehilangan kemampuan mendengar rakyatnya.

Kelak, falsafah ini diwariskan kepada manusia.

Para raja yang bijaksana bukanlah mereka yang paling keras berbicara, melainkan mereka yang paling sabar mendengarkan.

Ketika Mulajadi Nabolon melihat Deak duduk sendirian di bawah Hariara, beliau segera menghampiri dan memanggil: "Anakku."

Deak mengangkat wajahnya dan menjawab hormat: "Ayah..."

"Angin membawamu ke Batu Ingatan." ujar Mulajadi Nabolon. Bukan pertanyaan. Melainkan pernyataan akan kepastian.

Mata Deak membesar. "Ayah tahu?" tanyanya.

Mulajadi Nabolon tersenyum tipis dan menjawab lugas, "Tidak ada daun Hariara yang gugur serentak tanpa sebab."

Beliau lalu duduk di samping putrinya. Untuk beberapa saat, keduanya hanya memandang cahaya yang menetes dari daun-daun Hariara seperti hujan emas.

Deak akhirnya memberanikan diri bertanya, "Ayah... Apakah benar... ada dunia lain?"

Mulajadi Nabolon tidak segera menjawab. Beliau memetik sehelai daun emas yang baru jatuh. Daun itu diletakkan di telapak tangan Deak.

"Menurutmu... Apakah daun ini hidup?" tanya sang Ayah.

"Iya." jawab Deak cepat.

"Lalu jika daun ini gugur?" tanya sang Ayah lagi.

"Ia mati." jawab Deak ragu-ragu.

Mulajadi Nabolon menggeleng perlahan, "Ia tidak mati. Ia hanya kembali menjadi bagian dari Hariara."

Deak mengernyit kurang memahami pernyataan itu.

Beliau lalu menunjuk akar pohon yang menjulur jauh ke bawah. "Lihatlah pohon ini. Yang kau lihat hanyalah batang dan daunnya. Tetapi kehidupan pohon tidak hanya berada di sana. Ia berada juga pada akar yang tak terlihat. Begitu pula alam semesta. Yang tampak hanyalah satu bagian kecil. Masih ada kehidupan yang tidak dapat dilihat mata."

Deak memandang ke arah akar Hariara yang menghilang jauh ke bawah awan, lalu bertanya: "Apakah akar itu menuju laut yang kulihat?"

Mulajadi Nabolon mengangguk perlahan dan menjawab: "Ya. Namanya Banua Tonga."

"Lalu... Apa yang berada lebih dalam lagi?" tanya Deak kemudian.

"Banua Toru." jawab sang Ayah.

Deak mengulang kedua nama itu pelan-pelan. Seakan takut melupakannya.

"Ayah... Siapa makhluk yang kulihat di dalam laut?" tanya Deak beberapa saat kemudian.

Kali ini, Mulajadi Nabolon benar-benar terdiam. Angin berhenti. Daun Hariara tidak lagi bergoyang. Bahkan burung-burung Sijonggi yang biasanya berkicau menjelang malam ikut membisu.

Setelah cukup lama terdiam, beliau akhirnya menjawab: "Namanya Padoha."

"Itukah naga?" tanya Deak cepat.

"Ya." jawab sang Ayah lugas.

"Apakah ia jahat?" tanya Deak lagi.

Mulajadi Nabolon memandang jauh ke langit dan menjawab: "Tidak semua yang menakutkan adalah jahat. Dan tidak semua yang tampak indah selalu membawa kebaikan. Setiap makhluk memiliki tugasnya masing-masing. Padoha sedang menjaga dunia yang belum selesai. Seperti Hariara menjaga tiga banua. Seperti angin menjaga keseimbangan. Seperti embun menjaga bunga."

Deak semakin bingung dan kembali bertanya: "Kalau begitu... mengapa aku takut kepadanya?"

"Karena kau belum mengenalnya." jawab sang Ayah bijak. Beliau tersenyum lembut ketika melanjutkan kata-katanya: "Ketakutan sering lahir dari sesuatu yang belum kita pahami."

Kalimat itu terpatri dalam hati Deak. Bertahun-tahun kemudian, ketika ia menghadapi banyak makhluk dari Banua Toru, nasihat itu akan menjadi pelita yang mencegahnya membenci sebelum mengenal.

...****************...

Malam turun perlahan. Bintang-bintang mulai menyala satu demi satu. Namun malam itu berbeda.

Di atas langit Banua Ginjang, tiga bintang besar membentuk segitiga sempurna. Parbaringin yang sedang mengamati langit segera berdiri. Beliau mengenali pertanda itu.

"Tiga Penyangga..." bisiknya.

Dalam ajaran tua Banua Ginjang, tiga bintang itu melambangkan keseimbangan.

Tidak ada yang lebih tinggi.

Tidak ada yang lebih rendah.

Masing-masing saling menopang.

Parbaringin memandang ke arah Deak dan Mulajadi Nabolon yang masih duduk di bawah Hariara.

Ia tahu, semesta sedang mengajarkan sesuatu kepada sang putri. Sesuatu yang kelak diwariskan kepada manusia. Bahwa kehidupan tidak akan kokoh bila hanya berdiri di atas satu penyangga. Harus ada keseimbangan. Harus ada saling menghormati. Harus ada saling menguatkan.

Benih dari kebijaksanaan itu kelak tumbuh dalam falsafah yang dikenal manusia Batak sebagai kehidupan yang ditopang oleh tiga hubungan yang saling menjaga —sebuah cerminan bahwa manusia tidak pernah hidup sendirian. Dalihan Na Tolu, tiga tungku.

...****************...

Sebelum kembali ke istana cahaya, Deak berhenti sejenak. Ia memandang ke arah lembah tempat Batu Ingatan berada dan bertanya: "Ayah... Apakah aku boleh datang lagi ke sana?"

Mulajadi Nabolon memandang wajah putrinya. Beliau mengetahui bahwa rasa ingin tahu anak itu tidak akan pernah bisa dihentikan. Dan justru rasa ingin tahu itulah yang suatu hari akan mengubah wajah dunia.

"Datanglah. Tetapi jangan pernah datang sendirian. Angin akan selalu menemanimu." ujar sang Ayah kemudian.

Deak mengangguk. Ia belum memahami makna kalimat itu. Namun ia dapat merasakan angin yang berhembus lembut di sekelilingnya seolah tersenyum.

Dan jauh di balik kabut Banua Tonga, Batu Ingatan kembali memancarkan cahaya. Seakan menunggu saat ketika Putri Langit akan kembali. Karena masih banyak rahasia yang belum siap diceritakan. Masih banyak kenangan purba yang belum berani terbangun.

Dan yang paling tua di antaranya, masih tertidur di dasar Banua Toru. Menunggu waktu ketika takdir akhirnya mempertemukan mereka.

...****************...

Horas! 🌿

Mauliate godang.. 🤎

📖 Bersambung ke BAB 4. Sahabat Bersayap Perak & Telaga Sipaet, Cermin Kemungkinan.

Terpopuler

Comments

B042

B042

wih ada gambar Dalihan Na Tolu segala.. sempet riset di kampung kah ini othornya? semangat ya.. 👍🏼💪🏽✌🏽✍️🏼👌🏼

2026-07-17

2

lihat semua
Episodes
1 PROLOG (Sebelum Dunia Mengenal Namanya)
2 BAB 1. Anak Cahaya dari Banua Ginjang
3 BAB 2. Taman Para Dewa & Ramalan Sang Burung Erung
4 BAB 3. Putri yang Berbicara kepada Angin (Bagian I)
5 BAB 3. Putri yang Berbicara kepada Angin (Bagian II)
6 BAB 4. Sahabat Bersayap Perak & Telaga Sipaet, Cermin Kemungkinan
7 BAB 5. Sekolah Semesta (Bagian I)
8 BAB 5. Sekolah Semesta (Bagian II)
9 BAB 5. Sekolah Semesta (Bagian III)
10 BAB 6. Penenun Ulos Cahaya (Bagian I)
11 BAB 6. Penenun Ulos Cahaya (Bagian II)
12 BAB 6. Penenun Ulos Cahaya (Bagian III)
13 BAB 7. Perpustakaan Angin (Bagian I)
14 BAB 7. Perpustakaan Angin (Bagian II)
15 BAB 7. Perpustakaan Angin (Bagian III)
16 BAB 8. Penjaga Waktu & Jam Pasir Bintang (Bagian I)
17 BAB 8. Penjaga Waktu & Jam Pasir Bintang (Bagian II)
18 BAB 8. Penjaga Waktu & Jam Pasir Bintang (Bagian III)
19 BAB 9. Tarian Matahari & Bulan (Bagian I)
20 BAB 9. Tarian Matahari & Bulan (Bagian II)
21 BAB 9. Tarian Matahari & Bulan (Bagian III)
22 BAB 10. Benih yang Belum Menjadi Hutan (Bagian I)
23 BAB 10. Benih yang Belum Menjadi Hutan (Bagian II)
24 BAB 11. Panggilan dari Dunia yang Belum Bernama (Bagian I)
25 BAB 11. Panggilan dari Dunia yang Belum Bernama (Bagian II)
26 BAB 12. Pertanyaan yang Tidak Disukai para Tetua (Bagian I)
27 BAB 12. Pertanyaan yang Tidak Disukai para Tetua (Bagian II)
28 BAB 13. Sidang (Bagian I)
29 BAB 13. Sidang (Bagian II)
30 BAB 14. Panggilan
31 BAB 15. Pengadilan Semesta (Bagian I)
32 BAB 15. Pengadilan Semesta (Bagian II)
33 BAB 15. Pengadilan Semesta (Bagian III)
34 BAB 16. Langkah Pertama di Tanah yang Sunyi
35 BAB 17. Sahabat Pertama di Dunia yang Sepi
36 BAB 18. Mata Air yang Menjawab Air Mata
37 BAB 19. Benih yang Tidak Takut Angin
38 BAB 20. Nyanyian Batu dan Akar Pertama
39 BAB 21. Doa untuk Seekor Ikan
40 BAB 22. Rumah Pertama
41 BAB 23. Musim yang Belum Memiliki Nama
42 BAB 24. Ketika Alam Menjawab
43 BAB 25. Jejak yang Akan Diikuti
44 BAB 26. Penjaga yang Tak Pernah Terlihat
45 BAB 27. Suara dari Kedalaman
46 BAB 28. Ketika Dua Kesunyian Bertemu
47 BAB 29. Dunia yang Mulai Berubah
48 BAB 30. Penjaga Keseimbangan
49 BAB 31. Dua Jalan yang Berbeda
50 BAB 32. Retakan Pertama
51 BAB 33. Gunung yang Terbangun
52 BAB 34. Kata-kata yang Terlambat
53 BAB 35. Langit Memilih Pihak
54 BAB 36. Api di Bawah Samudra
55 BAB 37. Air Mata Penjaga
56 BAB 38. Sidang Langit
57 BAB 39. Perang Semesta
58 BAB 40. Keseimbangan Baru
59 BAB 41. Hutan yang Mengingat
60 BAB 42. Janji di Gerbang Kedalaman
61 BAB 43. Bahasa yang Sama
62 BAB 44. Benih untuk Masa Depan
63 BAB 45. Hari Ketika Langit Turun
64 BAB 46. Raja yang Melepaskan Langit
65 BAB 47. Ihat Manisia
66 BAB 48. Pertemuan Itu
67 BAB 49. Belajar Menjadi Manusia Sejati
68 BAB 50. Tiga Penjaga, Satu Dunia.
69 BAB 51. Dalihan Na Tolu
70 BAB 52. Ulos yang Menghangatkan Dunia
71 BAB 53. Bahasa Kasih
72 BAB 54. Pusuk Buhit
73 BAB 55. Rumah Bolon
74 BAB 56. Anak Pertama Manusia di Banua Tonga
75 BAB 57. Warisan Para Penjaga (Bagian 1)
76 BAB 57. Warisan Para Penjaga (Bagian 2)
77 BAB 58. Legenda yang Mulai Dilupakan (Bagian 1)
78 BAB 58. Legenda yang Mulai Dilupakan (Bagian 2)
79 BAB 59. Epilog — Dunia yang Terus Bersenandung (Bagian 1)
80 BAB 59. Epilog - Dunia yang Terus Bersenandung (Bagian 2)
Episodes

Updated 80 Episodes

1
PROLOG (Sebelum Dunia Mengenal Namanya)
2
BAB 1. Anak Cahaya dari Banua Ginjang
3
BAB 2. Taman Para Dewa & Ramalan Sang Burung Erung
4
BAB 3. Putri yang Berbicara kepada Angin (Bagian I)
5
BAB 3. Putri yang Berbicara kepada Angin (Bagian II)
6
BAB 4. Sahabat Bersayap Perak & Telaga Sipaet, Cermin Kemungkinan
7
BAB 5. Sekolah Semesta (Bagian I)
8
BAB 5. Sekolah Semesta (Bagian II)
9
BAB 5. Sekolah Semesta (Bagian III)
10
BAB 6. Penenun Ulos Cahaya (Bagian I)
11
BAB 6. Penenun Ulos Cahaya (Bagian II)
12
BAB 6. Penenun Ulos Cahaya (Bagian III)
13
BAB 7. Perpustakaan Angin (Bagian I)
14
BAB 7. Perpustakaan Angin (Bagian II)
15
BAB 7. Perpustakaan Angin (Bagian III)
16
BAB 8. Penjaga Waktu & Jam Pasir Bintang (Bagian I)
17
BAB 8. Penjaga Waktu & Jam Pasir Bintang (Bagian II)
18
BAB 8. Penjaga Waktu & Jam Pasir Bintang (Bagian III)
19
BAB 9. Tarian Matahari & Bulan (Bagian I)
20
BAB 9. Tarian Matahari & Bulan (Bagian II)
21
BAB 9. Tarian Matahari & Bulan (Bagian III)
22
BAB 10. Benih yang Belum Menjadi Hutan (Bagian I)
23
BAB 10. Benih yang Belum Menjadi Hutan (Bagian II)
24
BAB 11. Panggilan dari Dunia yang Belum Bernama (Bagian I)
25
BAB 11. Panggilan dari Dunia yang Belum Bernama (Bagian II)
26
BAB 12. Pertanyaan yang Tidak Disukai para Tetua (Bagian I)
27
BAB 12. Pertanyaan yang Tidak Disukai para Tetua (Bagian II)
28
BAB 13. Sidang (Bagian I)
29
BAB 13. Sidang (Bagian II)
30
BAB 14. Panggilan
31
BAB 15. Pengadilan Semesta (Bagian I)
32
BAB 15. Pengadilan Semesta (Bagian II)
33
BAB 15. Pengadilan Semesta (Bagian III)
34
BAB 16. Langkah Pertama di Tanah yang Sunyi
35
BAB 17. Sahabat Pertama di Dunia yang Sepi
36
BAB 18. Mata Air yang Menjawab Air Mata
37
BAB 19. Benih yang Tidak Takut Angin
38
BAB 20. Nyanyian Batu dan Akar Pertama
39
BAB 21. Doa untuk Seekor Ikan
40
BAB 22. Rumah Pertama
41
BAB 23. Musim yang Belum Memiliki Nama
42
BAB 24. Ketika Alam Menjawab
43
BAB 25. Jejak yang Akan Diikuti
44
BAB 26. Penjaga yang Tak Pernah Terlihat
45
BAB 27. Suara dari Kedalaman
46
BAB 28. Ketika Dua Kesunyian Bertemu
47
BAB 29. Dunia yang Mulai Berubah
48
BAB 30. Penjaga Keseimbangan
49
BAB 31. Dua Jalan yang Berbeda
50
BAB 32. Retakan Pertama
51
BAB 33. Gunung yang Terbangun
52
BAB 34. Kata-kata yang Terlambat
53
BAB 35. Langit Memilih Pihak
54
BAB 36. Api di Bawah Samudra
55
BAB 37. Air Mata Penjaga
56
BAB 38. Sidang Langit
57
BAB 39. Perang Semesta
58
BAB 40. Keseimbangan Baru
59
BAB 41. Hutan yang Mengingat
60
BAB 42. Janji di Gerbang Kedalaman
61
BAB 43. Bahasa yang Sama
62
BAB 44. Benih untuk Masa Depan
63
BAB 45. Hari Ketika Langit Turun
64
BAB 46. Raja yang Melepaskan Langit
65
BAB 47. Ihat Manisia
66
BAB 48. Pertemuan Itu
67
BAB 49. Belajar Menjadi Manusia Sejati
68
BAB 50. Tiga Penjaga, Satu Dunia.
69
BAB 51. Dalihan Na Tolu
70
BAB 52. Ulos yang Menghangatkan Dunia
71
BAB 53. Bahasa Kasih
72
BAB 54. Pusuk Buhit
73
BAB 55. Rumah Bolon
74
BAB 56. Anak Pertama Manusia di Banua Tonga
75
BAB 57. Warisan Para Penjaga (Bagian 1)
76
BAB 57. Warisan Para Penjaga (Bagian 2)
77
BAB 58. Legenda yang Mulai Dilupakan (Bagian 1)
78
BAB 58. Legenda yang Mulai Dilupakan (Bagian 2)
79
BAB 59. Epilog — Dunia yang Terus Bersenandung (Bagian 1)
80
BAB 59. Epilog - Dunia yang Terus Bersenandung (Bagian 2)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!