Tatiana melihat ke sekitar ruangan itu, semua sekarang seperti bukan ruang kerja. Tapi seperti ruangan belajar anak manja. Piagam penghargaan dan semua tropi bisnis yang didapatkan oleh Tatiana, dia tidak tahu ada dimana semua barang-barang itu. Semua rak berisi boneka dan hiasan yang menurutnya sangat kekanak-kanakan. Bahkan sebagian besar ruangan ini yang tadinya berwarna putih, berubah menjadi berwarna pink.
Tatiana memandang ke salah satu dinding. Disana duku dia menggantung foto pernikahannya dengan Brandon. Tapi, sekarang juga sudah tidak ada.
Ceklek
"Sayang, ruangan ini..."
"Aku baru mau bertanya padamu!" sela Tatiana begitu Brandon masuk ke dalam ruangan itu.
Siska menyusul dengan tangan yang menarik ujung lengan jas Brandon. Tatiana melihat itu, tapi dia mencoba untuk pura-pura tidak melihatnya. Dia punya hal yang lebih penting yang harus dia pertanyakan pada suaminya.
"Kenapa kamu memberikan ruanganku pada sekertaris mu?" tanya Tatiana.
Nada suara itu masih normal. Dia belum meninggikan sama sekali nada suaranya, mesin sebenarnya dia yakin kalau tensinya sudah mulai naik. Karena kepalanya mulai terasa sakit, dia baru kembali setelah menyelesaikan masalah yang sebenarnya dibuat oleh suaminya. Tapi begitu kembali, suaminya memberinya banyak sekali kejutan yang membuatnya sakit kepala.
Brandon masih dengan wajah tenang, mendekati Tatiana, bahkan tangannya mencoba menyentuh lengan Tatiana. Tapi Tatiana menghindar.
"Jelaskan!" kata Tatiana dengan tegas.
"Aku tidak pernah bilang memberikannya. Ruanganku kan memang paling dekat dengan ruangan ini. Kamu akan pergi cukup lama, aku hanya meminjamkan ruangan ini pada Siska. Begitu kamu kembali, dia akan pindah di tempat sekertaris!"
"Hanya pinjam?" tanya Tatiana.
Emosinya sedikit tersulut, suaminya bilang hanya meminjamkan. Tapi, kalau hanya meminjamkan, apakah semua barang-barang Tatiana harus di keluarkan?
"Iya sayang, hanya aku pinjamkan sementara saja!"
"Lantas kenapa kamu memperbolehkan dia merombak seenaknya ruangan ini? dimana semua barang-barang ku?" tanya Tatiana.
Wanita genit itu mendekat, dan kembali menarik ujung jas Brandon.
"Tuan maaf, aku yang salah. Aku yang mengganti semua barang-barang disini. Kata tuan, aku boleh memasukkan apapun yang bisa membuat aku kerja dengan nyaman..."
"Memasukkan apapun, apa kamu harus menyingkirkan semua barang-barang ku?" sela Tatiana mulai kehabisan kesabaran.
Wanita genit itu bicara dengan nada suara yang sangat manja pada suaminya. Bahkan terus menempel pada suaminya. Tatiana mulai kehilangan kendali.
Brukk
"Maafkan aku nyonya, hiks... hiks...!"
Bahkan sekarang, Siska berlutut dan berakting sangat tersakiti di depan Brandon.
Brandon yang melihat itu, bukannya menenangkan istrinya. Malah membantu Siska untuk bangkit berdiri.
"Sudah... sudah, jangan menangis. Ayo bangun dulu!"
Dan wanita genit itu, bangun perlahan sambil merangkul lengan Brandon. Dan yang membuat Tatiana muak, suaminya bukannya menghindar, malah merangkul wanita genit itu dan mengusap lengannya dengan sangat lembut.
"Sudah jangan menangis ya!"
Tatiana hampir tak bisa percaya dengan apa yang dia lihat di depan matanya. Suaminya bahkan menyeka air mata wanita genit itu. Menyentuh wajahnya dengan tangannya. Tangan yang katanya seumur hidup hanya akan menyeka air mata Tatiana saja.
Tatiana masih berusaha untuk mengendalikan dirinya, melihat suaminya terang-terangan menyeka air mata wanita yang jelas-jelas tak ada hubungan kekerabatan dengan mereka sampai, suaminya bisa secara wajar melakukan hal itu. Brandon dalam sekejap menatap Tatiana.
Tatapan yang selama 12 tahun mereka kenal, selama 10 tahun mereka menikah, belum pernah Tatiana lihat sebelumnya.
"Kamu ini sebenarnya kenapa sih, Tatiana? haruskah kamu membuat Siska ketakutan dan menangis seperti ini?"
Dan suara itu, juga adalah suara yang selama 10 tahun belakangan ini tak pernah dia dengar. Suara tinggi yang terlihat seolah Tatiana berhak menerima ucapan dengan nada marah itu.
Hati Tatiana rasanya sakit sekali, istri mana yang tidak sakit hati, ketika suaminya membentaknya demi wanita lain. Apalagi, jelas-jelas Tatiana tidak salah, dia hanya bertanya dimana barang-barangnya. Barang-barang itu sangat berharga, dia dapatkan dengan kerja keras selama hampir 10 tahun.
"Kamu membentak ku?" tanya Tatiana dengan wajah tak percaya.
"Kamu keterlaluan! dia ini masih sangat muda, dia baru lulus kuliah. Perbandingan usianya denganmu saja 10 tahun. Kenapa menakutinya, hanya karena barang-barang tidak berguna itu!"
Tatiana diam, tadinya tangannya mengepal karena dia sangat kesal. Tapi mendengar ucapan suaminya, kalau barang-barang itu hanya barang-barang yang tidak berguna, dia... diam.
Tatiana menghela nafas panjang.
"Terserah, tapi singkirkan semua ini dalam satu jam. Kembalikan meja kerjaku dan posisinya seperti semula!"
Tatiana segera keluar dari tempat itu. Daripada amarah dan rasa kesal, dia lebih merasa sangat muak.
Saat dia keluar dari pintu, arah langkahnya hanya tertuju ke arah ujung koridor lantai 10 itu. Ada sebuah ruangan, yang biasa digunakan untuk dia istirahat, disana dindingnya terbuat dari kaca, dan banyak tanaman yang bisa menghasilkan udara bersih. Dia merasa sejak kembali dari luar negeri, sejak tiba di bandara. Dia terlalu banyak menghirup udara kotor.
Tatiana membuka ruangan itu, semuanya masih sama. Tatiana menghela nafas lega. Dia menatap ke arah pemandangan yang ada di depannya. Tak lama ponselnya berdering.
Senyum terukir tipis di wajahnya, ketika dia melihat nama siapa yang tertera di layar ponselnya itu.
"Halo..."
[Sudah sampai? sudah beritahu kabar baiknya pada suamimu? jangan khawatir tentang perusahaan Tatiana, dananya sudah disiapkan. Tinggal kamu bilang saja kapan kami bisa Investasi. Kami akan segera datang kesana]
"Aku belum beritahu mas Brandon, nanti saja!"
[Baiklah, tapi kamu baik-baik saja kan? nada suaramu...]
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir!"
[Jangan sampai lupa, kamu punya kami berdua. Jika ada masalah, ada yang menyakitimu...]
Suasana hati Tatiana sungguh tidak seburuk tadi. Dia terkekeh, dia bicara dengan orang yang bisa membuat suasana hatinya benar-benar menjadi lebih baik.
"Iya... iya, aku tahu. Aku akan langsung lapor pada kalian berdua!"
[Baiklah, jaga dirimu]
"Iya"
Dan baru saja Tatiana menutup panggilan telepon itu. Ponselnya kembali berdering. Kali ini, ayah mertuanya yang menghubunginya.
"Halo ayah!"
[Tatiana, ayah dengar kamu sudah kembali. Datanglah ke rumah nak, ayah sudah minta pelayan memasak makanan kesukaanmu. Makan siang lah bersama Brandon di rumah]
"Ayah sudah menghubungi Brandon?" tanya Tatiana. Dia sedang tidak ingin bicara pada suaminya itu.
[Ada apa nak? kalian bertengkar? jangan khawatir, nanti ayah marahi anak nakal itu]
"Tidak ayah, hanya saja dia sedang tidak bersamaku saat ini!"
[Baiklah, ayah akan hubungi dia. Atau mau ayah jemput nak?]
"Tidak ayah, aku akan pergi sendiri!"
[Sampai bertemu di rumah ya Mak]
"Iya ayah!"
Panggilan itu berakhir. Tatiana kembali menghela nafas panjang.
***
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
astaga beneran deh pengen njedotin kepala orang 😡
2026-07-12
3
Kedan Bawel 🍒
OMG.. Jadi geram sendiri..
Padahal udah bab 2, malah makin dibuat emosi.. 😅
Jadi inget kasus pengkhianatan yg terjadi dlm rumah tangga Mei Huarin & Shen Meiren kalau begini.. 🤣
Punya suami yg gak tau diri..
Sudah punya berlian, malah cari batu kali.. 😅
2026-07-15
3
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Astaghfirullah 😡😡😡
2026-07-12
2