Bab 5

Saat dalam perjalanan menuju ke villa, ayah mertua Tatiana menghubungi lagi.

"Iya ayah...!"

[Brandon memang keterlaluan Tatiana, ayah akan menegurnya dengan baik!]

"Terima kasih banyak ayah"

[Nak, apa sebaiknya kita katakan saja semuanya pada Brandon. Supaya dia dan ibunya tidak terus meremehkan mu?]

Tatiana diam sebentar, dia berusaha berpikir dengan tenang. Tiga alasan di antara sebenarnya banyak alasan lainnya, dan dia mulai berpikir bahwa benar kata Yuli. Tiga alasan itu saja, sudah cukup untuk membuat Tatiana bersikap tegas pada Brandon. Tatiana berpikir akan memberikan suaminya itu kesempatan sekali lagi.

Dalam kehidupan rumah tangga, memangnya pasangan mana yang tidak pernah bertengkar. Rasa cinta yang sudah di pupuk selama 10 tahun, tidak mungkin juga akan hilang begitu saja. Anggap saja kali ini Brandon sedang khilaf, Tatiana akan mencoba bicara dengan suaminya. Bukankah bisa diperbaiki. Dan tidak seharusnya dia langsung mengatakan yang sebenarnya pada Brandon. Karena itu akan sangat menyakitinya harga diri pria itu.

"Ayah, aku rasa tidak perlu mengatakannya pada Brandon. Nanti dia merasa rendah diri. Ayah tenang saja, dalam pernikahan pasti akan ada hal-hal dan gangguan seperti ini. Mungkin mas Brandon hanya sedang terpengaruh oleh sekertaris nya itu. Aku juga tidak di sisinya selama dua bulan kan? aku rasa mas Brandon mungkin merasa sekertaris nya sekarang lebih mengerti dia daripada aku. Aku akan bicara baik-baik pada mas Brandon!"

[Ayah lega mendengarnya, kamu memang istri yang sangat baik]

Panggilan telepon itu berakhir. Tatiana sudah sampai di depan villa. Ada dua mobil disana, tapi dia tidak begitu memperhatikan. Karena memang dua mobil itu miliknya dan suaminya. Seingatnya, Brandon tidak menggunakan mobil yang ada di garasi villa mereka itu.

"Bibi Irma, selamat malam!"

"Malam Nyonya, Nyonya..." wajah bibi Irma, pelayan yang ada di villa tampak tegang.

Tatiana segera berhenti, dan menoleh ke arah pelayan yang sudah bekerja dengannya selama lima tahun itu.

"Bibi Irma kenapa? kok kaget begitu melihatku?" tanya Tatiana.

Tatiana mencoba berpikir positif, dia sudah tidak pulang selama 2 bulan. Mungkin bibi Irma terkejut.

"I... itu..."

"Itu apa? Bi, malam ini aku tidur di sini. Bibi tolong siapkan susu hangat ya, aku tidak mau makan malam. Antarkan ke kamarku ya, bi! aku mau mandi dulu!"

"Nyonya... itu, kamar nyonya...!"

Langkah Tatiana yang menuju ke arah kamarnya terhenti. Dia kembali menoleh ke arah bibi Irma. Tak lama terdengar suara mobil dari luar. Tatiana melihat siapa yang datang, pintu villa itu terbuka. Dan suaminya datang dengan membawa banyak makanan siap saji.

"Tatiana..."

"Mas, kamu ada di sini?" tanya Tatiana bingung.

Dan makanan siap saji yang ada di tangan suaminya. Sejak kapan suaminya suka makan makanan seperti itu.

"Ini ada apa?" tanya Tatiana pada bibi Irma.

"Aku kira kamu pulang ke rumah. Makanya aku kesini! aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu!"

"Aku juga, makanya aku kemari. Mas pulang saja, aku mau tidur!"

Tatiana segera bergegas ke arah kamarnya, tapi Brandon menyusulnya dan langsung menghalangi Tatiana yang ingin membuka pintu.

"Mas..."

"Kamar ini, kamu tidak bisa tidur di sini. Kalau kamu mau tidur di villa. Di kamar tamu saja, kita bisa tidur disana!"

"Kita? tidur di kamar tamu? kenapa? ini kamar kita..." Tatiana menjeda ucapannya, alisnya perlahan naik, karena dia merasa dia mulai menyadari sesuatu yang tidak beres.

Tatiana mendorong suaminya, dan membuka pintu kamar.

Ceklek

Benar saja, ketika dia membuka pintu kamar villa mereka itu. Tatiana melihat banyak sekali ornamen berwarna pink. Termasuk hilangnya foto pernikahan mereka dari tempatnya dan berganti gambar seorang wanita yang sangat familiar bagi Tatiana.

"Kamu membiarkan dia menginap di kamar kita, mas? apa kamu sudah gilaa?"

Tatiana marah, dia melihat semua barangnya sudah tidak ada di kamar itu. Dan berganti dengan semua barang milik Siska.

Tapi bukannya meredam emosi istrinya. Brandon justru terlihat kesal.

"Siska itu tidak punya siapapun di kota ini, dia sebatang kara, Tatiana. Ingat tidak, 12 tahun yang lalu ketika kita bertemu untuk pertama kali. Kamu juga seperti Siska kan? kamu juga sebatang kara. Apa kamu tidak bisa memahami apa yang Siska rasakan saat ini?"

Tatiana tidak percaya, suaminya kembali membela sekretaris nya itu. Apa yang sebenarnya telah terjadi selama dua bulan dia pergi. Suaminya sungguh menjadi seseorang yang sangat berbeda.

"Ada apa denganmu? kamu bandingkan aku dengan wanita itu 12 tahun yang lalu? kamu terus membelanya, kamu berikan semua tempatku padanya, apa yang ada di pikiran mu mas?" tanya Tatiana.

Kali ini dia bertanya dengan serius. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Tak ada nada tinggi, tapi juga tidak ada nada rendah yang berharap tidak di dengar.

"Aku hanya merasa dia mirip denganmu ketika usiamu 22 tahun. Dia ceria, manja dan selalu membuatku senang. Persis seperti kamu dulu!"

"Tapi dia bukan aku, aku istrimu. Apa menurutmu benar, kalau membiarkan orang asing tidur di kamar kita? apa menurutmu itu benar?" tanya Tatiana yang mulai sedikit Naim nada suaranya.

Karena menurutnya alasan suaminya terdengar sangat konyol. Kenapa bisa suaminya bersikap begitu, hanya karena wanita itu mirip dengan Tatiana 10 tahun yang lalu. Tatiana sama sekali tidak bisa menerimanya. Alasan itu benar-benar konyol.

Dan belum pertanyaan Tatiana itu dijawab oleh suaminya. Siska keluar dari kamar ganti dan langsung mendekati Tatiana.

"Nyonya, maafkan aku. Sebenarnya tempat tinggal ku sedang di perbaiki, jadi tuan..."

Tatiana menoleh, dan matanya langsung membelalak ketika dia melihat, bahkan gaun tidurnya bisa dipakai oleh sekertaris suaminya itu.

"Ini bajuku kan?" pekik Tatiana.

Memangnya istri mana yang tidak menggilaa kalau suaminya membiarkan sekertaris nya menggunakan pakaian privasinya seperti itu. Pakaian yang hanya digunakan oleh Tatiana di depan Brandon.

"Nyonya... maaf, aku kira sudah tidak muat! maafkan aku Nyonya!"

Tatiana mencoba menarik pakaian yang di pakai Siska. Tapi bahkan tangannya belum menyentuh gaun tidur itu, Siska sudah jatuh.

Brukk

"Maafkan aku, maafkan aku nyonya. Aku tidak berani, akan aku lepaskan... hiks...!"

Melihat Siska jatuh dan menangis. Brandon bahkan tanpa ragu langsung mendorong Tatiana menjauh dari Siska. Tidak hanya itu,. Brandon juga membantu Siska bangun.

"Hanya baju tidur, kenapa kamu berbuat sekasar ini, Tatiana! aku akan membelikanmu yang baru! kamu mau berapa? perhitungan sekali. Sudah aku bilang Siska masih sangat muda, kenapa membuatnya ketakutan seperti ini?"

Dan nada suara itu tidak datar, tidak pula setengah oktaf dari nada datar Brandon. Brandon membentak Tatiana.

***

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Kedan Bawel 🍒

Kedan Bawel 🍒

Ohh ya ampun.. Aku tak sesabar dirimu Tatiana.. 🤣
Jika aku di posisi mu, sudah mati mereka berdua di tangan ku.. 😌
Astaghfirullah.. 🤭

2026-07-15

3

𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒

𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒

sudahlah Tatiana cerai saja, suamimu sudah tak tertolong 😡

2026-07-15

2

Sekar

Sekar

suami gila bikin emosi saja 🤜🤜

2026-07-14

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!