Taksi yang ditumpangi Tatiana berhenti di depan sebuah rumah mewah yang begitu besar. Pagarnya saja sangat tinggi, dengan dua penjaga di belakang pintu gerbang itu.
Tatiana turun dari taksi itu, berjalan ke arah pintu gerbang langkah ringan. Rumah itu, entah sudah berapa kali dia kunjungi dalam 10 tahun ini. Ayah mertuanya, Tatiana bahkan sudah anggap seperti ayahnya. Beliau sangat baik, bahkan akan selalu tersenyum ketika bertemu dengan Tatiana. Tapi, ibu mertuanya... sangat berbeda. Banyak hal memang yang ibu mertuanya tidak ketahui, karena memang ibunya Brandon itu punya riwayat lemah jantung. Terkadang, Tatiana bahkan malas datang karena ibu mertuanya hanya akan menambah panas suasana dengan terus mengatakan, kapan Tatiana akan memberinya seorang cucu.
"Nyonya muda, selamat siang!" sapa dua penjaga itu.
Tatiana mengangguk pelan, dan keduanya langsung membuka pintu. Salah satunya bahkan berniat mengantarnya sampai pintu utama.
"Tidak usah, aku bisa sendiri!" kata Tatiana.
Dari jauh saja, dia sudah bisa melihat ayah mertuanya menunggu di depan pintu. Tadinya Tatiana masih sedih memikirkan apa yang sudah suaminya lakukan. Tapi, melihat sang ayah mertua melambaikan tangannya, bahkan melangkah maju menghampirinya semua perasaan sedih itu langsung hilang begitu saja.
"Tatiana, anakku!" kata Burhan Wirawan dengan senyum tulus yang bisa Tatiana rasakan dari kejauhan.
"Ayah, di luar panas. Kenapa menunggu di luar?" tanya Tatiana ketika ayah mertuanya menyambutnya.
"Haih, ayah sudah tidak melihatmu dua bulan. Kamu bisa panas-panasan di luar, kenapa ayah tidak bisa, nak? lagipula kemana Brandon? sudah tahu istrinya tidak bisa menyetir, kenapa dia tidak mengantarmu?"
Seperti itulah, ayah mertua Tatiana cenderung sangat membela dan menyayangi Tatiana. Ada banyak hal yang terjadi selama 10 tahun ini yang melatarbelakangi semua itu. Tapi, hanya diketahui oleh keduanya.
"Bagaimana perjalanan mu, di pesawat lama punggungmu pegal tidak?"
Ayah mertuanya terus bicara, banyak hal yang menunjukkan pria paruh baya itu sangat perduli pada Tatiana.
"Lain kali ayan akan menasehati Brandon, supaya dia tidak sembarangan tanda tangan proyek. Berapa kali dia mengacaukan wirawan grup"
"Ayah, jangan khawatir. Semua masalah sudah beres!" kata Tatiana.
Dia pergi ke luar negeri memang untuk menyelesaikan masalah yang dibuat oleh Brandon.
"Kalau tidak ada kamu di sisi Brandon. Ayah juga tidak sudi menyerahkan tanggung jawab perusahaan padanya!"'
"Kalian bicara apa? sudah puas menghina anakku? sebaiknya pikirkan, bagaimana caranya punya anak!" celetuk Feby, ibunya Brandon.
Wanita itu tidak menyapa, hanya sekedar lewat, lalu pergi begitu saja setelah bicara seperti itu.
"Tatiana, jangan dengarkan apa yang dikatakan ibu mertua mu!"
Tatiana hanya mengangguk perlahan.
"Ayo masuk, ayah sudah minta bibi Dian memasakkan semua makanan kesukaan mu!" kata Burhan membuat Tatiana tersenyum.
Tatiana dan Burhan sudah sampai di ruang makan. Di sana Burhan bahkan mengambilkan lauk untuk membantunya itu. Tatiana juga menuangkan air minum untuk ayah mertuanya. Sementara Feby tampak mendengus pelan.
"Yang tidak tahu, pasti mengira kalau anakmu itu Tatiana, bukan Brandon!" celetuk Feby lagi.
"Tatiana bukan hanya menantu kita, dia sudah seperti anak kita!"
"Terserah!" sahut Feby dengan cepat dan acuh.
Tatiana sudah kenyang dengan tingkah ibu mertuanya itu. Sejak awal, Feby memang tidak suka pada Tatiana. Tatiana itu dari panti asuhan, dia sudah yatim piatu sejak kecil. Dia bahkan tidak ingat bagaimana dia berada di panti asuhan itu. Tapi dia pintar, pekerja keras. Dia bisa lulus kuliah dengan kemampuannya sendiri. Dan 5 tahun lalu, sebenarnya dia sudah ingat kenapa dia bisa berada di panti asuhan itu, bahkan sudah kembali pada keluarganya. Hanya saja, dia belum menceritakan semuanya pada keluarga suaminya. Karena tak ingin membuat suaminya merasa rendah diri.
"Punya menantu, tapi pulang dari luar negeri pun tidak bawa apa-apa untuk ibu mertuanya!"
Tatiana baru saja akan menyendokkan makanan ke mulutnya. Tapi kemudian gerakan itu berhenti. Ucapan Feby membuatnya tak selera makan sama sekali.
"Kamu ini, dua bulan lalu kamu baru minta perhiasan pada Tatiana kan?" tanya Burhan.
"Huh, menantu lain tidak seperti itu!"
"Kamu... Tatiana ini ke luar negeri bukan untuk liburan, tapi untuk menyelesaikan pekerjaan...!"
Tatiana menyentuh lengan ayah mertuanya perlahan.
"Ayah... tidak apa-apa! aku minta maaf Bu, aku benar-benar tidak sempat belanja. Nanti akan aku carikan tas yang bagus untuk ibu!"
Wajah Feby masih tampak tidak puas.
"Ck, tidak perlu. Aku bisa beli sendiri!" balasnya.
Tatiana hanya bisa menghela nafas. Belum juga suasana hatinya berubah menjadi baik kembali. Dia mendengar suara langkah menuju ke ruang makan, tapi bukan satu orang.
"Ayah, ibu..."
"Paman, bibi..."
Tatiana menoleh, itu bukan hanya suara suaminya. Tapi suara wanita yang baru saja membuatnya kesal di kantor.
Tatiana tertegun, bagaimana bisa suaminya mengajak sekertaris nya itu ke rumah orang tuanya.
"Bibi, aku bawakan tas keluaran terbaru. Tadi kebetulan aku lihat di mall, jadi aku pilihkan untuk bibi!"
Siska mendekati Feby dan memberikan sebuah tas dengan merek ternama pada Feby. Dari mereknya saja, itu harga belasan juta yang paling murah. Mustahil seorang sekertaris bisa membelikan barang mahal seperti itu. Pasti di beli dengan uang Brandon. Tatiana makin tak percaya dengan semua ini, suaminya terang-terangan mengeluarkan belasan juta untuk menyenangkan wanita lain.
"Siska, kamu memang sangat pengertian! tidak seperti orang yang tidak berguna. Sudah tidak bisa punya anak, kerjanya cuma keluyuran ke luar negeri menghabiskan uang Brandon!"
Tangan Tatiana terkepal di pangkuannya. Dadanya benar-benar penuh dengan amarah. Tapi karena masih berada di samping Burhan, dia berusaha menahan dirinya.
"Brandon! ini acara keluarga, kenapa kamu membawa orang luar?" tanya Burhan yang jelas tidak suka pada kelakuan anaknya yang membawa Siska di acara makan siang bersama keluarga.
"Ayah, Siska bukan orang luar. Dia sekertaris pribadiku. Dia banyak membantuku di perusahaan!" jawab Brandon.
"Jangan dengarkan ayahmu! dia terlalu berpihak pada seseorang yang tidak berguna!" kata Feby.
Tatiana sudah mulai menyatukan geraham atas dan bawahnya. Tapi dia masih berusaha menahan diri.
"Duduklah di sini Siska, mau makan apa?" tanya Feby.
Tatiana melihat ke arah suaminya. Apakah suaminya diam saja, ibu mertuanya mengatakan semua itu padanya. Dan ya, kenyataannya Brandon juga sibuk menarik kursi untuk Siska. Bahkan menyangkan air untuk wanita itu.
Pandangan Tatiana lalu tertuju ke pergelangan tangan Siska.
"Mas, gelang yang dipakai wanita itu, itu punyaku kan?" tanya Tatiana yang mengenali gelang miliknya. Gelang yang dia beli sendiri dengan hasil tabungannya selama beberapa tahun.
***
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
mimief
pagi pagi aku udah spaneng liat ulet Keket
mau ngutuk masih pagi ini
sabar... sabaaaar 🤣🤣🤣😒
2026-07-16
2
Kedan Bawel 🍒
Cuma bisa istighfar..
Astaghfirullah.. Ibu & anak ini..🤦🏻♀️
Pak Dediiii.. Tolong lah Pak, si Brandon, Febi, dan si ulat bulu itu kirim ke barak militer saja Pak.. 😌
2026-07-15
3
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
mertua perempuan kenapa kebanyakan anu ya 🤭
2026-07-12
2