"Sudah. Dia berada di Paviliun Jinsheng, aku masih belum menemukannya."
Suara Shen Changge terdengar parau di tengah denting lonceng angin. Pandangannya menembus langit malam yang mulai menggelap, sementara wajah dinginnya menyimpan kegelisahan yang tak mampu ia sembunyikan.
"Apa kau yakin dia penolongmu atau bukan? Apakah ada tanda khusus, atau giok, atau mungkin sesuatu yang ia tinggalkan sebagai bukti?" tanya Hou Juntian. Tatapannya sedingin es, namun ada secercah rasa prihatin yang tersembunyi jauh di balik sikap militeristiknya.
Hou Juntian tahu, kakaknya sudah terlalu larut dalam obsesi. Bagi Shen Changge, gadis yang pernah menyelamatkannya bertahun-tahun lalu jauh lebih penting daripada kenyataan di hadapannya.
"Aku hanya tahu dia sangat mahir menyulam bunga plum, dan saputangan ini... polanya persis sama dengan apa yang dia miliki," jawab Shen Changge, tangannya sedikit gemetar saat menunjukkan sehelai kain sutra usang kepada Hou Juntian. Tatapannya dipenuhi kerinduan yang tak pernah pudar.
Hou Juntian menghela napas panjang, menepuk pundak saudaranya dengan gerakan kaku. "Ya sudah, simpanlah keyakinan itu. Tapi ingat satu hal, Jenderal Tang tidak akan tinggal diam jika tahu menantunya diperlakukan seperti pelayan, apalagi jika suaminya terang-terangan memelihara selir di Paviliun Jinsheng. Pikirkanlah konsekuensi dari tindakanmu ini sekali lagi, Kakak Kedua. Kita berada di atas puncak kekuasaan, dan satu kesalahan kecil bisa membuat kita jatuh tersungkur."
Tanpa menunggu jawaban, Hou Juntian berbalik dan melangkah pergi. Suara sepatunya menggema pelan di lantai kayu.
Ia meninggalkan Shen Changge yang masih tenggelam dalam lamunannya sendiri di tengah halaman. Shen Changge tahu apa yang ia lakukan adalah sebuah pengkhianatan terhadap komitmen pernikahan yang suci, namun di matanya, kesetiaan pada janji masa kecil terasa jauh lebih penting daripada kontrak perjodohan yang tidak pernah ia kehendaki.
**
Sementara itu, di dalam Paviliun Kedamaian, kediaman milik Tang Anning, suasana jauh berbeda. Aku sedang duduk di depan cermin, memperhatikan bayanganku sendiri yang tampak kontras dengan nasib tragis tokoh ini.
"Xiao Chu, bantu aku mengganti pakaian. Aku ingin memakai pakaian pria," perintahku tegas, suaraku memecah keheningan malam yang sunyi.
Xiao Chu membeku. Matanya membelalak seolah baru saja mendengar perintah yang mustahil.
"Nona Muda... untuk apa? Apakah Anda ingin membuat kekacauan lagi? Jika Tuan Muda mengetahui hal ini, nyawa kita bisa terancam!"
Aku mendengus pelan sambil tersenyum misterius. "Ikuti saja. Aku sudah bosan mendekam di kediaman ini seperti burung dalam sangkar emas. Malam ini, aku akan keluar menyamar. Dan dengarkan baik-baik, Xiao Chu, jika ada yang datang mencariku, katakan saja aku sedang beristirahat total karena kelelahan dan tidak ingin diganggu oleh siapa pun, bahkan oleh mereka."
"Nona Muda! Itu sangat berbahaya! Jika ketiga Tuan Muda tahu bahwa Anda menyelinap keluar..."
"Jangan takut," potongku sambil menepuk pundaknya dengan lembut, mencoba menenangkan kegelisahan yang memancar dari matanya. "Mereka bahkan tak peduli aku hidup atau mati. Mereka tak akan sadar aku keluar. Lagi pula, aku ini istri mereka, bukan tahanan."
"Nona Muda, kumohon, segeralah kembali sebelum malam benar-benar larut dan gerbang ditutup," rengek Xiao Chu dengan wajah yang sudah sepucat kertas, jemarinya bertaut cemas.
"Baiklah, baiklah... Xiao Chu, berhentilah menangis. Jika aku kembali dengan selamat, aku akan membelikanmu hadiah paling mewah dari pusat kota. Muaach!" aku menggoda pelayanku yang masih cemas itu sebelum berbalik arah menuju jendela.
Aku merapikan pakaian pria yang kukenakan, memastikan ikatannya cukup ketat untuk menyamarkan bentuk tubuhku.
Dengan satu tarikan napas panjang, aku melompat ringan ke atas atap kediaman.
Bruk!
Aku mendarat dengan mulus. Sensasi pendaratan yang ringan itu membuatku terkejut setengah mati. Ternyata pemilik tubuh ini memiliki ilmu Qinggong (ilmu meringankan tubuh) yang luar biasa!
Baru sekarang kusadari keuntungan menjadi penulis dunia ini. Tang Anning bukan hanya cantik, tetapi juga menguasai qinggong dan bela diri. Kemampuan itu akan sangat berguna untuk rencanaku. Aku bisa menggunakan kemampuan ini untuk memata-matai mereka, atau sekadar melarikan diri jika keadaan menjadi tidak terkendali.
Aku berjalan melintasi atap-atap rumah penduduk dengan langkah yang nyaris tak bersuara, bayanganku menari-nari di bawah cahaya bulan purnama. Di bawah sana, pusat kota tampak hidup dengan ratusan lampu lampion yang temaram dan suara pedagang yang masih menjajakan dagangannya. Bau mantou kukus yang manis dan gurih menusuk indra penciumanku, membuat perutku mendadak keroncongan.
"Wah... dunia ini benar-benar terasa nyata jika aku bisa menikmatinya tanpa gangguan mereka," gumamku sambil tersenyum lebar.
Aku mampir di sebuah gerobak pedagang kaki lima dan membeli tanghulu—manisan buah yang rasanya asam manis nan legit. Sambil mengunyah manisan itu dengan santai, mataku tertuju pada sebuah bangunan megah yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempatku berdiri.
Ah... Paviliun Jinsheng. Tempat di mana suami-suami nakalku menghabiskan malam mereka.
Aku belum berniat bertindak. Terlalu gegabah. Malam ini aku hanya ingin melihat sendiri wanita yang berhasil merebut perhatian suami-suamiku.
**
Malam itu, di bawah cahaya bulan yang terang, aku bukan lagi Tang Anning yang terabaikan. Aku adalah Anna sang pengamat, sang bayangan yang mulai menyelinap ke dalam rahasia mereka. Aku tahu persis apa yang terjadi di paviliun itu karena akulah yang menulis setiap detailnya dalam naskah asliku.
Aku harus berhati-hati. Sekali ketahuan menyusup, nyawaku bisa melayang. Anehnya, justru bahaya itu membuat darahku berdesir. Aku sudah terlalu lama menjadi boneka, dan malam ini adalah pembuktian bahwa boneka itu pun bisa memutus talinya sendiri.
Aku memanjat pohon besar tepat di samping balkon paviliun. Dari sini, aku bisa melihat dengan jelas sosok Shen Changge sedang berbincang dengan seorang wanita cantik berbaju sutra merah muda. Hati yang biasanya tenang, kini sedikit bergetar, bukan karena cemburu, tapi karena amarah yang mulai memuncak.
Jadi, ini dia wanita itu, batinku. Mari kita lihat seberapa jauh sandiwara ini akan bertahan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments