Pertemuan Tak Terduga di Paviliun Jinsheng

Langkahku terhenti di depan bangunan megah di pusat kota. Paviliun itu didominasi kayu jati berukir dan ornamen emas yang memancarkan kemewahan.

Papan nama kayu berwarna hitam legam dengan ukiran emas yang halus tertulis dengan elegan: "Paviliun Jinsheng."

Suasananya jauh berbeda dari kediamanku yang sunyi. Di sini, simfoni kehidupan malam berdentum; tawa para bangsawan, denting gelas porselen, musik petikan kecapi yang mendayu-dayu, dan aroma dupa cendana yang memabukkan memenuhi setiap sudut ruangan.

"Akhirnya tiba juga. Untung aku membawa cukup banyak uang," gumamku sambil menepuk kantong jubah penyamaranku.

"Siapa tahu aku menemukan petunjuk yang kucari."

Aku melangkah masuk melalui pintu utama yang terbuka lebar. Seorang pelayan segera menyambutku dengan senyum ramah dan membungkuk hormat.

Aku hanya memberikan senyum tipis sebagai balasan, mengabaikan tawaran untuk dipandu, karena mataku kini lebih sibuk mengamati interior paviliun.

Dinding-dindingnya dihiasi dengan lukisan tinta yang mahal, sementara tirai sutra transparan yang halus menjuntai dari langit-langit, menciptakan sekat-sekat pribadi yang intim. Karena terlalu asyik mengamati setiap detail suasana yang sebenarnya pernah aku tulis sendiri dalam naskah novel ini, langkahku menjadi tak terarah dan melamban.

Tanpa sadar, tubuhku menabrak sesuatu yang keras dan kokoh.

Bruk!

Rasanya seperti menabrak tembok. Aku terhuyung ke belakang, hampir kehilangan keseimbangan, namun sebuah tangan yang kuat dengan sigap mencengkeram lenganku, mencegahku jatuh ke lantai.

"Aww... kalau jalan pakai mata dong! Apa kau tidak punya mata di kepalamu?" gerutuku refleks, emosiku sedikit tersulut karena kesal.

Saat mendongak, napasku langsung tertahan. Di hadapanku berdiri Mo Jiu. Tatapan gelapnya setajam mata pisau, sementara jubah hitam bersulam emas semakin menegaskan wibawanya. Sosok yang seharusnya berada di perbatasan itu kini berdiri hanya selangkah dariku.

Astaga... kenapa harus bertemu dia? Ini karakter paling berbahaya yang pernah kuciptakan.

Sadar, Tang Anning! Jangan terbuai oleh ketampanannya! Dia adalah karakter paling kejam yang kau ciptakan! batinku memperingatkan diriku sendiri dengan keras.

"Maaf, maafkan aku, Kakak Besar," kataku cepat, mencoba menetralkan nada suaraku menjadi lebih santai dan akrab. "Aku tidak sengaja. Jangan marah, ya. Lihat, jubah mahalmu jadi kotor karena tabrakan tadi. Aku akan mengganti ruginya, bagaimana?"

Pria itu menatapku dengan mata setajam mata pisau. Tidak ada senyum, tidak ada keramahan. Hanya tatapan dingin yang merendahkan.

"Tidak perlu," jawabnya singkat. Suaranya rendah dan menggetarkan udara di sekitar kami. "Kalau orang lain, sudah kubunuh."

"Haiya... Kakak Besar, jangan main bunuh orang sembarangan tanpa alasan yang jelas seperti itu," gerutuku tanpa rasa takut sedikit pun, justru aku melipat tangan di depan dada. "Masa hanya karena sentuhan sedikit saja kau langsung ingin membunuh? Kejam sekali. Pantas saja rakyat di luar sana sangat ketakutan setiap kali namamu disebut. Kau tidak punya rasa kemanusiaan ya?"

Mo Jiu mengangkat sebelah alis. Untuk pertama kalinya, seseorang berani mengomelinya tanpa rasa takut.

Baru kali ini ada pemuda asing yang begitu nekat. Dia tidak takut mati? Atau dia memang terlalu bodoh untuk menyadari dengan siapa dia berbicara? batin Mo Jiu, tatapannya kini berubah dari jijik menjadi rasa penasaran yang mendalam.

"Kakak Besar, bagaimana jika aku mentraktirmu minum? Sebagai tanda maaf atas kecerobohanku, dan siapa tahu kita bisa menjadi teman yang baik," tawarku tanpa basa-basi, langsung meraih lengannya dan menariknya.

Para pengawal spontan bergerak, tetapi Mo Jiu mengangkat tangan menghentikan mereka. Anehnya, ia benar-benar membiarkan diriku menyeretnya pergi.

Hihihi... kena kau. Ternyata kau hanya seorang suami nakal yang kesepian yang butuh teman bicara, batinku penuh kemenangan sambil menyeringai di balik cadar.

Aku memilih sebuah ruangan privat yang terletak di lantai dua, yang menghadap langsung ke keramaian jalanan kota, tempat di mana kami bisa melihat dunia luar dengan leluasa. Aku menyuruhnya duduk, lalu memesan beberapa botol minuman keras kualitas terbaik dan beberapa camilan ringan kepada pelayan yang masih gemetar karena melihat siapa tamuku.

"Kakak Besar, siapa namamu?" tanyaku dengan nada menggoda, mencoba memecah keheningan yang masih menyelimuti ruangan itu. "Dan katakan padaku, sebagai pria yang tampak begitu gagah dan berwibawa, apa kau tidak merasa tergoda dengan wanita-wanita cantik yang berlalu lalang di tempat ini?"

Mo Jiu menyesap minumannya dengan perlahan, matanya tidak sedetik pun lepas dari gerak-gerikku. "Namaku Mo Jiu. Dan soal wanita... tidak ada satu pun di tempat ini yang menarik perhatianku sedikit pun."

"Oh, benarkah?" Aku mencondongkan tubuh ke depan, menatap matanya dengan penuh tantangan. "Atau mungkin, kau hanya belum menemukan seseorang yang cukup menantang untuk membuatmu berhenti bersikap sedingin es dan mulai menikmati hidup?"

Malam itu, di dalam ruangan yang temaram, aku mulai memainkan peran sebagai orang asing yang misterius. Aku tahu aku sedang menari di atas bara api. Mo Jiu adalah musuh bebuyutan dalam duniaku, karakter yang paling sulit untuk dikendalikan. Namun, saat ini, dia hanyalah seorang pria yang duduk di depanku, terjebak dalam percakapan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.

Setiap kata yang terucap adalah bagian dari strategi besar untuk membongkar rahasia mereka satu per satu. Permainan baru saja dimulai. Sebagai penulis dunia ini, aku tahu persis langkah berikutnya. Kali ini, giliran mereka yang akan mengikuti alur yang kutulis.

Episodes
1 Menjadi Istri yang Terbuang
2 Pion yang Mulai Melawan
3 Langkah dalam Bayang-Bayang
4 Pertemuan Tak Terduga di Paviliun Jinsheng
5 Rahasia di Balik Topeng Kebekuan
6 Tuduhan yang Membalikkan Keadaan
7 Retakan di Balik Topeng
8 Titah Sang Kaisar dan Status Baru yang Menjerat
9 Permainan di Balik Bayang-Bayang
10 Topeng yang Terlepas dan Benih Permusuhan
11 Sandiwara Sang "Teh Hijau" dan Amarah yang Sia-sia
12 Jeweran Penegak Aturan dan Retaknya Ego
13 Ciuman di Tengah Badai dan Ultimatum Sang Jenderal
14 Topeng yang Retak dan Konfrontasi Maut
15 Rahasia yang Tersembunyi di Balik Keheningan
16 Perjalanan Dua Ribu Li dan Bayang-Bayang yang Mengintai
17 Tamparan Kebenaran dan Retaknya Persaudaraan
18 Kunjungan Tak Terduga Sang Putra Mahkota
19 Harga Sebuah Kesetiaan
20 Pengkhianatan di Balik Bayang-bayang
21 Kepulangan yang Penuh Ketegangan
22 Hadiah Tak Terduga
23 Ancaman Konyol Shen Changge
24 Kebenaran yang Terungkap
25 Tuntutan Sang Jenderal
26 Skandal di Kediaman Jianwu
27 Di Ambang Perpisahan
28 Sidang Perceraian di Istana
29 Bisik-Bisik di Balairung
30 Godaan Sang Jenderal
31 Kilas Balik dan Perasaan yang Berkecamuk
32 Hukuman Sang Suami
33 Racun di Balik Panah
34 Kehadiran yang Terabaikan
35 Bawaan Bayi atau Memang Jengkel?
36 Badai di Hari Bahagia
37 Kekacauan dan calon kakak ipar
38 Tragedi & Godaan Putra Mahkota
39 Cemburu Mo Jiu
40 Nyidam Sang Putri Mahkota
41 Penderitaan Bersama Para Suami
42 Pesona Ketiga Pangeran
43 Drama Ibu hamil
44 Makan Malam bersama Kaisar
45 Rutinitas membaca kitab
46 Angin Musim Gugur dan Janji di Balik Tabir
47 Bayangan di Balik Gerbang Istana
48 Bayangan di Balik Tirai Sutra
49 Bayangan di Balik Tirai Sutra
50 Perangkap di Balik Cangkir Porselen
51 Air Mata Buaya di Balik Pintu Tertutup
52 Pengakuan di Bawah Bayangan Pedang
53 Langkah Awal Menuju Balas Dendam
54 Umpan di Sarang Serigala
55 Permainan Berakhir
56 Ketenangan Setelah Badai
57 Musim Semi di Paviliun Jianwu
58 Kejutan Ganda di Musim Semi
59 Bayangan Sang Putra Mahkota
60 Surat Rahasia dari Perbatasan
61 Ratu Strategi di Balik Layar
62 Simfoni Kematian di Aula Perjamuan
63 Tiga Wajah Baru di Paviliun Jianwu
64 Ujian Pertama untuk Sang Bibi dan Paman
65 Strategi Baru di Meja Makan
66 Aliansi Tikus dan Kucing di Pelabuhan Selatan
67 Evaluasi Bahasa Era Kekaisaran
68 Bayangan Terakhir di Gerbang Istana
69 Fajar Baru di Atas Singgasana
70 Warisan Generasi Ketiga di Paviliun Jianwu
71 Realitas di Balik Layar Komputer
72 Plot Twist yang Tidak Ada di Draf
73 Quotes dari para karakter Transmigrasi
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Menjadi Istri yang Terbuang
2
Pion yang Mulai Melawan
3
Langkah dalam Bayang-Bayang
4
Pertemuan Tak Terduga di Paviliun Jinsheng
5
Rahasia di Balik Topeng Kebekuan
6
Tuduhan yang Membalikkan Keadaan
7
Retakan di Balik Topeng
8
Titah Sang Kaisar dan Status Baru yang Menjerat
9
Permainan di Balik Bayang-Bayang
10
Topeng yang Terlepas dan Benih Permusuhan
11
Sandiwara Sang "Teh Hijau" dan Amarah yang Sia-sia
12
Jeweran Penegak Aturan dan Retaknya Ego
13
Ciuman di Tengah Badai dan Ultimatum Sang Jenderal
14
Topeng yang Retak dan Konfrontasi Maut
15
Rahasia yang Tersembunyi di Balik Keheningan
16
Perjalanan Dua Ribu Li dan Bayang-Bayang yang Mengintai
17
Tamparan Kebenaran dan Retaknya Persaudaraan
18
Kunjungan Tak Terduga Sang Putra Mahkota
19
Harga Sebuah Kesetiaan
20
Pengkhianatan di Balik Bayang-bayang
21
Kepulangan yang Penuh Ketegangan
22
Hadiah Tak Terduga
23
Ancaman Konyol Shen Changge
24
Kebenaran yang Terungkap
25
Tuntutan Sang Jenderal
26
Skandal di Kediaman Jianwu
27
Di Ambang Perpisahan
28
Sidang Perceraian di Istana
29
Bisik-Bisik di Balairung
30
Godaan Sang Jenderal
31
Kilas Balik dan Perasaan yang Berkecamuk
32
Hukuman Sang Suami
33
Racun di Balik Panah
34
Kehadiran yang Terabaikan
35
Bawaan Bayi atau Memang Jengkel?
36
Badai di Hari Bahagia
37
Kekacauan dan calon kakak ipar
38
Tragedi & Godaan Putra Mahkota
39
Cemburu Mo Jiu
40
Nyidam Sang Putri Mahkota
41
Penderitaan Bersama Para Suami
42
Pesona Ketiga Pangeran
43
Drama Ibu hamil
44
Makan Malam bersama Kaisar
45
Rutinitas membaca kitab
46
Angin Musim Gugur dan Janji di Balik Tabir
47
Bayangan di Balik Gerbang Istana
48
Bayangan di Balik Tirai Sutra
49
Bayangan di Balik Tirai Sutra
50
Perangkap di Balik Cangkir Porselen
51
Air Mata Buaya di Balik Pintu Tertutup
52
Pengakuan di Bawah Bayangan Pedang
53
Langkah Awal Menuju Balas Dendam
54
Umpan di Sarang Serigala
55
Permainan Berakhir
56
Ketenangan Setelah Badai
57
Musim Semi di Paviliun Jianwu
58
Kejutan Ganda di Musim Semi
59
Bayangan Sang Putra Mahkota
60
Surat Rahasia dari Perbatasan
61
Ratu Strategi di Balik Layar
62
Simfoni Kematian di Aula Perjamuan
63
Tiga Wajah Baru di Paviliun Jianwu
64
Ujian Pertama untuk Sang Bibi dan Paman
65
Strategi Baru di Meja Makan
66
Aliansi Tikus dan Kucing di Pelabuhan Selatan
67
Evaluasi Bahasa Era Kekaisaran
68
Bayangan Terakhir di Gerbang Istana
69
Fajar Baru di Atas Singgasana
70
Warisan Generasi Ketiga di Paviliun Jianwu
71
Realitas di Balik Layar Komputer
72
Plot Twist yang Tidak Ada di Draf
73
Quotes dari para karakter Transmigrasi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!