Bab 3

Pagi pun tiba diiringi dentangan lonceng Sekte Hutan Bambu yang memecah keheningan pegunungan.

Bagi para murid, dentangan lonceng itu adalah pertanda dimulainya latihan pagi. Namun bagi Yan Kai, itu adalah awal dari hari yang melelahkan.

Bahkan sebelum lonceng berbunyi, ia sudah lebih dahulu bangun. Setelah mencuci wajah dengan air dingin, ia mengenakan kembali pakaian abu-abu lusuh yang telah dijahit berkali-kali karena robek. Bekas luka di pelipisnya telah mengering, tetapi memar di pipi, lengan, dan punggungnya masih terasa nyeri setiap kali bergerak.

Yan Kai menarik napas panjang sebelum mengambil sapu bambu yang hampir setinggi tubuhnya. Lapangan latihan utama Sekte Hutan Bambu terbentang begitu luas, dan ratusan daun bambu yang gugur semalaman memenuhi permukaan batu-batu putih di sana.

Tanpa mengeluh sedikit pun, ia mulai menyapu, suara gesekan sapu dengan lantai batu terdengar berulang-ulang di tengah sunyinya pagi.

Tak lama kemudian para murid mulai berdatangan. Sebagian bahkan melewati Yan Kai tanpa memedulikannya sedikit pun, seolah keberadaannya tidak lebih berarti daripada sapu yang sedang ia pegang.

Ada pula beberapa murid yang dengan sengaja menginjak bagian halaman yang baru saja selesai ia bersihkan, membuat daun-daun kembali berhamburan. Yan Kai hanya bisa menghela napas pelan sebelum kembali menyapu dari awal.

Setelah lapangan selesai dibersihkan, ia berlari menuju dapur untuk membantu menyiapkan sarapan—mengangkat karung beras, memotong sayuran, menyalakan tungku, mengantar makanan ke aula makan, mencuci peralatan masak, kemudian kembali mengangkut air untuk dapur. Seluruh pekerjaannya baru sedikit berkurang ketika matahari telah mencapai puncak langit.

Saat para murid menikmati makan siang mereka, Yan Kai berdiri seperti biasa di sudut aula untuk melayani setiap permintaan. Hari itu, anehnya Ji Hao dan kelompoknya tidak terlihat. Bagi Yan Kai, itu justru menjadi satu-satunya ketenangan yang ia rasakan sejak pagi.

Setelah seluruh peralatan makan selesai dibereskan, seorang murid pelayan lain berlari menghampirinya.

"Yan Kai." Yan Kai segera menoleh. "Ada apa?"

"Tetua Lu memanggilmu."

Mendengar nama itu, Yan Kai sedikit terkejut. Tetua Lu dikenal sebagai salah satu tetua yang bertugas mengurus berbagai urusan administrasi dan penjagaan aset sekte. Meski tidak terlalu kuat dibanding tetua lain, beliau memiliki kedudukan yang cukup dihormati.

Yan Kai segera membersihkan tangannya sebelum berjalan menuju aula para tetua. Sesampainya di sana, ia langsung memberi hormat. "Tetua Lu."

Seorang pria tua berjanggut putih sedang membaca beberapa gulungan bambu. Mendengar suara Yan Kai, ia perlahan mengangkat kepala dengan tatapan yang tenang. "Aku mendengar kau cukup rajin bekerja."

Yan Kai menundukkan kepala. "Itu memang tugas murid... maksudku, tugas pelayan ini."

Tetua Lu mengangguk pelan. "Hari ini ada pekerjaan yang sedikit berbeda." Beliau membuka sebuah laci kayu, lalu mengeluarkan sebuah surat yang telah diberi cap resmi Sekte Hutan Bambu. "Perpustakaan sekte sudah lama tidak dibersihkan. Para penjaga tidak memiliki cukup waktu untuk mengurusnya."

Yan Kai sedikit membelalakkan mata. Perpustakaan sekte—tempat itu merupakan salah satu lokasi paling penting di seluruh Sekte Hutan Bambu. Di sanalah berbagai kitab teknik bela diri, catatan sejarah sekte, hingga pengetahuan para tetua terdahulu disimpan. Tidak semua murid diizinkan masuk. Bahkan murid luar pun hanya boleh memasuki lantai pertama setelah memperoleh izin.

Tetua Lu menyerahkan surat itu kepada Yan Kai. "Bawa surat ini kepada penjaga perpustakaan. Isinya menjelaskan bahwa kau diperintahkan langsung olehku untuk membersihkan seluruh bagian perpustakaan."

Yan Kai menerima surat itu dengan kedua tangan. "Baik, Tetua."

"Ingat." Suara Tetua Lu menjadi lebih serius. "Jangan menyentuh kitab-kitab selain untuk membersihkan debunya. Jangan membuka gulungan atau buku apa pun. Tugasmu hanya membersihkan."

"Pelayan ini mengerti."

...

Beberapa saat kemudian, Yan Kai tiba di depan bangunan perpustakaan. Bangunan itu berdiri di bagian terdalam sekte, jauh dari keramaian.

Seluruh bangunannya terbuat dari kayu hitam berkualitas tinggi yang masih tampak kokoh meski telah berusia ratusan tahun, dengan atap bertingkat tiga berukir bambu dan burung bangau di setiap sudutnya. Suasananya begitu sunyi, seolah seluruh dunia luar berhenti begitu seseorang menginjakkan kaki di sana.

Dua murid penjaga berdiri di depan pintu utama dan segera menghalangi langkahnya. "Berhenti. Perpustakaan bukan tempat pelayan masuk."

Yan Kai segera mengeluarkan surat pemberian Tetua Lu. "Saya mendapat perintah dari Tetua Lu untuk membersihkan perpustakaan."

Salah seorang penjaga menerima surat itu, membacanya dengan saksama, lalu memeriksa cap resmi sekte yang tertera di bagian bawah. Setelah memastikan semuanya benar, ekspresinya sedikit berubah. "Silakan masuk. Tetapi ingat, jangan melakukan hal-hal di luar tugasmu."

Yan Kai mengangguk hormat. "Terima kasih."

Pintu kayu besar perlahan dibuka. suara engsel tua bergema pelan. Begitu memasuki ruangan, aroma khas kayu tua dan kertas kuno langsung memenuhi indera penciumannya. Rak-rak kitab berdiri berjajar rapi memenuhi seluruh ruangan, ribuan buku, gulungan bambu, dan naskah tua tersusun dengan teratur.

Yan Kai sempat terdiam beberapa saat. Untuk pertama kalinya sejak tinggal di Sekte Hutan Bambu, ia akhirnya dapat melihat isi perpustakaan yang selama ini hanya bisa dipandang dari kejauhan. Namun ia segera mengingat tugasnya, mengambil kain lap, dan mulai bekerja.

Lantai pertama dibersihkan dengan teliti—ia menyapu setiap sudut ruangan, mengelap meja-meja baca, membersihkan debu pada rak-rak kitab, lalu mengepel lantai batu hingga kembali mengilap. Tak ada sesuatu yang aneh. Semuanya berjalan seperti biasa.

Setelah selesai, ia menaiki tangga kayu menuju lantai kedua, yang jauh lebih sunyi. Kitab-kitab yang tersimpan di sana tampak jauh lebih tua, sebagian bahkan sudah mulai menguning dimakan usia. Yan Kai tetap bekerja dengan hati-hati, membersihkan setiap rak tanpa berani membuka satu pun kitab yang ada di sana.

Waktu terus berlalu. Tak terasa matahari mulai condong ke arah barat ketika ia akhirnya menaiki tangga terakhir menuju lantai ketiga.

Begitu kakinya menginjak lantai itu, entah mengapa suasananya terasa berbeda. Ruangan itu jauh lebih redup meski cahaya matahari masih masuk melalui jendela-jendela kecil.

Rak-raknya jauh lebih sedikit, dan kitab-kitab yang tersimpan pun tampak jauh lebih kuno dibanding dua lantai sebelumnya. Debu tebal menutupi hampir seluruh permukaannya.

Yan Kai mulai membersihkan satu per satu rak dengan gerakan perlahan, sampai akhirnya tangannya berhenti pada sebuah rak kayu tua yang berada di sudut paling dalam ruangan.

Di sana terdapat sebuah buku yang bentuknya sangat berbeda dengan kitab-kitab lain. Sampulnya telah kusam dimakan usia, tanpa judul, tanpa nama penulis, dan seluruh permukaannya tertutup debu yang begitu tebal hingga hampir menyerupai lapisan tanah.

Yan Kai mengernyit. "Aneh... kenapa buku ini seperti sudah sangat lama tidak disentuh?"

Karena mengira buku itu hanya perlu dibersihkan seperti kitab lainnya, ia mengangkatnya perlahan. Debu-debu langsung berjatuhan memenuhi udara, dan ia meniup sisa debu yang menempel di sampulnya. Kemudian, tanpa berpikir panjang, ia membuka halaman pertamanya agar bagian dalamnya juga bisa dibersihkan.

Namun pada saat halaman pertama terbuka—

Wuuung!

Seluruh buku itu tiba-tiba memancarkan cahaya keemasan yang begitu menyilaukan.

"Apa...?!"

Mata Yan Kai membelalak. Belum sempat ia bereaksi, cahaya itu berubah menjadi pusaran yang berputar semakin cepat. Ruangan lantai tiga langsung dipenuhi hembusan angin yang sangat kuat, rak-rak kayu bergetar hebat, sementara lembaran-lembaran kitab di sekitarnya berkibar liar.

Tubuh Yan Kai tiba-tiba terasa begitu ringan. "Tidak... apa yang terjadi?!"

Ia mencoba melepaskan buku itu, namun telapak tangannya seolah melekat pada sampulnya. Sebuah kekuatan misterius menarik tubuhnya ke arah pusaran cahaya.

"Tolong...!"

Yan Kai berusaha meraih rak terdekat, tetapi jari-jarinya hanya menyentuh udara kosong. Dalam sekejap, seluruh tubuhnya tersedot masuk ke dalam cahaya yang berasal dari buku kuno tersebut.

Wuuusss!

Cahaya keemasan itu menghilang secepat kemunculannya. Lantai tiga kembali sunyi, seolah tidak pernah terjadi apa pun.

Terpopuler

Comments

Haryo pambayun

Haryo pambayun

loh...misteriuuss...????

2026-08-25

0

Haryo pambayun

Haryo pambayun

loh...misteriuuss...????

2026-08-25

0

Momu

Momu

👍👍👍🙏

2026-08-20

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50 : Seminggu Setelah Pertempuran
51 Bab 51: Pil Penempa Tubuh
52 Bab 52: Menyerap Pil Penempa Tubuh
53 Bab 53: Sebuah Pesan
54 Bab 54: Ketegangan Di Sekte Bulan Darah
55 Bab 55: Perasaan Yang Familier
56 Bab 56: Cerita Terakhir Sang Naga
57 Bab 57: Kenaikan Ranah
58 Bab 58: Pergerakan Skala Besar
59 Bab 59: Benturan Pertama
60 Bab 60: Pecahnya Perang
61 Bab 61: Perkenalan Diri
62 Bab 62: Yan Kai Vs 7 Ketua Faksi
63 Bab 63: Jimat Mantra Boneka Jiwa
64 Bab 64: Yun Xi
65 Bab 65: Tiga Hari Berlalu
66 Bab 66: Gurun Pasir Emas
67 Bab 67: Lelang
68 Bab 68: Perjalanan Menuju Gurun Pasir Emas
69 Bab 69: Rintangan Di Gurun Pasir Emas
70 Bab 70: Keluhan Di Pagi Hari
71 Bab 71: Jebakan Di Tengah Gurun
72 Bab 72: Phoenix
73 Bab 73: Tindakan Darurat
74 Bab 74: Terbenamnya Matahari
75 Bab 75: Batu Misterius
76 Bab 76: Peti Mati Di Atas Altar
77 Bab 77: Membuka Peti Mati
78 Bab 78: Alkemis Tingkat 7
79 Bab 79: Kembali Ke Lembah Sunyi
80 Bab 80: Menjadi Seorang Alkemis
81 Bab 81: Masa Lalu
82 Bab 82: Bertemu Kembali
83 Bab 83: Balasan Yang Setimpal
84 Bab 84: Sekte Bunga Mawar
85 Bab 85: Guru Baru
86 Bab 86: Keputusan Ketua Liu Rong
87 Bab 87: Insiden Di Pagi Hari
88 Bab 88: Makan Malam Bersama
89 Bab 89: Satu Tahun Pelatihan
90 Bab 90: Memurnikan Pil Kaisar Langit
91 Bab 91: Fenomena Alam
92 Bab 92: Beristirahat
93 Bab 93: Sebuah Pertanyaan
94 Bab 94: Pergi Dari Sekte Bunga Mawar
95 Bab 95: Pertemuan 2 Guru Yan Kai
96 Bab 96: Menyerahkan Pil Kaisar Langit
97 Bab 97: Kepergian Liu Rong
98 Bab 98: Tubuh Dewi Teratai Es
99 Bab 99: Ranah Kaisar
100 Bab 100: Tamu Agung Di Istana Awan
101 Bab 101: Mati Saja Sana
102 Bab 102: Teknik Tingkat Langit
103 Bab 103: Munculnya Pasukan Raja Lei Zhen
104 Bab 104: 1 VS 4
105 Bab 105: 1 VS 4 (2)
106 Bab 106: Menemani Latihan
107 Bab 107: Misi Balas Dendam
108 Bab 108: Benturan 3 Kultivator Ranah Kaisar
109 Bab 109: Domain Salju Seribu Musim
110 Bab 110: Hasil Pertarungan
111 Bab 111: Terobosan Su Lian
112 Bab 112: Duel Yang Menentukan
113 Bab 113: Awal Dari Sebuah Perjalanan
114 Bab 114: Obrolan Di Perjalanan
115 Bab 115: Qilin Air
116 Bab 116: Kemunculan Sosok Yang Tak Di Duga
117 Bab 117: Meminta Maaf
118 Bab 118: Tiba Di Kekaisaran Langit Abadi
119 Bab 119: Diskusi Penting
120 Bab 120: Peta Kekuatan Kekaisaran Langit Abadi
121 Bab 121: Langkah Awal Di Kekaisaran
122 Bab 122: Rubah Ekor Sembilan
123 Bab 123: Menundukkan Rubah Ekor Sembilan
124 Bab 124: Sebuah Nama
125 Bab 125: Han Jiao
126 Bab 126: 3 VS 3
127 Bab 127: 3 VS 3 (2)
128 Bab 128: Tuan Muda Klan Ling
129 Bab 129: Ide Nekat
130 Bab 130: Gerbang Dimensi Menuju Alam Rahasia kuno
131 Bab 131: Alam Rahasia Kuno
132 Bab 132: Ras Iblis
133 Bab 133: Tetua Agung Klan Luo
134 Bab 134: Keterkejutan Yan Kai
135 Bab 135: Tubuh Yang Terbangun
136 Bab 136: Inti Jiwa Iblis
137 Bab 137: Ranah Kaisar Tahap Puncak
Episodes

Updated 137 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50 : Seminggu Setelah Pertempuran
51
Bab 51: Pil Penempa Tubuh
52
Bab 52: Menyerap Pil Penempa Tubuh
53
Bab 53: Sebuah Pesan
54
Bab 54: Ketegangan Di Sekte Bulan Darah
55
Bab 55: Perasaan Yang Familier
56
Bab 56: Cerita Terakhir Sang Naga
57
Bab 57: Kenaikan Ranah
58
Bab 58: Pergerakan Skala Besar
59
Bab 59: Benturan Pertama
60
Bab 60: Pecahnya Perang
61
Bab 61: Perkenalan Diri
62
Bab 62: Yan Kai Vs 7 Ketua Faksi
63
Bab 63: Jimat Mantra Boneka Jiwa
64
Bab 64: Yun Xi
65
Bab 65: Tiga Hari Berlalu
66
Bab 66: Gurun Pasir Emas
67
Bab 67: Lelang
68
Bab 68: Perjalanan Menuju Gurun Pasir Emas
69
Bab 69: Rintangan Di Gurun Pasir Emas
70
Bab 70: Keluhan Di Pagi Hari
71
Bab 71: Jebakan Di Tengah Gurun
72
Bab 72: Phoenix
73
Bab 73: Tindakan Darurat
74
Bab 74: Terbenamnya Matahari
75
Bab 75: Batu Misterius
76
Bab 76: Peti Mati Di Atas Altar
77
Bab 77: Membuka Peti Mati
78
Bab 78: Alkemis Tingkat 7
79
Bab 79: Kembali Ke Lembah Sunyi
80
Bab 80: Menjadi Seorang Alkemis
81
Bab 81: Masa Lalu
82
Bab 82: Bertemu Kembali
83
Bab 83: Balasan Yang Setimpal
84
Bab 84: Sekte Bunga Mawar
85
Bab 85: Guru Baru
86
Bab 86: Keputusan Ketua Liu Rong
87
Bab 87: Insiden Di Pagi Hari
88
Bab 88: Makan Malam Bersama
89
Bab 89: Satu Tahun Pelatihan
90
Bab 90: Memurnikan Pil Kaisar Langit
91
Bab 91: Fenomena Alam
92
Bab 92: Beristirahat
93
Bab 93: Sebuah Pertanyaan
94
Bab 94: Pergi Dari Sekte Bunga Mawar
95
Bab 95: Pertemuan 2 Guru Yan Kai
96
Bab 96: Menyerahkan Pil Kaisar Langit
97
Bab 97: Kepergian Liu Rong
98
Bab 98: Tubuh Dewi Teratai Es
99
Bab 99: Ranah Kaisar
100
Bab 100: Tamu Agung Di Istana Awan
101
Bab 101: Mati Saja Sana
102
Bab 102: Teknik Tingkat Langit
103
Bab 103: Munculnya Pasukan Raja Lei Zhen
104
Bab 104: 1 VS 4
105
Bab 105: 1 VS 4 (2)
106
Bab 106: Menemani Latihan
107
Bab 107: Misi Balas Dendam
108
Bab 108: Benturan 3 Kultivator Ranah Kaisar
109
Bab 109: Domain Salju Seribu Musim
110
Bab 110: Hasil Pertarungan
111
Bab 111: Terobosan Su Lian
112
Bab 112: Duel Yang Menentukan
113
Bab 113: Awal Dari Sebuah Perjalanan
114
Bab 114: Obrolan Di Perjalanan
115
Bab 115: Qilin Air
116
Bab 116: Kemunculan Sosok Yang Tak Di Duga
117
Bab 117: Meminta Maaf
118
Bab 118: Tiba Di Kekaisaran Langit Abadi
119
Bab 119: Diskusi Penting
120
Bab 120: Peta Kekuatan Kekaisaran Langit Abadi
121
Bab 121: Langkah Awal Di Kekaisaran
122
Bab 122: Rubah Ekor Sembilan
123
Bab 123: Menundukkan Rubah Ekor Sembilan
124
Bab 124: Sebuah Nama
125
Bab 125: Han Jiao
126
Bab 126: 3 VS 3
127
Bab 127: 3 VS 3 (2)
128
Bab 128: Tuan Muda Klan Ling
129
Bab 129: Ide Nekat
130
Bab 130: Gerbang Dimensi Menuju Alam Rahasia kuno
131
Bab 131: Alam Rahasia Kuno
132
Bab 132: Ras Iblis
133
Bab 133: Tetua Agung Klan Luo
134
Bab 134: Keterkejutan Yan Kai
135
Bab 135: Tubuh Yang Terbangun
136
Bab 136: Inti Jiwa Iblis
137
Bab 137: Ranah Kaisar Tahap Puncak

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!