Bab 5

Yan Kai menatap Naga Kegelapan yang masih terbelenggu oleh rantai-rantai raksasa. Meski ukuran makhluk itu begitu menggentarkan, entah mengapa ia tidak lagi merasakan ketakutan sebesar sebelumnya.

Mungkin karena kata-kata yang diucapkan sang naga telah membangkitkan secercah harapan di dalam dirinya—harapan yang selama delapan tahun perlahan terkubur oleh penghinaan, harapan untuk menjadi kuat.

Naga Kegelapan perlahan membuka mulutnya. "Kalau begitu, ulurkan tanganmu."

Yan Kai mengangguk. "Lalu?"

"Tempelkan telapak tanganmu pada tubuhku."

"Cukup itu saja?"

"Cukup." Naga itu memejamkan mata seolah sedang menenangkan napasnya. "Setelah itu, serahkan semuanya kepadaku."

Yan Kai sama sekali tidak memiliki pengalaman menghadapi makhluk seperti naga. Terlebih lagi, ia hanyalah seorang pemuda desa yang sejak kecil hidup sebagai pelayan sekte. Sedikit pun ia tidak memikirkan kemungkinan lain. Tanpa rasa curiga, ia melangkah mendekati tubuh raksasa Naga Kegelapan.

Semakin dekat ia berjalan, semakin jelas terlihat sisik-sisik hitam sang naga. Setiap keping sisik berukuran lebih besar daripada tubuh manusia dewasa, memancarkan kilau gelap yang seolah mampu menelan cahaya di sekitarnya.

Yan Kai mengangkat tangan kanannya perlahan. Karena posisi kepala naga terlalu tinggi, ia memilih menyentuhkan telapak tangannya pada pangkal sayap kanan naga tersebut.

Saat melihat tindakan polos itu, sudut bibir Naga Kegelapan perlahan terangkat. Di balik tatapan penuh wibawanya, tersimpan niat yang sama sekali berbeda.

Bocah bodoh. Benar-benar tidak memiliki sedikit pun kewaspadaan. Kau mengira aku benar-benar akan memberimu setengah kekuatanku? Mustahil.

Tatapan naga itu berubah dingin. Tubuhnya telah disegel selama ribuan tahun, dan segel para dewa itu bahkan lebih kokoh daripada yang ia bayangkan—ia tidak akan pernah mampu menghancurkannya dari dalam. Tetapi tubuh manusia ini adalah jalan keluarnya.

Di dalam benaknya, teknik kuno yang telah lama ia simpan mulai dijalankan: Teknik Pertukaran Jiwa, sebuah teknik terlarang milik Ras Naga yang memungkinkan pemiliknya merebut tubuh makhluk lain, kemudian menghancurkan jiwa pemilik tubuh tersebut. Begitu berhasil, ia akan memperoleh kebebasan. Meski kehilangan tubuh naga miliknya, setidaknya ia masih hidup, dan suatu hari nanti ia dapat membangun kembali kekuatannya.

Mulai hari ini, tubuhmu akan menjadi milikku.

Detik berikutnya, telapak tangan Yan Kai menyentuh sisik hitam di sayap sang naga.

Tap.

Hening. Tak terjadi apa pun selama sesaat.

Lalu mata Naga Kegelapan tiba-tiba membelalak.

"Apa...?!"

Belum sempat ia memahami apa yang terjadi, seluruh rune emas yang memenuhi rantai kuno mendadak menyala bersamaan.

Wuuuuung!

Seluruh Dimensi Tak Berujung bergetar hebat. Langit dipenuhi cahaya keemasan yang menyilaukan, sementara rantai-rantai raksasa mengeluarkan suara gemuruh yang mengguncang seluruh ruang.

"Tidak...!"

Ekspresi Naga Kegelapan berubah drastis. Untuk pertama kalinya sejak ribuan tahun, wajahnya dipenuhi kepanikan.

"Mustahil! Segel ini...! Segel ini bahkan..."

Belum selesai ia berbicara, api berwarna emas tiba-tiba muncul dari dalam tubuhnya. Bukan membakar sisiknya, melainkan membakar jiwanya.

"AARRRRGGGHHHHH!!"

Jeritan naga itu mengguncang seluruh dimensi. Yan Kai langsung menarik tangannya dengan kaget.

"Apa yang terjadi?! Aku... aku tidak melakukan apa-apa!"

Namun Naga Kegelapan sama sekali tidak mendengarnya. Api emas itu terus membesar. Rune-rune kuno bermunculan satu demi satu di udara, mengelilingi tubuh naga seperti ribuan bintang yang berputar. Kemudian seluruh rune itu menghantam tubuh sang naga secara bersamaan.

Boom!

"TIDAAAAAK!!"

Suara penuh kebencian dan penyesalan memenuhi langit. Barulah saat itu Naga Kegelapan menyadari kenyataan yang selama ini tidak pernah ia ketahui: segel para dewa tidak hanya mengurung tubuhnya, tetapi juga menyegel jiwanya.

Bahkan, para dewa telah meninggalkan sebuah mekanisme terakhir—begitu dirinya berniat melepaskan jiwa dari tubuh asli untuk mengambil tubuh makhluk lain, segel tersebut akan langsung menganggapnya sebagai upaya pelarian. Hukuman bagi pelanggaran itu hanya satu: pemusnahan jiwa.

"Tidak...! Aku tidak ingin mati! Aku...!"

Kalimatnya terputus. Api emas semakin membesar hingga menelan seluruh tubuh naga. Sisik-sisik hitamnya mulai retak, sayapnya perlahan berubah menjadi abu, tanduk-tanduk raksasanya hancur sedikit demi sedikit.

Jeritan yang semula mengguncang langit perlahan melemah, sampai akhirnya seluruh tubuh Naga Kegelapan benar-benar lenyap. Yang tersisa hanyalah hamparan abu hitam yang perlahan tertiup angin.

Dimensi kembali sunyi.

Yan Kai masih berdiri terpaku, wajahnya dipenuhi kebingungan.

"Apa... apa sebenarnya yang baru saja terjadi...?"

Ia sama sekali tidak memahami alasan mengapa naga itu tiba-tiba terbakar. Namun tepat ketika ia hendak melangkah mundur, hamparan abu hitam itu tiba-tiba memancarkan cahaya redup. Di tengah abu tersebut, masih tersisa seberkas energi hitam pekat sebesar kepalan tangan, berdenyut pelan, seolah masih memiliki kehidupan.

Yan Kai baru saja menyadarinya ketika tiba-tiba...

wusss!

energi hitam itu melesat sangat cepat.

"Heh?"

Belum sempat ia menghindar, energi tersebut langsung memasuki dadanya.

"Agh!"

Yan Kai memegang dadanya. Rasa dingin luar biasa menyebar ke seluruh tubuhnya, seakan darahnya berubah menjadi es. Ia terjatuh berlutut, seluruh meridian di dalam tubuhnya bergetar hebat.

Pada saat yang sama, di bagian terdalam tubuh Yan Kai, akar spiritualnya yang selama ini lemah dan nyaris tidak memiliki fungsi mulai memperlihatkan perubahan.

Energi kegelapan yang tersisa dari Naga Kegelapan perlahan meresap ke dalam akar spiritual tersebut—tidak menghancurkannya, tidak pula menguasainya. Sebaliknya, energi itu justru menyatu.

Akar spiritual Yan Kai yang semula tampak kusam dan rapuh perlahan mulai retak. Retakan itu terus melebar, namun anehnya bukan menuju kehancuran, melainkan perubahan.

Seluruh struktur akar spiritualnya mulai tersusun ulang sedikit demi sedikit, seolah ada tangan tak kasatmata yang sedang membentuk fondasi baru di dalam tubuhnya. Setiap jalur energi yang sebelumnya buntu mulai terbuka, meridian-meridian yang sempit mulai melebar.

Di pusat akar spiritualnya, muncul setitik cahaya hitam yang berdenyut perlahan. Setitik cahaya itu begitu kecil, namun di dalamnya terkandung secuil energi murni milik Naga Kegelapan—energi yang telah bertahan dari pemusnahan jiwa sang naga.

Yan Kai tidak mengetahui semua perubahan itu. Yang ia rasakan hanyalah tubuhnya menjadi sangat panas dan dingin secara bersamaan. Kesadarannya perlahan mulai memudar, dan dengan napas yang semakin berat, tubuhnya akhirnya roboh ke atas rerumputan hijau Dimensi Tak Berujung. Matanya perlahan tertutup.

Sementara jauh di dalam tubuhnya, sesuatu yang selama delapan belas tahun dianggap mustahil akhirnya mulai terlahir.

Terpopuler

Comments

Aman Wijaya

Aman Wijaya

awal dari sebuah perjalanan Yan Kai dimulai

2026-07-24

0

Momu

Momu

👍👍👍😄

2026-08-20

0

BOIEL-POINT .........

BOIEL-POINT .........

very niCe Thor .............

2026-07-12

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50 : Seminggu Setelah Pertempuran
51 Bab 51: Pil Penempa Tubuh
52 Bab 52: Menyerap Pil Penempa Tubuh
53 Bab 53: Sebuah Pesan
54 Bab 54: Ketegangan Di Sekte Bulan Darah
55 Bab 55: Perasaan Yang Familier
56 Bab 56: Cerita Terakhir Sang Naga
57 Bab 57: Kenaikan Ranah
58 Bab 58: Pergerakan Skala Besar
59 Bab 59: Benturan Pertama
60 Bab 60: Pecahnya Perang
61 Bab 61: Perkenalan Diri
62 Bab 62: Yan Kai Vs 7 Ketua Faksi
63 Bab 63: Jimat Mantra Boneka Jiwa
64 Bab 64: Yun Xi
65 Bab 65: Tiga Hari Berlalu
66 Bab 66: Gurun Pasir Emas
67 Bab 67: Lelang
68 Bab 68: Perjalanan Menuju Gurun Pasir Emas
69 Bab 69: Rintangan Di Gurun Pasir Emas
70 Bab 70: Keluhan Di Pagi Hari
71 Bab 71: Jebakan Di Tengah Gurun
72 Bab 72: Phoenix
73 Bab 73: Tindakan Darurat
74 Bab 74: Terbenamnya Matahari
75 Bab 75: Batu Misterius
76 Bab 76: Peti Mati Di Atas Altar
77 Bab 77: Membuka Peti Mati
78 Bab 78: Alkemis Tingkat 7
79 Bab 79: Kembali Ke Lembah Sunyi
80 Bab 80: Menjadi Seorang Alkemis
81 Bab 81: Masa Lalu
82 Bab 82: Bertemu Kembali
83 Bab 83: Balasan Yang Setimpal
84 Bab 84: Sekte Bunga Mawar
85 Bab 85: Guru Baru
86 Bab 86: Keputusan Ketua Liu Rong
87 Bab 87: Insiden Di Pagi Hari
88 Bab 88: Makan Malam Bersama
89 Bab 89: Satu Tahun Pelatihan
90 Bab 90: Memurnikan Pil Kaisar Langit
91 Bab 91: Fenomena Alam
92 Bab 92: Beristirahat
93 Bab 93: Sebuah Pertanyaan
94 Bab 94: Pergi Dari Sekte Bunga Mawar
95 Bab 95: Pertemuan 2 Guru Yan Kai
96 Bab 96: Menyerahkan Pil Kaisar Langit
97 Bab 97: Kepergian Liu Rong
98 Bab 98: Tubuh Dewi Teratai Es
99 Bab 99: Ranah Kaisar
100 Bab 100: Tamu Agung Di Istana Awan
101 Bab 101: Mati Saja Sana
102 Bab 102: Teknik Tingkat Langit
103 Bab 103: Munculnya Pasukan Raja Lei Zhen
104 Bab 104: 1 VS 4
105 Bab 105: 1 VS 4 (2)
106 Bab 106: Menemani Latihan
107 Bab 107: Misi Balas Dendam
108 Bab 108: Benturan 3 Kultivator Ranah Kaisar
109 Bab 109: Domain Salju Seribu Musim
110 Bab 110: Hasil Pertarungan
111 Bab 111: Terobosan Su Lian
112 Bab 112: Duel Yang Menentukan
113 Bab 113: Awal Dari Sebuah Perjalanan
114 Bab 114: Obrolan Di Perjalanan
115 Bab 115: Qilin Air
116 Bab 116: Kemunculan Sosok Yang Tak Di Duga
117 Bab 117: Meminta Maaf
118 Bab 118: Tiba Di Kekaisaran Langit Abadi
119 Bab 119: Diskusi Penting
120 Bab 120: Peta Kekuatan Kekaisaran Langit Abadi
121 Bab 121: Langkah Awal Di Kekaisaran
122 Bab 122: Rubah Ekor Sembilan
123 Bab 123: Menundukkan Rubah Ekor Sembilan
124 Bab 124: Sebuah Nama
125 Bab 125: Han Jiao
126 Bab 126: 3 VS 3
127 Bab 127: 3 VS 3 (2)
128 Bab 128: Tuan Muda Klan Ling
129 Bab 129: Ide Nekat
130 Bab 130: Gerbang Dimensi Menuju Alam Rahasia kuno
131 Bab 131: Alam Rahasia Kuno
132 Bab 132: Ras Iblis
133 Bab 133: Tetua Agung Klan Luo
134 Bab 134: Keterkejutan Yan Kai
135 Bab 135: Tubuh Yang Terbangun
136 Bab 136: Inti Jiwa Iblis
137 Bab 137: Ranah Kaisar Tahap Puncak
Episodes

Updated 137 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50 : Seminggu Setelah Pertempuran
51
Bab 51: Pil Penempa Tubuh
52
Bab 52: Menyerap Pil Penempa Tubuh
53
Bab 53: Sebuah Pesan
54
Bab 54: Ketegangan Di Sekte Bulan Darah
55
Bab 55: Perasaan Yang Familier
56
Bab 56: Cerita Terakhir Sang Naga
57
Bab 57: Kenaikan Ranah
58
Bab 58: Pergerakan Skala Besar
59
Bab 59: Benturan Pertama
60
Bab 60: Pecahnya Perang
61
Bab 61: Perkenalan Diri
62
Bab 62: Yan Kai Vs 7 Ketua Faksi
63
Bab 63: Jimat Mantra Boneka Jiwa
64
Bab 64: Yun Xi
65
Bab 65: Tiga Hari Berlalu
66
Bab 66: Gurun Pasir Emas
67
Bab 67: Lelang
68
Bab 68: Perjalanan Menuju Gurun Pasir Emas
69
Bab 69: Rintangan Di Gurun Pasir Emas
70
Bab 70: Keluhan Di Pagi Hari
71
Bab 71: Jebakan Di Tengah Gurun
72
Bab 72: Phoenix
73
Bab 73: Tindakan Darurat
74
Bab 74: Terbenamnya Matahari
75
Bab 75: Batu Misterius
76
Bab 76: Peti Mati Di Atas Altar
77
Bab 77: Membuka Peti Mati
78
Bab 78: Alkemis Tingkat 7
79
Bab 79: Kembali Ke Lembah Sunyi
80
Bab 80: Menjadi Seorang Alkemis
81
Bab 81: Masa Lalu
82
Bab 82: Bertemu Kembali
83
Bab 83: Balasan Yang Setimpal
84
Bab 84: Sekte Bunga Mawar
85
Bab 85: Guru Baru
86
Bab 86: Keputusan Ketua Liu Rong
87
Bab 87: Insiden Di Pagi Hari
88
Bab 88: Makan Malam Bersama
89
Bab 89: Satu Tahun Pelatihan
90
Bab 90: Memurnikan Pil Kaisar Langit
91
Bab 91: Fenomena Alam
92
Bab 92: Beristirahat
93
Bab 93: Sebuah Pertanyaan
94
Bab 94: Pergi Dari Sekte Bunga Mawar
95
Bab 95: Pertemuan 2 Guru Yan Kai
96
Bab 96: Menyerahkan Pil Kaisar Langit
97
Bab 97: Kepergian Liu Rong
98
Bab 98: Tubuh Dewi Teratai Es
99
Bab 99: Ranah Kaisar
100
Bab 100: Tamu Agung Di Istana Awan
101
Bab 101: Mati Saja Sana
102
Bab 102: Teknik Tingkat Langit
103
Bab 103: Munculnya Pasukan Raja Lei Zhen
104
Bab 104: 1 VS 4
105
Bab 105: 1 VS 4 (2)
106
Bab 106: Menemani Latihan
107
Bab 107: Misi Balas Dendam
108
Bab 108: Benturan 3 Kultivator Ranah Kaisar
109
Bab 109: Domain Salju Seribu Musim
110
Bab 110: Hasil Pertarungan
111
Bab 111: Terobosan Su Lian
112
Bab 112: Duel Yang Menentukan
113
Bab 113: Awal Dari Sebuah Perjalanan
114
Bab 114: Obrolan Di Perjalanan
115
Bab 115: Qilin Air
116
Bab 116: Kemunculan Sosok Yang Tak Di Duga
117
Bab 117: Meminta Maaf
118
Bab 118: Tiba Di Kekaisaran Langit Abadi
119
Bab 119: Diskusi Penting
120
Bab 120: Peta Kekuatan Kekaisaran Langit Abadi
121
Bab 121: Langkah Awal Di Kekaisaran
122
Bab 122: Rubah Ekor Sembilan
123
Bab 123: Menundukkan Rubah Ekor Sembilan
124
Bab 124: Sebuah Nama
125
Bab 125: Han Jiao
126
Bab 126: 3 VS 3
127
Bab 127: 3 VS 3 (2)
128
Bab 128: Tuan Muda Klan Ling
129
Bab 129: Ide Nekat
130
Bab 130: Gerbang Dimensi Menuju Alam Rahasia kuno
131
Bab 131: Alam Rahasia Kuno
132
Bab 132: Ras Iblis
133
Bab 133: Tetua Agung Klan Luo
134
Bab 134: Keterkejutan Yan Kai
135
Bab 135: Tubuh Yang Terbangun
136
Bab 136: Inti Jiwa Iblis
137
Bab 137: Ranah Kaisar Tahap Puncak

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!