Yan Kai

Yan Kai

Bab 1

Kabut pagi yang tipis masih menyelimuti lereng Pegunungan Bambu ketika lonceng Sekte Hutan Bambu berdentang perlahan, bergema di antara hamparan bambu hijau yang menjulang tinggi.

Angin menerpa dedaunan hingga saling bergesekan, menghasilkan desiran yang terdengar damai bagi siapa pun yang mendengarnya—kecuali bagi seorang pemuda yang tengah memanggul dua ember air besar di atas pundaknya, dengan kedua lengan gemetar menahan beban.

Pakaian abu-abunya yang lusuh telah basah oleh keringat, sementara telapak tangannya dipenuhi kapalan dan luka lama yang belum sempat mengering. Meski usianya baru delapan belas tahun, wajahnya terlihat jauh lebih dewasa daripada anak seusianya. Kehidupan telah mengikis senyum dari wajah itu bertahun-tahun yang lalu.

Namanya Yan Kai. Seorang pelayan Sekte Hutan Bambu—bukan murid luar, bukan murid dalam, apalagi murid inti. Hanya seorang pelayan. Setiap hari sebelum matahari terbit, ia sudah harus bangun untuk mengambil air dari mata air di kaki gunung, membersihkan aula utama, mencuci pakaian para murid, memotong kayu bakar, memasak di dapur, mengantar makanan, hingga membersihkan kandang binatang.

Pekerjaan itu baru selesai ketika malam telah larut, tanpa hari libur, tanpa ucapan terima kasih—yang ada hanyalah perintah demi perintah.

"Yan Kai! Cepat bersihkan halaman timur!"

"Yan Kai! Kayu bakarnya kurang!"

"Yan Kai! Air mandiku masih dingin!"

Semua orang memanggil namanya, tetapi tidak satu pun yang benar-benar menganggapnya sebagai manusia. Bagi mereka, Yan Kai hanyalah seorang pelayan rendahan.

Ketika ia sedang membawa ember air melewati lapangan latihan, terdengar suara tawa beberapa murid luar.

"Lihat, si sampah itu lewat."

"Hahaha... delapan tahun tinggal di sekte, tetap saja tidak bisa berkultivasi."

"Mana mungkin bisa? Dia cuma pelayan."

Salah seorang murid tiba-tiba mengulurkan kaki.

Bruk!

Tubuh Yan Kai langsung tersungkur ke tanah, ember di kedua sisinya terlempar, dan air yang ia angkut dengan susah payah tumpah membasahi jalan berbatu. Pemuda itu terdiam beberapa saat—bukan karena marah, melainkan karena ia sudah tahu apa yang akan terjadi berikutnya.

Gelak tawa langsung memenuhi halaman. Seorang murid bertubuh tinggi berjalan mendekat, lalu menginjak salah satu ember kayu hingga penyok.

"Apa kau sengaja menjatuhkannya? Air itu harus kau ambil lagi dari bawah gunung."

Yan Kai perlahan bangkit. Lututnya berdarah akibat menghantam batu tajam, tetapi ia hanya menundukkan kepala. "Maaf," katanya pelan.

Jawaban itu justru membuat mereka tertawa semakin keras.

"Lihat dia, tak punya harga diri."

"Kalau aku jadi dia, lebih baik bunuh diri saja."

Ucapan itu menusuk jauh lebih dalam daripada luka di lututnya. Yan Kai mengepalkan tangan di balik lengan bajunya hingga kuku-kukunya menancap ke telapak sendiri. Bukan sekali dua kali ia mendengar kata-kata seperti itu—setiap hari, selama delapan tahun, ia sudah terbiasa. Atau setidaknya, ia memaksa dirinya untuk terbiasa.

Salah seorang murid mengambil sapu bambu yang tergeletak di dekat halaman, lalu memukulkannya ke punggung Yan Kai.

Plak!

"Jangan cuma diam! Bersihkan air itu! Apa kau ingin kami terpeleset?"

Yan Kai menahan rasa sakit, segera mengambil kain lap, dan membersihkan halaman tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Murid-murid itu kembali tertawa sebelum akhirnya pergi menuju arena latihan, meninggalkan halaman yang kembali sunyi.

Yan Kai memandangi pantulan wajahnya di genangan air yang belum sempat mengering—wajah pucat, rambut hitam yang berantakan, sepasang mata yang telah kehilangan cahaya. Tak ada sedikit pun kemiripan dengan para murid sekte yang penuh semangat mengejar impian menjadi pendekar hebat.

Dahulu, ia juga pernah memiliki mimpi seperti itu.

Delapan tahun yang lalu, saat usianya baru menginjak sepuluh tahun, Yan Kai masih tinggal di sebuah desa kecil yang damai bersama kedua orang tuanya.

Ayahnya adalah seorang pedagang kain sederhana yang selalu membawa pulang makanan kesukaan Yan Kai setiap kali kembali dari kota. Ibunya adalah wanita lembut yang sering duduk di depan rumah sambil menjahit pakaian, dengan senyum yang selalu membuat rumah kecil mereka terasa hangat.

Kehidupan mereka memang sederhana, tetapi Yan Kai tidak pernah merasa kekurangan. Sampai suatu hari, ibunya jatuh sakit. Penyakit itu datang tanpa peringatan, dan tubuh wanita itu semakin kurus dari hari ke hari.

Semua tabungan keluarga habis untuk membeli obat, tetapi tidak ada tabib yang mampu menyembuhkannya. Pada malam terakhirnya, sang ibu menggenggam tangan Yan Kai yang masih kecil.

"Kai'er... jadilah anak yang kuat. Itu... keinginan ibu."

Senyumnya begitu lembut. Namun sesaat kemudian, genggaman tangan itu perlahan melemah, dan untuk selamanya menghilang. Hari itu, dunia Yan Kai runtuh untuk pertama kalinya.

Ayahnya berusaha tetap tegar demi putra semata wayangnya. Ia bekerja lebih keras, bahkan menerima perjalanan dagang yang lebih jauh demi mendapatkan uang.

Namun takdir kembali menunjukkan kekejamannya: di tengah perjalanan menuju kota, rombongan dagang yang diikuti ayah Yan Kai disergap oleh sekelompok bandit gunung. Tak seorang pun selamat. Yang kembali ke desa hanyalah pedang patah milik ayahnya, berlumuran darah yang telah mengering.

Dalam waktu kurang dari satu bulan, Yan Kai kehilangan kedua orang tuanya. Sejak saat itu, ia menjadi anak yatim piatu. Tak ada keluarga yang bersedia merawatnya—sebagian tetangga memang merasa iba, tetapi mereka sendiri hidup dalam kemiskinan.

Pada akhirnya, seorang tetua dari Sekte Hutan Bambu yang sedang melewati desa melihat bocah kurus itu duduk seorang diri di depan makam kedua orang tuanya. Karena belas kasihan, tetua tersebut membawa Yan Kai ke Sekte Hutan Bambu.

Saat itu, Yan Kai kecil benar-benar percaya bahwa hidupnya akan berubah. Ia membayangkan dirinya belajar ilmu pedang, berlatih bersama murid-murid lain, menjadi pendekar hebat yang melindungi orang-orang yang ia cintai agar tragedi seperti yang menimpa keluarganya tidak pernah terulang lagi.

Namun mimpi itu hancur bahkan sebelum sempat dimulai. Setelah dilakukan pemeriksaan bakat, para tetua menemukan bahwa Yan Kai memiliki akar spiritual yang sangat lemah, bahkan nyaris tidak dapat digunakan untuk berkultivasi. Dalam sekejap, semua harapan menghilang. Tidak ada yang bersedia menerima anak tanpa bakat sebagai murid.

Akhirnya, Yan Kai ditempatkan sebagai pelayan sekte.

"Setidaknya dia masih bisa bekerja."

"Itu lebih berguna daripada mengusirnya."

Kalimat itulah yang mengubah seluruh jalan hidupnya. Sejak usia sepuluh tahun hingga kini delapan belas tahun, Yan Kai hidup bukan sebagai murid, melainkan sebagai bayangan yang tak pernah dianggap ada.

Ia menyaksikan anak-anak yang dahulu datang bersamanya satu per satu tumbuh menjadi murid luar, murid dalam, bahkan beberapa telah menjadi murid inti yang dihormati. Sementara dirinya masih memanggul ember, masih menyapu halaman, masih menjadi sasaran hinaan dan pukulan setiap hari.

Di bawah langit biru Sekte Hutan Bambu yang tampak begitu megah, Yan Kai mengangkat kembali kedua ember kayunya yang telah penyok. Bahunya terasa nyeri, lututnya masih berdarah, tetapi ia tetap melangkah menuruni jalan setapak menuju mata air di kaki gunung.

Terpopuler

Comments

Blueria

Blueria

Mulai baca, lagi ngga mood nulis😁

2026-08-17

0

Haryo pambayun

Haryo pambayun

nganu...bagus gak novel ini...
coba kita cek doeloe....hhh

2026-08-25

0

long pu

long pu

umur mc 18 sudah terlalu tua buat perkembangan cerita..skip

2026-08-17

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1
2 Bab 2
3 Bab 3
4 Bab 4
5 Bab 5
6 Bab 6
7 Bab 7
8 Bab 8
9 Bab 9
10 Bab 10
11 Bab 11
12 Bab 12
13 Bab 13
14 Bab 14
15 Bab 15
16 Bab 16
17 Bab 17
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21
22 Bab 22
23 Bab 23
24 Bab 24
25 Bab 25
26 Bab 26
27 Bab 27
28 Bab 28
29 Bab 29
30 Bab 30
31 Bab 31
32 Bab 32
33 Bab 33
34 Bab 34
35 Bab 35
36 Bab 36
37 Bab 37
38 Bab 38
39 Bab 39
40 Bab 40
41 Bab 41
42 Bab 42
43 Bab 43
44 Bab 44
45 Bab 45
46 Bab 46
47 Bab 47
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50 : Seminggu Setelah Pertempuran
51 Bab 51: Pil Penempa Tubuh
52 Bab 52: Menyerap Pil Penempa Tubuh
53 Bab 53: Sebuah Pesan
54 Bab 54: Ketegangan Di Sekte Bulan Darah
55 Bab 55: Perasaan Yang Familier
56 Bab 56: Cerita Terakhir Sang Naga
57 Bab 57: Kenaikan Ranah
58 Bab 58: Pergerakan Skala Besar
59 Bab 59: Benturan Pertama
60 Bab 60: Pecahnya Perang
61 Bab 61: Perkenalan Diri
62 Bab 62: Yan Kai Vs 7 Ketua Faksi
63 Bab 63: Jimat Mantra Boneka Jiwa
64 Bab 64: Yun Xi
65 Bab 65: Tiga Hari Berlalu
66 Bab 66: Gurun Pasir Emas
67 Bab 67: Lelang
68 Bab 68: Perjalanan Menuju Gurun Pasir Emas
69 Bab 69: Rintangan Di Gurun Pasir Emas
70 Bab 70: Keluhan Di Pagi Hari
71 Bab 71: Jebakan Di Tengah Gurun
72 Bab 72: Phoenix
73 Bab 73: Tindakan Darurat
74 Bab 74: Terbenamnya Matahari
75 Bab 75: Batu Misterius
76 Bab 76: Peti Mati Di Atas Altar
77 Bab 77: Membuka Peti Mati
78 Bab 78: Alkemis Tingkat 7
79 Bab 79: Kembali Ke Lembah Sunyi
80 Bab 80: Menjadi Seorang Alkemis
81 Bab 81: Masa Lalu
82 Bab 82: Bertemu Kembali
83 Bab 83: Balasan Yang Setimpal
84 Bab 84: Sekte Bunga Mawar
85 Bab 85: Guru Baru
86 Bab 86: Keputusan Ketua Liu Rong
87 Bab 87: Insiden Di Pagi Hari
88 Bab 88: Makan Malam Bersama
89 Bab 89: Satu Tahun Pelatihan
90 Bab 90: Memurnikan Pil Kaisar Langit
91 Bab 91: Fenomena Alam
92 Bab 92: Beristirahat
93 Bab 93: Sebuah Pertanyaan
94 Bab 94: Pergi Dari Sekte Bunga Mawar
95 Bab 95: Pertemuan 2 Guru Yan Kai
96 Bab 96: Menyerahkan Pil Kaisar Langit
97 Bab 97: Kepergian Liu Rong
98 Bab 98: Tubuh Dewi Teratai Es
99 Bab 99: Ranah Kaisar
100 Bab 100: Tamu Agung Di Istana Awan
101 Bab 101: Mati Saja Sana
102 Bab 102: Teknik Tingkat Langit
103 Bab 103: Munculnya Pasukan Raja Lei Zhen
104 Bab 104: 1 VS 4
105 Bab 105: 1 VS 4 (2)
106 Bab 106: Menemani Latihan
107 Bab 107: Misi Balas Dendam
108 Bab 108: Benturan 3 Kultivator Ranah Kaisar
109 Bab 109: Domain Salju Seribu Musim
110 Bab 110: Hasil Pertarungan
111 Bab 111: Terobosan Su Lian
112 Bab 112: Duel Yang Menentukan
113 Bab 113: Awal Dari Sebuah Perjalanan
114 Bab 114: Obrolan Di Perjalanan
115 Bab 115: Qilin Air
116 Bab 116: Kemunculan Sosok Yang Tak Di Duga
117 Bab 117: Meminta Maaf
118 Bab 118: Tiba Di Kekaisaran Langit Abadi
119 Bab 119: Diskusi Penting
120 Bab 120: Peta Kekuatan Kekaisaran Langit Abadi
121 Bab 121: Langkah Awal Di Kekaisaran
122 Bab 122: Rubah Ekor Sembilan
123 Bab 123: Menundukkan Rubah Ekor Sembilan
124 Bab 124: Sebuah Nama
125 Bab 125: Han Jiao
126 Bab 126: 3 VS 3
127 Bab 127: 3 VS 3 (2)
128 Bab 128: Tuan Muda Klan Ling
129 Bab 129: Ide Nekat
130 Bab 130: Gerbang Dimensi Menuju Alam Rahasia kuno
131 Bab 131: Alam Rahasia Kuno
132 Bab 132: Ras Iblis
133 Bab 133: Tetua Agung Klan Luo
134 Bab 134: Keterkejutan Yan Kai
135 Bab 135: Tubuh Yang Terbangun
136 Bab 136: Inti Jiwa Iblis
137 Bab 137: Ranah Kaisar Tahap Puncak
Episodes

Updated 137 Episodes

1
Bab 1
2
Bab 2
3
Bab 3
4
Bab 4
5
Bab 5
6
Bab 6
7
Bab 7
8
Bab 8
9
Bab 9
10
Bab 10
11
Bab 11
12
Bab 12
13
Bab 13
14
Bab 14
15
Bab 15
16
Bab 16
17
Bab 17
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21
22
Bab 22
23
Bab 23
24
Bab 24
25
Bab 25
26
Bab 26
27
Bab 27
28
Bab 28
29
Bab 29
30
Bab 30
31
Bab 31
32
Bab 32
33
Bab 33
34
Bab 34
35
Bab 35
36
Bab 36
37
Bab 37
38
Bab 38
39
Bab 39
40
Bab 40
41
Bab 41
42
Bab 42
43
Bab 43
44
Bab 44
45
Bab 45
46
Bab 46
47
Bab 47
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50 : Seminggu Setelah Pertempuran
51
Bab 51: Pil Penempa Tubuh
52
Bab 52: Menyerap Pil Penempa Tubuh
53
Bab 53: Sebuah Pesan
54
Bab 54: Ketegangan Di Sekte Bulan Darah
55
Bab 55: Perasaan Yang Familier
56
Bab 56: Cerita Terakhir Sang Naga
57
Bab 57: Kenaikan Ranah
58
Bab 58: Pergerakan Skala Besar
59
Bab 59: Benturan Pertama
60
Bab 60: Pecahnya Perang
61
Bab 61: Perkenalan Diri
62
Bab 62: Yan Kai Vs 7 Ketua Faksi
63
Bab 63: Jimat Mantra Boneka Jiwa
64
Bab 64: Yun Xi
65
Bab 65: Tiga Hari Berlalu
66
Bab 66: Gurun Pasir Emas
67
Bab 67: Lelang
68
Bab 68: Perjalanan Menuju Gurun Pasir Emas
69
Bab 69: Rintangan Di Gurun Pasir Emas
70
Bab 70: Keluhan Di Pagi Hari
71
Bab 71: Jebakan Di Tengah Gurun
72
Bab 72: Phoenix
73
Bab 73: Tindakan Darurat
74
Bab 74: Terbenamnya Matahari
75
Bab 75: Batu Misterius
76
Bab 76: Peti Mati Di Atas Altar
77
Bab 77: Membuka Peti Mati
78
Bab 78: Alkemis Tingkat 7
79
Bab 79: Kembali Ke Lembah Sunyi
80
Bab 80: Menjadi Seorang Alkemis
81
Bab 81: Masa Lalu
82
Bab 82: Bertemu Kembali
83
Bab 83: Balasan Yang Setimpal
84
Bab 84: Sekte Bunga Mawar
85
Bab 85: Guru Baru
86
Bab 86: Keputusan Ketua Liu Rong
87
Bab 87: Insiden Di Pagi Hari
88
Bab 88: Makan Malam Bersama
89
Bab 89: Satu Tahun Pelatihan
90
Bab 90: Memurnikan Pil Kaisar Langit
91
Bab 91: Fenomena Alam
92
Bab 92: Beristirahat
93
Bab 93: Sebuah Pertanyaan
94
Bab 94: Pergi Dari Sekte Bunga Mawar
95
Bab 95: Pertemuan 2 Guru Yan Kai
96
Bab 96: Menyerahkan Pil Kaisar Langit
97
Bab 97: Kepergian Liu Rong
98
Bab 98: Tubuh Dewi Teratai Es
99
Bab 99: Ranah Kaisar
100
Bab 100: Tamu Agung Di Istana Awan
101
Bab 101: Mati Saja Sana
102
Bab 102: Teknik Tingkat Langit
103
Bab 103: Munculnya Pasukan Raja Lei Zhen
104
Bab 104: 1 VS 4
105
Bab 105: 1 VS 4 (2)
106
Bab 106: Menemani Latihan
107
Bab 107: Misi Balas Dendam
108
Bab 108: Benturan 3 Kultivator Ranah Kaisar
109
Bab 109: Domain Salju Seribu Musim
110
Bab 110: Hasil Pertarungan
111
Bab 111: Terobosan Su Lian
112
Bab 112: Duel Yang Menentukan
113
Bab 113: Awal Dari Sebuah Perjalanan
114
Bab 114: Obrolan Di Perjalanan
115
Bab 115: Qilin Air
116
Bab 116: Kemunculan Sosok Yang Tak Di Duga
117
Bab 117: Meminta Maaf
118
Bab 118: Tiba Di Kekaisaran Langit Abadi
119
Bab 119: Diskusi Penting
120
Bab 120: Peta Kekuatan Kekaisaran Langit Abadi
121
Bab 121: Langkah Awal Di Kekaisaran
122
Bab 122: Rubah Ekor Sembilan
123
Bab 123: Menundukkan Rubah Ekor Sembilan
124
Bab 124: Sebuah Nama
125
Bab 125: Han Jiao
126
Bab 126: 3 VS 3
127
Bab 127: 3 VS 3 (2)
128
Bab 128: Tuan Muda Klan Ling
129
Bab 129: Ide Nekat
130
Bab 130: Gerbang Dimensi Menuju Alam Rahasia kuno
131
Bab 131: Alam Rahasia Kuno
132
Bab 132: Ras Iblis
133
Bab 133: Tetua Agung Klan Luo
134
Bab 134: Keterkejutan Yan Kai
135
Bab 135: Tubuh Yang Terbangun
136
Bab 136: Inti Jiwa Iblis
137
Bab 137: Ranah Kaisar Tahap Puncak

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!