Bab 2. Hinaan yang Membuat Kuat

Pagi berikutnya, matahari Desa Sukamaju kembali bersinar terang. Bumi sudah berada di area sekitar pasar desa, memanggul cangkulnya. Rencananya hari ini ia ingin menawarkan jasa membersihkan selokan atau ladang milik warga pasar. Sambil berjalan, ia tersenyum ramah setiap kali berpapasan dengan tetangga yang dikenalnya. Namun, suasana tenang itu mendadak pecah saat ia melewati warung kopi di pojok pasar, tempat nongkrong favorit anak-anak muda desa yang pengangguran.

"Eh, liat tuh! Si kuli panggul abadi udah lewat!" teriak sebuah suara lantang yang sangat akrab di telinga Bumi.

Itu suara Doni, anak Kepala Desa Sukamaju. Doni sedang duduk menyilangkan kaki di bangku warung, dikelilingi oleh beberapa temannya dan dua orang gadis desa yang terkenal centil, berpenampilan menor dengan pakaian yang sok modis.

"Wah, pagi-pagi udah bawa cangkul aja, Bum. Mau gali kuburan sendiri ya?" timpal joni, salah satu kaki tangan Doni, disambut gelak tawa riuh dari yang lain.

Bumi menghentikan langkahnya sebentar, menoleh, lalu mengangguk sopan. "Selamat pagi, Don, Jon. Enggak, ini mau nyari kerjaan bakti atau bersihin ladang orang kalau ada yang butuh."

"Halah, sok rajin banget sih lu! Kerjaan serabutan aja bangga. Sampai mampus juga hidup lu bakal gitu-gitu aja, tinggal di rumah reot yang bentar lagi ambruk!" sahut Doni dengan nada sinis, matanya menatap Bumi dengan penuh kebencian.

"Iya ih, najis banget deh. Tiap hari baunya bau keringat melulu. Gak ada keren-kerennya jadi cowok," celetuk rina, salah satu gadis yang sedang asyik mengikir kukunya.

"Betul banget, Rin. Gak level banget sama kita-kita. Kulitnya aja udah dekil kayak aspal jalanan," tambah mita, temannya, sambil tertawa cekikikan sambil menutup mulutnya dengan tangan yang memakai cincin imitasi.

Bumi hanya menghela napas pendek. Ia sudah sangat biasa menerima perlakuan seperti ini dari anak-anak muda seumurannya. Sifat sabarnya yang sudah terlatih sejak kecil membuatnya tidak mudah terpancing emosi.

"Ya gak apa-apa, Rin, Mit. Namanya juga cari nafkah yang halal, yang penting gak minta-minta atau ngerugiin orang lain," jawab Bumi dengan nada suara yang tetap tenang dan datar.

Mendengar jawaban Bumi yang begitu tenang, Doni justru makin naik pitam. Ia berdiri dari bangkunya, lalu melangkah menghampiri Bumi dengan berkacak pinggang. Tatapan matanya sangat sinis.

"Lu gak usah sok suci ya, Bum! Lu pikir gua gak tahu kelakuan lu kemarin sore?" gertak Doni, wajahnya mendekat ke wajah Bumi.

Bumi agak bingung. "Kelakuan yang mana, Don? Kemarin sore saya cuma nyabit rumput di belakang rumah Pak Haji Somad."

"Nah, itu dia! Lu sengaja kan nyari muka di depan Pak Haji? Terus lu godain Siti juga, kan? Pake acara makan pisang goreng bareng segala!" bentak Doni, nada suaranya meninggi, dipenuhi rasa cemburu yang membara.

"Oh, soal itu. Neng Siti cuma anterin minum sama camilan atas perintah Pak Haji, Don. Saya gak ada maksud menggoda sama sekali. Saya tahu diri siapa saya," jelas Bumi, berusaha meluruskan kesalahpahaman.

"Halah, bohong lu! Lu tuh cuma kuli sabit rumput miskin, gak usah mimpi ketinggian dapetin Siti! Siti itu cuma cocok sama gua, anak Kepala Desa! Bukan sama anak yatim piatu yang rumahnya kayak kandang kambing kayak lu!" teriak Doni sambil mendorong bahu Bumi cukup keras.

Bumi agak terhuyung ke belakang akibat dorongan itu, namun ia segera menyeimbangkan badannya. Cangkul di pundaknya diturunkan perlahan, diletakkan di tanah agar tidak membahayakan orang lain. Warga pasar yang lewat mulai menoleh ke arah mereka, tetapi tidak ada yang berani ikut campur karena tahu Doni adalah anak orang berkuasa di desa itu.

"Don, kalau kamu suka sama Neng Siti, ya silakan dekati baik-baik. Gak usah bawa-bawa status sosial saya, apalagi bawa-bawa mendiang orang tua saya," kata Bumi, kali ini dengan tatapan mata yang tegas namun tetap terkontrol, tanpa ada nada amarah yang meledak-ledak.

"Wah, berani lu ngelawan gua sekarang? Hebat ya lu semenjak dikasih perhatian sama Siti!" Joni ikut berdiri, memprovokasi suasana agar makin panas.

"Sudahlah, Don, Jon. Saya ke sini mau nyari kerja, bukan mau berantem. Permisi," ucap Bumi sambil kembali memungut cangkulnya, bersiap untuk pergi dari tempat itu.

"Heh, miskin! Jangan kabur lu! Dengerin ya, seisi desa ini juga tahu kalau lu itu cuma benalu di Desa Sukamaju! Gak punya masa depan!" teriak Doni lagi, masih berusaha memancing amarah Bumi.

Rina dan Mita kembali tertawa mengejek dari bangku warung. "Iya, mending pulang aja deh, Bum. Sadar diri, ngaca di air keruh sana! Hahaha!"

Bumi terus berjalan menjauh, mengabaikan segala makian dan tawa ejekan yang menggema di belakangnya. Di sepanjang jalan pasar, beberapa warga desa yang terkenal sombong dan bermulut tajam yang kebetulan mendengar keributan itu ikut menatap Bumi dengan pandangan merendahkan.

"Kasihan ya si Bumi, udah miskin, dihina-hina begitu tiap hari," bisik seorang ibu penjual sayur kepada temannya, namun suaranya cukup keras hingga terdengar oleh Bumi.

"Ya lagian dia gak tahu diri sih, berani-beraninya deketin Siti anak Pak Haji. Ya jelas Doni ngamuk lah," sahut temannya yang mengenakan kalung emas tebal di lehernya.

Bumi tetap melangkah dengan kepala tegak. Di dalam hatinya, ia sama sekali tidak merasa dendam atau berniat membalas. Baginya, kata-kata kasar dan hinaan itu justru menjadi pengingat bahwa ia harus bekerja lebih keras lagi, lebih tekun lagi, agar bisa memperbaiki kehidupannya suatu saat nanti.

"Bumi! Eh, Bumi, tunggu dulu!" panggil seorang bapak-bapak paruh baya dari arah ladang jagung di pinggir pasar. Itu Pak jaya, salah satu petani di desa.

Bumi menoleh dan tersenyum. "Eh, Pak Jaya. Ada apa, Pak?"

"Itu... tadi bapak gak sengaja dengar si Doni ngomong kasar banget sama kamu di warung kopi depan. Kamu gak apa-apa, Bum?" tanya Pak Jaya dengan raut wajah khawatir sekaligus simpati.

"Gak apa-apa kok, Pak. Sudah biasa. Anggap aja angin lalu," jawab Bumi santai, sambil mengusap pelipisnya yang mulai terasa hangat oleh sinar matahari.

"Kamu ini bener-bener sabar ya, Bum. Kalau bapak jadi kamu, mungkin sudah bapak hantam si Doni pakai gagang cangkul itu. Sombong sekali itu anak, mentang-mentang bapaknya Kepala Desa," ketus Pak Jaya kesal sendiri.

"Hahaha, jangan, Pak. Nanti urusannya malah panjang sama hukum. Mending sabar aja. Hinaan mereka gak bikin saya kenyang, dan gak bikin saya makin miskin juga kok. Yang penting saya tetap kerja keras."

Pak Jaya menggeleng-gelengkan kepalanya, kagum dengan keteguhan hati pemuda di depannya ini. "Luar biasa kamu, Bum. Mental kamu benar-benar kuat. Oh ya, kamu tadi nyari kerjaan kan?"

"Iya, Pak. Kebetulan hari ini jadwal bangunan lagi kosong. Ada yang bisa saya bantu di ladang Bapak?" tanya Bumi dengan mata yang berbinar penuh harap.

"Itu, saluran irigasi di ujung ladang jagung bapak mampet gara-gara tumpukan lumpur sama sampah daun kering. Kamu bisa tolong bersihin pakai cangkulmu itu? Nanti bapak upah sewajarnya."

"Wah, bisa banget, Pak! Jangankan lumpur, rumput liar juga saya babat kalau ada. Di sebelah mana jalurnya, Pak?"

"Ayo ikut bapak ke belakang. Sekalian nanti kalau sudah selesai, ada sisa panen singkong, kamu bawa pulang aja buat direbus di rumah."

"Alhamdulillah, terima kasih banyak ya, Pak Jaya. Rezeki emang gak kemana," ucap Bumi dengan tulus.

Sambil berjalan mengikuti Pak Jaya menuju area ladang, Bumi kembali memikirkan kata-kata Doni dan gadis-gadis tadi. Hinaan mereka sama sekali tidak mengurangi rasa percaya dirinya. Bagi Bumi, setiap kata merendahkan yang ia terima hari ini adalah bahan bakar untuk membuatnya tetap bertahan, bekerja secara tekun, dan membuktikan pada dirinya sendiri bahwa anak seorang yatim piatu yang serabutan pun bisa hidup mandiri dengan terhormat tanpa harus mengemis pada siapapun.

"Nah, ini dia jalurnya, Bum. Agak panjang ya, sampai ke pembatas desa sebelah," kata Pak Jaya sambil menunjuk parit kecil yang dipenuhi lumpur hitam.

"Siap, Pak Jaya. Ini mah gampang. Bapak tinggal tunggu beres aja, biar saya yang selesaikan semuanya sampai airnya lancar lagi," jawab Bumi penuh semangat, langsung mengayunkan cangkulnya ke dalam parit, memulai pekerjaannya hari itu dengan hati yang lapang dan damai.

Terpopuler

Comments

Djafar Suwito

Djafar Suwito

Bagus pemaparan alur ceritanya, tapi ada beberapa kesalahan penulisan huruf, yang seharusnya huruf kapital memakai huruf kecil. 🙏

2026-08-24

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Awal Mula
2 Bab 2. Hinaan yang Membuat Kuat
3 Bab 3. Fitnah yang Kejam
4 Bab 4. Pengusiran
5 Bab 5. Pergi dari Desa
6 Bab 6. Orang Baik Selalu Mendapat Karma Baik
7 Bab 7. Selamat Datang di Ibu Kota
8 Bab 8. Kerja Terus dan Kerja
9 Bab 9. Tempat Tinggal Pertama
10 Bab 10. Bertemu Alya
11 Bab 11. Preman Pasar
12 Bab 12. Perhatian Alya, Part 1.
13 Bab 13. Perhatian Alaya, Part 2.
14 Bab 14. Hidup Harus Terus Berlanjut
15 Bab 15. Bertemu Kakek Misterius
16 Bab 16. Kekhawatiran Alya
17 Bab 17. Khasiat Ramuan Misterius
18 Bab 18. Keanehan yang Lainnya
19 Bab 19. Pesan dari Leluhur
20 Bab 20. Belajar... Belajar... Dan Belajar...
21 Bab 21. Belajar Saham
22 Bab 22. Mencoba Bermain Saham
23 Bab 23. Modal Sendiri
24 Bab 24. Rendra Anak Juragan Pasar
25 Bab 25. Pertarungan yang Tidak Seimbang
26 Bab 26. Unjuk Gigi
27 Bab 27. Barong Kalah
28 Bab 28. Bumi Sang Ketua Preman Pasar
29 Bab 29. Makan di Cafe
30 Bab 30. Kirei Sang CEO
31 Bab 31. Pembuktian
32 Bab 32. Rendra Berulah Lagi
33 Bab 33. Unjuk Gigi Level 2
34 Bab 34. Bertemu Kirei Kembali
35 Bab 35. Alya Cemburu.
36 Bab 36. Alya Masih Marah
37 Bab 37. Bumi Semakin Mempesona
38 Bab 38. Sambutan Tante dan Sepupu
39 Bab 39. Pertolongan Bumi yang Ajaib
40 Bab 40. Jadinya Makan Siang Berdua Aja
41 Bab 41. Ide Gila di Kantin
42 Bab 42: Berburu Herbal di Pasar Induk
43 Bab 43: Hadangan Tante Eri di Ruang Rawat
44 Bab 44. Konspirasi Dokter Bayaran
45 Bab 45: Pengobatan Bumi
46 Bab 46: Keajaiban Fajar dan Kepanikan Tante Eri
47 Bab 47: Kabar yang Sampai ke Warung Nasi
48 Bab 48: Munculnya Sang Rival: Adrian
49 Bab 49: Pak Surya Pulang
50 Bab 50: Teror Preman di Lahan Parkir Pasar
51 Bab 51: Serangan Pasar Saham Pertama
52 Bab 52: Jebakan Likuiditas
53 Bab 53: Pulang ke Warung yang Dingin
54 Bab 54: Hadiah Rahasia Bumi untuk Alya
55 Bab 55: Grand Opening Restoran Alya
56 Bab 56: Kedatangan Kirei yang Merusak Suasana
57 Bab 57: Dilema Dua Sisi Bumi
58 Bab 58: Pendirian PT Nusantara Logistik Bersama
59 Bab 59: Dukungan Restoran Alya dan Kemitraan Bersama
60 Bab 60: Persekutuan Busuk Adrian, Tante Eri, dan Melani
61 Bab 61: Sabotase Jalur Distribusi dan Jawaban Barong
62 Bab 62: Kirei Membuka Akses Korporasi Besar
63 Bab 63: Kejutan Lahirnya CEO Baru dari Pasar Induk
64 Bab 64: Fitnah Pencucian Uang & Balasan untuk Tante Eri
65 Bab 65: Ambisi Jahat Melani yang Buntung
66 Bab 66: Kabar Krisis dari Desa Sukamaju
67 Bab 67: Kepulangan ke Desa Sukamaju
68 Bab 68: Pelukan Mak Sumi dan Syukuran Pak Haji Somad
69 Bab 69: Pembebasan Lahan dan Koperasi Tani Modern
70 Bab 70: Pembalasan Terbongkarnya Fitnah Masa Lalu
71 Bab 71: Perangkap Terakhir Adrian di Pasar Modal
72 Bab 72: Kehancuran Bisnis Keluarga Adrian
73 Bab 73: Pembentukan Holding "Nusantara Samudra Group"
74 Bab 74: Pesta Syukuran di Restoran Alya
75 Bab 75: Keikhlasan dan Pendewasaan Kirei
76 Bab 76: Yayasan Beasiswa Anak Kuli Pasar & Petani
77 Bab 77: Peresmian Pabrik Pengolahan Tani di Desa Sukamaju
78 Bab 78: Cinta yang Bersemi di Desa Kelahiran
79 Bab 79: Dunia Serasa Milik Berdua
80 Bab 80: Lamaran
81 Bab 81: Pernikahan
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Bab 1. Awal Mula
2
Bab 2. Hinaan yang Membuat Kuat
3
Bab 3. Fitnah yang Kejam
4
Bab 4. Pengusiran
5
Bab 5. Pergi dari Desa
6
Bab 6. Orang Baik Selalu Mendapat Karma Baik
7
Bab 7. Selamat Datang di Ibu Kota
8
Bab 8. Kerja Terus dan Kerja
9
Bab 9. Tempat Tinggal Pertama
10
Bab 10. Bertemu Alya
11
Bab 11. Preman Pasar
12
Bab 12. Perhatian Alya, Part 1.
13
Bab 13. Perhatian Alaya, Part 2.
14
Bab 14. Hidup Harus Terus Berlanjut
15
Bab 15. Bertemu Kakek Misterius
16
Bab 16. Kekhawatiran Alya
17
Bab 17. Khasiat Ramuan Misterius
18
Bab 18. Keanehan yang Lainnya
19
Bab 19. Pesan dari Leluhur
20
Bab 20. Belajar... Belajar... Dan Belajar...
21
Bab 21. Belajar Saham
22
Bab 22. Mencoba Bermain Saham
23
Bab 23. Modal Sendiri
24
Bab 24. Rendra Anak Juragan Pasar
25
Bab 25. Pertarungan yang Tidak Seimbang
26
Bab 26. Unjuk Gigi
27
Bab 27. Barong Kalah
28
Bab 28. Bumi Sang Ketua Preman Pasar
29
Bab 29. Makan di Cafe
30
Bab 30. Kirei Sang CEO
31
Bab 31. Pembuktian
32
Bab 32. Rendra Berulah Lagi
33
Bab 33. Unjuk Gigi Level 2
34
Bab 34. Bertemu Kirei Kembali
35
Bab 35. Alya Cemburu.
36
Bab 36. Alya Masih Marah
37
Bab 37. Bumi Semakin Mempesona
38
Bab 38. Sambutan Tante dan Sepupu
39
Bab 39. Pertolongan Bumi yang Ajaib
40
Bab 40. Jadinya Makan Siang Berdua Aja
41
Bab 41. Ide Gila di Kantin
42
Bab 42: Berburu Herbal di Pasar Induk
43
Bab 43: Hadangan Tante Eri di Ruang Rawat
44
Bab 44. Konspirasi Dokter Bayaran
45
Bab 45: Pengobatan Bumi
46
Bab 46: Keajaiban Fajar dan Kepanikan Tante Eri
47
Bab 47: Kabar yang Sampai ke Warung Nasi
48
Bab 48: Munculnya Sang Rival: Adrian
49
Bab 49: Pak Surya Pulang
50
Bab 50: Teror Preman di Lahan Parkir Pasar
51
Bab 51: Serangan Pasar Saham Pertama
52
Bab 52: Jebakan Likuiditas
53
Bab 53: Pulang ke Warung yang Dingin
54
Bab 54: Hadiah Rahasia Bumi untuk Alya
55
Bab 55: Grand Opening Restoran Alya
56
Bab 56: Kedatangan Kirei yang Merusak Suasana
57
Bab 57: Dilema Dua Sisi Bumi
58
Bab 58: Pendirian PT Nusantara Logistik Bersama
59
Bab 59: Dukungan Restoran Alya dan Kemitraan Bersama
60
Bab 60: Persekutuan Busuk Adrian, Tante Eri, dan Melani
61
Bab 61: Sabotase Jalur Distribusi dan Jawaban Barong
62
Bab 62: Kirei Membuka Akses Korporasi Besar
63
Bab 63: Kejutan Lahirnya CEO Baru dari Pasar Induk
64
Bab 64: Fitnah Pencucian Uang & Balasan untuk Tante Eri
65
Bab 65: Ambisi Jahat Melani yang Buntung
66
Bab 66: Kabar Krisis dari Desa Sukamaju
67
Bab 67: Kepulangan ke Desa Sukamaju
68
Bab 68: Pelukan Mak Sumi dan Syukuran Pak Haji Somad
69
Bab 69: Pembebasan Lahan dan Koperasi Tani Modern
70
Bab 70: Pembalasan Terbongkarnya Fitnah Masa Lalu
71
Bab 71: Perangkap Terakhir Adrian di Pasar Modal
72
Bab 72: Kehancuran Bisnis Keluarga Adrian
73
Bab 73: Pembentukan Holding "Nusantara Samudra Group"
74
Bab 74: Pesta Syukuran di Restoran Alya
75
Bab 75: Keikhlasan dan Pendewasaan Kirei
76
Bab 76: Yayasan Beasiswa Anak Kuli Pasar & Petani
77
Bab 77: Peresmian Pabrik Pengolahan Tani di Desa Sukamaju
78
Bab 78: Cinta yang Bersemi di Desa Kelahiran
79
Bab 79: Dunia Serasa Milik Berdua
80
Bab 80: Lamaran
81
Bab 81: Pernikahan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!