Bab 3. Fitnah yang Kejam

Malam baru saja larut di Desa Sukamaju. Bumi baru selesai membersihkan badannya setelah seharian penuh mencangkul parit di ladang Pak Jaya. Di dalam rumah peninggalan orang tuanya yang reyot, ia baru saja menyalakan lampu minyak kecil. Namun, ketenangan malam itu mendadak pecah ketika suara derap langkah kaki beramai-ramai terdengar mendekati gubuknya, diiringi teriakan-teriakan penuh amarah.

"Keluar lu, Bumi! Keluar! Jangan sembunyi lu maling!" teriak Doni dari luar pagar, suaranya menggelegar membelah keheningan malam.

Bumi yang kaget langsung membuka pintu kayunya yang seret. Di halaman rumahnya, sudah berkumpul puluhan warga yang dipimpin oleh Doni dan beberapa orang kepercayaannya. Beberapa di antara mereka membawa obor dengan wajah memerah menahan geram.

"Eh, ada apa ini, Don? Kenapa ramai-ramai ke rumah saya malam-malam begini?" tanya Bumi bingung, menatap kerumunan warga.

"Halah, gak usah sok polos lu, Bum! Rumah bokap gua, baru aja kerampokan! Perhiasan emas sama uang kas desa di lemari ilang semua!" bentak Doni sambil menunjuk muka Bumi dengan kasar.

"Innalillahi... kok bisa, Don? Tapi, apa hubungannya sama saya? Saya seharian di ladang Pak Jaya, baru pulang pas magrib tadi," jelas Bumi, berusaha tetap tenang walau jantungnya mulai berdegup kencang.

"Gak usah banyak alesan lu! Joni, geledah gubuk reotnya ini! Periksa semuanya sampai ketemu!" perintah Doni pada anak buahnya.

Joni dan dua orang pemuda lain langsung menerobos masuk ke dalam rumah Bumi. Mereka mengacak-acak kasur tipis, melempar pakaian Bumi yang hanya sedikit, dan membuat seisi ruangan berantakan. Tak lama kemudian, Joni keluar dengan senyum culas sambil mengangkat sebuah kotak beludru merah dan seikat uang tebal.

"Ketemu, Don! Bener kan kata lu, barangnya disembunyiin di bawah tumpukan baju dekilnya!" seru Joni lantang agar didengar semua warga.

Warga yang melihat barang bukti itu langsung riuh. Sebagian besar warga yang memang pro kepada Doni dan ayahnya langsung tersulut emosinya.

"Wah, bener-bener gak tahu diri lu, Bum! Udah ditampung di desa ini malah maling!" teriak salah seorang warga pendukung Doni.

Bumi terbelalak menatap kotak merah itu. "Demi Allah, Don! Itu bukan punya saya! Saya gak pernah megang barang itu, apalagi masuk ke rumah Kepala Desa! Saya dijebak!"

"Halah! Bukti udah jelas ada di rumah lu, masih mau ngelak lu? Dasar maling! Bakar aja sekalian rumahnya biar desa kita bersih dari sampah kayak dia!" hasut Doni kepada massa.

Seseorang melemparkan obor menyala ke arah atap rumbia gubuk Bumi. Dalam sekejap, api langsung berkobar melahap bangunan kayu yang sudah kering dan lapuk tersebut. Bumi hanya bisa menatap nanar tempat tinggal satu-satunya peninggalan orang tuanya hancur menjadi abu dalam hitungan menit.

"Jangan! Kenapa dibakar, Pak? Saya beneran gak salah!" jerit Bumi, matanya berkaca-kaca menatap kobaran api.

"Gak usah banyak bacot lu! Seret dia ke balai desa! Arak!" perintah Doni kejam.

Joni dan beberapa warga langsung meringkus kedua lengan Bumi. Mereka menyeret Bumi menyusuri jalanan desa yang berbatu. Sepanjang jalan, Bumi dipaksa berjalan dengan kepala tertunduk, diarak seperti seorang kriminal kelas berat. Beberapa warga yang terhasut bahkan tega melayangkan pukulan dan tendangan ke tubuh Bumi.

"Ngaku gak lu? Ngaku lu yang maling!" bentak seorang warga sambil mendaratkan pukulan di pipi Bumi hingga sudut bibirnya berdarah.

Bumi meringis kesakitan, rasa perih menjalar di sekujur tubuhnya, namun tatapan matanya tetap lurus. "Saya tidak bersalah, Pak. Saya bersumpah saya tidak mengambil uang itu."

"Masih keras kepala juga lu ya!" Doni ikut menendang punggung Bumi dari belakang hingga pemuda itu tersungkur di tanah berbatu. "Ayo bangun! Jangan akting lu!"

Di antara kerumunan yang beringas, sebenarnya ada beberapa warga yang berdiri di pinggir jalan dengan tatapan iba dan tidak percaya. Pak Jaya dan Kang Maman yang baru tiba di lokasi langsung berusaha menerobos kerumunan.

"Heh, Don! Berhenti dulu! Jangan main hakim sendiri begini! Kasihan si Bumi!" teriak Pak Jaya mencoba melerai.

"Pak Jaya gak usah ikut campur! Barangnya ketemu di dalam gubuknya sendiri kok! Udah jelas dia pelakunya!" sahut Doni ketus.

"Tapi saya tahu betul Bumi, Don! Dia seharian kerja sama saya sampai sore, gak mungkin dia punya waktu buat merampok rumah Kepala Desa!" bela Pak Jaya dengan nada tinggi.

"Bisa aja dia suruhan orang, atau dia ngelakuinnya pas magrib! Pokoknya hukum harus ditegakkan!" potong Joni memprovokasi warga lain.

"Iya, betul! Siksa aja sampai ngaku! Bikin malu Desa Sukamaju aja!" seru warga yang pro-Doni.

Arak-arakan itu akhirnya sampai di halaman depan balai desa yang terang benderang. Bumi dipaksa berlutut di atas tanah yang dingin, dikelilingi oleh lingkaran warga yang marah. Tubuhnya sudah penuh memar dan pakaiannya robek di beberapa bagian.

"Bumi, dengar ya. Mending lu ngaku sekarang di depan semua orang, biar pukulan ini berhenti!" ancam Doni sambil menjambak rambut Bumi agar mendongak.

Bumi menahan rasa sakit di kepalanya, menatap langsung ke mata Doni dengan keteguhan yang luar biasa. "Mau dipukuli sampai mati pun, Don... saya tetap akan bilang kalau saya tidak bersalah. Karena mencuri itu dosa besar, dan saya tidak melakukannya."

"Lu bener-bener nantangin gua ya!" Doni mengangkat tangannya, bersiap melayangkan pukulan lagi.

"Stop! Doni, berhenti!" sebuah teriakan melengking menghentikan gerakan tangan Doni.

Siti berlari kencang dari arah rumahnya, menerobos kerumunan warga bersama Pak Haji Somad. Wajah Siti tampak pucat dan matanya berkaca-kaca melihat kondisi Bumi yang mengenaskan.

"Siti? Ngapain kamu ke sini malam-malam? Ini urusan kriminal, kamu masuk rumah aja," kata Doni, mendadak melunakkan suaranya.

"Kamu yang apa-apaan, Don! Kenapa Kang Bumi dipukuli sampai kayak gini? Memangnya kamu punya bukti kuat?" tanya Siti dengan suara bergetar karena marah dan sedih.

"Bukti? Tuh, kotak perhiasan emas bokap gua sama uang kas desa ketemu di rumahnya sendiri! Kurang kuat apa lagi?" jawab Doni bangga sambil menunjuk barang bukti yang dipegang Joni.

Pak Haji Somad melangkah maju, memeriksa kotak beludru merah tersebut, lalu menatap Bumi yang masih berlutut bersimbah darah.

"Bumi, bapak tanya sama kamu dengan jujur. Apa benar kamu yang mengambil barang-barang ini dari rumah Kepala Desa?" tanya Pak Haji Somad dengan nada bicaranya yang tenang namun berwibawa.

Bumi menatap Pak Haji Somad, air matanya menetes pelan mengalir di sela darah di pipinya. "Pak Haji, demi Allah yang memegang jiwa saya... saya tidak pernah menyentuh atau mengambil barang-barang itu. Saya dijebak, Pak Haji. Seseorang menaruh barang itu di rumah saya tanpa sepengetahuan saya."

"Tuh kan, Pak Haji! Maling mana ada yang mau ngaku! Jangan dipercaya, Pak Haji!" seru Joni memotong.

"Diam kamu, Jon! Saya tidak sedang bicara dengan kamu!" bentak Pak Haji Somad tegas, membuat Joni langsung terbungkam.

Siti mendekati Bumi, mengabaikan tatapan sinis dari Doni. "Kang Bumi, saya percaya Kang Bumi gak mungkin ngelakuin ini. Saya tahu betul sifat Kang Bumi."

"Makasih, Neng Siti... tapi gak apa-apa. Biar Gusti Allah yang tahu kebenarannya," bisik Bumi lirih, tubuhnya mulai lemas akibat luka-luka yang dideritanya.

"Don, bawa urusan ini ke jalur hukum yang benar besok pagi. Serahkan ke pihak berwajib, jangan main hakim sendiri sampai membakar rumah orang begini. Ini sudah keterlaluan!" tegas Pak Haji Somad kepada Doni.

Doni mendengus kesal, menyadari bahwa kehadiran Pak Haji Somad dan pembelaan beberapa warga mulai membuat massanya ragu. "Ya sudah! Malam ini kita kurung dia di sel balai desa dulu! Besok pagi baru kita bawa ke kantor polisi biar dia membusuk di penjara!"

Beberapa warga pro-Doni langsung menarik tubuh Bumi yang sudah tidak berdaya, menyeretnya masuk ke dalam ruang tahanan kecil di belakang balai desa. Sementara itu, malam yang pekat di Desa Sukamaju meninggalkan puing-puing rumah Bumi yang masih membara, menyimpan misteri dari sebuah fitnah kejam yang sengaja dirancang untuk menghancurkan hidup pemuda sabar tersebut.

Episodes
1 Bab 1. Awal Mula
2 Bab 2. Hinaan yang Membuat Kuat
3 Bab 3. Fitnah yang Kejam
4 Bab 4. Pengusiran
5 Bab 5. Pergi dari Desa
6 Bab 6. Orang Baik Selalu Mendapat Karma Baik
7 Bab 7. Selamat Datang di Ibu Kota
8 Bab 8. Kerja Terus dan Kerja
9 Bab 9. Tempat Tinggal Pertama
10 Bab 10. Bertemu Alya
11 Bab 11. Preman Pasar
12 Bab 12. Perhatian Alya, Part 1.
13 Bab 13. Perhatian Alaya, Part 2.
14 Bab 14. Hidup Harus Terus Berlanjut
15 Bab 15. Bertemu Kakek Misterius
16 Bab 16. Kekhawatiran Alya
17 Bab 17. Khasiat Ramuan Misterius
18 Bab 18. Keanehan yang Lainnya
19 Bab 19. Pesan dari Leluhur
20 Bab 20. Belajar... Belajar... Dan Belajar...
21 Bab 21. Belajar Saham
22 Bab 22. Mencoba Bermain Saham
23 Bab 23. Modal Sendiri
24 Bab 24. Rendra Anak Juragan Pasar
25 Bab 25. Pertarungan yang Tidak Seimbang
26 Bab 26. Unjuk Gigi
27 Bab 27. Barong Kalah
28 Bab 28. Bumi Sang Ketua Preman Pasar
29 Bab 29. Makan di Cafe
30 Bab 30. Kirei Sang CEO
31 Bab 31. Pembuktian
32 Bab 32. Rendra Berulah Lagi
33 Bab 33. Unjuk Gigi Level 2
34 Bab 34. Bertemu Kirei Kembali
35 Bab 35. Alya Cemburu.
36 Bab 36. Alya Masih Marah
37 Bab 37. Bumi Semakin Mempesona
38 Bab 38. Sambutan Tante dan Sepupu
39 Bab 39. Pertolongan Bumi yang Ajaib
40 Bab 40. Jadinya Makan Siang Berdua Aja
41 Bab 41. Ide Gila di Kantin
42 Bab 42: Berburu Herbal di Pasar Induk
43 Bab 43: Hadangan Tante Eri di Ruang Rawat
44 Bab 44. Konspirasi Dokter Bayaran
45 Bab 45: Pengobatan Bumi
46 Bab 46: Keajaiban Fajar dan Kepanikan Tante Eri
47 Bab 47: Kabar yang Sampai ke Warung Nasi
48 Bab 48: Munculnya Sang Rival: Adrian
49 Bab 49: Pak Surya Pulang
50 Bab 50: Teror Preman di Lahan Parkir Pasar
51 Bab 51: Serangan Pasar Saham Pertama
52 Bab 52: Jebakan Likuiditas
53 Bab 53: Pulang ke Warung yang Dingin
54 Bab 54: Hadiah Rahasia Bumi untuk Alya
55 Bab 55: Grand Opening Restoran Alya
56 Bab 56: Kedatangan Kirei yang Merusak Suasana
57 Bab 57: Dilema Dua Sisi Bumi
58 Bab 58: Pendirian PT Nusantara Logistik Bersama
59 Bab 59: Dukungan Restoran Alya dan Kemitraan Bersama
60 Bab 60: Persekutuan Busuk Adrian, Tante Eri, dan Melani
61 Bab 61: Sabotase Jalur Distribusi dan Jawaban Barong
62 Bab 62: Kirei Membuka Akses Korporasi Besar
63 Bab 63: Kejutan Lahirnya CEO Baru dari Pasar Induk
64 Bab 64: Fitnah Pencucian Uang & Balasan untuk Tante Eri
65 Bab 65: Ambisi Jahat Melani yang Buntung
66 Bab 66: Kabar Krisis dari Desa Sukamaju
67 Bab 67: Kepulangan ke Desa Sukamaju
68 Bab 68: Pelukan Mak Sumi dan Syukuran Pak Haji Somad
69 Bab 69: Pembebasan Lahan dan Koperasi Tani Modern
70 Bab 70: Pembalasan Terbongkarnya Fitnah Masa Lalu
71 Bab 71: Perangkap Terakhir Adrian di Pasar Modal
72 Bab 72: Kehancuran Bisnis Keluarga Adrian
73 Bab 73: Pembentukan Holding "Nusantara Samudra Group"
74 Bab 74: Pesta Syukuran di Restoran Alya
75 Bab 75: Keikhlasan dan Pendewasaan Kirei
76 Bab 76: Yayasan Beasiswa Anak Kuli Pasar & Petani
77 Bab 77: Peresmian Pabrik Pengolahan Tani di Desa Sukamaju
78 Bab 78: Cinta yang Bersemi di Desa Kelahiran
79 Bab 79: Dunia Serasa Milik Berdua
80 Bab 80: Lamaran
81 Bab 81: Pernikahan
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Bab 1. Awal Mula
2
Bab 2. Hinaan yang Membuat Kuat
3
Bab 3. Fitnah yang Kejam
4
Bab 4. Pengusiran
5
Bab 5. Pergi dari Desa
6
Bab 6. Orang Baik Selalu Mendapat Karma Baik
7
Bab 7. Selamat Datang di Ibu Kota
8
Bab 8. Kerja Terus dan Kerja
9
Bab 9. Tempat Tinggal Pertama
10
Bab 10. Bertemu Alya
11
Bab 11. Preman Pasar
12
Bab 12. Perhatian Alya, Part 1.
13
Bab 13. Perhatian Alaya, Part 2.
14
Bab 14. Hidup Harus Terus Berlanjut
15
Bab 15. Bertemu Kakek Misterius
16
Bab 16. Kekhawatiran Alya
17
Bab 17. Khasiat Ramuan Misterius
18
Bab 18. Keanehan yang Lainnya
19
Bab 19. Pesan dari Leluhur
20
Bab 20. Belajar... Belajar... Dan Belajar...
21
Bab 21. Belajar Saham
22
Bab 22. Mencoba Bermain Saham
23
Bab 23. Modal Sendiri
24
Bab 24. Rendra Anak Juragan Pasar
25
Bab 25. Pertarungan yang Tidak Seimbang
26
Bab 26. Unjuk Gigi
27
Bab 27. Barong Kalah
28
Bab 28. Bumi Sang Ketua Preman Pasar
29
Bab 29. Makan di Cafe
30
Bab 30. Kirei Sang CEO
31
Bab 31. Pembuktian
32
Bab 32. Rendra Berulah Lagi
33
Bab 33. Unjuk Gigi Level 2
34
Bab 34. Bertemu Kirei Kembali
35
Bab 35. Alya Cemburu.
36
Bab 36. Alya Masih Marah
37
Bab 37. Bumi Semakin Mempesona
38
Bab 38. Sambutan Tante dan Sepupu
39
Bab 39. Pertolongan Bumi yang Ajaib
40
Bab 40. Jadinya Makan Siang Berdua Aja
41
Bab 41. Ide Gila di Kantin
42
Bab 42: Berburu Herbal di Pasar Induk
43
Bab 43: Hadangan Tante Eri di Ruang Rawat
44
Bab 44. Konspirasi Dokter Bayaran
45
Bab 45: Pengobatan Bumi
46
Bab 46: Keajaiban Fajar dan Kepanikan Tante Eri
47
Bab 47: Kabar yang Sampai ke Warung Nasi
48
Bab 48: Munculnya Sang Rival: Adrian
49
Bab 49: Pak Surya Pulang
50
Bab 50: Teror Preman di Lahan Parkir Pasar
51
Bab 51: Serangan Pasar Saham Pertama
52
Bab 52: Jebakan Likuiditas
53
Bab 53: Pulang ke Warung yang Dingin
54
Bab 54: Hadiah Rahasia Bumi untuk Alya
55
Bab 55: Grand Opening Restoran Alya
56
Bab 56: Kedatangan Kirei yang Merusak Suasana
57
Bab 57: Dilema Dua Sisi Bumi
58
Bab 58: Pendirian PT Nusantara Logistik Bersama
59
Bab 59: Dukungan Restoran Alya dan Kemitraan Bersama
60
Bab 60: Persekutuan Busuk Adrian, Tante Eri, dan Melani
61
Bab 61: Sabotase Jalur Distribusi dan Jawaban Barong
62
Bab 62: Kirei Membuka Akses Korporasi Besar
63
Bab 63: Kejutan Lahirnya CEO Baru dari Pasar Induk
64
Bab 64: Fitnah Pencucian Uang & Balasan untuk Tante Eri
65
Bab 65: Ambisi Jahat Melani yang Buntung
66
Bab 66: Kabar Krisis dari Desa Sukamaju
67
Bab 67: Kepulangan ke Desa Sukamaju
68
Bab 68: Pelukan Mak Sumi dan Syukuran Pak Haji Somad
69
Bab 69: Pembebasan Lahan dan Koperasi Tani Modern
70
Bab 70: Pembalasan Terbongkarnya Fitnah Masa Lalu
71
Bab 71: Perangkap Terakhir Adrian di Pasar Modal
72
Bab 72: Kehancuran Bisnis Keluarga Adrian
73
Bab 73: Pembentukan Holding "Nusantara Samudra Group"
74
Bab 74: Pesta Syukuran di Restoran Alya
75
Bab 75: Keikhlasan dan Pendewasaan Kirei
76
Bab 76: Yayasan Beasiswa Anak Kuli Pasar & Petani
77
Bab 77: Peresmian Pabrik Pengolahan Tani di Desa Sukamaju
78
Bab 78: Cinta yang Bersemi di Desa Kelahiran
79
Bab 79: Dunia Serasa Milik Berdua
80
Bab 80: Lamaran
81
Bab 81: Pernikahan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!