Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Bab 1. Awal Mula

Matahari baru saja mengintip dari balik perbukitan Desa Sukamaju, tapi Bumi sudah berdiri di depan cermin retak yang menggantung di dinding anyaman bambu rumahnya. Rumah peninggalan orang tuanya itu sudah tampak ringkih. Atapnya banyak yang bocor kalau hujan, dan tiang penyangganya sudah agak miring. Bumi menghela napas pendek, lalu membenarkan posisi kaos oblongnya yang sudah mulai pudar warnanya.

"Bumi! Woii, Bumi! Udah siap belum?" teriak sebuah suara dari luar pagar.

Bumi bergegas melangkah keluar, mengunci pintu kayu rumahnya yang sudah agak seret. Di depan pagar, berkacak pinggang seorang pria paruh baya dengan handuk kecil melingkar di leher. Itu Pak Joko, mandor bangunan di desa mereka.

"Eh, Pak Joko. Sudah, Pak. Ini baru aja mau keluar," jawab Bumi sambil tersenyum sopan.

"Ya sudah, ayo cepat. Hari ini material semen sama batako datang. Tenaga kamu sangat dibutuhin buat ngangkut ke dalam gang. Kuat, kan?" tanya Pak Joko sambil berjalan mendahului.

"Siap, Pak. Kuat kok. Kan yang penting sarapannya tadi sudah banyak," seloroh Bumi.

"Halah, kamu ini. Sarapan pakai apa rupanya?"

"Nasi sisa semalam digoreng pakai garam aja, Pak. Sama teh anget. Alhamdulillah kenyang."

"Sabar ya, Bum. Namanya juga hidup. Yang penting kamu itu tekun, gak milih-milih kerjaan. Gak kayak anak muda zaman sekarang, maunya kerja kantoran tapi malas nyari," puji Pak Joko sambil menepuk pundak Bumi.

"Hahaha, saya mah apa atuh, Pak. Gak punya ijazah tinggi. Kerja apa aja yang penting halal dan bisa buat makan besok."

Sesampainya di lokasi proyek pembangunan rumah salah satu warga kaya di Desa Sukamaju, sebuah truk engkel bermuatan penuh sudah menunggu. Debu jalanan beterbangan saat angin berembus.

"Nah, itu dia kenek andalan kita datang!" seru Kang maman, salah satu tukang bangunan senior.

"Wah, Kang Maman bisa aja. Mana nih yang harus diturunin duluan?" tanya Bumi sambil menggulung lengan kaosnya.

"Itu batako di bak belakang. Tolong estafet ya sama si Dani. Tapi kamu yang di bawah, kuat gak ngangkatnya sendirian dari bak?"

"Bisa, Kang. Selow aja. Sudah biasa."

Dani, pemuda seusia Bumi yang juga ikut kerja serabutan, naik ke atas bak truk. "Bum, siap-siap ya! Ini agak berat, agak basah soalnya kena embun tadi malam."

"Oke, Dan. Lempar pelan-pelan aja, jangan langsung diguyur kayak air," canda Bumi.

"Satu... dua... tangkap!" Dani mulai menurunkan batako satu per satu.

Bumi menerima batako-batako itu dengan cekatan. Otot lengan dan punggungnya yang terbentuk karena kerja keras sehari-hari tampak menegang. Keringat mulai bercucuran di pelipisnya, membasahi kaos oblongnya yang langsung berubah warna menjadi lebih gelap.

"Bum, istirahat dulu gih. Udah tiga puluh menit kamu gak berhenti," teriak Pak Joko dari kejauhan sambil membawa segelas kopi.

"Bentar, Pak. Tanggung, tinggal dikit lagi yang di pojok bak ini," sahut Bumi tanpa menghentikan gerakannya.

"Kamu ini bener-bener ya. Gak ada capeknya. Anak yatim piatu kayak kamu ini malah biasanya mentalnya lebih baja dibanding yang punya orang tua lengkap tapi dimanja," bisik Kang Maman yang sedang mengaduk semen di dekatnya.

Bumi tersenyum tipis mendengar ucapan Kang Maman. "Gak ada pilihan lain, Kang. Kalau saya manja, rumah warisan bapak bisa roboh menimpa saya pas tidur."

"Iya juga sih. Tapi kamu gak pernah ngeluh ya? Saya perhatiin dari dulu senyum terus."

"Ngeluh gak bikin batako ini pindah sendiri, Kang. Mending dibawa happy aja."

"Bener juga omonganmu. Nih, minum dulu," Dani melemparkan sebotol air mineral dingin setelah bak truk benar-benar kosong.

"Wah, makasih, Dan. Segar bener," ucap Bumi setelah meneguk air itu sampai tinggal setengah.

Siang harinya, setelah makan siang darurat berupa nasi bungkus warung tegal, Pak Joko menghampiri Bumi yang sedang meluruskan kakinya di bawah pohon rindang.

"Bum, ini upah kamu buat hari ini. Maaf ya, cuma bisa ngasih segini. Soalnya anggarannya emang lagi ketat dari yang punya rumah," kata Pak Joko sambil menyodorkan beberapa lembar uang kertas yang sudah agak lusuh.

Bumi menerima uang itu, menghitungnya sekilas, lalu mengangguk bersyukur. "Alhamdulillah, Pak. Ini lebih dari cukup buat beli beras sama lauk beberapa hari ke depan. Makasih banyak ya, Pak."

"Iya, sama-sama. Besok kayaknya di sini gak ada bongkar muatan lagi. Kamu ada kerjaan lain?"

"Belum tahu, Pak. Paling nanti sore saya mau keliling desa, nanya-nanya kalau ada yang butuh bantuan."

"Oh, iya. Tadi pagi saya dengar Pak Haji Somad lagi nyari orang buat nyabit rumput di lahan belakang rumahnya. Katanya udah tinggi-tinggi banget, mengganggu pemandangan. Coba kamu ke sana nanti."

"Wah, info bagus itu, Pak. Makasih ya, Pak. Habis ashar saya coba ke rumah Pak Haji."

Sesuai rencana, sore harinya Bumi sudah berjalan kaki menuju rumah Pak Haji Somad yang berada di ujung Desa Sukamaju. Di bahunya tersampir sebuah sabit yang sudah diasah tajam, lengkap dengan karung goni besar.

"Assalamu’alaikum, Pak Haji!" seru Bumi dari balik pagar besi rumah Pak Haji Somad.

Tak lama, seorang pria tua berpeci putih keluar dari pintu samping. "Wa’alaikumussalam. Eh, Bumi. Ada apa, Bum?"

"Anu, Pak Haji. Tadi siang dapat kabar dari Pak Joko katanya lahan di belakang rumah Pak Haji rumputnya sudah tinggi ya? Saya mau nawarin jasa buat nyabit, Pak. Kalau boleh."

Pak Haji Somad melihat ke arah sabit dan karung yang dibawa Bumi, lalu tersenyum. "Kebetulan banget, Bum. Memang bapak lagi pusing nyari orang. Anak-anak muda sekarang kalau disuruh nyabit rumput puyeng katanya, takut gatal lah, takut cacing lah."

Bumi tertawa kecil. "Saya mah gak takut gatal, Pak Haji. Yang penting upah rumputnya halal."

"Ya sudah, langsung ke belakang aja. Itu lahannya luas loh ya, kamu sanggup sendirian menjelang magrib gini?"

"Sanggup, Pak Haji. Dapat setengahnya dulu juga gak apa-apa, besok pagi bisa saya lanjutin lagi."

"Oke, silakan. Kerjain serapih mungkin ya. Nanti masalah upah gampang, bapak gak bakal pelit sama orang rajin kayak kamu."

"Siap, Pak Haji. Terima kasih banyak."

Bumi mulai mengayunkan sabitnya ke arah rumput liar yang tingginya sudah mencapai lutut orang dewasa. Gerakannya konstan, berirama, dan sangat hati-hati agar tidak mengenai batu tersembunyi yang bisa merusak mata sabitnya.

"Bum! Bumi!" panggil sebuah suara perempuan dari arah dapur rumah Pak Haji.

Bumi menghentikan aktivitasnya, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. "Iya, Neng Siti? Ada apa?"

Siti, anak gadis Pak Haji Somad, berjalan mendekat sambil membawa nampan berisi segelas teh manis hangat dan dua potong pisang goreng. "Ini, Kang Bumi. Kata bapak disuruh minum dulu. Capek kan baru datang langsung kerja keras begitu."

"Walah, ngerepotin aja, Neng. Makasih banyak ya," kata Bumi sambil meletakkan sabitnya di tanah.

"Nggak repot kok, Kang. Kebetulan emang lagi bikin buat bapak juga. Kang Bumi hebat ya, apa aja dikerjain. Kemarin saya lihat lagi bantu benerin jembatan desa, sekarang udah nyabit rumput lagi."

"Ya gimana lagi, Neng. Kalau gak gerak, dapur gak ngebul," jawab Bumi santai seraya mengambil pisang goreng yang masih hangat.

"Tapi rumah Kang Bumi yang di dekat mushola itu... apa gak mau dibetulin? Kemarin lewat sana, atapnya kayaknya udah ada yang melorot."

Bumi mengunyah pisang gorengnya, lalu tersenyum simpul. "Mau banget sih, Neng. Cuma celengannya belum cukup. Sekarang fokus buat makan sehari-hari dulu. Kalau rumah mah, selagi belum roboh total, masih bisa ditempatin."

"Kang Bumi kok bisa sesabar itu sih? Padahal sebatang kara, kerjaannya serabutan, rumahnya begitu..." Siti menatap Bumi dengan rasa kagum bercampur iba.

"Sabar itu kan gratis, Neng. Gak perlu bayar. Kalau saya ngamuk sama keadaan, emangnya keadaan bakal berubah jadi kaya raya dalam semalam? Kan nggak. Mending dijalanin aja dengan tekun, gusti Allah mboten sare."

"Iya juga sih. Kagum saya sama pemikiran Kang Bumi. Ya sudah, dilanjutin lagi Kang kerjanya. Tehnya dihabisin ya."

"Siap, Neng Siti. Makasih ya pisang gorengnya, enak banget."

Matahari makin merunduk, menyisakan semburat jingga di langit Desa Sukamaju. Bumi berhasil mengumpulkan dua karung penuh rumput liar, membuat lahan belakang rumah Pak Haji Somad tampak jauh lebih bersih dari sebelumnya.

"Pak Haji, ini sudah selesai sebagian besar. Karungnya saya taruh di pojok dekat kandang ya," lapor Bumi saat menemui Pak Haji Somad di teras depan.

"Wah, cepat banget kamu kerjanya, Bum. Bersih lagi," puji Pak Haji sambil memeriksa hasil kerja Bumi. "Ini upahmu, sekalian ada sedikit bonus buat beli lauk."

Pak Haji memberikan beberapa lembar uang kertas kepada Bumi. Jumlahnya ternyata lebih banyak dari perkiraan Bumi untuk kerja sesingkat itu.

"Loh, Pak Haji, ini kebanyakan uangnya," kata Bumi, berniat mengembalikan sebagian.

"Sudah, ambil saja. Jangan ditolak, itu rezeki kamu karena kerjaanmu bagus dan kamu anak yang jujur. Jarang ada pemuda setekun kamu di desa ini."

Bumi menunduk dalam, hatinya dipenuhi rasa syukur yang membuncah. "Terima kasih banyak, Pak Haji. Semoga berkah buat Pak Haji sekeluarga."

"Amin. Sudah, ganti baju sana, sebentar lagi magrib. Pulang ke rumah, istirahat."

"Baik, Pak Haji. Saya permisi dulu. Assalamu’alaikum."

"Wa’alaikumussalam."

Bumi berjalan pulang menyusuri jalanan setapak Desa Sukamaju yang mulai menggelap. Di tengah keterbatasan hidupnya, langkah kakinya tetap terasa ringan. Dia tahu hidup ini berat, tapi dia memilih untuk tetap sabar, tekun, dan menjalani hari-harinya apa adanya tanpa pernah mengeluh.

Episodes
1 Bab 1. Awal Mula
2 Bab 2. Hinaan yang Membuat Kuat
3 Bab 3. Fitnah yang Kejam
4 Bab 4. Pengusiran
5 Bab 5. Pergi dari Desa
6 Bab 6. Orang Baik Selalu Mendapat Karma Baik
7 Bab 7. Selamat Datang di Ibu Kota
8 Bab 8. Kerja Terus dan Kerja
9 Bab 9. Tempat Tinggal Pertama
10 Bab 10. Bertemu Alya
11 Bab 11. Preman Pasar
12 Bab 12. Perhatian Alya, Part 1.
13 Bab 13. Perhatian Alaya, Part 2.
14 Bab 14. Hidup Harus Terus Berlanjut
15 Bab 15. Bertemu Kakek Misterius
16 Bab 16. Kekhawatiran Alya
17 Bab 17. Khasiat Ramuan Misterius
18 Bab 18. Keanehan yang Lainnya
19 Bab 19. Pesan dari Leluhur
20 Bab 20. Belajar... Belajar... Dan Belajar...
21 Bab 21. Belajar Saham
22 Bab 22. Mencoba Bermain Saham
23 Bab 23. Modal Sendiri
24 Bab 24. Rendra Anak Juragan Pasar
25 Bab 25. Pertarungan yang Tidak Seimbang
26 Bab 26. Unjuk Gigi
27 Bab 27. Barong Kalah
28 Bab 28. Bumi Sang Ketua Preman Pasar
29 Bab 29. Makan di Cafe
30 Bab 30. Kirei Sang CEO
31 Bab 31. Pembuktian
32 Bab 32. Rendra Berulah Lagi
33 Bab 33. Unjuk Gigi Level 2
34 Bab 34. Bertemu Kirei Kembali
35 Bab 35. Alya Cemburu.
36 Bab 36. Alya Masih Marah
37 Bab 37. Bumi Semakin Mempesona
38 Bab 38. Sambutan Tante dan Sepupu
39 Bab 39. Pertolongan Bumi yang Ajaib
40 Bab 40. Jadinya Makan Siang Berdua Aja
41 Bab 41. Ide Gila di Kantin
42 Bab 42: Berburu Herbal di Pasar Induk
43 Bab 43: Hadangan Tante Eri di Ruang Rawat
44 Bab 44. Konspirasi Dokter Bayaran
45 Bab 45: Pengobatan Bumi
46 Bab 46: Keajaiban Fajar dan Kepanikan Tante Eri
47 Bab 47: Kabar yang Sampai ke Warung Nasi
48 Bab 48: Munculnya Sang Rival: Adrian
49 Bab 49: Pak Surya Pulang
50 Bab 50: Teror Preman di Lahan Parkir Pasar
51 Bab 51: Serangan Pasar Saham Pertama
52 Bab 52: Jebakan Likuiditas
53 Bab 53: Pulang ke Warung yang Dingin
54 Bab 54: Hadiah Rahasia Bumi untuk Alya
55 Bab 55: Grand Opening Restoran Alya
56 Bab 56: Kedatangan Kirei yang Merusak Suasana
57 Bab 57: Dilema Dua Sisi Bumi
58 Bab 58: Pendirian PT Nusantara Logistik Bersama
59 Bab 59: Dukungan Restoran Alya dan Kemitraan Bersama
60 Bab 60: Persekutuan Busuk Adrian, Tante Eri, dan Melani
61 Bab 61: Sabotase Jalur Distribusi dan Jawaban Barong
62 Bab 62: Kirei Membuka Akses Korporasi Besar
63 Bab 63: Kejutan Lahirnya CEO Baru dari Pasar Induk
64 Bab 64: Fitnah Pencucian Uang & Balasan untuk Tante Eri
65 Bab 65: Ambisi Jahat Melani yang Buntung
66 Bab 66: Kabar Krisis dari Desa Sukamaju
67 Bab 67: Kepulangan ke Desa Sukamaju
68 Bab 68: Pelukan Mak Sumi dan Syukuran Pak Haji Somad
69 Bab 69: Pembebasan Lahan dan Koperasi Tani Modern
70 Bab 70: Pembalasan Terbongkarnya Fitnah Masa Lalu
71 Bab 71: Perangkap Terakhir Adrian di Pasar Modal
72 Bab 72: Kehancuran Bisnis Keluarga Adrian
73 Bab 73: Pembentukan Holding "Nusantara Samudra Group"
74 Bab 74: Pesta Syukuran di Restoran Alya
75 Bab 75: Keikhlasan dan Pendewasaan Kirei
76 Bab 76: Yayasan Beasiswa Anak Kuli Pasar & Petani
77 Bab 77: Peresmian Pabrik Pengolahan Tani di Desa Sukamaju
78 Bab 78: Cinta yang Bersemi di Desa Kelahiran
79 Bab 79: Dunia Serasa Milik Berdua
80 Bab 80: Lamaran
81 Bab 81: Pernikahan
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Bab 1. Awal Mula
2
Bab 2. Hinaan yang Membuat Kuat
3
Bab 3. Fitnah yang Kejam
4
Bab 4. Pengusiran
5
Bab 5. Pergi dari Desa
6
Bab 6. Orang Baik Selalu Mendapat Karma Baik
7
Bab 7. Selamat Datang di Ibu Kota
8
Bab 8. Kerja Terus dan Kerja
9
Bab 9. Tempat Tinggal Pertama
10
Bab 10. Bertemu Alya
11
Bab 11. Preman Pasar
12
Bab 12. Perhatian Alya, Part 1.
13
Bab 13. Perhatian Alaya, Part 2.
14
Bab 14. Hidup Harus Terus Berlanjut
15
Bab 15. Bertemu Kakek Misterius
16
Bab 16. Kekhawatiran Alya
17
Bab 17. Khasiat Ramuan Misterius
18
Bab 18. Keanehan yang Lainnya
19
Bab 19. Pesan dari Leluhur
20
Bab 20. Belajar... Belajar... Dan Belajar...
21
Bab 21. Belajar Saham
22
Bab 22. Mencoba Bermain Saham
23
Bab 23. Modal Sendiri
24
Bab 24. Rendra Anak Juragan Pasar
25
Bab 25. Pertarungan yang Tidak Seimbang
26
Bab 26. Unjuk Gigi
27
Bab 27. Barong Kalah
28
Bab 28. Bumi Sang Ketua Preman Pasar
29
Bab 29. Makan di Cafe
30
Bab 30. Kirei Sang CEO
31
Bab 31. Pembuktian
32
Bab 32. Rendra Berulah Lagi
33
Bab 33. Unjuk Gigi Level 2
34
Bab 34. Bertemu Kirei Kembali
35
Bab 35. Alya Cemburu.
36
Bab 36. Alya Masih Marah
37
Bab 37. Bumi Semakin Mempesona
38
Bab 38. Sambutan Tante dan Sepupu
39
Bab 39. Pertolongan Bumi yang Ajaib
40
Bab 40. Jadinya Makan Siang Berdua Aja
41
Bab 41. Ide Gila di Kantin
42
Bab 42: Berburu Herbal di Pasar Induk
43
Bab 43: Hadangan Tante Eri di Ruang Rawat
44
Bab 44. Konspirasi Dokter Bayaran
45
Bab 45: Pengobatan Bumi
46
Bab 46: Keajaiban Fajar dan Kepanikan Tante Eri
47
Bab 47: Kabar yang Sampai ke Warung Nasi
48
Bab 48: Munculnya Sang Rival: Adrian
49
Bab 49: Pak Surya Pulang
50
Bab 50: Teror Preman di Lahan Parkir Pasar
51
Bab 51: Serangan Pasar Saham Pertama
52
Bab 52: Jebakan Likuiditas
53
Bab 53: Pulang ke Warung yang Dingin
54
Bab 54: Hadiah Rahasia Bumi untuk Alya
55
Bab 55: Grand Opening Restoran Alya
56
Bab 56: Kedatangan Kirei yang Merusak Suasana
57
Bab 57: Dilema Dua Sisi Bumi
58
Bab 58: Pendirian PT Nusantara Logistik Bersama
59
Bab 59: Dukungan Restoran Alya dan Kemitraan Bersama
60
Bab 60: Persekutuan Busuk Adrian, Tante Eri, dan Melani
61
Bab 61: Sabotase Jalur Distribusi dan Jawaban Barong
62
Bab 62: Kirei Membuka Akses Korporasi Besar
63
Bab 63: Kejutan Lahirnya CEO Baru dari Pasar Induk
64
Bab 64: Fitnah Pencucian Uang & Balasan untuk Tante Eri
65
Bab 65: Ambisi Jahat Melani yang Buntung
66
Bab 66: Kabar Krisis dari Desa Sukamaju
67
Bab 67: Kepulangan ke Desa Sukamaju
68
Bab 68: Pelukan Mak Sumi dan Syukuran Pak Haji Somad
69
Bab 69: Pembebasan Lahan dan Koperasi Tani Modern
70
Bab 70: Pembalasan Terbongkarnya Fitnah Masa Lalu
71
Bab 71: Perangkap Terakhir Adrian di Pasar Modal
72
Bab 72: Kehancuran Bisnis Keluarga Adrian
73
Bab 73: Pembentukan Holding "Nusantara Samudra Group"
74
Bab 74: Pesta Syukuran di Restoran Alya
75
Bab 75: Keikhlasan dan Pendewasaan Kirei
76
Bab 76: Yayasan Beasiswa Anak Kuli Pasar & Petani
77
Bab 77: Peresmian Pabrik Pengolahan Tani di Desa Sukamaju
78
Bab 78: Cinta yang Bersemi di Desa Kelahiran
79
Bab 79: Dunia Serasa Milik Berdua
80
Bab 80: Lamaran
81
Bab 81: Pernikahan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!