Bab 5. Pergi dari Desa

Sinar matahari siang itu terasa membakar kulit, seolah ikut menambah beban di pundak Bumi. Dengan langkah kaki yang gontai dan terseok-seok, ia menyusuri jalan setapak yang menuju ke arah jalan besar, batas akhir dari wilayah Desa Sukamaju. Di tangannya, ia mencengkeram sebuah tas karung goni kecil. Beruntung, tas karung itu tersimpan di kandang ayam belakang rumahnya, sehingga selamat dari kobaran api yang menghanguskan gubuknya semalam. Isinya tidak banyak, hanya satu stel baju ganti yang sudah pudar dan sebotol air minum.

Dari kejauhan, beberapa warga desa berdiri di depan halaman rumah mereka. Mereka melipat tangan di dada, menatap Bumi dengan pandangan sinis, penuh kejengkelan dan cemoohan. Bumi memilih menunduk, tidak ingin membalas tatapan-tatapan tajam yang menghakimi tersebut.

"Bumi... Bumi, Le... Tunggu bentar, Le," sebuah suara bisikan yang serak dan gemetar tiba-tiba memanggilnya dari balik semak-semak pohon pisang di pinggir jalan.

Bumi menghentikan langkahnya, menoleh ke sekeliling dengan waspada. "Siapa ya?"

Dari balik rimbunnya pohon pisang, muncullah seorang wanita tua dengan kebaya loak yang sudah penuh tambalan. Itu Mak Sumi, seorang janda tua miskin yang rumahnya hanya berjarak beberapa puluh meter dari bekas gubuk Bumi. Mak Sumi berjalan tergesa-gesa sambil sesekali menengok ke belakang, takut kalau ada kaki tangan Doni yang melihatnya.

"Astaga, Mak Sumi? Kenapa Mak ada di sini? Bahaya Mak, kalau si Joni atau warga lain lihat Mak bicara sama saya, nanti Mak bisa kena masalah," kata Bumi setengah berbisik, raut wajahnya dipenuhi rasa khawatir.

Mak Sumi segera menggenggam tangan Bumi yang kasar dan penuh memar. Mata tua janda itu tampak berkaca-kaca, menatap sedih ke arah luka-luka di wajah pemuda itu.

"Mak gak peduli sama mereka, Bum. Mak tahu kamu anak baik. Mak gak percaya secuil pun kalau kamu yang maling di rumah Kepala Desa. Itu semua pasti akal-akalan mereka yang syirik sama kamu," ucap Mak Sumi dengan suara bergetar menahan tangis.

"Terima kasih banyak, Mak. Mendengar Mak percaya sama saya aja, itu sudah bikin hati saya tenang banget," balas Bumi sambil tersenyum tipis, mencoba menguatkan diri.

Mak Sumi buru-buru merogoh sesuatu dari dalam kemben kebayanya. Sebuah sapu tangan kain kusam yang diikat erat dengan karet gelang dikeluarkan dengan hati-hati. Ia membuka ikatan itu, memperlihatkan beberapa lembar uang kertas pecahan sepuluh ribu dan lima ribu rupiah yang sudah sangat lecek.

"Nih, Bum. Kamu bawa ini ya buat bekal kamu di jalan besar nanti. Mak cuma punya ini, tabungan Mak dari hasil jualan daun pisang selama beberapa bulan ini," kata Mak Sumi sambil memaksa memasukkan bungkusan uang itu ke dalam genggaman tangan Bumi.

Bumi terkejut, ia langsung menarik tangannya kembali dan menggelengkan kepala dengan cepat. "Loh, jangan, Mak! Enggak, saya gak bisa terima uang ini. Ini kan uang tabungan Mak buat makan sehari-hari. Hidup Mak sendiri aja sudah susah, saya gak mau makin ngebebanin Mak Sumi."

"Ambil, Bum! Jangan ditolak. Mak ikhlas lahir batin ngasih ini buat kamu," desak Mak Sumi, matanya mulai meneteskan air mata.

"Tapi, Mak... uang ini berharga banget buat Mak Sumi. Saya masih muda, masih punya tangan sama kaki buat nyari kerjaan lain di luar sana nanti. Mak lebih butuh uang ini di desa," tolak Bumi lagi dengan halus, mencoba mengembalikan sapu tangan itu.

"Bumi, dengerin Mak, Le," Mak Sumi memegang kedua pundak Bumi dengan erat, menatap mata pemuda itu dengan tatapan seorang ibu. "Dulu, waktu ibumu masih hidup, dia itu teman baik Mak. Waktu Mak kelaparan karena suami Mak baru meninggal, ibumu yang selalu diam-diam antar nasi sama lauk ke rumah Mak, padahal kehidupan kalian sendiri juga pas-pasan. Mak gak pernah lupa kebaikan ibumu, Bum. Sekarang, anak ibumu lagi kesusahan dan diusir secara zalim begini, masa Mak cuma diam aja? Tolong, terima uang ini sebagai bentuk bakti Mak sama almarhumah ibumu."

Mendengar nama ibunya disebut, runtuhlah pertahanan Bumi. Air matanya kembali mengalir melewati pipinya yang lebam. Ia melihat ketulusan yang luar biasa di mata keriput Mak Sumi. Di tengah kepungan warga desa yang membencinya tanpa alasan, ternyata masih ada malaikat tua yang peduli kepadanya.

"Mak..." Bumi terisak pelan, lalu perlahan menerima bungkusan uang tersebut. "Terima kasih banyak, Mak. Saya... saya gak tahu harus ngomong apa lagi. Kebaikan Mak Sumi ini bakal saya ingat seumur hidup saya."

"Iya, Bum. Simpan baik-baik uangnya di dalam karungmu. Jangan sampai kelihatan orang lain di jalan nanti," pesan Mak Sumi sambil menyeka air mata Bumi dengan ujung kebayanya. "Kamu harus kuat ya, Le. Pergilah ke kota atau ke mana pun kaki melangkah yang jauh dari desa ini. Mulai hidup baru di sana. Orang jujur dan tekun kayak kamu pasti bakal dilindungi sama Gusti Allah."

"Iya, Mak. Saya janji saya bakal jaga diri baik-baik. Saya gak akan lupain nasihat Mak," jawab Bumi sambil mengangguk mantap.

"Ya sudah, buruan jalan lagi sana sebelum si Joni lewat sini. Mak mau balik lewat jalan belakang biar gak curiga orang-orang," kata Mak Sumi sambil menepuk-nepuk lengan Bumi.

"Baik, Mak. Saya pamit ya. Assalamu’alaikum, Mak Sumi." Bumi membungkuk dalam, mencium punggung tangan janda tua itu dengan penuh rasa hormat.

"Wa’alaikumussalam. Hati-hati di jalan, Bumi..." bisik Mak Sumi sebelum akhirnya melangkah mundur dan menghilang di balik rimbunnya pepohonan pisang.

Bumi menarik napas dalam-dalam, mengencangkan ikatan tas karung goninya di pundak, lalu kembali melanjutkan langkah kakinya yang berat. Langkah demi langkah ia ayunkan menuju gerbang perbatasan luar Desa Sukamaju. Sinar matahari terasa makin menyengat, membuat baju lusuhnya yang koyak makin basah oleh keringat baru yang bercampur debu jalanan.

Di dekat pos ronda perbatasan, tampak Doni, Joni, dan beberapa pemuda pro-Kepala Desa sudah berdiri menunggu dengan angkuh. Mereka memperhatikan gerak-gerik Bumi dengan senyuman puas yang menghina.

"Wah, akhirnya si sampah desa pergi juga!" teriak Joni dengan lantang saat Bumi berjalan melewati pos ronda.

"Ingat ya, Bum! Jangan pernah lu berani-berani nunjukkin muka dekil lu lagi di Desa Sukamaju ini! Kalau lu balik lagi, gua gak bakal segan-segan bikin lu masuk rumah sakit!" ancam Doni sambil meludah ke tanah, tepat di depan kaki Bumi.

Bumi tidak berhenti, tidak juga menoleh. Ia terus berjalan lurus ke depan, melewati tugu perbatasan desa yang terbuat dari semen. Tatapan matanya lurus menatap aspal jalan raya besar yang membentang luas di hadapannya. Telinganya ditutup rapat dari segala tawa ejekan dan sorakan kemenangan dari arah pos ronda di belakangnya.

Kini, kaki Bumi sudah resmi memijak jalan raya besar di luar wilayah administrasi Desa Sukamaju. Ia menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya, menatap papan nama desa yang perlahan mulai menjauh dari pandangannya. Desa tempat ia dilahirkan, tempat orang tuanya dimakamkan, dan tempat ia menghabiskan seluruh sisa hidupnya sebagai kuli serabutan, kini telah menutup pintu rapat-rapat untuknya karena sebuah fitnah kejam.

Dengan baju compang-camping, tubuh yang dipenuhi rasa sakit akibat pukulan warga, dan hanya berbekal tas karung goni serta uang tabungan pas-pasan pemberian Mak Sumi, Bumi melangkah menyusuri tepian jalan besar. Ia tidak tahu bus atau kendaraan apa yang akan lewat, dan ia juga belum tahu kota mana yang akan menjadi tujuannya. Namun, di dalam hatinya yang paling dalam, sifat sabar dan ketekunan yang selama ini ia miliki tidak pernah padam. Bumi terus berjalan ke depan, siap menghadapi segala takdir baru yang menantinya di dunia luar yang asing.

Episodes
1 Bab 1. Awal Mula
2 Bab 2. Hinaan yang Membuat Kuat
3 Bab 3. Fitnah yang Kejam
4 Bab 4. Pengusiran
5 Bab 5. Pergi dari Desa
6 Bab 6. Orang Baik Selalu Mendapat Karma Baik
7 Bab 7. Selamat Datang di Ibu Kota
8 Bab 8. Kerja Terus dan Kerja
9 Bab 9. Tempat Tinggal Pertama
10 Bab 10. Bertemu Alya
11 Bab 11. Preman Pasar
12 Bab 12. Perhatian Alya, Part 1.
13 Bab 13. Perhatian Alaya, Part 2.
14 Bab 14. Hidup Harus Terus Berlanjut
15 Bab 15. Bertemu Kakek Misterius
16 Bab 16. Kekhawatiran Alya
17 Bab 17. Khasiat Ramuan Misterius
18 Bab 18. Keanehan yang Lainnya
19 Bab 19. Pesan dari Leluhur
20 Bab 20. Belajar... Belajar... Dan Belajar...
21 Bab 21. Belajar Saham
22 Bab 22. Mencoba Bermain Saham
23 Bab 23. Modal Sendiri
24 Bab 24. Rendra Anak Juragan Pasar
25 Bab 25. Pertarungan yang Tidak Seimbang
26 Bab 26. Unjuk Gigi
27 Bab 27. Barong Kalah
28 Bab 28. Bumi Sang Ketua Preman Pasar
29 Bab 29. Makan di Cafe
30 Bab 30. Kirei Sang CEO
31 Bab 31. Pembuktian
32 Bab 32. Rendra Berulah Lagi
33 Bab 33. Unjuk Gigi Level 2
34 Bab 34. Bertemu Kirei Kembali
35 Bab 35. Alya Cemburu.
36 Bab 36. Alya Masih Marah
37 Bab 37. Bumi Semakin Mempesona
38 Bab 38. Sambutan Tante dan Sepupu
39 Bab 39. Pertolongan Bumi yang Ajaib
40 Bab 40. Jadinya Makan Siang Berdua Aja
41 Bab 41. Ide Gila di Kantin
42 Bab 42: Berburu Herbal di Pasar Induk
43 Bab 43: Hadangan Tante Eri di Ruang Rawat
44 Bab 44. Konspirasi Dokter Bayaran
45 Bab 45: Pengobatan Bumi
46 Bab 46: Keajaiban Fajar dan Kepanikan Tante Eri
47 Bab 47: Kabar yang Sampai ke Warung Nasi
48 Bab 48: Munculnya Sang Rival: Adrian
49 Bab 49: Pak Surya Pulang
50 Bab 50: Teror Preman di Lahan Parkir Pasar
51 Bab 51: Serangan Pasar Saham Pertama
52 Bab 52: Jebakan Likuiditas
53 Bab 53: Pulang ke Warung yang Dingin
54 Bab 54: Hadiah Rahasia Bumi untuk Alya
55 Bab 55: Grand Opening Restoran Alya
56 Bab 56: Kedatangan Kirei yang Merusak Suasana
57 Bab 57: Dilema Dua Sisi Bumi
58 Bab 58: Pendirian PT Nusantara Logistik Bersama
59 Bab 59: Dukungan Restoran Alya dan Kemitraan Bersama
60 Bab 60: Persekutuan Busuk Adrian, Tante Eri, dan Melani
61 Bab 61: Sabotase Jalur Distribusi dan Jawaban Barong
62 Bab 62: Kirei Membuka Akses Korporasi Besar
63 Bab 63: Kejutan Lahirnya CEO Baru dari Pasar Induk
64 Bab 64: Fitnah Pencucian Uang & Balasan untuk Tante Eri
65 Bab 65: Ambisi Jahat Melani yang Buntung
66 Bab 66: Kabar Krisis dari Desa Sukamaju
67 Bab 67: Kepulangan ke Desa Sukamaju
68 Bab 68: Pelukan Mak Sumi dan Syukuran Pak Haji Somad
69 Bab 69: Pembebasan Lahan dan Koperasi Tani Modern
70 Bab 70: Pembalasan Terbongkarnya Fitnah Masa Lalu
71 Bab 71: Perangkap Terakhir Adrian di Pasar Modal
72 Bab 72: Kehancuran Bisnis Keluarga Adrian
73 Bab 73: Pembentukan Holding "Nusantara Samudra Group"
74 Bab 74: Pesta Syukuran di Restoran Alya
75 Bab 75: Keikhlasan dan Pendewasaan Kirei
76 Bab 76: Yayasan Beasiswa Anak Kuli Pasar & Petani
77 Bab 77: Peresmian Pabrik Pengolahan Tani di Desa Sukamaju
78 Bab 78: Cinta yang Bersemi di Desa Kelahiran
79 Bab 79: Dunia Serasa Milik Berdua
80 Bab 80: Lamaran
81 Bab 81: Pernikahan
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Bab 1. Awal Mula
2
Bab 2. Hinaan yang Membuat Kuat
3
Bab 3. Fitnah yang Kejam
4
Bab 4. Pengusiran
5
Bab 5. Pergi dari Desa
6
Bab 6. Orang Baik Selalu Mendapat Karma Baik
7
Bab 7. Selamat Datang di Ibu Kota
8
Bab 8. Kerja Terus dan Kerja
9
Bab 9. Tempat Tinggal Pertama
10
Bab 10. Bertemu Alya
11
Bab 11. Preman Pasar
12
Bab 12. Perhatian Alya, Part 1.
13
Bab 13. Perhatian Alaya, Part 2.
14
Bab 14. Hidup Harus Terus Berlanjut
15
Bab 15. Bertemu Kakek Misterius
16
Bab 16. Kekhawatiran Alya
17
Bab 17. Khasiat Ramuan Misterius
18
Bab 18. Keanehan yang Lainnya
19
Bab 19. Pesan dari Leluhur
20
Bab 20. Belajar... Belajar... Dan Belajar...
21
Bab 21. Belajar Saham
22
Bab 22. Mencoba Bermain Saham
23
Bab 23. Modal Sendiri
24
Bab 24. Rendra Anak Juragan Pasar
25
Bab 25. Pertarungan yang Tidak Seimbang
26
Bab 26. Unjuk Gigi
27
Bab 27. Barong Kalah
28
Bab 28. Bumi Sang Ketua Preman Pasar
29
Bab 29. Makan di Cafe
30
Bab 30. Kirei Sang CEO
31
Bab 31. Pembuktian
32
Bab 32. Rendra Berulah Lagi
33
Bab 33. Unjuk Gigi Level 2
34
Bab 34. Bertemu Kirei Kembali
35
Bab 35. Alya Cemburu.
36
Bab 36. Alya Masih Marah
37
Bab 37. Bumi Semakin Mempesona
38
Bab 38. Sambutan Tante dan Sepupu
39
Bab 39. Pertolongan Bumi yang Ajaib
40
Bab 40. Jadinya Makan Siang Berdua Aja
41
Bab 41. Ide Gila di Kantin
42
Bab 42: Berburu Herbal di Pasar Induk
43
Bab 43: Hadangan Tante Eri di Ruang Rawat
44
Bab 44. Konspirasi Dokter Bayaran
45
Bab 45: Pengobatan Bumi
46
Bab 46: Keajaiban Fajar dan Kepanikan Tante Eri
47
Bab 47: Kabar yang Sampai ke Warung Nasi
48
Bab 48: Munculnya Sang Rival: Adrian
49
Bab 49: Pak Surya Pulang
50
Bab 50: Teror Preman di Lahan Parkir Pasar
51
Bab 51: Serangan Pasar Saham Pertama
52
Bab 52: Jebakan Likuiditas
53
Bab 53: Pulang ke Warung yang Dingin
54
Bab 54: Hadiah Rahasia Bumi untuk Alya
55
Bab 55: Grand Opening Restoran Alya
56
Bab 56: Kedatangan Kirei yang Merusak Suasana
57
Bab 57: Dilema Dua Sisi Bumi
58
Bab 58: Pendirian PT Nusantara Logistik Bersama
59
Bab 59: Dukungan Restoran Alya dan Kemitraan Bersama
60
Bab 60: Persekutuan Busuk Adrian, Tante Eri, dan Melani
61
Bab 61: Sabotase Jalur Distribusi dan Jawaban Barong
62
Bab 62: Kirei Membuka Akses Korporasi Besar
63
Bab 63: Kejutan Lahirnya CEO Baru dari Pasar Induk
64
Bab 64: Fitnah Pencucian Uang & Balasan untuk Tante Eri
65
Bab 65: Ambisi Jahat Melani yang Buntung
66
Bab 66: Kabar Krisis dari Desa Sukamaju
67
Bab 67: Kepulangan ke Desa Sukamaju
68
Bab 68: Pelukan Mak Sumi dan Syukuran Pak Haji Somad
69
Bab 69: Pembebasan Lahan dan Koperasi Tani Modern
70
Bab 70: Pembalasan Terbongkarnya Fitnah Masa Lalu
71
Bab 71: Perangkap Terakhir Adrian di Pasar Modal
72
Bab 72: Kehancuran Bisnis Keluarga Adrian
73
Bab 73: Pembentukan Holding "Nusantara Samudra Group"
74
Bab 74: Pesta Syukuran di Restoran Alya
75
Bab 75: Keikhlasan dan Pendewasaan Kirei
76
Bab 76: Yayasan Beasiswa Anak Kuli Pasar & Petani
77
Bab 77: Peresmian Pabrik Pengolahan Tani di Desa Sukamaju
78
Bab 78: Cinta yang Bersemi di Desa Kelahiran
79
Bab 79: Dunia Serasa Milik Berdua
80
Bab 80: Lamaran
81
Bab 81: Pernikahan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!