Luka Lama Belum Sembuh

Aroma kuah bakso dan es jeruk di kantin SMA Mahardika yang ramai tidak mampu mencairkan ketegangan yang dibawa Rayyan ke mejanya. Di sudut kantin, Rayyan duduk bersama Zidan dan Nathael. Bahunya masih terasa pegal setelah dihukum menjewer kuping sendiri di depan kelas selama hampir satu jam bersama Revan.

"Nih, kompres gih. Merah bener itu kuping lu," ujar Nathael, menyodorkan sekaleng tebu dingin ke pipi Rayyan, membuat cowok itu sedikit tersentak karena rasa dingin yang mendadak.

"Gara-gara si bajingan itu," gerutu Rayyan, menerima kaleng tersebut dan menempelkannya ke daun telinganya yang panas. "Sengaja banget dia mancing gua. Kalau bukan di hari pertama sekolah, udah gua patahin tuh kaki panjangnya."

"Tapi heran gua," Zidan menopang dagunya, menatap Rayyan dengan selidik. "Kalian berdua tuh musuhannya awet bener, ya. Dari kelas satu SD sampai sekarang udah seragam abu-abu, tensinya gak pernah turun. Rekor, sih."

"Gak usah dibahas," potong Rayyan cepat, matanya menatap mangkuk baksonya dengan pandangan kosong.

Sebelum Zidan sempat membalas, suara bisikan-bisikan dari meja sebelah yang ditempati oleh Chelsea, Naomi, dan Bianca terdengar sayup-sayup namun cukup jelas di telinga mereka. Tiga siswi itu tampaknya sedang asyik membahas topik hangat hari ini: drama hukuman berdiri di kelas X-1.

"Eh, seriusan deh, lu tahu gak sih kenapa Revan sama Rayyan tuh benci-bencian parah?" tanya Naomi, mencondongkan tubuhnya ke tengah meja dengan mata berbinar penasaran.

"Bukannya karena rebutan wilayah pas SMP?" sahut Bianca asal tebak.

"Bukan, bego! Ini mah dari SD," Chelsea memotong dengan nada sok tahu. "Gue denger dari sepupu gue yang sesama alumni SD mereka, dulu tuh si Revan pernah hampir ngebunuh Rayyan. Katanya Revan sengaja ngedorong Rayyan dari atap gedung sekolah pas mereka berantem, makanya Rayyan trauma setengah mati."

Rayyan yang mendengar itu hampir saja tersedak udara. Ia meremas kaleng dingin di tangannya hingga berbunyi penyok. Didorong dari atap? Rumor murahan macam apa itu?

"Hah? Masa sih?" Naomi tampak tidak percaya. "Tapi cowok gue yang temennya Kevin bilang kebalikannya tahu. Katanya, dulu Rayyan yang berkhianat. Dia ngelaporin rahasia keluarga Sanjaya ke bokapnya Revan, terus Revan dihajar abis-abisan sama bokapnya sendiri sampai masuk rumah sakit. Makanya Revan benci banget sama Rayyan karena ngerasa ditusuk dari belakang."

"Dih, masa? Tapi kok mukanya Rayyan kayak yang tertindas gitu ya..."

Zidan yang menyadari rahang Rayyan semakin mengeras langsung berdeham keras, sengaja menyindir meja sebelah. "Ehem! Gosipnya kenceng bener ya, neng. Gak takut keselek mangkok?"

Mendengar sindiran itu, Chelsea dan kawan-kawannya langsung bungkam, buru-buru memalingkan wajah dan berpura-pura sibuk dengan ponsel mereka.

Rayyan menghela napas panjang, meletakkan kaleng tebu dingin itu ke meja. Ingatannya mendadak berputar ke masa lalu, menyeretnya ke sebuah memori usang yang sudah lama ia coba kubur dalam-dalam.

Dulu... semuanya tidak seperti ini.

Ada satu masa di mana halaman rumah mereka di Maheswara Residence dipenuhi oleh tawa dua anak kecil yang selalu berbagi mainan yang sama. Ada masa di mana Revan kecil akan berdiri di depan Rayyan yang menangis karena terjatuh, lalu berkata, "Gak usah nangis, Ray. Selagi ada gua, gak ada yang boleh bikin lu nangis."

Namun, ingatan hangat itu langsung hancur berkeping-keping, digantikan oleh bayangan pecahan kaca yang berserakan, suara teriakan histeris di malam yang hujan, aroma darah yang anyir, dan tatapan mata Revan kecil yang berubah menjadi begitu dingin, asing, dan penuh kebencian yang mendalam.

Hari itu... semua kehangatan itu mati.

...****************...

Di saat yang sama, di rooftop sekolah yang berangin, Revan berdiri bersandar di pembatas kawat. Di tangannya ada sebatang rokok yang belum dinyalakan. Matanya menatap hamparan lapangan basket di bawah sana dengan pandangan datar.

Kevin datang membawa dua botol minuman soda, melemparkan salah satunya yang langsung ditangkap Revan dengan satu tangan tanpa menoleh.

"Masih mikirin si Rayyan?" tanya Kevin kasual, membuka tutup botolnya sendiri.

"Gak penting," jawab Revan dingin, memasukkan rokok yang belum dinyalakan itu kembali ke dalam sakunya.

"Rev, gua temen lu dari SD. Gua tahu lu berdua kayak gimana dulu," Kevin menatap sahabatnya itu dengan serius. "Kalian berdua tuh nempel mulu kayak perangko. Lu yang selalu belain dia kalau ada anak komplek lain yang usil. Kenapa setelah... insiden itu, lu malah jadi yang paling pengen ngehancurin dia?"

Revan tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras, memperlihatkan gurat kemarahan yang tertahan. Tangannya mencengkeram botol soda di tangannya hingga plastiknya berderit keras.

"Dia yang mulai, Kev," bisik Revan, suaranya terdengar sangat rendah dan berbahaya. "Dia yang ngehancurin semua kepercayaan gua. Dia yang bikin gua sadar kalau di dunia ini... gak ada yang namanya sahabat."

"Tapi apa lu yakin kejadian waktu itu murni salah dia?" selidik Kevin lagi. "Maksud gua, kita masih bocah pas itu. Bisa aja ada yang salah paham—"

"Gua liat dengan mata kepala gua sendiri!" sentak Revan, memotong ucapan Kevin dengan nada tinggi. Napasnya memburu cepat, matanya berkilat penuh luka lama yang kembali terbuka lebar. "Gua gak mau bahas ini lagi. Sekali lagi lu sebut nama dia di depan gua, gua gak bakal ragu buat hajar lu juga, Kev."

Kevin mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. "Oke, oke. Sori. Gua cuma gak mau lu nyesel aja nanti."

Revan memalingkan wajahnya kembali ke arah lapangan, mengabaikan ucapan Kevin. Menyesal? Baginya, kata itu sudah tidak ada gunanya lagi. Luka yang digoreskan Rayyan terlalu dalam, dan satu-satunya cara untuk meredakan rasa sakit itu adalah dengan memastikan Rayyan merasakan penderitaan yang sama setiap kali melihat dirinya.

...****************...

"Rayyan Steven Mahendra. Revan Devano Sanjaya."

Suara berat dan berwibawa milik Pak Diman, guru BK senior SMA Mahardika, memecah kesunyian di dalam ruang bimbingan konseling yang ber-AC dingin. Di depan mejanya, Rayyan dan Revan duduk di dua kursi kayu yang bersebelahan namun dengan jarak yang sengaja dibuat sejauh mungkin.

Pak Diman menatap lembar rekam jejak kedua siswa baru itu lewat kacamata tebalnya.

"Kalian berdua baru hari pertama sekolah, tapi sudah mengantongi laporan pelanggaran dari Pak Arip," Pak Diman meletakkan berkas tersebut ke meja dengan ketukan pelan yang terasa mengintimidasi. "Dan bapak sudah membaca riwayat kalian dari sekolah menengah pertama. Kasus perkelahian di luar sekolah, tawuran geng... dan nama kalian berdua selalu tertulis di lembar yang sama."

Baik Rayyan maupun Revan memilih bungkam, menatap lurus ke arah dinding di belakang meja Pak Diman.

"Bapak tahu kalian tetangga dekat di Maheswara Residence. Orang tua kalian pun saling mengenal dengan baik," lanjut Pak Diman, nadanya melunak namun tetap tegas. "Bapak tidak peduli apa yang terjadi di antara kalian di masa lalu. Entah itu masalah keluarga, persaingan, atau apa pun yang membuat kalian saling membenci. Tapi ingat ini baik-baik..."

Pak Diman memajukan tubuhnya, menatap kedua remaja itu dengan pandangan menyelidik yang tajam. "Di ruangan ini, bapak bisa merasakan ketegangan yang sangat tidak wajar. Setiap kali kalian berada di ruangan yang sama, hawanya selalu seperti bom waktu yang siap meledak."

"Jika bapak sampai mendengar atau melihat kalian berdua membuat keributan lagi sekecil apa pun itu bapak tidak akan segan-segan merekomendasikan skorsing langsung kepada kepala sekolah. Paham?"

"Paham, Pak," jawab Rayyan dengan nada datar yang patuh.

Revan hanya bergumam malas sebagai jawaban.

"Bagus. Sekarang kalian boleh kembali ke kelas."

Begitu melangkah keluar dari ruang BK yang dingin, atmosfer hangat koridor sekolah langsung terasa mencekik kembali. Revan berjalan mendahului Rayyan, namun begitu sampai di persimpangan koridor yang sepi, ia mendadak menghentikan langkahnya.

Rayyan ikut berhenti, tiga langkah di belakang Revan.

Revan berbalik perlahan, menatap Rayyan dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara benci, muak, dan setitik rasa sakit yang coba ia sembunyikan rapat-rapat.

"Inget kata guru BK tadi," desis Revan dingin. "Jangan cari mati di depan gua, Ray. Karena kali ini... gua gak bakal tanggung jawab kalau lu beneran hancur."

Rayyan menatap musuh lamanya itu dengan mata yang tak kalah tajam, meski di dalam dadanya, ada denyut nyeri yang samar dari luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.

"Gua gak pernah butuh tanggung jawab dari lu, Rev," balas Rayyan dingin, sebelum melangkah melewati Revan tanpa menoleh lagi.

Episodes
1 Hari Pertama, Musuh Lama
2 Bangku Sebelah Musuh
3 Luka Lama Belum Sembuh
4 Aturan Pertama MPLS
5 Rumor Sang Preman
6 Tantangan di Lapangan Basket
7 Gang Belakang Sekolah
8 Senja yang Aneh
9 Jalan Pulang
10 Hari yang Berhenti Berdetak
11 Rumah yang Kehilangan Tawa
12 Tujuh Hari Tanpa Makan
13 Pemakaman yang Belum Selesai
14 Rumor yang Menyebar
15 Mimpi yang Sama
16 Hari Ketujuh
17 Ketukan di Pintu
18 Gue Pulang
19 Orang yang Seharusnya Mati
20 Kabar yang Mengubah Segalanya
21 Masih Hangat
22 Gue Lihat Lu Mati
23 Kabar yang Menggemparkan Sekolah
24 Bangku yang Terisi Lagi
25 Masih Musuhan
26 Rumor Hantu
27 Tinju Pertama Setelah Kembali
28 Gue Gak Butuh Dibela
29 Orang Asing Bernama Adrian
30 Bayangan yang Mengikuti
31 Kenapa Lu Ngikutin Gue?
32 Kebiasaan Baru Revan
33 Nyaris Celaka Lagi
34 Gosip Baru
35 Adu Mulut di Kantin
36 Orang yang Memotret Diam-Diam
37 Mimpi yang Sama Lagi
38 Luka yang Tidak Terlihat
39 Perkelahian di Gang Lama
40 Tatapan yang Berubah
41 Mimisan di Tengah Pelajaran
42 Jangan Sok Kuat
43 Kamera yang Mati
44 Pulang Bareng
45 Bukan Kebetulan
46 Surat Tanpa Nama
47 Festival Kelas
48 Orang Bertopi Hitam
49 Janji yang Tidak Diucapkan
50 Nama di Batu Nisan
51 Festival Dimulai
52 Kerja Kelompok yang Berantakan
53 Rumor Baru di Grup Angkatan
54 Kesal Karena Gosip
55 Orang yang Terus Mengawasi
56 Gangguan Listrik Kedua
57 Pulang Terlalu Malam
58 Tatapan Sahabat
59 Foto yang Menghilang
60 Seseorang di Atas Rooftop
61 Pagi Festival
62 Ramai Sejak Pagi
63 Pengakuan Diam-Diam
64 Lagu di Atas Panggung
65 Kenangan yang Terpotong
66 Rumor dan Kenyataan
67 Rencana di Balik Layar
68 Menjelang Rooftop
69 Pilihan di Antara Dua Jalan
70 Serangan Balik
71 Bayangan yang Tak Hilang
72 Di Balik Keluarga Sanjaya
73 Di Balik Senyuman
74 Kekuatan di Balik Kelemahan
75 Hari Menjelang Pertarungan
76 Panggung Pertarungan
77 Detak yang Melemah
78 Malam Penuh Pengakuan
79 Fajar yang Tak Pasti
80 Hari yang Dinanti
81 Piknik di Taman Kota
82 Di Balik Pintu Keluarga Sanjaya
83 Hujan di Jendela
84 Kejutan di Balik Senja
85 Firasat di Pagi Hari
86 Gelombang Kedua
87 Setelah Semuanya
88 Hari yang Tenang
89 Langkah Baru
90 Musim yang Berganti
91 Perjalanan ke Desa Terpencil
92 Batu Hijau dan Harapan Baru
93 Tanda-Tanda
94 Momen yang Tak Terlupakan
95 Kembali ke Rutinitas
96 Rencana untuk Masa Depan
97 Pentas Seni yang Dinanti
98 Keajaiban di Setiap Hari
99 Pertarungan Terakhir di Atas Panggung
100 Malam yang Tak Terlupakan
101 Pilihan Hati yang Kuat
102 Detik yang Berharga
103 Cahaya di Ujung Senja
104 Rencana Masa Depan
105 Malam yang Sunyi
106 Pagi yang Dingin
107 Di Antara Dua Dunia
108 Hidup Tanpamu
109 Mengukir Senyum Baru
110 Melangkah ke Masa Depan
111 Cahaya di Balik Kenangan
112 Hening yang Bersuara
113 Saatnya Pergi untuk Bertemu
114 Akhir yang Menjadi Awal
115 Bersambung
Episodes

Updated 115 Episodes

1
Hari Pertama, Musuh Lama
2
Bangku Sebelah Musuh
3
Luka Lama Belum Sembuh
4
Aturan Pertama MPLS
5
Rumor Sang Preman
6
Tantangan di Lapangan Basket
7
Gang Belakang Sekolah
8
Senja yang Aneh
9
Jalan Pulang
10
Hari yang Berhenti Berdetak
11
Rumah yang Kehilangan Tawa
12
Tujuh Hari Tanpa Makan
13
Pemakaman yang Belum Selesai
14
Rumor yang Menyebar
15
Mimpi yang Sama
16
Hari Ketujuh
17
Ketukan di Pintu
18
Gue Pulang
19
Orang yang Seharusnya Mati
20
Kabar yang Mengubah Segalanya
21
Masih Hangat
22
Gue Lihat Lu Mati
23
Kabar yang Menggemparkan Sekolah
24
Bangku yang Terisi Lagi
25
Masih Musuhan
26
Rumor Hantu
27
Tinju Pertama Setelah Kembali
28
Gue Gak Butuh Dibela
29
Orang Asing Bernama Adrian
30
Bayangan yang Mengikuti
31
Kenapa Lu Ngikutin Gue?
32
Kebiasaan Baru Revan
33
Nyaris Celaka Lagi
34
Gosip Baru
35
Adu Mulut di Kantin
36
Orang yang Memotret Diam-Diam
37
Mimpi yang Sama Lagi
38
Luka yang Tidak Terlihat
39
Perkelahian di Gang Lama
40
Tatapan yang Berubah
41
Mimisan di Tengah Pelajaran
42
Jangan Sok Kuat
43
Kamera yang Mati
44
Pulang Bareng
45
Bukan Kebetulan
46
Surat Tanpa Nama
47
Festival Kelas
48
Orang Bertopi Hitam
49
Janji yang Tidak Diucapkan
50
Nama di Batu Nisan
51
Festival Dimulai
52
Kerja Kelompok yang Berantakan
53
Rumor Baru di Grup Angkatan
54
Kesal Karena Gosip
55
Orang yang Terus Mengawasi
56
Gangguan Listrik Kedua
57
Pulang Terlalu Malam
58
Tatapan Sahabat
59
Foto yang Menghilang
60
Seseorang di Atas Rooftop
61
Pagi Festival
62
Ramai Sejak Pagi
63
Pengakuan Diam-Diam
64
Lagu di Atas Panggung
65
Kenangan yang Terpotong
66
Rumor dan Kenyataan
67
Rencana di Balik Layar
68
Menjelang Rooftop
69
Pilihan di Antara Dua Jalan
70
Serangan Balik
71
Bayangan yang Tak Hilang
72
Di Balik Keluarga Sanjaya
73
Di Balik Senyuman
74
Kekuatan di Balik Kelemahan
75
Hari Menjelang Pertarungan
76
Panggung Pertarungan
77
Detak yang Melemah
78
Malam Penuh Pengakuan
79
Fajar yang Tak Pasti
80
Hari yang Dinanti
81
Piknik di Taman Kota
82
Di Balik Pintu Keluarga Sanjaya
83
Hujan di Jendela
84
Kejutan di Balik Senja
85
Firasat di Pagi Hari
86
Gelombang Kedua
87
Setelah Semuanya
88
Hari yang Tenang
89
Langkah Baru
90
Musim yang Berganti
91
Perjalanan ke Desa Terpencil
92
Batu Hijau dan Harapan Baru
93
Tanda-Tanda
94
Momen yang Tak Terlupakan
95
Kembali ke Rutinitas
96
Rencana untuk Masa Depan
97
Pentas Seni yang Dinanti
98
Keajaiban di Setiap Hari
99
Pertarungan Terakhir di Atas Panggung
100
Malam yang Tak Terlupakan
101
Pilihan Hati yang Kuat
102
Detik yang Berharga
103
Cahaya di Ujung Senja
104
Rencana Masa Depan
105
Malam yang Sunyi
106
Pagi yang Dingin
107
Di Antara Dua Dunia
108
Hidup Tanpamu
109
Mengukir Senyum Baru
110
Melangkah ke Masa Depan
111
Cahaya di Balik Kenangan
112
Hening yang Bersuara
113
Saatnya Pergi untuk Bertemu
114
Akhir yang Menjadi Awal
115
Bersambung

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!