Rumor Sang Preman

Hari ketiga di SMA Mahardika berjalan jauh lebih lambat dari yang Rayyan bayangkan. Kelas X-1 terasa sangat gerah siang itu, dengan kipas angin gantung yang berputar malas di langit-langit seolah ikut menderita karena panasnya cuaca Jakarta.

Rayyan meletakkan kepalanya di atas meja kayu yang dingin, menatap kosong ke papan tulis yang dipenuhi rumus fisika. Di sebelahnya, bangku Revan kosong. Cowok itu sudah menghilang sejak jam istirahat pertama dimulai, menyisakan tas ransel hitamnya yang tergeletak asal di atas kursi.

"Ray, kantin yuk? Gabut banget gua di kelas," ajak Zidan, memutar kursinya ke belakang untuk menghadap Rayyan.

"Males, Dan. Panas banget di luar," sahut Rayyan tanpa mengubah posisinya.

Gavin Regandra, teman sekelas mereka yang duduk di barisan belakang, tiba-tiba ikut mencondongkan tubuhnya ke depan. Gavin adalah tipe anak yang tahu segalanya semacam pusat informasi berjalan untuk semua gosip di SMA Mahardika.

"Eh, lu pada tahu gak kenapa si Revan bolos kelas Fisika hari ini?" bisik Gavin dengan mata berbinar penuh rahasia.

Zidan langsung tertarik. "Kenapa? Tawuran lagi?"

"Bukan tawuran gede sih, tapi kemarin sore dia ribut lagi di belakang terminal lama," Gavin menurunkan volume suaranya, melirik ke arah pintu kelas seolah takut ada antek-antek Revan yang lewat. "Gua denger dari anak kelas sebelah, dia ngehajar tiga anak SMA Garuda sendirian sampai masuk klinik."

Rayyan perlahan menegakkan tubuhnya. Meski ia selalu mengklaim tidak peduli pada urusan Revan, mendengar nama musuhnya disebut tetap saja menarik perhatiannya. "Satu lawan tiga? Cari mati tuh anak."

"Iya, tapi yang gila bukan itu, Ray," lanjut Gavin, makin bersemangat. "Anak-anak Garuda itu padahal lagi malakin anak kelas sembilan SMP yang lewat situ. Nah, si Revan yang lagi nongkrong di warkop sebelah terminal langsung nyamperin. Dia hajar bertiga tanpa ampun. Pas udah kelar, duit palakannya dia ambil terus dilempar balik ke muka anak SMP itu."

Zidan mengernyit. "Dilempar? Gimana maksudnya?"

"Ya dilempar sambil diomelin. Katanya, Lain kali kalau dipalak itu ngelawan, bego. Jangan cuma bisa nangis kayak cewek. Nih ambil duit lu. Habis itu Revan langsung pergi gitu aja naik motornya," Gavin menggeleng-gelengkan kepalanya setengah kagum, setengah ngeri. "Aneh kan? Dia preman, hobi berantem, ditakutin satu sekolah. Tapi dari dulu... dia gak pernah sekalipun nyentuh atau nge-bully anak-anak yang lebih lemah di sekolah kita. Yang dihajar pasti selalu anak-anak geng atau orang yang cari perkara duluan."

Rayyan tertegun mendengar cerita Gavin.

Pikirannya mendadak melayang ke masa lalu. Dulu, Revan memang memiliki rasa keadilan yang aneh. Cowok itu sangat membenci penindasan, meskipun cara dia mengekspresikannya selalu lewat kekerasan dan kepalan tangan.

Tapi kenapa dia berubah jadi sedingin ini sama gua? batin Rayyan pahit. Kalau dia emang gak pernah nyentuh orang yang gak salah... kenapa dia selalu punya alasan buat bikin hidup gua kayak neraka?

"Woy, Ray! Bengong aja lu," Zidan menepuk pundak Rayyan, membuyarkan lamunannya. "Mikirin apa lu? Takut ya denger rumor si Revan sesadis itu?"

Rayyan mendengus pelan, berusaha mengusir bayangan masa kecilnya dari kepala. "Ngapain gua takut sama preman pasar kayak dia? Mau dia hajar sepuluh orang sekaligus juga gua gak peduli."

...****************...

Di saat yang sama, di area parkir belakang sekolah yang sepi dan terlindung oleh rimbunnya pohon talas, Revan sedang duduk di atas motor sport hitamnya. Matanya yang gelap menatap lurus ke arah jendela kelas X-1 di lantai dua.

Ia memegang sebatang rokok yang menyala di antara jari telunjuk dan tengahnya, membiarkan asap abu-abu tipis membubung ke udara sebelum terbawa angin siang.

"Rev, dicariin bokap lu tuh lewat sekretarisnya. Katanya lu disuruh pulang cepet hari ini," ujar Axel yang baru saja datang sambil melempar sebotol air mineral ke arah Revan.

Revan menangkap botol itu tanpa menoleh sedikit pun dari jendela lantai dua kelas X-1. "Males. Bilang aja gua ada urusan geng."

Axel mengikuti arah pandang Revan, lalu mendesah pelan. "Lu... masih ngawasin si Rayyan?"

Revan tidak menjawab. Ia menyesap rokoknya dalam-dalam, merasakan sensasi panas yang membakar tenggorokannya.

Ia sendiri tidak tahu jawaban dari pertanyaan Axel. Ia membenci dirinya sendiri karena hal ini. Ia membenci kenyataan bahwa otaknya seperti memiliki bagian khusus yang bekerja secara otomatis untuk merekam semua hal tentang Rayyan Steven Mahendra.

Revan tahu, tanpa perlu bertanya pada siapa pun, bahwa Rayyan selalu meminum susu cokelat kotak setiap kali dia merasa stres atau tertekan.

Revan tahu bahwa Rayyan sangat membenci bawang bombay di dalam nasi gorengnya kebiasaan lama yang membuat Rayyan selalu menyingkirkan irisan bawang itu ke pinggir piring dengan wajah cemberut yang khas.

Revan bahkan tahu persis jadwal pulang sekolah Rayyan, rute jalan yang akan diambil cowok itu jika sopir keluarganya terlambat menjemput, dan bagaimana bahu sempit Rayyan akan sedikit merosot ke bawah saat dia merasa sangat lelah.

Kenapa gua harus tahu semua itu?

Revan mengepalkan tangan kirinya di atas paha. Dadanya terasa sesak oleh amarah yang tidak memiliki alamat pasti. Harusnya dia membenci Rayyan. Harusnya dia ingin menghancurkan cowok itu atas apa yang terjadi di masa lalu. Pengkhianatan Rayyan adalah luka terdalam yang pernah Revan terima sepanjang hidupnya.

Namun, setiap kali ia melihat Rayyan berada di dekat cowok lain seperti saat Rayyan bercanda dengan Zidan atau tersenyum sopan pada anak-anak OSIS ada rasa panas yang membakar lambungnya. Rasa posesif yang gila, yang berbisik di dalam kepalanya bahwa tidak ada yang boleh mendekati Rayyan selain dirinya. Bahkan jika itu hanya untuk saling memaki.

"Lu tuh aneh, Rev," celetuk Axel lagi, menyadarkan Revan dari perang batinnya. "Lu benci sama dia, tapi tiap kali ada anak kelas lain yang mulai ngomongin Rayyan yang enggak-enggak, lu selalu jadi orang pertama yang natap mereka kayak mau bunuh orang. Lu sebenarnya mau ngelindungin dia atau mau hancurin dia sih?"

Revan mematikan putung rokoknya ke tangki motor, lalu menatap Axel dengan pandangan sedingin es. "Gua cuma mau mastiin... kalau ada orang yang bakal hancurin hidup Rayyan, orang itu harus gua. Bukan orang lain. Paham?"

Axel hanya mengangkat bahu, tidak berniat mendebat lebih jauh amarah sahabatnya yang tidak stabil itu.

...****************...

Sore harinya, langit Jakarta mendadak berubah gelap. Awan hitam pekat bergulung-gulung di atas langit SMA Mahardika, diiringi oleh suara gemuruh guntur yang saling bersahutan. Tidak butuh waktu lama hingga hujan deras langsung tumpah membasahi bumi, menciptakan tirai air yang tebal.

Rayyan berdiri di lobi sekolah yang mulai sepi. Sebagian besar siswa sudah pulang menggunakan jemputan atau kendaraan pribadi, sementara teman-temannya sudah pulang duluan karena ada urusan masing-masing.

Rayyan menatap layar ponselnya dengan cemas. Sopir keluarganya, Pak Yanto, baru saja mengirim pesan bahwa mobil mereka terjebak banjir di jalan protokol dan mungkin baru bisa sampai satu jam lagi.

"Sial banget gua hari ini," gumam Rayyan. Ia memeluk tas ranselnya erat-read, mencoba menghalau hawa dingin yang mulai menusuk seragam tipisnya.

Tiba-tiba, suara raungan mesin motor yang sangat ia kenal memecah suara derasnya hujan. Motor sport hitam milik Revan perlahan meluncur dari arah area parkir, berhenti tepat di depan lobi yang beratap.

Revan menurunkan kaca helmnya sedikit, menatap Rayyan yang berdiri sendirian di lobi dengan tubuh yang sedikit menggigil.

Rayyan langsung membuang muka, berpura-pura sangat tertarik pada tetesan air hujan yang jatuh di lantai lobi demi menghindari kontak mata dengan Revan.

Revan menatap tubuh ramping itu selama beberapa detik. Ia bisa melihat kulit Rayyan yang tampak lebih pucat dari biasanya di bawah lampu lobi yang temaram. Tanpa suara, Revan mematikan mesin motornya. Ia turun dari motor, berjalan mendekat ke arah lobi dengan langkah santai namun tegas.

Rayyan reflek mundur satu langkah saat menyadari Revan berjalan ke arahnya. "Ngapain lu? Mau nyari ribut lagi sore-sore gini?"

Revan tidak menjawab ucapan sinis Rayyan. Sebaliknya, ia membuka tas ransel hitamnya, mengeluarkan sebuah payung lipat plastik berwarna biru murah benda yang sama sekali tidak cocok dengan statusnya sebagai anak konglomerat.

Dengan gerakan kasar, Revan melempar payung lipat itu tepat ke arah kaki Rayyan.

Plak.

Rayyan tersentak, menatap payung di dekat sepatunya dengan dahi berkerut bingung. "Apaan nih?"

"Pake," ucap Revan pendek, suaranya terdengar serak di antara suara gemuruh hujan.

"Gua gak butuh kasihan dari lu," balas Rayyan ketus, menolak untuk menyentuh payung tersebut.

Revan maju satu langkah, membuat Rayyan terpaksa mendongak untuk menatap mata gelap musuhnya. Revan mencengkeram rahangnya sendiri seolah menahan frustrasi yang teramat sangat di dalam dadanya.

"Gua bilang pake, ya pake, Rayyan," desis Revan rendah, ada nada memaksa yang tidak bisa dibantah di suaranya. "Muka lu udah kayak mayat hidup gitu. Jangan sampai lu mati kedinginan di sini sebelum gua sempet bales semua perbuatan lu dulu."

Sebelum Rayyan sempat membalas makian itu, Revan sudah berbalik arah. Ia kembali menaiki motor sport-nya, menyalakan mesin dengan satu sentakan keras, dan langsung melesat menembus derasnya hujan badai sore itu, meninggalkan Rayyan yang terpaku sendirian di lobi.

Rayyan perlahan membungkuk, memungut payung plastik biru itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Saat jarinya menyentuh permukaan payung, ada kehangatan samar yang tersisa dari tas Revan. Rayyan mendekapkan payung itu ke dadanya, menatap jalanan kosong yang baru saja dilewati Revan dengan perasaan yang semakin kacau dan tidak menentu.

Episodes
1 Hari Pertama, Musuh Lama
2 Bangku Sebelah Musuh
3 Luka Lama Belum Sembuh
4 Aturan Pertama MPLS
5 Rumor Sang Preman
6 Tantangan di Lapangan Basket
7 Gang Belakang Sekolah
8 Senja yang Aneh
9 Jalan Pulang
10 Hari yang Berhenti Berdetak
11 Rumah yang Kehilangan Tawa
12 Tujuh Hari Tanpa Makan
13 Pemakaman yang Belum Selesai
14 Rumor yang Menyebar
15 Mimpi yang Sama
16 Hari Ketujuh
17 Ketukan di Pintu
18 Gue Pulang
19 Orang yang Seharusnya Mati
20 Kabar yang Mengubah Segalanya
21 Masih Hangat
22 Gue Lihat Lu Mati
23 Kabar yang Menggemparkan Sekolah
24 Bangku yang Terisi Lagi
25 Masih Musuhan
26 Rumor Hantu
27 Tinju Pertama Setelah Kembali
28 Gue Gak Butuh Dibela
29 Orang Asing Bernama Adrian
30 Bayangan yang Mengikuti
31 Kenapa Lu Ngikutin Gue?
32 Kebiasaan Baru Revan
33 Nyaris Celaka Lagi
34 Gosip Baru
35 Adu Mulut di Kantin
36 Orang yang Memotret Diam-Diam
37 Mimpi yang Sama Lagi
38 Luka yang Tidak Terlihat
39 Perkelahian di Gang Lama
40 Tatapan yang Berubah
41 Mimisan di Tengah Pelajaran
42 Jangan Sok Kuat
43 Kamera yang Mati
44 Pulang Bareng
45 Bukan Kebetulan
46 Surat Tanpa Nama
47 Festival Kelas
48 Orang Bertopi Hitam
49 Janji yang Tidak Diucapkan
50 Nama di Batu Nisan
51 Festival Dimulai
52 Kerja Kelompok yang Berantakan
53 Rumor Baru di Grup Angkatan
54 Kesal Karena Gosip
55 Orang yang Terus Mengawasi
56 Gangguan Listrik Kedua
57 Pulang Terlalu Malam
58 Tatapan Sahabat
59 Foto yang Menghilang
60 Seseorang di Atas Rooftop
61 Pagi Festival
62 Ramai Sejak Pagi
63 Pengakuan Diam-Diam
64 Lagu di Atas Panggung
65 Kenangan yang Terpotong
66 Rumor dan Kenyataan
67 Rencana di Balik Layar
68 Menjelang Rooftop
69 Pilihan di Antara Dua Jalan
70 Serangan Balik
71 Bayangan yang Tak Hilang
72 Di Balik Keluarga Sanjaya
73 Di Balik Senyuman
74 Kekuatan di Balik Kelemahan
75 Hari Menjelang Pertarungan
76 Panggung Pertarungan
77 Detak yang Melemah
78 Malam Penuh Pengakuan
79 Fajar yang Tak Pasti
80 Hari yang Dinanti
81 Piknik di Taman Kota
82 Di Balik Pintu Keluarga Sanjaya
83 Hujan di Jendela
84 Kejutan di Balik Senja
85 Firasat di Pagi Hari
86 Gelombang Kedua
87 Setelah Semuanya
88 Hari yang Tenang
89 Langkah Baru
90 Musim yang Berganti
91 Perjalanan ke Desa Terpencil
92 Batu Hijau dan Harapan Baru
93 Tanda-Tanda
94 Momen yang Tak Terlupakan
95 Kembali ke Rutinitas
96 Rencana untuk Masa Depan
97 Pentas Seni yang Dinanti
98 Keajaiban di Setiap Hari
99 Pertarungan Terakhir di Atas Panggung
100 Malam yang Tak Terlupakan
101 Pilihan Hati yang Kuat
102 Detik yang Berharga
103 Cahaya di Ujung Senja
104 Rencana Masa Depan
105 Malam yang Sunyi
106 Pagi yang Dingin
107 Di Antara Dua Dunia
108 Hidup Tanpamu
109 Mengukir Senyum Baru
110 Melangkah ke Masa Depan
111 Cahaya di Balik Kenangan
112 Hening yang Bersuara
113 Saatnya Pergi untuk Bertemu
114 Akhir yang Menjadi Awal
115 Bersambung
Episodes

Updated 115 Episodes

1
Hari Pertama, Musuh Lama
2
Bangku Sebelah Musuh
3
Luka Lama Belum Sembuh
4
Aturan Pertama MPLS
5
Rumor Sang Preman
6
Tantangan di Lapangan Basket
7
Gang Belakang Sekolah
8
Senja yang Aneh
9
Jalan Pulang
10
Hari yang Berhenti Berdetak
11
Rumah yang Kehilangan Tawa
12
Tujuh Hari Tanpa Makan
13
Pemakaman yang Belum Selesai
14
Rumor yang Menyebar
15
Mimpi yang Sama
16
Hari Ketujuh
17
Ketukan di Pintu
18
Gue Pulang
19
Orang yang Seharusnya Mati
20
Kabar yang Mengubah Segalanya
21
Masih Hangat
22
Gue Lihat Lu Mati
23
Kabar yang Menggemparkan Sekolah
24
Bangku yang Terisi Lagi
25
Masih Musuhan
26
Rumor Hantu
27
Tinju Pertama Setelah Kembali
28
Gue Gak Butuh Dibela
29
Orang Asing Bernama Adrian
30
Bayangan yang Mengikuti
31
Kenapa Lu Ngikutin Gue?
32
Kebiasaan Baru Revan
33
Nyaris Celaka Lagi
34
Gosip Baru
35
Adu Mulut di Kantin
36
Orang yang Memotret Diam-Diam
37
Mimpi yang Sama Lagi
38
Luka yang Tidak Terlihat
39
Perkelahian di Gang Lama
40
Tatapan yang Berubah
41
Mimisan di Tengah Pelajaran
42
Jangan Sok Kuat
43
Kamera yang Mati
44
Pulang Bareng
45
Bukan Kebetulan
46
Surat Tanpa Nama
47
Festival Kelas
48
Orang Bertopi Hitam
49
Janji yang Tidak Diucapkan
50
Nama di Batu Nisan
51
Festival Dimulai
52
Kerja Kelompok yang Berantakan
53
Rumor Baru di Grup Angkatan
54
Kesal Karena Gosip
55
Orang yang Terus Mengawasi
56
Gangguan Listrik Kedua
57
Pulang Terlalu Malam
58
Tatapan Sahabat
59
Foto yang Menghilang
60
Seseorang di Atas Rooftop
61
Pagi Festival
62
Ramai Sejak Pagi
63
Pengakuan Diam-Diam
64
Lagu di Atas Panggung
65
Kenangan yang Terpotong
66
Rumor dan Kenyataan
67
Rencana di Balik Layar
68
Menjelang Rooftop
69
Pilihan di Antara Dua Jalan
70
Serangan Balik
71
Bayangan yang Tak Hilang
72
Di Balik Keluarga Sanjaya
73
Di Balik Senyuman
74
Kekuatan di Balik Kelemahan
75
Hari Menjelang Pertarungan
76
Panggung Pertarungan
77
Detak yang Melemah
78
Malam Penuh Pengakuan
79
Fajar yang Tak Pasti
80
Hari yang Dinanti
81
Piknik di Taman Kota
82
Di Balik Pintu Keluarga Sanjaya
83
Hujan di Jendela
84
Kejutan di Balik Senja
85
Firasat di Pagi Hari
86
Gelombang Kedua
87
Setelah Semuanya
88
Hari yang Tenang
89
Langkah Baru
90
Musim yang Berganti
91
Perjalanan ke Desa Terpencil
92
Batu Hijau dan Harapan Baru
93
Tanda-Tanda
94
Momen yang Tak Terlupakan
95
Kembali ke Rutinitas
96
Rencana untuk Masa Depan
97
Pentas Seni yang Dinanti
98
Keajaiban di Setiap Hari
99
Pertarungan Terakhir di Atas Panggung
100
Malam yang Tak Terlupakan
101
Pilihan Hati yang Kuat
102
Detik yang Berharga
103
Cahaya di Ujung Senja
104
Rencana Masa Depan
105
Malam yang Sunyi
106
Pagi yang Dingin
107
Di Antara Dua Dunia
108
Hidup Tanpamu
109
Mengukir Senyum Baru
110
Melangkah ke Masa Depan
111
Cahaya di Balik Kenangan
112
Hening yang Bersuara
113
Saatnya Pergi untuk Bertemu
114
Akhir yang Menjadi Awal
115
Bersambung

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!