Aku Rela Bangkit Dari Kematian Demi Cintaku Dengan Musuhku

Aku Rela Bangkit Dari Kematian Demi Cintaku Dengan Musuhku

Hari Pertama, Musuh Lama

Pagi itu, langit di atas SMA Mahardika High School bersih tanpa awan, seolah menyambut ratusan siswa baru dengan keceriaan yang dipaksakan. Gerbang besi hitam menjulang tinggi, dikerumuni oleh barisan remaja berseragam putih-biru yang tampak asing dan canggung, mencoba beradaptasi dengan lingkungan baru mereka di hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Di seberang jalan, sebuah mobil SUV hitam mewah berhenti di tepi trotoar. Di dalam mobil, suasana justru terasa sangat hangat, jauh dari ketegangan yang merayap di luar sana.

"Sini dulu, Ray. Dasinya masih miring itu," panggil Anindya Mahendra, sang ibu, seraya mencondongkan tubuhnya ke kursi belakang. Jemari lembutnya yang terbiasa memegang peralatan medis kini dengan telaten merapikan dasi abu-abu putra sulungnya.

Rayyan Steven Mahendra hanya bisa mendesah pasrah, membiarkan ibunya melakukan tugasnya. "Ma, udah rapi kok. Nanti malah telat akunya."

"Telat apa telat? Bilang aja malu dilihatin temen baru," celetuk Reina, adik perempuan Rayyan yang baru berusia dua belas tahun, dari kursi sebelah ibunya. Gadis kecil itu menjulurkan lidahnya jahil. "Liat tuh, mukanya tegang banget kayak mau disuntik mati."

"Reina, mulutnya," tegur Steven Mahendra, sang ayah, dari balik kemudi. Meski menegur, matanya yang tegas tampak berkilat jenaka lewat kaca spion tengah. Ia menepuk bahu Rayyan pelan. "Belajar yang bener, Ray. Jangan bikin rusuh di sekolah baru."

"Yang sering bikin rusuh kan bukan Rayyan, Pa, tapi tetangga sebelah," gerutu Rayyan pelan, yang langsung disambut tawa kecil dari ayahnya.

Sebelum turun, Rayyan dengan sengaja mengacak-acak rambut Reina hingga adiknya itu berteriak kesal. "Diem lo, bocil! Jagain tuh boneka lu di rumah biar gak ilang!"

"Ih, Kak Rayyan menyebalkan!" jerit Reina, merapikan rambutnya dengan cemberut.

Anindya tersenyum lembut, mengelus pipi Rayyan sekilas. "Hati-hati di jalan ya, Sayang. Pulang sekolah langsung kabari Mama."

"Siap, Ma. Pa, Rayyan berangkat dulu."

Rayyan menutup pintu mobil dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya. Kehangatan keluarganya selalu menjadi pelindung terbaiknya dari kerasnya dunia luar. Ia tidak pernah tahu bahwa momen kecil, tawa remeh, dan usapan lembut ibunya pagi itu adalah kepingan memori terakhir yang akan ia bawa sebelum takdir merenggut semuanya.

...****************...

Begitu menginjakkan kaki di halaman Mahardika High School, Rayyan langsung disambut oleh seruan familier dari arah koridor dekat aula.

"Woy, si paling pinter akhirnya dateng juga!"

Zidan Pramudya melambaikan tangannya tinggi-tinggi, disusul oleh Nathael Wijaya, Jovian Kusuma, dan Elvano Mahastara yang sedang bersandar di pilar koridor. Mereka berlima sudah bersahabat sejak SMP, dan untungnya, semuanya berhasil lolos masuk ke sekolah elit ini.

"Gila, rapi bener lu, Ray. Gak cocok ama muka lu yang biasanya kucel habis begadang main game," ledek Nathael, langsung merangkul pundak Rayyan begitu cowok itu mendekat.

"Dianter nyokap-bokap ya tadi? Manja bener si anak kesayangan," sahut Elvano sambil terkekeh, menyodorkan sekotak susu cokelat yang langsung direbut Rayyan tanpa permisi.

"Bawel lu pada," balas Rayyan setelah meneguk susu tersebut. "Masih untung gua dateng tepat waktu. Daripada lu, El, muka lu masih sisa bantal gitu. Belum mandi ya lu?"

"Sialan, mandi gua! Pake parfum mahal malah!" bela Elvano, pura-pura tersinggung.

Di sela tawa dan ejekan ringan khas remaja putra, Jovian mendadak mendekatkan wajahnya, menurunkan nada suaranya menjadi lebih serius. "Eh, tapi serius deh. Lu pada udah liat daftar pembagian kelas sementara belum?"

"Belum. Emang kenapa?" tanya Zidan.

Jovian menghela napas panjang, menatap Rayyan dengan pandangan prihatin yang dibuat-buat. "Lu harus siap-siap mental, Ray. Si raja iblis... masuk sini juga."

Seketika, tawa di antara mereka mereda. Rayyan menghentikan gerakannya yang hendak membuang kotak susu kosong ke tempat sampah. Satu nama langsung terlintas di kepalanya, memicu rasa asam di lambungnya yang mendadak bergejolak.

"Revan?" bisik Nathael, memastikan.

"Siapa lagi kalau bukan anak konglomerat Sanjaya itu?" Jovian mengedikkan bahu. "Gua denger dia satu kelas lagi sama kita. Takdir lu emang seburuk itu ya, Ray."

Rayyan mendengus dingin, berusaha mengabaikan debaran tidak nyaman di dadanya. "Bodo amat. Selama dia nggak nyari ribut duluan, gua males ngelayanin anak manja kayak dia."

...****************...

Vroom! Vroooooom!

Suara raungan mesin motor sport berkapasitas besar mendadak membelah kebisingan halaman sekolah. Suara knalpot yang bising dan sengaja digeber itu seketika menarik perhatian seluruh siswa baru, bahkan beberapa panitia OSIS yang sedang berjaga di dekat gerbang langsung menoleh dengan dahi berkerut.

Sebuah motor sport hitam legam meluncur masuk ke area parkir dengan kecepatan yang tidak semestinya di lingkungan sekolah. Di belakangnya, menyusul empat motor sport lain yang tak kalah bising.

Penunggang motor hitam itu melepas helm full-face-nya, membiarkan rambut hitamnya yang sedikit berantakan jatuh menghalangi dahinya. Revan Devano Sanjaya. Cowok itu turun dari motor dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat untuk menarik perhatian. Seragam putih abu-abunya sengaja tidak dikancingkan sepenuhnya di bagian atas, memperlihatkan kaus hitam di dalamnya. Di buku-buku jarinya, masih terlihat bekas luka goresan merah yang belum sepenuhnya kering bukti nyata dari perkelahian jalanan yang baru ia lalui kemarin malam.

Di belakangnya, menyusul geng setianya: Kevin Mahardika, Axel Danendra, Darren Wicaksana, dan Leon Pradipta. Mereka berlima berjalan melewati kerumunan siswa baru seperti sekelompok predator yang menguasai wilayah baru.

"Baru hari pertama, lagaknya udah kayak yang punya sekolah," bisik Zidan sinis, yang langsung disenggol oleh Jovian agar diam.

Revan berjalan dengan langkah santai, kedua tangannya tenggelam di saku celana abu-abunya. Namun, langkahnya mendadak melambat saat matanya menangkap sosok ramping yang berdiri di dekat koridor aula.

Mata gelap Revan mengunci pandangan Rayyan.

Suasana di sekitar mereka mendadak hening. Angin pagi yang berembus terasa mendingin dalam sekejap. Siswa-siswa lain yang menyadari sejarah permusuhan berdarah-darah antara dua cowok ini sejak SD perlahan-lahan mundur, memberikan ruang kosong di antara keduanya seolah takut terkena percikan api.

Revan menghentikan langkahnya tepat tiga langkah di depan Rayyan. Sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai tipis yang sangat menyebalkan.

"Masih hidup aja, ya," ucap Revan datar, namun sarat akan provokasi.

Rayyan tidak mundur satu sentimeter pun. Ia membalas tatapan tajam Revan dengan mata yang menyipit dingin. "Kecewa?"

"Lumayan," sahut Revan, memiringkan kepalanya sedikit. "Gua pikir lu bakal hanyut di parit waktu badai kemarin."

"Sayang banget," Rayyan mendengus pelan, melipat kedua tangannya di depan dada. "Gua juga masih berharap lu pindah sekolah, atau minimal masuk jurang biar dunia lebih tenang."

Rahang Revan mengeras mendengar jawaban telak itu. Ia maju satu langkah, mempersempit jarak di antara mereka hingga Rayyan bisa mencium aroma samar rokok dan parfum maskulin yang tajam dari tubuh cowok itu.

"Mulut lu masih seberisik dulu, Ray," bisik Revan rendah, matanya berkilat berbahaya.

"Dan lu masih sebodoh dulu, Rev," balas Rayyan tanpa rasa takut sedikit pun.

Melihat situasi yang mulai memanas, Kevin Mahardika segera menepuk bahu Revan kasar. "Rev, hari pertama. Tahan dulu ego lu. Jangan bikin bokap lu dipanggil ke sekolah lagi sebelum upacara dimulai."

Di pihak lain, Zidan juga langsung menarik lengan Rayyan mundur. "Ray, santai. Jangan kepancing. Ada banyak guru di belakang lu."

Ketegangan itu akhirnya pecah saat suara dehaman keras terdengar dari arah belakang mereka.

"Heh! Kalian berdua yang di sana! Mau jadi tontonan?!"

Pak Arip, wali kelas sekaligus guru BK yang terkenal dengan ketegasannya, berjalan mendekat dengan penggaris kayu panjang di tangannya. Matanya menatap tajam ke arah Revan dan Rayyan bergantian.

"Hari pertama MPLS sudah mau bikin geng-gengan? Bubar semua! Masuk ke aula sekarang! Siapa yang saya lihat membuat keributan lagi, langsung saya jemur di tengah lapangan sampai sore!" ancam Pak Arip dengan suara menggelegar.

Siswa-siswa di sekitar langsung berhamburan pergi menuju aula demi menghindari amukan sang guru BK.

Revan menatap Pak Arip sekilas dengan pandangan malas, lalu kembali menatap Rayyan. Sebelum melangkah pergi, Revan sengaja berjalan sangat dekat di samping Rayyan dan...

Brak.

Bahu lebar Revan menyenggol bahu Rayyan dengan keras hingga cowok itu sedikit terhuyung. Namun, Rayyan dengan cepat menyeimbangkan tubuhnya, berbalik, dan membalas menyenggol bahu Revan dari belakang dengan tenaga yang tak kalah kuat.

Revan sempat menghentikan langkahnya, menoleh sedikit ke belakang dengan kilatan amarah di matanya, sebelum akhirnya tertawa hambar dan melanjutkan jalannya bersama gengnya.

Rayyan mengepalkan tangannya di dalam saku celana, menatap punggung tegap Revan yang perlahan menjauh. Hari pertama baru saja dimulai, tetapi satu hal yang pasti: SMA Mahardika tidak akan pernah menjadi tempat yang tenang bagi mereka berdua. Permusuhan masa kecil mereka kini telah bersemi kembali di tanah yang baru, lebih tajam, lebih berbahaya, dan siap meledak kapan saja.

Episodes
1 Hari Pertama, Musuh Lama
2 Bangku Sebelah Musuh
3 Luka Lama Belum Sembuh
4 Aturan Pertama MPLS
5 Rumor Sang Preman
6 Tantangan di Lapangan Basket
7 Gang Belakang Sekolah
8 Senja yang Aneh
9 Jalan Pulang
10 Hari yang Berhenti Berdetak
11 Rumah yang Kehilangan Tawa
12 Tujuh Hari Tanpa Makan
13 Pemakaman yang Belum Selesai
14 Rumor yang Menyebar
15 Mimpi yang Sama
16 Hari Ketujuh
17 Ketukan di Pintu
18 Gue Pulang
19 Orang yang Seharusnya Mati
20 Kabar yang Mengubah Segalanya
21 Masih Hangat
22 Gue Lihat Lu Mati
23 Kabar yang Menggemparkan Sekolah
24 Bangku yang Terisi Lagi
25 Masih Musuhan
26 Rumor Hantu
27 Tinju Pertama Setelah Kembali
28 Gue Gak Butuh Dibela
29 Orang Asing Bernama Adrian
30 Bayangan yang Mengikuti
31 Kenapa Lu Ngikutin Gue?
32 Kebiasaan Baru Revan
33 Nyaris Celaka Lagi
34 Gosip Baru
35 Adu Mulut di Kantin
36 Orang yang Memotret Diam-Diam
37 Mimpi yang Sama Lagi
38 Luka yang Tidak Terlihat
39 Perkelahian di Gang Lama
40 Tatapan yang Berubah
41 Mimisan di Tengah Pelajaran
42 Jangan Sok Kuat
43 Kamera yang Mati
44 Pulang Bareng
45 Bukan Kebetulan
46 Surat Tanpa Nama
47 Festival Kelas
48 Orang Bertopi Hitam
49 Janji yang Tidak Diucapkan
50 Nama di Batu Nisan
51 Festival Dimulai
52 Kerja Kelompok yang Berantakan
53 Rumor Baru di Grup Angkatan
54 Kesal Karena Gosip
55 Orang yang Terus Mengawasi
56 Gangguan Listrik Kedua
57 Pulang Terlalu Malam
58 Tatapan Sahabat
59 Foto yang Menghilang
60 Seseorang di Atas Rooftop
61 Pagi Festival
62 Ramai Sejak Pagi
63 Pengakuan Diam-Diam
64 Lagu di Atas Panggung
65 Kenangan yang Terpotong
66 Rumor dan Kenyataan
67 Rencana di Balik Layar
68 Menjelang Rooftop
69 Pilihan di Antara Dua Jalan
70 Serangan Balik
71 Bayangan yang Tak Hilang
72 Di Balik Keluarga Sanjaya
73 Di Balik Senyuman
74 Kekuatan di Balik Kelemahan
75 Hari Menjelang Pertarungan
76 Panggung Pertarungan
77 Detak yang Melemah
78 Malam Penuh Pengakuan
79 Fajar yang Tak Pasti
80 Hari yang Dinanti
81 Piknik di Taman Kota
82 Di Balik Pintu Keluarga Sanjaya
83 Hujan di Jendela
84 Kejutan di Balik Senja
85 Firasat di Pagi Hari
86 Gelombang Kedua
87 Setelah Semuanya
88 Hari yang Tenang
89 Langkah Baru
90 Musim yang Berganti
91 Perjalanan ke Desa Terpencil
92 Batu Hijau dan Harapan Baru
93 Tanda-Tanda
94 Momen yang Tak Terlupakan
95 Kembali ke Rutinitas
96 Rencana untuk Masa Depan
97 Pentas Seni yang Dinanti
98 Keajaiban di Setiap Hari
99 Pertarungan Terakhir di Atas Panggung
100 Malam yang Tak Terlupakan
101 Pilihan Hati yang Kuat
102 Detik yang Berharga
103 Cahaya di Ujung Senja
104 Rencana Masa Depan
105 Malam yang Sunyi
106 Pagi yang Dingin
107 Di Antara Dua Dunia
108 Hidup Tanpamu
109 Mengukir Senyum Baru
110 Melangkah ke Masa Depan
111 Cahaya di Balik Kenangan
112 Hening yang Bersuara
113 Saatnya Pergi untuk Bertemu
114 Akhir yang Menjadi Awal
115 Bersambung
Episodes

Updated 115 Episodes

1
Hari Pertama, Musuh Lama
2
Bangku Sebelah Musuh
3
Luka Lama Belum Sembuh
4
Aturan Pertama MPLS
5
Rumor Sang Preman
6
Tantangan di Lapangan Basket
7
Gang Belakang Sekolah
8
Senja yang Aneh
9
Jalan Pulang
10
Hari yang Berhenti Berdetak
11
Rumah yang Kehilangan Tawa
12
Tujuh Hari Tanpa Makan
13
Pemakaman yang Belum Selesai
14
Rumor yang Menyebar
15
Mimpi yang Sama
16
Hari Ketujuh
17
Ketukan di Pintu
18
Gue Pulang
19
Orang yang Seharusnya Mati
20
Kabar yang Mengubah Segalanya
21
Masih Hangat
22
Gue Lihat Lu Mati
23
Kabar yang Menggemparkan Sekolah
24
Bangku yang Terisi Lagi
25
Masih Musuhan
26
Rumor Hantu
27
Tinju Pertama Setelah Kembali
28
Gue Gak Butuh Dibela
29
Orang Asing Bernama Adrian
30
Bayangan yang Mengikuti
31
Kenapa Lu Ngikutin Gue?
32
Kebiasaan Baru Revan
33
Nyaris Celaka Lagi
34
Gosip Baru
35
Adu Mulut di Kantin
36
Orang yang Memotret Diam-Diam
37
Mimpi yang Sama Lagi
38
Luka yang Tidak Terlihat
39
Perkelahian di Gang Lama
40
Tatapan yang Berubah
41
Mimisan di Tengah Pelajaran
42
Jangan Sok Kuat
43
Kamera yang Mati
44
Pulang Bareng
45
Bukan Kebetulan
46
Surat Tanpa Nama
47
Festival Kelas
48
Orang Bertopi Hitam
49
Janji yang Tidak Diucapkan
50
Nama di Batu Nisan
51
Festival Dimulai
52
Kerja Kelompok yang Berantakan
53
Rumor Baru di Grup Angkatan
54
Kesal Karena Gosip
55
Orang yang Terus Mengawasi
56
Gangguan Listrik Kedua
57
Pulang Terlalu Malam
58
Tatapan Sahabat
59
Foto yang Menghilang
60
Seseorang di Atas Rooftop
61
Pagi Festival
62
Ramai Sejak Pagi
63
Pengakuan Diam-Diam
64
Lagu di Atas Panggung
65
Kenangan yang Terpotong
66
Rumor dan Kenyataan
67
Rencana di Balik Layar
68
Menjelang Rooftop
69
Pilihan di Antara Dua Jalan
70
Serangan Balik
71
Bayangan yang Tak Hilang
72
Di Balik Keluarga Sanjaya
73
Di Balik Senyuman
74
Kekuatan di Balik Kelemahan
75
Hari Menjelang Pertarungan
76
Panggung Pertarungan
77
Detak yang Melemah
78
Malam Penuh Pengakuan
79
Fajar yang Tak Pasti
80
Hari yang Dinanti
81
Piknik di Taman Kota
82
Di Balik Pintu Keluarga Sanjaya
83
Hujan di Jendela
84
Kejutan di Balik Senja
85
Firasat di Pagi Hari
86
Gelombang Kedua
87
Setelah Semuanya
88
Hari yang Tenang
89
Langkah Baru
90
Musim yang Berganti
91
Perjalanan ke Desa Terpencil
92
Batu Hijau dan Harapan Baru
93
Tanda-Tanda
94
Momen yang Tak Terlupakan
95
Kembali ke Rutinitas
96
Rencana untuk Masa Depan
97
Pentas Seni yang Dinanti
98
Keajaiban di Setiap Hari
99
Pertarungan Terakhir di Atas Panggung
100
Malam yang Tak Terlupakan
101
Pilihan Hati yang Kuat
102
Detik yang Berharga
103
Cahaya di Ujung Senja
104
Rencana Masa Depan
105
Malam yang Sunyi
106
Pagi yang Dingin
107
Di Antara Dua Dunia
108
Hidup Tanpamu
109
Mengukir Senyum Baru
110
Melangkah ke Masa Depan
111
Cahaya di Balik Kenangan
112
Hening yang Bersuara
113
Saatnya Pergi untuk Bertemu
114
Akhir yang Menjadi Awal
115
Bersambung

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!