Aturan Pertama MPLS

Hari kedua Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dimulai dengan hawa pagi yang cukup menusuk. Halaman tengah SMA Mahardika High School dipenuhi oleh ratusan siswa baru yang berbaris rapi di bawah pengawasan ketat anggota OSIS. Aturan pertama MPLS yang tertulis di buku panduan sangat jelas: Disiplin, atribut lengkap, dan patuh pada instruksi.

Rayyan berdiri tegak di barisannya. Atribut konyolnya mulai dari papan nama dari kardus berbentuk permen raksasa di dadanya, topi dari bola plastik yang dibelah dua, hingga tali sepatu beda warna terpasang dengan sempurna. Ia bukan tipe orang yang suka melanggar aturan hanya untuk terlihat keren. Bagi Rayyan, menyelesaikan MPLS dengan tenang tanpa menarik perhatian adalah misi utamanya.

Namun, ketenangan itu langsung buyar saat barisan paling belakang kelas X-1 mendadak gaduh.

"Heh! Kamu yang di sana! Kenapa atributnya tidak dipakai?"

Suara melengking dari Kak Bianca, salah satu seksi kedisiplinan OSIS yang terkenal galak, membelah lapangan. Semua mata langsung tertuju pada satu titik.

Di sana, Revan berdiri santai dengan satu tangan di saku celana. Topi bola plastiknya sengaja dikalungkan di leher seperti kalung, papan namanya dilipat dua dan diselipkan di saku belakang, sementara seragamnya dibiarkan berantakan tanpa dasi.

"Ilang, Kak," jawab Revan enteng, tanpa ada rasa bersalah sedikit pun di wajahnya.

"Ilang atau sengaja kamu buang?" cecar Kak Bianca, mukanya memerah menahan kesal. "Kamu tahu kan konsekuensinya kalau melanggar aturan?"

"Tahu. Hukum aja, gak apa-apa," sahut Revan malas. Sifat arogannya sebagai anak konglomerat yang terbiasa bebas benar-benar membuat para panitia OSIS mengelus dada.

Rayyan yang melihat itu dari barisan depan hanya bisa memutar bola matanya jengah. Caper banget sih itu bocah, batinnya ketus.

"Sudah, sudah! Bianca, biar saya yang urus anak ini nanti," sela Kak Adrian Varen Kusumahadi, ketua panitia MPLS yang juga merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh di sekolah. Adrian menatap Revan dengan senyum tipis yang sulit diartikan sebuah senyuman taktis yang menyembunyikan niat lain. "Sekarang, kita mulai permainan kelompok untuk melatih kerja sama tim."

...****************...

Tantangan hari ini dinamakan "Jembatan Buta". Setiap kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil berisi lima orang. Tugas mereka adalah menyeberangi sebuah area lapangan yang disimulasikan sebagai sungai lava menggunakan terpal hitam berukuran besar dengan hanya bermodalkan empat buah balok kayu kecil. Aturannya: kaki tidak boleh menyentuh terpal, dan arah pergerakan balok harus dipandu oleh satu orang 'strategis' yang memecahkan kode teka-teki dari panitia di ujung lapangan.

Rayyan menghela napas lega saat namanya dipanggil masuk ke dalam Kelompok 3. Bersamanya ada Sienna Hartono, Chelsea Aurelia, dan Farel Nugraha. Kelompok yang cukup aman.

Namun, kelegaan itu menguap instan saat nama kelima dibacakan.

"Dan anggota terakhir Kelompok 3... Revan Devano Sanjaya."

Seketika, Sienna dan Chelsea saling berpandangan dengan wajah pucat. Mereka berdua tahu betul perang dingin yang terjadi di kelas kemarin.

"Kak, seriusan? Enggak bisa ditukar?" protes Rayyan langsung kepada mentor pendamping kelompok mereka. "Gua rasa kelompok ini bakal pincang kalau ada dia."

Revan yang baru bergabung langsung menyenggol bahu Rayyan kasar saat lewat. "Gua juga ogah sekelompok sama cowok bawel kayak lu. Bikin sial aja."

"Kalian tidak boleh menolak. Ini bagian dari penilaian kerja sama," tegas Kak pendamping tanpa mau dibantah. "Waktu kalian sepuluh menit untuk menyelesaikan lintasan. Mulai dari sekarang!"

...****************...

"Oke, dengerin gua," Rayyan langsung mengambil alih kepemimpinan begitu mereka berdiri di garis start. Ia membuka lembaran kertas berisi teka-teki koordinat dari panitia. "Teka-tekinya bilang: Melangkah ke arah matahari terbit, lalu berbalik ke arah angin dingin berembus. Ini artinya kita harus gerak ke arah timur dulu sebanyak dua langkah balok, baru belok ke utara. Gua yang bakal ngatur posisi baloknya. Lu semua tinggal ikutin instruksi gua."

"Kelamaan, bego," potong Revan kasar. Cowok itu langsung menyambar dua balok kayu dari tangan Farel. "Sungai ginian doang mah tinggal ditaruh lurus aja terus kita loncat. Gak usah pake rumus matematika lu yang bikin pusing."

"Lu denger gak sih aturannya tadi?!" desis Rayyan, menahan diri agar tidak mencakar wajah tampan Revan saat itu juga. "Kalau kaki kita atau baloknya keluar dari batas garis hitam terpal, kelompok kita langsung didiskualifikasi! Lu mau kita dihukum ngebersihin toilet sekolah bertiga?"

"Daripada gua harus dengerin ocehan lu yang kayak burung beo, mending gua gagal," sahut Revan santai, bersiap melempar balok pertama ke tengah terpal tanpa perhitungan.

"Revan, taruh baloknya!" bentak Rayyan, menahan lengan Revan kuat-kuat.

Mata mereka beradu di tengah lapangan yang panas. Udara di antara mereka kembali mendidih. Chelsea dan Sienna hanya bisa berdiri kaku, ketakutan melihat urat-urat kemarahan yang mulai tercetak di pelipis kedua cowok itu.

"Dua menit berlalu! Kelompok 1 sudah hampir sampai tengah!" teriak panitia menggunakan pelantang suara.

"Pake otak lu sekali-kali, Rev!" bentak Rayyan lagi, suaranya naik satu oktav. "Gua tahu lu gak suka diatur, tapi sekarang ini kerja kelompok. Taruh baloknya di koordinat timur laut, sekarang!"

Revan menatap tajam ke arah lembaran kertas di tangan Rayyan, lalu ke arah lintasan terpal. Meski egonya setinggi langit, Revan tidak bodoh. Dia tahu Rayyan adalah murid tercerdas di angkatan mereka. Dengan dengusan kasar, Revan akhirnya melempar balok pertama tepat ke arah koordinat yang ditunjuk Rayyan dengan presisi yang mengejutkan.

Plak. Balok mendarat sempurna tanpa menyentuh garis batas satu milimeter pun.

"Sienna, jalan! Chelsea, pegang balok belakang buat dipindahin!" perintah Rayyan cepat.

...****************...

Kerja sama yang awalnya dipenuhi makian itu perlahan-lahan menemukan ritmenya secara tidak sadar.

Rayyan bertindak sebagai otak. Otaknya bekerja dengan kecepatan luar biasa, membaca perubahan arah angin buatan dari panitia yang menggunakan kipas angin besar di pinggir lapangan untuk mengganggu keseimbangan dan menerjemahkannya menjadi instruksi sudut peletakan balok.

"Revan, miringin baloknya tiga puluh derajat ke kiri! Tumpuannya licin karena ada air!" teriak Rayyan di tengah kebisingan lapangan.

"Gak usah teriak, gua gak budi!" balas Revan. Namun, meski mulutnya mengumpat, tangannya bergerak dengan sangat gesit. Revan memiliki refleks fisik dan kekuatan motorik yang luar biasa. Setiap kali balok hampir bergeser karena diinjak Sienna yang gemetaran, tangan kokoh Revan akan langsung menahan tumpuan balok itu dengan sigap.

Namun, saat mereka tinggal berjarak tiga meter dari garis finish, sebuah kecelakaan terjadi.

Sienna kehilangan keseimbangannya saat mencoba melangkah ke balok terakhir. Tubuhnya oleng ke kanan, tepat ke arah area lava yang akan membuat mereka didiskualifikasi seketika.

"Aaa!" jerit Sienna panik.

"Sienna!" teriak Rayyan. Ia mencoba meraih tangan Sienna, namun posisinya terlalu jauh di belakang.

Dalam sepersekian detik yang krusial itu, insting bertahan Revan bekerja lebih cepat dari siapa pun. Tanpa memedulikan keselamatannya sendiri, Revan melompat ke depan, mendaratkan satu kakinya di ujung balok penumpu yang sempit, lalu dengan satu tangan kokohnya, ia menyambar pinggang Sienna dan menarik gadis itu kembali ke posisi seimbang.

Namun, akibat gerakan tiba-tiba itu, balok tumpuan utama mereka mulai retak dan bergeser cepat ke arah garis hitam.

"Rayyan! Tumpuannya geser!" teriak Revan, wajahnya yang biasanya tenang kini menegang menahan beban tubuhnya dan Sienna.

Rayyan tidak membuang waktu untuk berpikir. Ia menjatuhkan dirinya ke terpal menjaga agar lutut dan kakinya tetap berada di atas sisa balok belakang lalu menjulurkan kedua tangannya untuk mencengkeram ujung balok depan yang bergeser, menahannya dengan seluruh sisa tenaganya hingga buku-buku jarinya memutih.

"Revan, lompat sekarang! Bawa Sienna!" teriak Rayyan, napasnya memburu cepat menahan beban yang luar biasa di tangannya.

Revan menatap Rayyan yang sedang bersusah payah menahan balok di bawahnya. Tanpa ragu, Revan menggunakan pundak Rayyan sebagai tumpuan sesaat, lalu dengan satu hentakan kuat, ia melompat membawa Sienna melewati garis finish, disusul oleh Chelsea dan Farel yang berlari cepat di belakang mereka.

Tepat saat kaki terakhir mereka menginjak garis aman, bel tanda waktu habis berbunyi.

Buzzzzz!

"Kelompok 3... lolos!" teriak panitia pendamping dengan wajah tidak percaya.

...****************...

Sienna langsung terduduk di tanah sambil menangis lega, sementara Chelsea memeluknya erat. "Gila... kalian berdua keren banget!" isak Sienna di sela napasnya yang terengah-engah.

"Iya, sumpah! Tadi itu hampir banget!" sahut Chelsea, matanya berbinar menatap Rayyan dan Revan bergantian. "Rayyan mikirnya cepet banget kayak komputer, terus gerakan Revan... gila, gercep parah!"

Di pinggir lapangan, beberapa siswa dari kelas lain yang menyaksikan kejadian itu mulai berbisik-bisik.

"Lu liat gak tadi? Si Revan refleksnya gila banget, langsung nangkap gitu aja."

"Iya, terus si Rayyan juga langsung paham apa yang harus dilakuin tanpa perlu dikomando."

"Anjir, kalau mereka berdua gak musuhan... sekolah ini bisa mereka kuasai berdua, sih."

Mendengar pujian-pujian itu, Revan hanya mendengus dingin. Ia berdiri, membersihkan debu di celananya, lalu menatap Rayyan yang masih terduduk di tanah sambil memegangi pergelangan tangannya yang memerah karena menahan beban tadi.

Revan berjalan mendekat, menatap Rayyan dari atas dengan pandangan datar. "Lain kali, gak usah sok pahlawan nahan balok kayak gitu. Tangan lu yang kayak tripleks itu hampir patah gua liat."

Rayyan mendongak, menatap Revan dengan tatapan tajam yang sarat akan kekesalan. Ia berdiri sendiri tanpa menerima uluran tangan dari siapa pun.

"Gua lakuin itu demi kelompok gua, bukan demi lu," balas Rayyan dingin, merapikan papan nama permennya yang sempat miring. "Dan asal lu tahu, kalau bukan karena refleks lu yang sok jagoan itu, kita gak bakal nyaris jatuh dari awal."

"Terserah," sahut Revan pendek, berbalik arah dan berjalan menjauh menuju kantin bersama Kevin yang sudah menunggunya di pinggir lapangan.

Rayyan menatap punggung tegap musuhnya yang perlahan menjauh dengan perasaan campur aduk di dadanya. Ada setitik rasa tidak percaya bahwa mereka baru saja berhasil menyelesaikan tantangan sesulit itu bersama-sama. Namun, egonya yang terlampau besar dengan cepat mengubur perasaan itu dalam-dalam. Bagi Rayyan, Revan tetaplah musuh lamanya, dan satu kemenangan kecil hari ini tidak akan pernah mengubah kenyataan itu.

Episodes
1 Hari Pertama, Musuh Lama
2 Bangku Sebelah Musuh
3 Luka Lama Belum Sembuh
4 Aturan Pertama MPLS
5 Rumor Sang Preman
6 Tantangan di Lapangan Basket
7 Gang Belakang Sekolah
8 Senja yang Aneh
9 Jalan Pulang
10 Hari yang Berhenti Berdetak
11 Rumah yang Kehilangan Tawa
12 Tujuh Hari Tanpa Makan
13 Pemakaman yang Belum Selesai
14 Rumor yang Menyebar
15 Mimpi yang Sama
16 Hari Ketujuh
17 Ketukan di Pintu
18 Gue Pulang
19 Orang yang Seharusnya Mati
20 Kabar yang Mengubah Segalanya
21 Masih Hangat
22 Gue Lihat Lu Mati
23 Kabar yang Menggemparkan Sekolah
24 Bangku yang Terisi Lagi
25 Masih Musuhan
26 Rumor Hantu
27 Tinju Pertama Setelah Kembali
28 Gue Gak Butuh Dibela
29 Orang Asing Bernama Adrian
30 Bayangan yang Mengikuti
31 Kenapa Lu Ngikutin Gue?
32 Kebiasaan Baru Revan
33 Nyaris Celaka Lagi
34 Gosip Baru
35 Adu Mulut di Kantin
36 Orang yang Memotret Diam-Diam
37 Mimpi yang Sama Lagi
38 Luka yang Tidak Terlihat
39 Perkelahian di Gang Lama
40 Tatapan yang Berubah
41 Mimisan di Tengah Pelajaran
42 Jangan Sok Kuat
43 Kamera yang Mati
44 Pulang Bareng
45 Bukan Kebetulan
46 Surat Tanpa Nama
47 Festival Kelas
48 Orang Bertopi Hitam
49 Janji yang Tidak Diucapkan
50 Nama di Batu Nisan
51 Festival Dimulai
52 Kerja Kelompok yang Berantakan
53 Rumor Baru di Grup Angkatan
54 Kesal Karena Gosip
55 Orang yang Terus Mengawasi
56 Gangguan Listrik Kedua
57 Pulang Terlalu Malam
58 Tatapan Sahabat
59 Foto yang Menghilang
60 Seseorang di Atas Rooftop
61 Pagi Festival
62 Ramai Sejak Pagi
63 Pengakuan Diam-Diam
64 Lagu di Atas Panggung
65 Kenangan yang Terpotong
66 Rumor dan Kenyataan
67 Rencana di Balik Layar
68 Menjelang Rooftop
69 Pilihan di Antara Dua Jalan
70 Serangan Balik
71 Bayangan yang Tak Hilang
72 Di Balik Keluarga Sanjaya
73 Di Balik Senyuman
74 Kekuatan di Balik Kelemahan
75 Hari Menjelang Pertarungan
76 Panggung Pertarungan
77 Detak yang Melemah
78 Malam Penuh Pengakuan
79 Fajar yang Tak Pasti
80 Hari yang Dinanti
81 Piknik di Taman Kota
82 Di Balik Pintu Keluarga Sanjaya
83 Hujan di Jendela
84 Kejutan di Balik Senja
85 Firasat di Pagi Hari
86 Gelombang Kedua
87 Setelah Semuanya
88 Hari yang Tenang
89 Langkah Baru
90 Musim yang Berganti
91 Perjalanan ke Desa Terpencil
92 Batu Hijau dan Harapan Baru
93 Tanda-Tanda
94 Momen yang Tak Terlupakan
95 Kembali ke Rutinitas
96 Rencana untuk Masa Depan
97 Pentas Seni yang Dinanti
98 Keajaiban di Setiap Hari
99 Pertarungan Terakhir di Atas Panggung
100 Malam yang Tak Terlupakan
101 Pilihan Hati yang Kuat
102 Detik yang Berharga
103 Cahaya di Ujung Senja
104 Rencana Masa Depan
105 Malam yang Sunyi
106 Pagi yang Dingin
107 Di Antara Dua Dunia
108 Hidup Tanpamu
109 Mengukir Senyum Baru
110 Melangkah ke Masa Depan
111 Cahaya di Balik Kenangan
112 Hening yang Bersuara
113 Saatnya Pergi untuk Bertemu
114 Akhir yang Menjadi Awal
115 Bersambung
Episodes

Updated 115 Episodes

1
Hari Pertama, Musuh Lama
2
Bangku Sebelah Musuh
3
Luka Lama Belum Sembuh
4
Aturan Pertama MPLS
5
Rumor Sang Preman
6
Tantangan di Lapangan Basket
7
Gang Belakang Sekolah
8
Senja yang Aneh
9
Jalan Pulang
10
Hari yang Berhenti Berdetak
11
Rumah yang Kehilangan Tawa
12
Tujuh Hari Tanpa Makan
13
Pemakaman yang Belum Selesai
14
Rumor yang Menyebar
15
Mimpi yang Sama
16
Hari Ketujuh
17
Ketukan di Pintu
18
Gue Pulang
19
Orang yang Seharusnya Mati
20
Kabar yang Mengubah Segalanya
21
Masih Hangat
22
Gue Lihat Lu Mati
23
Kabar yang Menggemparkan Sekolah
24
Bangku yang Terisi Lagi
25
Masih Musuhan
26
Rumor Hantu
27
Tinju Pertama Setelah Kembali
28
Gue Gak Butuh Dibela
29
Orang Asing Bernama Adrian
30
Bayangan yang Mengikuti
31
Kenapa Lu Ngikutin Gue?
32
Kebiasaan Baru Revan
33
Nyaris Celaka Lagi
34
Gosip Baru
35
Adu Mulut di Kantin
36
Orang yang Memotret Diam-Diam
37
Mimpi yang Sama Lagi
38
Luka yang Tidak Terlihat
39
Perkelahian di Gang Lama
40
Tatapan yang Berubah
41
Mimisan di Tengah Pelajaran
42
Jangan Sok Kuat
43
Kamera yang Mati
44
Pulang Bareng
45
Bukan Kebetulan
46
Surat Tanpa Nama
47
Festival Kelas
48
Orang Bertopi Hitam
49
Janji yang Tidak Diucapkan
50
Nama di Batu Nisan
51
Festival Dimulai
52
Kerja Kelompok yang Berantakan
53
Rumor Baru di Grup Angkatan
54
Kesal Karena Gosip
55
Orang yang Terus Mengawasi
56
Gangguan Listrik Kedua
57
Pulang Terlalu Malam
58
Tatapan Sahabat
59
Foto yang Menghilang
60
Seseorang di Atas Rooftop
61
Pagi Festival
62
Ramai Sejak Pagi
63
Pengakuan Diam-Diam
64
Lagu di Atas Panggung
65
Kenangan yang Terpotong
66
Rumor dan Kenyataan
67
Rencana di Balik Layar
68
Menjelang Rooftop
69
Pilihan di Antara Dua Jalan
70
Serangan Balik
71
Bayangan yang Tak Hilang
72
Di Balik Keluarga Sanjaya
73
Di Balik Senyuman
74
Kekuatan di Balik Kelemahan
75
Hari Menjelang Pertarungan
76
Panggung Pertarungan
77
Detak yang Melemah
78
Malam Penuh Pengakuan
79
Fajar yang Tak Pasti
80
Hari yang Dinanti
81
Piknik di Taman Kota
82
Di Balik Pintu Keluarga Sanjaya
83
Hujan di Jendela
84
Kejutan di Balik Senja
85
Firasat di Pagi Hari
86
Gelombang Kedua
87
Setelah Semuanya
88
Hari yang Tenang
89
Langkah Baru
90
Musim yang Berganti
91
Perjalanan ke Desa Terpencil
92
Batu Hijau dan Harapan Baru
93
Tanda-Tanda
94
Momen yang Tak Terlupakan
95
Kembali ke Rutinitas
96
Rencana untuk Masa Depan
97
Pentas Seni yang Dinanti
98
Keajaiban di Setiap Hari
99
Pertarungan Terakhir di Atas Panggung
100
Malam yang Tak Terlupakan
101
Pilihan Hati yang Kuat
102
Detik yang Berharga
103
Cahaya di Ujung Senja
104
Rencana Masa Depan
105
Malam yang Sunyi
106
Pagi yang Dingin
107
Di Antara Dua Dunia
108
Hidup Tanpamu
109
Mengukir Senyum Baru
110
Melangkah ke Masa Depan
111
Cahaya di Balik Kenangan
112
Hening yang Bersuara
113
Saatnya Pergi untuk Bertemu
114
Akhir yang Menjadi Awal
115
Bersambung

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!