BAB 4 Aturan Lama

Sore ini Sean pulang ke rumah utama keluarganya karena Ayah meminta dia pulang untuk membicarakan beberapa hal penting.

Sejak beranjak dewasa, Sean tidak lagi tinggal bersama kedua orang tuanya, tetapi juga sudah memiliki rumah sendiri.

"Kak Sean mau ke mana? Kok arah pulangnya beda?" tanya Ara begitu mobil Sean berhenti di lampu merah tepat di samping motornya.

Sean langsung menoleh begitu mendengar suara itu karena kaca mobil memang terbuka cukup lebar.

"Kak Sean?" panggil Ara lagi karena Sean hanya diam menatapnya.

"Pulang ke rumah utama," jawab Sean singkat sambil menatap dengan mata menyipit gadis pengganggu yang selalu ada di mana-mana.

"Ooooo, titip makanan ini buat calon mertua Ara, ya," kata Ara sambil mengedipkan sebelah matanya dan mengulurkan satu paper bag dari tiga paper bag yang dipegangnya ke dalam mobil.

"Ara," kata Melly yang sedang menyetir motor sambil menampar paha sahabatnya yang kenekatannya bikin geleng-geleng kepala.

Tidak satu pun kesempatan dia lewatkan. Jika bertemu Sean, pasti dipepet.

"Daaaa, Sayang!" teriak Ara memberikan kiss jarak jauh ketika lampu hijau menyala dan Melly menancap full gas motornya.

Sean menaikkan kaca mobilnya sampai ke atas dan duduk melamun menatap paper bag di atas pangkuannya ketika sopir kembali menjalankan mobil.

Sesampai di rumah utama, Sean berjalan melewati pintu utama dan disambut pelayan serta bodyguard di sekitarnya.

"Selamat datang, Tuan Muda. Apa perlu kami bawakan paper bag-nya?" tanya kepala pelayan dengan sopan, melihat Sean yang berjalan menenteng satu paper bag di tangannya.

"Tidak perlu," jawab Sean singkat sambil menarik napas berat. Keluarga besar Sean adalah keluarga yang masih menjaga tradisi dan budaya turun-temurun.

Di dalam rumah, semua diatur, mulai dari makan, berpakaian, bersikap, dan juga tata krama, walaupun tidak seketat ketika kakeknya masih hidup.

Sebab itu, Sean memilih tinggal di rumahnya sendiri!

"Sean, akhirnya kamu datang, Nak," ucap Ibu dengan senang sambil berlari memeluk Sean dengan excited.

"Ayah, kita sudah hidup di zaman yang modern. Kenapa masih mematuhi aturan kuno itu? Apa salahnya berlari sedikit selagi tidak membahayakan?" kata Sean sambil membalas pelukan hangat Ibunya.

"Sean, jangan membantah. Ikuti saja peraturan selagi itu baik," ucap Ayah dengan tegas yang sedari dulu selalu berlawanan dengan Sean.

"Aku hanya akan mengikuti peraturan yang masuk logika," pernyataan Sean yang tidak menyukai budaya patriarki yang berkembang sejak lama.

Di mana laki-laki dianggap seperti raja dalam keluarga yang harus dipatuhi, dituruti, dan segala keinginannya harus dipenuhi, seolah-olah perempuan hanya bisa menurut, padahal sejatinya perempuan punya hak yang sama.

Terlalu banyak aturan untuk perempuan, dan Sean tidak suka melihat Ibunya harus melakukan hal-hal yang kadang tidak diinginkannya.

"Sean!" teriak Ayah menatap anaknya yang selalu membangkang, bahkan tidak mau mematuhi aturan keluarga. Dia benar-benar independen dan hidup sesuai keinginannya.

"Ayah, berapa kali harus Sean bilang kalau kita itu berhak atas kebahagiaan kita hari ini sampai ke masa depan, bukan terikat pada masa lalu?" ucap Sean.

"Jadi, kamu pikir aturan yang sudah turun-temurun dalam keluarga kita tidak perlu atau bisa ditukar begitu saja?" tanya Ayah dengan emosi.

"Tentu saja bisa. Ayah saja yang terlalu terpaku dengan peraturan masa lalu yang sangat kolot," kata Sean yang kadang kasihan melihat Ibunya yang harus melakukan banyak hal yang tidak dia senangi hanya karena terikat aturan keluarga.

"Sean!" teriak Ayah dengan emosi.

"Sudah, sudah," kata Ibu menengahi pertengkaran anak dan Ayah yang selalu terjadi setiap kali mereka bertemu.

"Sean, duduklah, Nak," ucap Ibu pada putranya yang sudah hampir dua bulan ini tidak pulang ke rumah utama.

....

"Ada apa Ayah memanggilku ke sini?" tanya Sean setelah beberapa saat duduk dan meletakkan paper bag yang sedari tadi dipegangnya di atas meja.

Ayah yang duduk di sofa mengambil dan membuka paper bag yang Sean taruh di atas meja.

"Sean, kau membawakan ini untuk Ayah?" ucap Ayah tiba-tiba sambil memeluk Sean, seolah lupa dengan pertengkaran mereka barusan.

Sean langsung membeku ketika Ayahnya yang selama ini selalu marah-marah tiba-tiba memeluknya dengan senang setelah membuka paper bag itu. Bahkan, Sean sendiri tidak tahu isinya apa.

"Sean membawakan Ayah apa?" tanya Ibu yang jadi heran sambil mengeluarkan isi paper bag itu.

"Bolu pandan," senyum Ibu yang sangat tahu kalau suaminya menyukai bolu pandan, hanya saja beberapa tahun terakhir suaminya tidak pernah lagi memakannya. Mungkin itu yang membuat suaminya tiba-tiba senang.

Sean menatap Ayahnya yang belum dua menit sudah menghabiskan separuh bolu pandan yang sepertinya sangat dia sukai.

Padahal, jujur saja, sebagai seorang anak, Sean sama sekali tidak tahu kalau bolu pandan adalah makanan kesukaan Ayahnya.

"Sinta, cobalah ini. Sangat enak," kata Ayah secara spontan sambil menyuapi Ibu.

Setelah bolu itu habis, Sean tertawa kecil.

"Kenapa kau tertawa?" Ayah sensi, merasa Sean sedang mengejeknya.

Mungkin karena makan bolu kebanyakan.

"Ayah, sepertinya kau lupa kalau dalam aturan keluargamu, laki-laki tidak seharusnya melayani perempuan," senyum kecut Sean yang melihat Ayah menyuapi Ibu sampai empat kali.

"Aku, aku hanya berbagi kebahagiaan dengannya," jawab Ayah yang langsung kembali ke mode seriusnya.

"Jangan sampai karena alasan kebahagiaan mengabaikan peraturan," ucap Sean mengatakan kalimat template yang selalu Ayahnya ucapkan setiap kali Sean tidak mematuhinya.

Sejak dulu, Sean memang tidak pernah akrab dengan Ayahnya karena selalu berbeda pendapat dan berakhir bertengkar.

"Katakan, kenapa Ayah memanggilku ke sini?" ucap Sean sambil mengulum senyum melihat Ayahnya yang biasanya selalu angkuh dan berwibawa itu kini diam tak berkutik karena termakan omongannya sendiri.

"Ayah ingin kamu kembali mengurus perusahaan," pernyataan Ayah yang sudah mulai merasa kewalahan.

"Mengurus perusahaan?" tanya Sean sambil mengangkat sebelah alisnya, mengingat empat bulan yang lalu Ayah sudah mencoretnya dari tahta seorang pewaris.

"Kau adalah putraku satu-satunya. Jika ada yang lain, aku tidak akan menyuruhmu," pernyataan Ayah dengan egonya yang masih sangat tinggi.

"Coba ingat-ingat lagi. Barangkali aku ada saudara tiri yang bisa mewarisi harta dan semua peraturan kolot itu," ucap Sean tanpa ragu.

Ayah langsung berdiri dan menarik kerah baju Sean.

"Dengar, Sean! Di dalam keluarga kita hanya ada satu pewaris sejak dulu karena jika sudah dua, maka akan menimbulkan perpecahan dan rasa tidak adil," pernyataan Ayah.

"Sekali lagi kamu berpikir seperti itu, awas!" kata Ayah yang sudah benar-benar marah dan emosi hingga membuat Sean takut juga.

Terpopuler

Comments

Dewi kunti

Dewi kunti

lupa segalanya klo ad makanan yg disukai🤭🤭🤭🤭

2026-07-17

1

partini

partini

jodoh aja sama si centil itu

2026-07-17

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 Mau Kenalan
2 BAB 2 Jangan di Blokir
3 BAB 3 Mencintai ugal-ugalan
4 BAB 4 Aturan Lama
5 BAB 5 Sang pewaris
6 BAB 6 Cemburu
7 BAB 7 Cinta si gadis polos
8 BAB 8 Cinta Pemaksaan
9 BAB 9 Pacar kecilku
10 BAB 10 Ternyata dia adalah pria matang
11 BAB 11 Sedikit Kecewa
12 BAB 12 Siapa itu
13 BAB 13 Sudah saat nya
14 BAB 14 Jangan menangis
15 BAB 15 Asisten Dosen
16 BAB 16 Ara mau putus
17 BAB 17 Ara tantrum
18 BAB 18 Mencintai Ara
19 BAB 19 Bermanja-manja
20 BAB 20 Memohon Pada Sean
21 BAB 21 Tidak mau menerima uang jajan
22 BAB 22 Jalan tengah
23 BAB 23 Ingin mengenalkan
24 BAB 24 Batal
25 BAB 25 Sangat menyayangi pacar kecil
26 BAB 26 Menghadiri acara pesta
27 BAB 27 Pacar kecil Sean yang polos
28 BAB 28 Sean cemburu
29 BAB 29 Kesalahpahaman
30 BAB 30 Jahatnya Sean
31 BAB 31 Galak layaknya harimau
32 BAB 32 Permasalahan
33 BAB 33 Wanita pendamping
34 BAB 34 Tidak menyalahkan orang lain
35 BAB 35 Bertemu tiga tahun lagi
36 BAB 36 Ini tidak mudah
37 BAB 37 Hanya Ingin Bertemu Ara
38 BAB 38 Bertemu sekali saja
39 BAB 39 Lekas Kembali
40 BAB 40 Ara pulang!.
41 BAB 41 Kenapa tidak berubah
42 BAB 42 Suka pada pria lain
43 BAB 43 Kamu menculiknya
44 BAB 44 Sebuah feedback
45 BAB 45 Ingin Merawat Sean
46 BAB 46 Mengetahui kebenaran
47 BAB 47 Habis kesabaran
48 BAB 48 Hilang rasa malu
49 BAB 49 Sama persis
50 BAB 50 Bertemu Ibu
51 BAB 51 Bersama Ara
52 BAB 52 Tidur di kamar Sean
53 BAB 53 Prinsip Sean
54 BAB 54 Tidak cocok dan jelek
55 BAB 55 Ingin Menikah
56 BAB 56 Berikan satu alasan
57 BAB 57 Menggantikan Daddy
58 BAB 58 Apa yang akan terjadi
59 BAB 59 Selalu bersama
60 BAB 60 Jangan menyakiti nya
61 BAB 61 Penjara bawah tanah
62 BAB 62 Ingin menaklukkan dunia
63 BAB 63 Hantu dunia nyata
64 BAB 64 Daddy
65 BAB 65 Gadis bandel
66 BAB 66 Salah paham
67 BAB 67 Tidak ada pernikahan rahasia
68 BAB 68 Berbaikan
69 BAB 69 Menyentuh
Episodes

Updated 69 Episodes

1
BAB 1 Mau Kenalan
2
BAB 2 Jangan di Blokir
3
BAB 3 Mencintai ugal-ugalan
4
BAB 4 Aturan Lama
5
BAB 5 Sang pewaris
6
BAB 6 Cemburu
7
BAB 7 Cinta si gadis polos
8
BAB 8 Cinta Pemaksaan
9
BAB 9 Pacar kecilku
10
BAB 10 Ternyata dia adalah pria matang
11
BAB 11 Sedikit Kecewa
12
BAB 12 Siapa itu
13
BAB 13 Sudah saat nya
14
BAB 14 Jangan menangis
15
BAB 15 Asisten Dosen
16
BAB 16 Ara mau putus
17
BAB 17 Ara tantrum
18
BAB 18 Mencintai Ara
19
BAB 19 Bermanja-manja
20
BAB 20 Memohon Pada Sean
21
BAB 21 Tidak mau menerima uang jajan
22
BAB 22 Jalan tengah
23
BAB 23 Ingin mengenalkan
24
BAB 24 Batal
25
BAB 25 Sangat menyayangi pacar kecil
26
BAB 26 Menghadiri acara pesta
27
BAB 27 Pacar kecil Sean yang polos
28
BAB 28 Sean cemburu
29
BAB 29 Kesalahpahaman
30
BAB 30 Jahatnya Sean
31
BAB 31 Galak layaknya harimau
32
BAB 32 Permasalahan
33
BAB 33 Wanita pendamping
34
BAB 34 Tidak menyalahkan orang lain
35
BAB 35 Bertemu tiga tahun lagi
36
BAB 36 Ini tidak mudah
37
BAB 37 Hanya Ingin Bertemu Ara
38
BAB 38 Bertemu sekali saja
39
BAB 39 Lekas Kembali
40
BAB 40 Ara pulang!.
41
BAB 41 Kenapa tidak berubah
42
BAB 42 Suka pada pria lain
43
BAB 43 Kamu menculiknya
44
BAB 44 Sebuah feedback
45
BAB 45 Ingin Merawat Sean
46
BAB 46 Mengetahui kebenaran
47
BAB 47 Habis kesabaran
48
BAB 48 Hilang rasa malu
49
BAB 49 Sama persis
50
BAB 50 Bertemu Ibu
51
BAB 51 Bersama Ara
52
BAB 52 Tidur di kamar Sean
53
BAB 53 Prinsip Sean
54
BAB 54 Tidak cocok dan jelek
55
BAB 55 Ingin Menikah
56
BAB 56 Berikan satu alasan
57
BAB 57 Menggantikan Daddy
58
BAB 58 Apa yang akan terjadi
59
BAB 59 Selalu bersama
60
BAB 60 Jangan menyakiti nya
61
BAB 61 Penjara bawah tanah
62
BAB 62 Ingin menaklukkan dunia
63
BAB 63 Hantu dunia nyata
64
BAB 64 Daddy
65
BAB 65 Gadis bandel
66
BAB 66 Salah paham
67
BAB 67 Tidak ada pernikahan rahasia
68
BAB 68 Berbaikan
69
BAB 69 Menyentuh

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!