Episode 2

Bab 002: Resepsi yang Membeku

Pintu gedung resepsi terbuka tepat ketika pembawa acara meminta Hendra Prasetyo dan Ratna Lestari saling menyematkan cincin.

"Sebentar."

Suara Sari Wulandari tidak keras, tetapi musik organ langsung berhenti. Tamu yang sedang mengambil kue menoleh, anak kecil di dekat meja prasmanan ditarik ibunya, dan Hendra berdiri kaku di panggung dengan cincin masih di tangan.

Di ambang pintu, Sari berdiri dalam kain kafan. Wajahnya pucat, rambutnya berantakan, dan Nadia di belakangnya menggenggam ponsel seperti menggenggam pisau.

"Itu Bu Sari?"

"Bukannya tadi pagi meninggal?"

"Ya Allah..."

Bisik-bisik menyebar lebih cepat daripada suara pengeras. Sari tidak menunggu mereka selesai kaget. Ia melangkah masuk, lurus ke panggung kecil tempat Ratna mundur sampai bahunya menyenggol dekorasi bunga plastik.

"Sa... Sari?" Hendra akhirnya bersuara.

Sari berhenti di ujung karpet merah. "Kenapa? Kaget istrimu belum jadi jenazah?"

Pembawa acara menurunkan mikrofon dan menyingkir pelan. Hendra turun dari panggung, mencoba meraih lengan Sari, tetapi Nadia langsung mengangkat ponsel.

"Jangan sentuh Ibu."

Hendra menahan tangan di udara. "Kamu seharusnya di rumah. Dokter bilang..."

"Dokter salah. Kamu yang terlalu cepat bahagia."

Wajah Hendra menegang. Ia melirik tamu-tamu, lalu merendahkan suara. "Jangan bikin ribut. Kita bicara di luar."

"Kamu mengadakan acara di depan orang banyak saat aku dikafani, tapi aku harus bicara pelan di luar?"

Beberapa tamu yang duduk dekat panggung mulai mundur. Seorang ibu menyembunyikan kotak nasi di bawah kursi, seolah benda itu ikut bersalah. Di meja keluarga, Ibu Sri tidak terlihat. Sari tahu perempuan tua itu cukup pintar untuk tidak hadir di bagian yang bisa disalahkan, tetapi cukup dekat untuk menikmati hasilnya jika acara berjalan lancar.

Nadia bergerak ke sisi kiri, mengambil posisi yang bisa merekam Hendra, Ratna, dan dua kakaknya sekaligus. Sari melihat itu dari sudut mata. Anak perempuan yang tadi pagi gemetar di samping kain kafan kini tahu kamera bisa menjadi perisai.

Ratna turun dari panggung, masih berusaha menjaga senyum. "Bu Sari, kami semua mengira Ibu sudah meninggal. Saya turut bersyukur kalau Ibu masih hidup, tapi acara ini sudah..."

Tamparan Sari menghentikan kalimat itu.

Suara telapak tangannya menghantam pipi Ratna terdengar sampai barisan belakang. Ratna terhuyung, tangan menutup pipi, riasannya mulai retak bersama wajah manis yang tadi ia pamerkan pada tamu.

"Itu untuk kata tapi," kata Sari. "Tidak ada tapi setelah istri sah bangun dari kafan dan menemukan suaminya memasang cincin untuk perempuan lain."

Ratna membelalak. "Kamu tidak berhak mempermalukan saya. Hendra sudah tidak mencintaimu. Kami punya masa lalu."

"Masa lalu yang diberi rumah? Mobil? Uang bulanan? Atau masa lalu yang melahirkan Tania?"

Ruangan langsung riuh. Seorang kerabat Ratna yang duduk dekat meja keluarga menunduk pura-pura sibuk dengan piringnya. Beberapa tamu saling pandang, seolah potongan cerita yang selama ini beredar akhirnya punya nama.

"Jawab," kata Sari. "Kalau kamu berani memakai kebaya pengantin di hari kain kafanku dibentangkan, kamu juga harus berani menjelaskan siapa Tania."

Ratna membuka mulut, tetapi Hendra maju lebih cepat.

"Sari!"

Sari berbalik dan menamparnya.

Kepala Hendra berpaling. Sebelum ia sempat bicara, tamparan kedua mendarat di pipi satunya. Kali ini, tidak ada yang maju melerai. Mungkin karena kain kafan itu. Mungkin karena semua orang tahu dua tamparan masih terlalu ringan untuk laki-laki yang menikah di hari kematian istrinya.

Raka bangkit dari barisan depan. Bayu ikut berdiri, wajahnya pucat.

"Ma, cukup," kata Raka. "Semua tamu melihat."

Sari menatap anak sulungnya. "Kamu juga melihat. Adikmu menangis sendirian di samping kain kafan ibunya, sementara kamu berdiri di sini."

Raka kehilangan kata.

Bayu mendekat setengah langkah. "Ma, kami pikir Mama benar-benar meninggal. Ayah juga butuh didampingi."

"Ayahmu butuh didampingi saat menikah lagi?"

Bayu menunduk.

Raka membuka mulut lagi, lalu menutupnya. Wajahnya menunjukkan pertarungan kecil antara malu dan kebiasaan membela ayahnya. Sari tidak menunggu ia memilih. Selama bertahun-tahun ia terlalu sering menunggu laki-laki di rumah itu memilih benar. Hari ini, ia yang memilih jalan.

Hendra memegang pipinya, malu dan marah bercampur di wajahnya. "Kamu sudah gila."

"Belum." Sari mengambil mikrofon dari meja cincin. "Kalau aku gila, gedung ini sudah lebih berantakan."

Pengeras suara memantulkan napasnya yang pendek. Nadia berdiri di samping panggung, kamera tetap menyala.

"Nama saya Sari Wulandari," kata Sari. "Saya masih istri sah Hendra Prasetyo. Pagi ini saya dikafani setelah rumah sakit menyatakan saya meninggal karena keracunan makanan. Anak perempuan saya menemani saya. Suami saya dan dua anak laki-laki saya tidak ada di rumah karena mereka ada di sini."

Hendra melangkah untuk merebut mikrofon. Sari mengangkatnya lebih tinggi.

"Kalian boleh menyebut ini acara keluarga. Tapi ada pelaminan, cincin, katering, undangan, dan perempuanmu memakai kebaya merah. Jangan minta orang lain ikut pura-pura bodoh."

Beberapa tamu menunduk. Ada yang mundur ke pintu. Ada yang menyimpan ponsel cepat-cepat saat Nadia mengarahkan kamera ke arah mereka.

"Mulai hari ini, saya menggugat cerai Hendra Prasetyo di Pengadilan Agama. Saya juga akan memeriksa harta bersama, rekening usaha, rumah, mobil, transfer untuk Ratna, dan biaya anak yang disembunyikan selama pernikahan saya."

Warna wajah Hendra hilang. Kata harta jauh lebih cepat menembus harga dirinya daripada kata istri.

Ratna ikut pucat saat mendengar kata transfer. Tangannya yang tadi menutup pipi turun sedikit. Di wajahnya muncul rasa takut yang berbeda dari malu, seolah ia baru ingat uang bulanan, cicilan rumah, dan biaya sekolah Tania tidak turun dari langit.

Sari melihat perubahan itu dan menyimpannya dalam kepala, rapi untuk dipakai nanti saat waktunya tiba.

"Sari, jangan macam-macam."

"Aku baru bangun dari kain kafan, Hendra. Ancamanmu terlalu kecil."

Raka bergerak seperti hendak bicara, tetapi Nadia mengarahkan kamera padanya.

"Mas, kalau mau bicara, bicara di depan kamera. Jangan nanti bilang Ibu salah dengar."

Raka menatap adiknya. Malu akhirnya muncul di wajahnya, terlambat tapi nyata. Bayu menarik lengan kakaknya pelan.

Di antara tamu, seseorang mulai berbisik soal polisi, soal Pengadilan Agama, soal apakah acara seperti itu sah atau hanya akal-akalan keluarga. Hendra mendengar potongan kata itu dan rahangnya makin keras. Sari tahu, baginya masalah terbesar bukan luka istrinya, melainkan saksi yang terlalu banyak.

Ratna menangis lebih keras. "Mas, jangan biarkan dia pergi begitu saja."

Hendra memanggil nama Sari, namun tidak berani mengejar. Tamu-tamu sudah memandangnya seperti tontonan kotor, bukan kepala keluarga yang perlu dihormati.

Sari meletakkan mikrofon. Tenaganya hampir habis; lututnya mulai bergetar dan pandangan di tepi matanya menggelap. Nadia cepat menopang lengannya, dan kali ini Sari membiarkan.

Di pintu, Sari berhenti sebentar dan menoleh pada para tamu.

"Silakan lanjut makan. Nasi kotaknya jangan mubazir. Aibnya sudah telanjur matang."

Ia keluar sebelum Hendra menemukan jawaban.

Begitu duduk di mobil, seluruh tubuh Sari menggigil. Nadia menyalakan mesin dengan mata basah.

"Kita ke rumah sakit sekarang."

Sari mengangguk. "Setelah itu ke rumah."

"Rumah?"

"Ambil dokumen. Buku rekening. Sertifikat kios. Kontrak kebun. Ponsel lama Ibu. Semua yang bisa jadi bukti."

Nadia mengunci pintu mobil. Dari kaca spion, Sari melihat Hendra berdiri di depan gedung dengan pipi merah dan wajah kosong. Di belakangnya, Ratna menangis dengan riasan yang luntur.

Raka keluar beberapa langkah dari pintu gedung, tetapi berhenti ketika Bayu menarik lengannya. Tidak ada yang mengejar sampai mobil. Sari tidak kaget. Anak-anaknya sudah terbiasa membiarkan Nadia melakukan bagian sulit.

Nadia melihat juga, tetapi tidak berkata apa-apa. Ia hanya memasukkan ponsel ke tas, memastikan rekaman tersimpan, lalu menyalakan mode pesawat sebentar agar file tidak terganggu panggilan masuk dari keluarga.

Sari tidak merasa menang. Belum. Hari itu ia baru mengambil kembali suaranya. Sisanya akan ia rebut satu per satu.

Terpopuler

Comments

ceuceu

ceuceu

penasaran kelanjutan nya,baru baca novel beda ceritanya meninggal gagal/mati suri.
wanitanya ga lemah keren lah

2026-08-24

0

Murniyati Hj Nasir

Murniyati Hj Nasir

wah mantap jalur ceritanya asyik

2026-07-19

0

Murniyati Hj Nasir

Murniyati Hj Nasir

🌹🌹🌹🌹🌹🌹👍👍👍👍👍💖💖💖💖

2026-07-19

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!