Suami Menikah Lagi di Hari Kematianku

Suami Menikah Lagi di Hari Kematianku

Episode 1

Bab 001: Bangun di Kain Kafan

Bau kapur barus menusuk hidung Sari Wulandari begitu keras sampai dadanya refleks mencari udara.

Ia tidak langsung paham kenapa tubuhnya sulit bergerak. Ada kain kasar membungkus sampai ke leher, ada suara orang membaca istighfar di dekat pintu, dan ada tangis perempuan yang ditahan-tahan seperti takut mengganggu orang mati. Untuk beberapa detik, Sari hanya terbaring dengan mata masih tertutup, mendengarkan dunia berjalan tanpa menunggunya.

"Kasihan Bu Sari. Seumur hidup kerja buat keluarga, akhirnya pulang begini."

"Yang lebih parah, belum dimakamkan saja Pak Hendra sudah bikin resepsi."

"Pelan-pelan. Jangan sampai Nadia dengar."

"Satu komplek juga sudah tahu. Istrinya meninggal pagi, sorenya dia menikah dengan Ratna."

Nama Ratna membuat kesadaran Sari naik seperti air panas. Ia mencoba menggerakkan jari. Kaku, dingin, tetapi bergerak. Telapak tangannya menyentuh kain yang menutup dadanya, lalu ia membuka mata dan melihat kipas ruang tengah berputar lambat di atasnya.

Kain kafan.

Sari menarik napas, tersedak, lalu menggerakkan tangan lebih jelas. Seorang tante di dekat pintu menjerit. Kursi terseret, piring jatuh, dan beberapa orang mundur sambil menyebut nama Tuhan.

Di samping tikar, Nadia mematung dengan kerudung hitam miring. Mata anak bungsunya bengkak, botol minyak kayu putih masih tergenggam di tangan.

"Ibu?"

Sari ingin menjawab, tetapi tenggorokannya seperti penuh pasir. Ia hanya mengangkat tangan sedikit. Nadia jatuh berlutut, menyentuh pipinya, lalu tangisnya pecah.

"Ya Allah... Ibu hangat. Ibu masih hidup."

"Bantu Ibu duduk," bisik Sari.

"Jangan, Bu. Aku panggil ambulans lagi. Ibu baru saja dinyatakan..." Nadia tidak sanggup menyelesaikan kalimat.

Sari menggenggam pergelangan anaknya. Tenaganya kecil, tetapi cukup untuk menahan Nadia. "Ayahmu di mana?"

Wajah Nadia berubah sebelum ia sempat menjawab.

Sari melihat sekeliling. Tidak ada Hendra. Tidak ada Raka. Tidak ada Bayu. Rumah yang katanya sedang berduka hanya dipenuhi tetangga, beberapa kerabat jauh, dan Nadia yang tampak seperti satu-satunya orang yang benar-benar kehilangan dirinya.

"Mereka di mana, Na?"

"Kita ke rumah sakit dulu, ya. Aku takut Ibu pingsan lagi."

"Jawab."

Nadia menggigit bibir sampai pucat. Ia mengambil ponsel dari tas, membuka video yang masih tersimpan di galeri, lalu menyerahkannya pada Sari dengan tangan gemetar.

Di layar, Hendra Prasetyo berdiri di panggung kecil memakai batik baru. Di sebelahnya, Ratna Lestari tersenyum dalam kebaya merah marun, sementara di belakang mereka tertulis Selamat Menempuh Hidup Baru. Raka dan Bayu berdiri di barisan depan, rapi, seolah hari itu memang hari bahagia keluarga.

Sari menatap video itu sampai layar meredup.

"Hari ini?"

Nadia mengangguk sambil menangis. "Aku telepon Ayah berkali-kali. Katanya semua sudah telanjur diatur. Katanya Ibu sudah pergi, jadi jangan bikin keluarga besar malu."

Sari tertawa pendek. Rasanya kering, hampir tidak terdengar seperti tawa. Setelah tiga puluh tahun ia menambal utang pabrik, membuka kios dari uang receh, membayar sekolah anak-anak, mengurus kebun yang dulu ditertawakan Hendra, rupanya kata malu baru muncul ketika ia bangun dari kafan.

"Siapa yang membawa Ibu pulang dari rumah sakit?"

"Aku. Dokter bilang Ibu tidak merespons. Aku panik. Ibu Sri mendesak jenazah dibawa pulang cepat karena katanya pemakaman jangan ditunda. Ayah tidak mengangkat telepon. Mas Raka cuma bilang ikut keputusan keluarga. Mas Bayu juga."

"Surat lengkap resmi dari rumah sakit tadi?"

"Ada di map."

"Simpan. Jangan hilang."

Nadia menatapnya seperti tidak percaya. "Ibu baru sadar, masih sempat mikir bukti?"

"Kalau mereka sempat menikah saat Ibu dikafani, Ibu juga boleh sempat berpikir."

Nadia membuka map kecil di samping tikar. Di dalamnya ada salinan surat keterangan kematian sementara, kuitansi ambulans, catatan IGD, dan fotokopi KTP Sari yang tadi pagi dipakai untuk mengurus pemulangan jenazah. Ujung kertasnya kusut karena Nadia terlalu sering menggenggamnya.

Sari menatap namanya di dokumen itu. Tanggal lahir, alamat, nama suami, semua tertulis rapi. Hidup tiga puluh tahun sebagai istri Hendra ternyata bisa diringkas menjadi beberapa lembar kertas dan satu kain putih.

"Masukkan ke tas," katanya.

"Sekarang?"

"Sekarang."

Beberapa orang yang mendengar langsung menunduk. Seorang paman dari keluarga Hendra mencoba mendekat.

"Sar, jangan gegabah. Ini pasti salah paham. Kita panggil Hendra pulang dulu."

Sari menoleh. "Salah paham apa? Aku salah paham karena belum jadi mayat?"

Paman itu berhenti.

Sari menyingkap kain dari kakinya. Tubuhnya gemetar saat telapak kakinya menyentuh lantai. Nadia langsung menopang, tetapi Sari menolak gamis yang diambilkan dari lemari.

"Biarkan kainnya."

"Bu, orang-orang akan lihat."

"Memang itu tujuannya."

Di sudut ruangan, Ibu RT berbisik ingin menelepon ambulans. Sari mendengarnya dan mengangkat tangan kecil.

"Nanti, Bu. Kalau saya jatuh di jalan, baru panggil ambulans. Sekarang beri saya lima belas menit untuk mengurus hidup saya."

Tidak ada yang tertawa. Tidak ada yang menasihati lagi. Kain putih di tubuh Sari membuat semua kalimat terasa terlambat.

Nadia memasukkan ponsel, dompet, map medis, dan kunci mobil ke dalam satu tas. Tangannya masih gemetar, tetapi matanya mulai berubah.

"Aku punya rekaman suara Ayah tadi pagi," katanya pelan. "Waktu aku minta dia pulang, dia bilang jangan ganggu acara."

"Kirim ke emailmu."

"Sudah."

Sari menatap anaknya. Untuk pertama kalinya sejak membuka mata, ia tidak hanya melihat Nadia sebagai putri yang menangis, melainkan saksi yang sedang belajar berdiri.

Seorang tante dari pihak Hendra berbisik, "Kasihan Hendra kalau acara itu kacau."

Sari berhenti di ambang pintu. Ia tidak mencari siapa yang bicara.

"Kalau kasihan, datanglah ke gedung. Bantu dia menjelaskan kenapa istrinya yang dikira mati bisa berjalan."

Bisik-bisik langsung padam.

Mereka berjalan keluar. Tetangga membuka jalan. Di teras, seorang sepupu Hendra mencoba menahan dengan alasan tidak baik perempuan berkafan keluar rumah.

Sari menatapnya sekali. "Lebih tidak baik suami menikah sebelum istrinya dikubur."

Sepupu itu mundur.

Di mobil, napas Sari tersengal. Nadia duduk di balik setir, ragu menyalakan mesin.

"Ibu bisa pingsan."

"Kalau pingsan, siram air."

"Ibu..."

"Jalan, Na."

Mobil keluar dari komplek. Siang Tangerang Selatan terlalu terang, seperti dunia tidak peduli apakah seorang perempuan baru saja batal mati. Sari menyandarkan kepala ke kursi. Perutnya masih melilit, tangan masih dingin, setiap tarikan napas terasa seperti pinjaman. Namun video Hendra menggenggam tangan Ratna lebih sakit daripada semua itu.

Di lampu merah pertama, Nadia hampir memutar balik ketika melihat bibir Sari memucat.

"Bu, kita ke IGD dulu."

"Setelah gedung."

"Kalau Ibu pingsan sebelum sampai?"

"Rekam juga. Biar lengkap."

"Ini bukan lelucon."

"Ibu tidak sedang melucu," kata Sari. "Kalau Ibu ke rumah sakit sekarang, mereka punya waktu menghapus jejak. Video bisa hilang, tamu bisa pulang, cerita bisa diganti. Ibu sudah terlalu sering kalah karena datang terlambat."

Nadia menggenggam setir lebih kuat. Ketika lampu berubah hijau, ia tidak lagi membahas IGD.

Di perjalanan, ponsel Nadia terus bergetar. Grup keluarga Prasetyo memanggil-manggil namanya, meminta kabar pemakaman, bertanya kenapa rumah duka tiba-tiba ramai. Nadia tidak membuka satu pun.

"Baca yang penting saja nanti," kata Sari.

"Kalau mereka cari Ibu?"

"Mereka tidak mencari Ibu. Mereka mencari cara agar cerita tetap nyaman untuk mereka."

Nadia menelan tangisnya. Kalimat itu pahit, tetapi benar. Sejak kecil, ia melihat ibunya menutup lubang yang dibuat orang lain. Hari ini, untuk pertama kalinya, Sari membiarkan semua orang melihat lubang itu menganga di depan mata mereka sendiri.

"Gedungnya di mana?"

"Dekat jalan utama. Gedung kecil yang biasa dipakai arisan besar."

"Parkir di depan."

"Banyak orang, Bu."

"Bagus." Sari membuka mata. Suaranya serak, tapi dingin. "Ibu mau mereka melihat kain ini sebelum mendengar satu kata pun dari mulutku."

Nadia menatap ibunya dari samping. Seumur hidup, ia melihat Sari menahan diri demi nama keluarga. Hari itu, dalam kain putih yang seharusnya mengantar ke kubur, Sari justru tampak paling hidup.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!