Episode 4

Bab 004: Rumah yang Bukan Rumah

Pagi berikutnya, dokter hanya mengizinkan Sari keluar setelah Nadia menandatangani pernyataan bahwa ibunya akan kembali untuk kontrol sore.

"Saya tidak menyarankan Ibu banyak bergerak," kata dokter.

"Saya juga tidak menyarankan suami saya menikah saat saya dikafani," jawab Sari.

Dokter itu terdiam lagi.

Nadia menutup wajah dengan telapak tangan. "Bu..."

Sari tidak merasa perlu meminta maaf. Ia hanya meminta obat, surat koreksi medis sementara, dan salinan ringkas pemeriksaan. Semua dimasukkan Nadia ke dalam map plastik.

Mereka tidak pulang naik mobil kecil Nadia. Nadia memesan mobil sewa yang lebih besar, cukup untuk koper, kardus, dan apa pun yang harus diselamatkan dari rumah Prasetyo.

Sepanjang perjalanan, Sari menggenggam tas kain di pangkuan. Di dalamnya ada ponsel baru, dompet, map medis, dan botol air mineral. Napasnya sesekali pendek, membuat Nadia beberapa kali melirik dari kursi depan.

"Kalau Ibu pusing, kita berhenti."

"Tidak usah."

"Aku serius."

"Ibu juga."

Nadia menghela napas. "Keras kepala."

"Dulu Ibu terlalu lunak. Sekarang biar ganti rasa."

Mobil memasuki cluster lama tempat Sari tinggal hampir dua puluh tahun. Pagar otomatis yang dulu terasa seperti lambang keberhasilan keluarga kini tampak asing. Satpam di depan gerbang mengenali mobil Nadia dan langsung membukakan jalan, tetapi matanya membesar saat melihat Sari duduk di belakang.

Kabar sudah sampai ke sini.

Bagus.

Semakin banyak yang tahu ia hidup, semakin sulit Hendra memutar cerita.

Rumah Prasetyo berdiri di ujung jalan. Cat kremnya mulai kusam, taman kecil di depan tidak terurus, dan dua koper merah muda berdiri di teras.

Sari menatap koper itu beberapa detik. Di salah satunya tertempel gantungan nama berbentuk hati.

Ratna.

Nadia membuka pintu mobil. "Aku duluan, Bu."

"Tidak. Bareng."

Sari turun pelan. Lututnya masih lemas, tapi amarah membuat punggungnya tegak. Ia baru sampai depan pintu ketika pintu terbuka dari dalam.

Ratna muncul dengan daster satin berwarna peach. Rambutnya digulung asal, wajah tanpa riasan membuat usianya lebih terlihat. Di belakangnya terdengar suara kartun dari televisi.

Sari menatapnya.

Ratna menegang.

"Kamu ngapain ke sini?"

Sari tersenyum tipis. "Lucu. Aku yang tinggal di rumah ini puluhan tahun, kamu yang bertanya aku ngapain."

"Hendra tidak ada."

"Aku tidak mencari dia."

Ratna melipat tangan di dada, mencoba terlihat berani. "Ini sekarang rumahku juga."

"Sertifikatnya atas namamu?"

Ratna terdiam.

Sari melangkah masuk tanpa menunggu izin. Ratna spontan menahan pintu, tapi Nadia maju.

"Mbak Ratna, jangan sentuh Ibu saya."

Nada Nadia tidak keras. Justru karena itu terdengar lebih berbahaya.

Ratna menarik tangan.

Sari masuk ke ruang tamu.

Kotak paket menumpuk di dekat sofa, gelas bekas kopi tertinggal di meja, mainan anak berserakan sampai ke bawah kursi. Aroma parfum murah bercampur makanan basi membuat Sari mual.

Seorang anak perempuan kecil duduk di depan televisi. Usianya sekitar lima tahun. Rambutnya dikuncir dua, matanya besar, wajahnya mirip Hendra di bagian alis.

Anak itu menoleh.

"Mama, siapa?"

Ratna cepat mendekat. "Masuk kamar, Tania."

Tania memandang Sari dengan bingung. "Itu tante yang di video?"

Ruangan hening.

Ratna menarik napas tajam. "Tania!"

Sari menatap anak itu sebentar. Tidak ada kemarahan untuk Tania. Anak kecil tidak memilih lahir dari hubungan apa. Tapi luka di dada Sari tetap terbuka ketika mendengar suara polos itu di rumah yang dulu ia bersihkan untuk anak-anaknya.

"Nadia," kata Sari. "Mulai dari kamar Ibu."

Mereka naik ke lantai dua.

Ratna mengikuti dari belakang. "Kalian tidak bisa seenaknya ambil barang. Ini rumah Hendra."

Sari berhenti di anak tangga. "Barang yang aku ambil adalah milikku. Kalau kamu merasa ada yang milikmu, tunjukkan invoice."

Ratna tidak menjawab.

Di depan kamar utama, Sari berhenti lagi.

Pintu itu setengah terbuka.

Di dalam kamar, sprei yang kemarin lusa masih ia ganti sendiri sudah diganti warna merah tua. Di meja rias, botol skincare Ratna berjejer. Parfum, lipstik, sisir, penjepit rambut, semua memenuhi ruang yang dulu dipakai Sari menyimpan minyak urut dan obat darah tinggi.

Nadia mengumpat pelan.

"Dia tidur di sini?"

Ratna menjawab dari belakang, sengaja terdengar manis. "Istri tidur di kamar suami, salah?"

Sari tidak menoleh.

Ia masuk, membuka lemari paling bawah, dan mengeluarkan tas kain tua. Di dalamnya ada dokumen yang selama ini ia simpan: sertifikat kios, fotokopi kontrak kebun, buku rekening lama, buku catatan pembayaran pemasok, beberapa kwitansi besar.

Nadia langsung memasukkannya ke map.

Sari membuka laci kedua.

Kosong.

Keningnya mengeras.

"Ponsel lama Ibu tidak ada."

Nadia ikut mencari. "Yang hitam? Yang layarnya retak?"

"Ya."

Ratna bersandar di pintu. "Mungkin dibuang. Barang rongsokan begitu masih dicari?"

Sari menoleh pelan. "Kamu buang?"

Ratna mengangkat bahu. "Aku tidak tahu."

Sari berjalan mendekatinya. Ratna refleks mundur setengah langkah.

"Dengar baik-baik. Di ponsel itu ada bukti transfer, chat, dan urusan usaha bertahun-tahun. Kalau hilang karena kamu atau Hendra, itu bukan lagi soal barang rongsokan."

Wajah Ratna berubah.

Nadia langsung mengeluarkan ponsel dan merekam. "Ulangi, Bu. Biar jelas."

Ratna menunjuk Nadia. "Kamu anak kecil jangan kurang ajar."

"Saya dokter, Mbak. Sudah cukup umur untuk tahu pencurian barang bukti itu masalah."

Ratna menggertakkan gigi.

Sari tidak mau membuang tenaga. Ia membuka lemari pakaian. Sebagian bajunya masih ada, digeser ke sudut paling bawah. Gamis lama, kebaya lusuh, kardigan yang warnanya pudar. Baju-baju Ratna menggantung di bagian tengah, berwarna cerah, berbau parfum.

Sari mengambil beberapa pakaian seperlunya. Yang lain ia tinggalkan.

"Bu, ini juga?" Nadia menunjukkan kotak perhiasan kecil.

Sari membukanya. Isinya bukan emas besar. Hanya cincin nikah lama, gelang tipis hadiah almarhum ibunya, dan kalung kecil yang dibeli dari hasil jualan nasi uduk pertama kali.

Ia mengambil gelang dan kalung.

Cincin nikah ia biarkan.

Nadia menatapnya.

"Tidak dibawa?"

"Tidak. Biar Hendra lihat. Benda itu sudah tidak ada nilainya."

Mereka pindah ke kamar kerja kecil di samping. Dulu ruangan itu dipenuhi dokumen pabrik karena Hendra malas menyimpan rapi. Sari membuka lemari arsip bawah, menemukan beberapa laporan keuangan lama. Ia mengambil foto halaman-halaman penting.

Ada angka utang bahan baku.

Ada pinjaman bank.

Ada keterlambatan gaji.

Ada catatan pesanan besar dari perusahaan yang dulu ia bantu dapatkan.

"Bu," Nadia berbisik, "ini buruk sekali."

"Makanya Ibu tidak mau pabrik."

Ratna yang mengintip langsung pucat. Mungkin ia baru sadar Hendra tidak sekaya yang ia bayangkan.

Pintu bawah terbuka keras.

"Sari!"

Suara Hendra menggema dari lantai satu.

Nadia menegang. "Ayah pulang."

"Bagus," kata Sari. "Lebih cepat selesai."

Hendra muncul di puncak tangga dengan wajah kusut. Sepertinya ia belum tidur semalaman. Pipi bekas tamparan masih sedikit merah.

Begitu melihat kardus dan map di tangan Nadia, matanya menyipit.

"Kamu ambil apa saja?"

"Barangku."

"Ini rumah saya."

Sari menatapnya tanpa takut. "Rumah ini atas nama ibumu. Bukan namamu. Bukan namaku. Jadi jangan sok jadi raja."

Hendra terkejut karena Sari menjawab secepat itu.

"Kamu tidak punya hak bongkar-bongkar dokumen pabrik."

"Dokumen itu menyebut namaku dan usaha yang dulu dibangun orang tuaku. Aku punya hak tahu sejauh mana kamu merusaknya."

Wajah Hendra memerah. "Saya yang menjalankan pabrik itu puluhan tahun."

"Menjalankan ke jurang."

Ratna terisak kecil dari belakang. "Mas, dia dari tadi menghina aku."

Hendra melirik Ratna, lalu kembali pada Sari. "Kamu puas? Kamu sudah bikin acara saya kacau, sekarang mau bikin rumah saya kacau?"

Sari tertawa pelan. "Hendra, rumah ini kacau sebelum aku datang. Lihat ruang tamu."

Hendra kehilangan kata.

Nadia menutup map. "Bu, semua yang penting sudah?"

Sari mengangguk. "Kita pergi."

Hendra menghalangi tangga. "Kamu tidak keluar sebelum kita bicara."

Sari berhenti dua anak tangga di atasnya.

"Minggir."

"Kita suami istri."

"Kita pihak perkara."

"Sari!"

Nadia mengangkat ponsel. "Ayah, aku rekam. Kalau Ayah menahan Ibu, aku panggil satpam dan polisi."

Hendra menatap putrinya seolah tidak mengenalinya.

"Kamu bela ibumu sampai segitunya?"

Nadia menahan air mata. "Aku terlambat membela Ibu. Jangan buat aku terlambat lagi."

Hendra tersentak.

Sari menuruni tangga pelan. Hendra akhirnya minggir, bukan karena rela, tapi karena kamera Nadia dan sorot mata Sari membuatnya kehilangan keberanian.

Di ruang tamu, Tania masih memegang boneka. Ia melihat Sari lewat dengan mata bingung.

Sari berhenti sebentar, lalu berkata pelan pada Ratna tanpa menoleh.

"Urus anakmu baik-baik. Jangan terlalu sibuk merebut kamar orang sampai lupa memberi dia rumah yang benar."

Ratna tidak menjawab.

Di teras, sopir membantu memasukkan kardus dan koper. Sari duduk di kursi belakang, tubuhnya terasa hampir habis.

Nadia masuk di sebelahnya.

"Ibu kuat?"

"Tidak."

Nadia panik.

Sari menyandarkan kepala, memejamkan mata. "Tapi cukup."

Mobil bergerak. Dari kaca jendela, Sari melihat Hendra berdiri di teras bersama Ratna dan Tania. Pemandangan itu seharusnya membuatnya hancur, tetapi yang ia rasakan hanya asing, seolah rumah yang dulu ia bersihkan puluhan tahun memang tidak pernah menjadi miliknya.

"Kita ke mana, Bu?" tanya Nadia.

Sari membuka mata.

"Ke kios dulu. Setelah itu ke kontrakan."

"Ibu mau tinggal sendiri?"

"Iya."

Nadia ragu. "Aku bisa temani beberapa hari."

"Kamu punya hidupmu sendiri."

"Ibu juga punya aku."

Kalimat itu membuat Sari menoleh.

Nadia tersenyum lelah. "Jangan tolak semua orang, Bu. Tolak Ayah saja."

Sari tertawa kecil.

"Baik. Ayahmu saja."

Mobil keluar.

Di pangkuannya, map dokumen tidak lagi terasa seperti beban.

Itu senjata.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!