Episode 3

Bab 003: Aku Menggugat Cerai

Dokter di IGD memandang Sari seperti melihat kasus yang akan membuat rapat rumah sakit berlangsung panjang.

"Ibu seharusnya tidak langsung pergi dari rumah," katanya hati-hati.

Sari duduk di ranjang pemeriksaan. Kain putih sudah diganti dengan gamis longgar yang dibeli Nadia di toko dekat rumah sakit. Wajahnya masih pucat, tangan dipasangi infus, dan dadanya terasa nyeri setiap menarik napas terlalu dalam.

"Saya seharusnya juga tidak dinyatakan meninggal terlalu cepat, Dok."

Dokter itu terdiam.

Nadia yang berdiri di samping ranjang langsung menggenggam tangan ibunya. "Bu, jangan emosi dulu."

"Ibu tidak emosi. Ibu menjawab."

Perawat di dekat tirai menunduk menahan ekspresi. Dokter menarik napas pelan, lalu kembali menjelaskan bahwa Sari mengalami kondisi lemah berat setelah keracunan, tekanan darah sempat sangat rendah, respons tubuh sulit terdeteksi, dan administrasi keluarga terlalu cepat membawa pulang jenazah.

"Kami akan lakukan pemeriksaan lengkap lagi," kata dokter. "Dan pihak rumah sakit akan membuat laporan koreksi. Untuk urusan dokumen kematian, keluarga harus mengurus pembatalan surat keterangan."

"Keluarga yang mana?" tanya Sari.

Dokter tampak bingung.

Sari tersenyum tipis. "Yang mengurus saya tadi hanya anak perempuan saya. Suami saya sedang resepsi."

Nadia menunduk. Ia tahu ibunya sengaja berkata begitu agar dokter paham betapa kacau situasinya.

Dokter tidak bertanya lebih jauh.

Setelah pemeriksaan awal selesai, Nadia keluar untuk mengurus administrasi. Sari duduk sendirian beberapa menit, menatap selang infus di punggung tangannya.

Tubuhnya lemah.

Tapi kepalanya justru sangat jernih.

Hendra pasti akan memutar cerita. Ratna akan menangis. Raka dan Bayu akan berkata ia mempermalukan keluarga. Ibu Sri akan menyalahkan dirinya karena membuat aib di depan tamu.

Semua itu bisa ia tebak.

Yang tidak ia tebak hanyalah rasa kosong di dadanya.

Tadi saat menampar Hendra, ia tidak merasa puas. Ia hanya merasa seperti baru menutup pintu rumah yang selama ini terbakar pelan-pelan.

Nadia kembali dengan wajah tegang. "Ayah telepon."

"Angkat. Pakai speaker."

"Ibu yakin?"

"Angkat."

Nadia menekan layar. Suara Hendra langsung keluar, keras dan penuh amarah.

"Nadia! Kamu bawa ibumu ke mana? Suruh dia pulang sekarang. Dia sudah bikin malu semua orang!"

Nadia menggenggam ponsel kuat-kuat. "Ibu di rumah sakit. Dia baru diperiksa."

"Rumah sakit? Bagus. Suruh dokter periksa kepalanya juga. Dia benar-benar sudah gila."

Sari mengulurkan tangan. Nadia menyerahkan ponsel.

"Hendra."

Di seberang, suara napas Hendra berhenti sekejap.

"Sari, kamu dengar saya baik-baik. Apa yang kamu lakukan tadi sudah keterlaluan. Kamu menampar Ratna, menampar saya, mempermalukan anak-anak, mempermalukan keluarga besar."

"Aku mempermalukanmu?" Sari bertanya pelan. "Kamu menikahi perempuan lain saat aku dikafani. Tapi yang memalukan aku?"

"Kamu masih bicara soal itu? Semua orang mengira kamu meninggal!"

"Termasuk kamu. Karena itu kamu bahagia sekali."

"Jangan memutarbalikkan keadaan."

"Aku tidak memutar apa pun. Nadia merekam semuanya."

Hendra diam.

Sari bisa membayangkan wajahnya berubah.

"Kamu mau apa?" tanyanya akhirnya.

"Cerai."

"Jangan mengancam."

"Itu bukan ancaman. Itu pemberitahuan."

Hendra tertawa pendek, kasar. "Kamu pikir cerai semudah itu? Kamu pikir kamu bisa hidup sendiri? Kios kecilmu itu bisa kasih makan sampai kapan? Kebunmu itu bahkan belum tentu untung."

"Kamu akan tahu nanti."

"Sari, jangan sok kuat. Kamu lima puluh dua tahun. Siapa yang mau perempuan tua keras kepala sepertimu?"

Nadia langsung mengangkat kepala. "Ayah!"

Sari memberi isyarat agar Nadia diam.

Ia tidak sakit hati.

Aneh, tapi benar.

Kalimat itu pernah membuatnya terluka. Dulu. Saat Hendra berkata rambutnya kusam, tubuhnya tidak menarik, bajunya seperti ibu-ibu pasar. Dulu ia menangis diam-diam di kamar mandi.

Sekarang, kalimat itu seperti batu kecil dilempar ke dinding tebal.

"Aku cerai bukan untuk dicari laki-laki lain," jawab Sari. "Aku cerai untuk menjauh darimu."

Hendra tidak langsung membalas.

Sari melanjutkan, "Besok pengacara akan menghubungimu. Aku akan ajukan cerai gugat di Pengadilan Agama. Semua transfer untuk Ratna, rumah yang kamu beli, mobil, biaya Tania, semua akan dihitung."

"Kamu tidak punya bukti."

"Belum tentu."

"Sari, jangan macam-macam dengan saya."

"Aku sudah mati sekali hari ini. Kamu terlambat menakut-nakuti."

Ia memutus telepon.

Nadia menatapnya dengan mata basah.

"Ibu benar-benar mau cerai?"

"Ya."

"Tidak menunggu Ayah minta maaf?"

"Kalau orang menikah lagi saat istrinya dikafani, maafnya untuk apa?"

Nadia tidak menjawab.

Sari menatap anaknya. "Kamu takut?"

"Aku takut Ibu sakit lagi."

"Selain itu?"

Nadia menunduk. "Aku takut Mas Raka dan Mas Bayu menyalahkan Ibu. Takut keluarga besar menyerang Ibu. Takut Ayah memutar cerita."

"Mereka akan melakukan semuanya."

Nadia mengangkat wajah.

"Maka dari itu kita jangan kosong," kata Sari. "Mulai sekarang, simpan semua bukti. Video. Foto. Chat. Transfer. Nama saksi. Kalau ada yang menelepon, rekam."

"Baik."

"Jangan bertengkar di grup."

Nadia terkejut. "Tapi kalau mereka fitnah Ibu?"

"Kita jawab dengan bukti, bukan teriakan."

Nadia menggigit bibir, lalu mengangguk. "Aku paham."

Pintu tirai terbuka. Seorang perawat masuk membawa hasil tekanan darah. Setelah memeriksa, ia berkata Sari harus dirawat minimal semalam. Nadia langsung setuju sebelum Sari sempat menolak.

"Ibu tidak boleh kabur lagi," kata Nadia.

"Ibu tidak kabur. Ibu menyerang."

Nadia hampir tertawa, tapi air matanya jatuh duluan.

Malam itu, kabar Sari hidup dan membubarkan resepsi menyebar lebih cepat daripada pengumuman kematian paginya.

Grup keluarga Prasetyo tidak berhenti berbunyi.

Nadia duduk di sofa kamar rawat, membaca pesan satu per satu.

Ibu Sri menulis panjang tentang aib keluarga. Tante Retno dari pihak Hendra menuduh Sari sengaja membuat drama. Raka meminta Nadia membujuk Ibu pulang. Bayu mengirim pesan pribadi, katanya Ibu jangan kebawa emosi karena orang tua sudah sepuh.

Sari hanya meminta Nadia membacakan bagian penting.

"Mas Raka bilang, 'Ibu seharusnya pikirkan cucu-cucu. Jangan sampai perceraian ini bikin keluarga hancur.'"

"Balas: keluarga hancur saat ayah kalian menikah di hari pemakaman ibumu."

Nadia mengetik.

"Bayu bilang, 'Ayah memang salah, tapi Ibu juga jangan mengumbar aib.'"

"Balas: aib tidak lahir dari orang yang membuka pintu. Aib lahir dari orang yang berbuat di dalam rumah."

Nadia mengetik lagi.

Beberapa detik kemudian, grup sunyi.

Sari memejamkan mata. Tubuhnya lelah, tetapi hatinya tidak lagi goyah.

Ponsel Nadia bergetar lagi.

Kali ini dari nomor tidak dikenal.

Nadia mengangkat alis. "Pengacara yang dulu pernah bantu urusan kios, Bu. Pak Surya."

"Angkat."

Nadia mengangkat telepon, lalu menyerahkannya pada Sari.

"Bu Sari," suara Pak Surya terdengar tegas. "Saya baru menerima pesan dari Nadia. Saya turut prihatin atas kejadian hari ini. Kalau Ibu sudah cukup kuat, besok saya bisa datang ke rumah sakit."

"Saya mau cerai."

"Baik. Kita siapkan cerai gugat. Karena Ibu Muslim, jalurnya Pengadilan Agama. Kita juga perlu susun kronologi, bukti perselingkuhan, bukti harta bersama, dan dugaan pengalihan aset."

"Saya punya kios, kebun, rekening usaha. Saya tidak mau semuanya disentuh Hendra."

"Kita lihat pembukuannya. Aset yang tercatat sebagai usaha Ibu harus dipertahankan. Untuk pabrik?"

Sari membuka mata.

Di langit-langit kamar rawat, lampu putih terlihat terlalu terang.

"Dua pabrik itu biarkan dia pegang."

Pak Surya terdiam sejenak. "Ibu yakin?"

"Saya lebih tahu kondisi pabrik itu daripada dia."

"Kalau begitu besok kita bicara detail. Jangan tanda tangan apa pun tanpa saya."

"Baik."

Telepon berakhir.

Nadia menatapnya ragu. "Ibu benar-benar mau melepas pabrik?"

Sari tersenyum kecil.

"Na, orang serakah paling mudah dikalahkan dengan sesuatu yang terlihat menguntungkan."

"Maksud Ibu?"

"Ayahmu masih mengira pabrik itu mahkota. Biarkan dia pakai mahkota yang berkarat."

Nadia menatap ibunya lama.

Lalu, untuk pertama kalinya hari itu, ia tersenyum.

"Ibu terdengar menyeramkan."

"Bagus."

Sari menarik selimut sampai dada.

"Sudah terlalu lama Ibu terdengar lemah."

Di luar kamar, koridor rumah sakit mulai sepi. Tapi ponsel Nadia masih menyala dengan notifikasi baru. Sebuah pesan masuk dari Hendra.

Nadia membacanya pelan.

"Besok Ayah mau datang. Katanya mau bicara empat mata."

Sari menutup mata.

"Tidak ada empat mata lagi. Mulai sekarang, semua pembicaraan harus ada saksi."

"Aku temani."

"Kamu temani. Pengacara temani. Kalau perlu satpam juga temani."

Nadia mengangguk.

Sari mencoba tidur, tetapi pikiran tentang rumah lama muncul. Ada buku rekening di lemari bawah. Ada ponsel lama yang menyimpan pesan Hendra bertahun-tahun. Ada sertifikat kios. Ada kontrak sewa kebun. Ada catatan pesanan pabrik yang dulu ia bantu dapatkan.

Semua harus diamankan sebelum Hendra sadar.

Ia membuka mata lagi.

"Nadia."

"Iya, Bu?"

"Besok pagi, setelah dokter izinkan Ibu keluar sebentar, kita pulang ke rumah."

"Rumah Ayah?"

"Rumah tempat barang-barang Ibu masih disimpan."

Nadia mengerti.

"Aku pesan mobil lebih besar."

Sari mengangguk.

Di dada lemahnya, sesuatu yang lama mati mulai bergerak.

Bukan cinta.

Bukan dendam.

Kesadaran.

Mulai besok, ia tidak lagi menjadi istri yang meminta izin.

Ia menjadi pihak lawan.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
Episodes

Updated 96 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!