Malam semakin larut, namun atmosfer di dalam Aula Agung justru semakin mendingin, kontras dengan kehangatan ratusan lilin yang menyala. Musik berganti menjadi ritme waltz yang lambat dan megah—sebuah tanda bahwa lantai dansa telah dibuka untuk pasangan utama malam itu.
Pangeran Cassian mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam. Gerakannya tenang, namun ada dominasi yang tak terucapkan di sana. Aurelia menatap tangan itu selama satu detik penuh sebelum akhirnya meletakkan jemarinya di atas telapak tangan Cassian. Kulit pria itu terasa hangat, bahkan menembus kain sarung tangannya.
"Jangan tegang, Putri," bisik Cassian saat ia menuntun Aurelia ke tengah aula. "Rakyat Anda sedang menonton. Jika Anda terlihat seolah-olah sedang digiring ke tiang gantungan, mereka akan mulai panik."
"Saya hanya sedang beradaptasi dengan aroma belerang dan darah yang tampaknya Anda bawa dari Utara, Pangeran," balas Aurelia dengan senyum formal yang dipaksakan, memastikan suaranya cukup rendah agar tidak terdengar oleh para musisi.
Cassian terkekeh pelan—sebuah suara rendah yang menggetarkan dada bidangnya. Ia menempatkan satu tangannya di pinggang Aurelia, menarik tubuh sang Putri sedikit lebih dekat dari yang lazim dilakukan dalam tata krama Oakhaven. Aurelia tersentak kecil, namun ia berhasil menguasai diri dan meletakkan tangan kirinya di bahu kokoh Cassian.
Saat musik mulai mengalun, mereka mulai bergerak.
Aurelia harus mengakui, di balik reputasinya yang brutal, Cassian adalah seorang pedansa yang luar biasa. Langkah-langkahnya presisi dan mantap, menuntun Aurelia melewati lantai marmer seolah-olah mereka telah berlatih bersama selama bertahun-tahun. Namun, mata abu-abu Cassian tidak pernah lepas dari wajah Aurelia, mengunci pandangannya dengan intensitas yang mengintimidasi.
"Anda memiliki lidah yang cukup tajam untuk seorang putri yang menghabiskan hidupnya di menara kaca," ujar Cassian, memutar tubuh Aurelia mengikuti ketukan musik. "Kira-kira, apakah keberanian ini asli, atau hanya topeng untuk menyembunyikan fakta bahwa Anda gemetar di dalam gaun indah ini?"
"Anda boleh menguji saya jika Anda berani, Pangeran," tantang Aurelia, menatap lurus ke dalam manik mata abu-abu yang seperti badai itu. "Oakhaven mungkin terlihat rapuh di mata kerajaan militer seperti Valenica, tetapi kami tidak sekadar pasrah untuk dihancurkan. Jika saya harus menjadi jembatan perdamaian, maka pastikan Anda tidak mencoba membakarnya, karena saya akan memastikan Anda ikut jatuh bersama saya."
Mendengar itu, kilatan aneh muncul di mata Cassian. Bukannya marah, seringai tipis kembali menghiasi wajahnya yang tegas. "Menarik. Ayah Anda menawarkan pernikahan ini sebagai tanda penyerahan diri, tetapi Anda... Anda berbicara seperti seorang jenderal yang siap berperang."
"Pernikahan ini adalah negosiasi, bukan penyerahan diri," ketus Aurelia.
Sebelum Cassian sempat membalas, musik mencapai puncaknya dan melambat, menandakan dansa mereka telah usai. Cassian melepaskan pinggang Aurelia dengan perlahan, lalu mengambil tangan kanan sang Putri. Kali ini, ia mendekatkan jemari Aurelia ke bibirnya dan mendaratkan sebuah kecupan ringan di punggung tangannya, tanpa melepaskan kontak mata.
"Kita akan sering bertemu sebelum hari pernikahan, Putri Aurelia," bisik Cassian, suaranya terdengar seperti janji sekaligus ancaman. "Persiapkan diri Anda. Udara di Utara jauh lebih dingin daripada konfrontasi malam ini."
Cassian membungkuk hormat, lalu berbalik dan berjalan kembali menuju delegasinya, meninggalkan Aurelia yang berdiri mematung di tengah lantai dansa. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena romansa, melainkan karena adrenalin. Aurelia tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Di hadapannya kini ada seorang pria yang tidak bisa ia kendalikan, dan di belakangnya ada sebuah kerajaan yang harus ia selamatkan.
*•*
*•*
*•*
*•*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments