BAB 2 : Dansa di atas es tipis

Malam semakin larut, namun atmosfer di dalam Aula Agung justru semakin mendingin, kontras dengan kehangatan ratusan lilin yang menyala. Musik berganti menjadi ritme waltz yang lambat dan megah—sebuah tanda bahwa lantai dansa telah dibuka untuk pasangan utama malam itu.

Pangeran Cassian mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam. Gerakannya tenang, namun ada dominasi yang tak terucapkan di sana. Aurelia menatap tangan itu selama satu detik penuh sebelum akhirnya meletakkan jemarinya di atas telapak tangan Cassian. Kulit pria itu terasa hangat, bahkan menembus kain sarung tangannya.

"Jangan tegang, Putri," bisik Cassian saat ia menuntun Aurelia ke tengah aula. "Rakyat Anda sedang menonton. Jika Anda terlihat seolah-olah sedang digiring ke tiang gantungan, mereka akan mulai panik."

"Saya hanya sedang beradaptasi dengan aroma belerang dan darah yang tampaknya Anda bawa dari Utara, Pangeran," balas Aurelia dengan senyum formal yang dipaksakan, memastikan suaranya cukup rendah agar tidak terdengar oleh para musisi.

Cassian terkekeh pelan—sebuah suara rendah yang menggetarkan dada bidangnya. Ia menempatkan satu tangannya di pinggang Aurelia, menarik tubuh sang Putri sedikit lebih dekat dari yang lazim dilakukan dalam tata krama Oakhaven. Aurelia tersentak kecil, namun ia berhasil menguasai diri dan meletakkan tangan kirinya di bahu kokoh Cassian.

Saat musik mulai mengalun, mereka mulai bergerak.

Aurelia harus mengakui, di balik reputasinya yang brutal, Cassian adalah seorang pedansa yang luar biasa. Langkah-langkahnya presisi dan mantap, menuntun Aurelia melewati lantai marmer seolah-olah mereka telah berlatih bersama selama bertahun-tahun. Namun, mata abu-abu Cassian tidak pernah lepas dari wajah Aurelia, mengunci pandangannya dengan intensitas yang mengintimidasi.

"Anda memiliki lidah yang cukup tajam untuk seorang putri yang menghabiskan hidupnya di menara kaca," ujar Cassian, memutar tubuh Aurelia mengikuti ketukan musik. "Kira-kira, apakah keberanian ini asli, atau hanya topeng untuk menyembunyikan fakta bahwa Anda gemetar di dalam gaun indah ini?"

"Anda boleh menguji saya jika Anda berani, Pangeran," tantang Aurelia, menatap lurus ke dalam manik mata abu-abu yang seperti badai itu. "Oakhaven mungkin terlihat rapuh di mata kerajaan militer seperti Valenica, tetapi kami tidak sekadar pasrah untuk dihancurkan. Jika saya harus menjadi jembatan perdamaian, maka pastikan Anda tidak mencoba membakarnya, karena saya akan memastikan Anda ikut jatuh bersama saya."

Mendengar itu, kilatan aneh muncul di mata Cassian. Bukannya marah, seringai tipis kembali menghiasi wajahnya yang tegas. "Menarik. Ayah Anda menawarkan pernikahan ini sebagai tanda penyerahan diri, tetapi Anda... Anda berbicara seperti seorang jenderal yang siap berperang."

"Pernikahan ini adalah negosiasi, bukan penyerahan diri," ketus Aurelia.

Sebelum Cassian sempat membalas, musik mencapai puncaknya dan melambat, menandakan dansa mereka telah usai. Cassian melepaskan pinggang Aurelia dengan perlahan, lalu mengambil tangan kanan sang Putri. Kali ini, ia mendekatkan jemari Aurelia ke bibirnya dan mendaratkan sebuah kecupan ringan di punggung tangannya, tanpa melepaskan kontak mata.

"Kita akan sering bertemu sebelum hari pernikahan, Putri Aurelia," bisik Cassian, suaranya terdengar seperti janji sekaligus ancaman. "Persiapkan diri Anda. Udara di Utara jauh lebih dingin daripada konfrontasi malam ini."

Cassian membungkuk hormat, lalu berbalik dan berjalan kembali menuju delegasinya, meninggalkan Aurelia yang berdiri mematung di tengah lantai dansa. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena romansa, melainkan karena adrenalin. Aurelia tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Di hadapannya kini ada seorang pria yang tidak bisa ia kendalikan, dan di belakangnya ada sebuah kerajaan yang harus ia selamatkan.

*•*

*•*

*•*

*•*

Episodes
1 BAB 1 : Sang Putri di menara kaca
2 BAB 2 : Dansa di atas es tipis
3 BAB 3 : Intrik di balik kain sutera
4 Bab 4 : bidak catur pertama
5 BAB 5 : Badai di perbatasan pengunungan Frostbite
6 BAB 6 : Hangat di balik Dinding Batu
7 BAB 7 : Sambutan Srigala dan Takhta Es
8 BAB 8 : Racun Dalam Cawang Perak
9 BAB 9 : Sandiwara dibalik Kabut Barat
10 Bab 10 : Recana dibalik Badai Es
11 BAB 11 : Umpan di Ngarai Gigi Naga
12 BAB 12 : Konsolidasi Kekuatan
13 BAB 13 : Menebus Batas Dua Dunia
14 BAB 14 : Seruan Di Kota Perbatasan
15 BAB : Racun di Istana Oakhaven
16 BAB : 16 Duri dibalik Dinding Emas
17 BAB 17 : Darah diatas Marmer suci
18 BAB 18 : Bayang - Bayang di Sempadan Selatan
19 BAB 19 : Langkah Kaki di Lembah Kelam
20 BAB 20 : Malam di Ambang Kehancuran
21 BAB 21 : Fajar Pertempuran Onsidian
22 BAB 22 : Labirin Bayangan Dan Rahasia Kelam
23 BAB 23 : Benteng Pertahanan Terakhir Sang Ksatria
24 BAB 24 : Konfrontasi Garu Depan Altar Utama
25 BAB 25 : Pecahnya Tabir Kristal dan Kebangkitan Kegelapan
26 BAB 26 : Keretajab Takdir dan Kebangkitan Bayangan Kuno
27 BAB 27 : Runtuhnya garis pertahan Murni
28 BAB 28 : Gema Dua Jiwa
29 BAB 29 : Pengorbanan di Ambang Jurang
30 BAb 30 ;’d Fajar diufuk Keabadian
31 BAB 31 : Meldo Damai di Tanah yang Bersemi
32 BAB 32 : Simfoni Kehidupan dan Warisan cinra
33 BAB 33 : Musim Semi Di Rahim
34 BAB 34 : Panggilan dari Tanah Yang Membeku
35 BAB 35 : Labirin Kepercayaan di Valencia
36 BAB : Simpul Yang Mengecang
37 BAB 37 : Garis Depan yang Terbagi
38 BAB 38 : Gema dari Pengunungan Terlarang
39 BAB 39 : Darah dan Debu di Gerbang Selatan
40 BAB 40 : Menebus Tirai Es
41 BAB 41 : Jerit dari Kedalaman
42 BAB 42 : Fajar di Atas Reruntuhan
43 BAB 43 : Siasat di Balik Bayang Bayang
44 BAB 44 : Di Bawah Langit yang Retak
45 BAB 45 : Denyut di Tengah Keheningan
46 BAB 46 : Rapat di Balik Tirai Besi
47 BAB 47 : Cermin di Balik Kabut
48 BAB 48 : Gema dari Masa Lalu yang Terkubur
49 BAB 49 : Virus Waktu
50 BAB 50 : Menebus Turau Keabadian
51 BAB 51 : Gema dari Takhta yang Kosong
52 BAN 52 : Jejak Sang Penenun
53 BAB 53 : Retakan di Dasar Jiwa
54 BAB 54 : Dilema Sang Penenun
55 BAB 55 : Gema di Langit yang Baru
56 BAB 56 : Benang yang Tak terputus
57 BAB 57 : Cakrawala yang Terkoyak
58 BAB 58 : Sisa Sisa yang Nernafas
59 BAB 59 : Kelahiran dalam Badai Realitas
60 BAB 60 : Fajar di Ujung Waktu
61 BAB 61 : Warisan Cahaya yang Kekal ( Ending )
Episodes

Updated 61 Episodes

1
BAB 1 : Sang Putri di menara kaca
2
BAB 2 : Dansa di atas es tipis
3
BAB 3 : Intrik di balik kain sutera
4
Bab 4 : bidak catur pertama
5
BAB 5 : Badai di perbatasan pengunungan Frostbite
6
BAB 6 : Hangat di balik Dinding Batu
7
BAB 7 : Sambutan Srigala dan Takhta Es
8
BAB 8 : Racun Dalam Cawang Perak
9
BAB 9 : Sandiwara dibalik Kabut Barat
10
Bab 10 : Recana dibalik Badai Es
11
BAB 11 : Umpan di Ngarai Gigi Naga
12
BAB 12 : Konsolidasi Kekuatan
13
BAB 13 : Menebus Batas Dua Dunia
14
BAB 14 : Seruan Di Kota Perbatasan
15
BAB : Racun di Istana Oakhaven
16
BAB : 16 Duri dibalik Dinding Emas
17
BAB 17 : Darah diatas Marmer suci
18
BAB 18 : Bayang - Bayang di Sempadan Selatan
19
BAB 19 : Langkah Kaki di Lembah Kelam
20
BAB 20 : Malam di Ambang Kehancuran
21
BAB 21 : Fajar Pertempuran Onsidian
22
BAB 22 : Labirin Bayangan Dan Rahasia Kelam
23
BAB 23 : Benteng Pertahanan Terakhir Sang Ksatria
24
BAB 24 : Konfrontasi Garu Depan Altar Utama
25
BAB 25 : Pecahnya Tabir Kristal dan Kebangkitan Kegelapan
26
BAB 26 : Keretajab Takdir dan Kebangkitan Bayangan Kuno
27
BAB 27 : Runtuhnya garis pertahan Murni
28
BAB 28 : Gema Dua Jiwa
29
BAB 29 : Pengorbanan di Ambang Jurang
30
BAb 30 ;’d Fajar diufuk Keabadian
31
BAB 31 : Meldo Damai di Tanah yang Bersemi
32
BAB 32 : Simfoni Kehidupan dan Warisan cinra
33
BAB 33 : Musim Semi Di Rahim
34
BAB 34 : Panggilan dari Tanah Yang Membeku
35
BAB 35 : Labirin Kepercayaan di Valencia
36
BAB : Simpul Yang Mengecang
37
BAB 37 : Garis Depan yang Terbagi
38
BAB 38 : Gema dari Pengunungan Terlarang
39
BAB 39 : Darah dan Debu di Gerbang Selatan
40
BAB 40 : Menebus Tirai Es
41
BAB 41 : Jerit dari Kedalaman
42
BAB 42 : Fajar di Atas Reruntuhan
43
BAB 43 : Siasat di Balik Bayang Bayang
44
BAB 44 : Di Bawah Langit yang Retak
45
BAB 45 : Denyut di Tengah Keheningan
46
BAB 46 : Rapat di Balik Tirai Besi
47
BAB 47 : Cermin di Balik Kabut
48
BAB 48 : Gema dari Masa Lalu yang Terkubur
49
BAB 49 : Virus Waktu
50
BAB 50 : Menebus Turau Keabadian
51
BAB 51 : Gema dari Takhta yang Kosong
52
BAN 52 : Jejak Sang Penenun
53
BAB 53 : Retakan di Dasar Jiwa
54
BAB 54 : Dilema Sang Penenun
55
BAB 55 : Gema di Langit yang Baru
56
BAB 56 : Benang yang Tak terputus
57
BAB 57 : Cakrawala yang Terkoyak
58
BAB 58 : Sisa Sisa yang Nernafas
59
BAB 59 : Kelahiran dalam Badai Realitas
60
BAB 60 : Fajar di Ujung Waktu
61
BAB 61 : Warisan Cahaya yang Kekal ( Ending )

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!