Bab 4 : bidak catur pertama

Kamar tidur Raja Alistair beraroma menyengat oleh campuran dupa herbal, minyak kayu putih, dan bau samar kematian yang enggan pergi. Cahaya matahari pagi menyaring malas melalui tirai beludru merah yang tebal, menyinari sosok sang Raja yang terbaring lemah di atas ranjang besarnya. Wajahnya yang dahulu perkasa kini tampak seperti tengkorak yang dilapisi kulit keriput keabu-abuan.

Aurelia duduk di tepi ranjang, menggenggam erat tangan ayahnya yang terasa dingin dan kering. Setiap kali ayahnya terbatuk, dada Aurelia terasa berdenyut nyeri. Di atas meja nakas di samping ranjang, berdiri sebuah cawan perak berisi ramuan obat yang baru saja diantarkan oleh pelayan pribadi Duke Valerius.

Aurelia menatap cairan gelap di dalam cawan itu dengan kebencian yang mendalam. Racun yang lambat, kata pamannya kemarin. Cairan yang seharusnya menyembuhkan ayahnya justru merupakan malaikat maut yang dikirim secara perlahan ke dalam aliran darah sang Raja.

"Aurelia..." suara Raja Alistair terdengar seperti gesekan daun kering. Matanya yang sayu perlahan terbuka, menatap putrinya dengan sisa-sisa kasih sayang yang ia miliki. "Kenapa kau... belum bersiap? Hari ini ada pertemuan dewan."

"Saya hanya ingin menemani Ayahanda sebentar lagi," jawab Aurelia, berusaha keras menahan getaran pada suaranya. Ia ingin berteriak, memberi tahu ayahnya bahwa adiknya sendiri adalah dalang di balik penyakitnya. Namun, bayangan peringatan Cassian kemarin malam menahan lidahnya. Tanpa bukti, tuduhannya hanya akan menjadi senjata bagi Valerius untuk mengurungnya atas tuduhan pengkhianatan atau kegilaan.

"Pergilah, Nak," bisik Raja Alistair lemah. "Jangan biarkan... orang-orang Utara itu berpikir kita lemah karena Raja mereka tidak bisa bangkit dari tempat tidur."

Aurelia mengecup kening ayahnya dengan lembut sebelum bangkit berdiri. Sebelum melangkah keluar, ia dengan sengaja menyenggol meja nakas dengan lipatan gaunnya yang lebar. Cawan perak itu jatuh, menumpahkan seluruh isi ramuan beracun itu ke atas lantai batu yang dingin.

"Oh, maafkan kebodohan saya, Ayah. Saya akan meminta pelayan untuk membuatkan yang baru nanti," ujar Aurelia dengan wajah bersalah yang dibuat-buat. Ia hanya bisa menunda racun itu untuk beberapa jam, tetapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali.

Aula Dewan Istana terasa tegang saat Aurelia melangkah masuk. Duke Valerius sudah duduk di kursi kehormatannya di sebelah kanan takhta kosong, tampak begitu berkuasa dengan jubah militer berlogo singa Oakhaven. Lord Brandon duduk di sudut lain, menghindari kontak mata dengan Aurelia.

Di sisi lain meja panjang, Pangeran Cassian berdiri tegak dengan tangan bersendekap di dada. Di belakangnya, dua pengawal Valenica berzirah besi hitam berdiri seperti patung batu tanpa ekspresi.

Begitu Aurelia duduk di kursi keluarga kerajaan, Cassian langsung mengambil alih perhatian ruangan.

"Kondisi kesehatan Raja Alistair semakin memburuk, dan stabilitas di perbatasan utara tidak bisa menunggu lebih lama lagi," ujar Cassian dengan suara berat yang memenuhi seluruh aula dewan. "Valenica mengusulkan agar upacara pernikahan dan perayaan tidak perlu dilakukan di Oakhaven. Kita akan mempercepat jadwal. Putri Aurelia harus berangkat ke Valenica lusa."

Suasana aula seketika gempar. Beberapa menteri mulai berbisik-bisik panik.

Duke Valerius langsung bangkit dari kursinya, wajahnya mengeras dalam ekspresi kemarahan yang dibuat-buat. "Ini keterlaluan, Pangeran Cassian! Putri Aurelia adalah permata Oakhaven. Keberangkatannya harus dipersiapkan dengan megah, sesuai dengan kehormatan kerajaan kami. Perjalanan ke Utara membutuhkan persiapan berminggu-minggu demi keselamatan sang Putri."

Aurelia mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia tahu persis mengapa pamannya ingin menunda keberangkatan. Duke Valerius membutuhkan waktu untuk merencanakan "kecelakaan tragis" yang akan menewaskannya di perjalanan, sekaligus memastikan racun di tubuh ayahnya menyelesaikan tugasnya.

"Saya setuju dengan Pangeran Cassian," suara Aurelia memotong perdebatan, terdengar jernih dan tegas di seluruh ruangan.

Duke Valerius menoleh cepat ke arah keponakannya, matanya menyipit penuh selidik. "Aurelia, kau tidak tahu apa yang kau bicarakan. Ini menyangkut keselamatanmu—"

"Ini menyangkut keselamatan Oakhaven, Paman," balas Aurelia, menatap langsung ke dalam mata pamannya yang penuh tipu daya. "Ayahanda semakin lemah setiap harinya. Keinginan terakhirnya adalah melihat aliansi ini terbentuk dengan damai. Jika menunggu berminggu-minggu hanya untuk pesta pora yang tidak perlu, sementara perbatasan kita terancam, maka saya adalah putri yang egois. Saya bersedia berangkat lusa."

Cassian menatap Aurelia dengan sudut bibir yang terangkat tipis—sebuah apresiasi bisu atas keberanian sang Putri yang mampu memainkan perannya dengan sempurna.

"Keputusan telah dibuat," ujar Cassian dingin, menatap Duke Valerius dengan pandangan mengancam. "Lusa pagi, iring-iringan pengantin akan meninggalkan Oakhaven. Dan saya sendiri yang akan memastikan keselamatan calon istri saya hingga kami tiba di Valenica."

Duke Valerius mengepalkan tangannya di balik jubah beludrunya, rahangnya mengeras karena rencana matangnya mendadak berantakan. Namun, ia tidak memiliki pilihan selain membungkuk hormat, menyembunyikan amarahnya di balik senyuman palsu yang mematikan.

Permainan catur telah dimulai, dan Aurelia baru saja menggerakkan bidak pertamanya.

*•*

*•*

*•*

*•*

*•*

Episodes
1 BAB 1 : Sang Putri di menara kaca
2 BAB 2 : Dansa di atas es tipis
3 BAB 3 : Intrik di balik kain sutera
4 Bab 4 : bidak catur pertama
5 BAB 5 : Badai di perbatasan pengunungan Frostbite
6 BAB 6 : Hangat di balik Dinding Batu
7 BAB 7 : Sambutan Srigala dan Takhta Es
8 BAB 8 : Racun Dalam Cawang Perak
9 BAB 9 : Sandiwara dibalik Kabut Barat
10 Bab 10 : Recana dibalik Badai Es
11 BAB 11 : Umpan di Ngarai Gigi Naga
12 BAB 12 : Konsolidasi Kekuatan
13 BAB 13 : Menebus Batas Dua Dunia
14 BAB 14 : Seruan Di Kota Perbatasan
15 BAB : Racun di Istana Oakhaven
16 BAB : 16 Duri dibalik Dinding Emas
17 BAB 17 : Darah diatas Marmer suci
18 BAB 18 : Bayang - Bayang di Sempadan Selatan
19 BAB 19 : Langkah Kaki di Lembah Kelam
20 BAB 20 : Malam di Ambang Kehancuran
21 BAB 21 : Fajar Pertempuran Onsidian
22 BAB 22 : Labirin Bayangan Dan Rahasia Kelam
23 BAB 23 : Benteng Pertahanan Terakhir Sang Ksatria
24 BAB 24 : Konfrontasi Garu Depan Altar Utama
25 BAB 25 : Pecahnya Tabir Kristal dan Kebangkitan Kegelapan
26 BAB 26 : Keretajab Takdir dan Kebangkitan Bayangan Kuno
27 BAB 27 : Runtuhnya garis pertahan Murni
28 BAB 28 : Gema Dua Jiwa
29 BAB 29 : Pengorbanan di Ambang Jurang
30 BAb 30 ;’d Fajar diufuk Keabadian
31 BAB 31 : Meldo Damai di Tanah yang Bersemi
32 BAB 32 : Simfoni Kehidupan dan Warisan cinra
33 BAB 33 : Musim Semi Di Rahim
34 BAB 34 : Panggilan dari Tanah Yang Membeku
35 BAB 35 : Labirin Kepercayaan di Valencia
36 BAB : Simpul Yang Mengecang
37 BAB 37 : Garis Depan yang Terbagi
38 BAB 38 : Gema dari Pengunungan Terlarang
39 BAB 39 : Darah dan Debu di Gerbang Selatan
40 BAB 40 : Menebus Tirai Es
41 BAB 41 : Jerit dari Kedalaman
42 BAB 42 : Fajar di Atas Reruntuhan
43 BAB 43 : Siasat di Balik Bayang Bayang
44 BAB 44 : Di Bawah Langit yang Retak
45 BAB 45 : Denyut di Tengah Keheningan
46 BAB 46 : Rapat di Balik Tirai Besi
47 BAB 47 : Cermin di Balik Kabut
48 BAB 48 : Gema dari Masa Lalu yang Terkubur
49 BAB 49 : Virus Waktu
50 BAB 50 : Menebus Turau Keabadian
51 BAB 51 : Gema dari Takhta yang Kosong
52 BAN 52 : Jejak Sang Penenun
53 BAB 53 : Retakan di Dasar Jiwa
54 BAB 54 : Dilema Sang Penenun
55 BAB 55 : Gema di Langit yang Baru
56 BAB 56 : Benang yang Tak terputus
57 BAB 57 : Cakrawala yang Terkoyak
58 BAB 58 : Sisa Sisa yang Nernafas
59 BAB 59 : Kelahiran dalam Badai Realitas
60 BAB 60 : Fajar di Ujung Waktu
61 BAB 61 : Warisan Cahaya yang Kekal ( Ending )
Episodes

Updated 61 Episodes

1
BAB 1 : Sang Putri di menara kaca
2
BAB 2 : Dansa di atas es tipis
3
BAB 3 : Intrik di balik kain sutera
4
Bab 4 : bidak catur pertama
5
BAB 5 : Badai di perbatasan pengunungan Frostbite
6
BAB 6 : Hangat di balik Dinding Batu
7
BAB 7 : Sambutan Srigala dan Takhta Es
8
BAB 8 : Racun Dalam Cawang Perak
9
BAB 9 : Sandiwara dibalik Kabut Barat
10
Bab 10 : Recana dibalik Badai Es
11
BAB 11 : Umpan di Ngarai Gigi Naga
12
BAB 12 : Konsolidasi Kekuatan
13
BAB 13 : Menebus Batas Dua Dunia
14
BAB 14 : Seruan Di Kota Perbatasan
15
BAB : Racun di Istana Oakhaven
16
BAB : 16 Duri dibalik Dinding Emas
17
BAB 17 : Darah diatas Marmer suci
18
BAB 18 : Bayang - Bayang di Sempadan Selatan
19
BAB 19 : Langkah Kaki di Lembah Kelam
20
BAB 20 : Malam di Ambang Kehancuran
21
BAB 21 : Fajar Pertempuran Onsidian
22
BAB 22 : Labirin Bayangan Dan Rahasia Kelam
23
BAB 23 : Benteng Pertahanan Terakhir Sang Ksatria
24
BAB 24 : Konfrontasi Garu Depan Altar Utama
25
BAB 25 : Pecahnya Tabir Kristal dan Kebangkitan Kegelapan
26
BAB 26 : Keretajab Takdir dan Kebangkitan Bayangan Kuno
27
BAB 27 : Runtuhnya garis pertahan Murni
28
BAB 28 : Gema Dua Jiwa
29
BAB 29 : Pengorbanan di Ambang Jurang
30
BAb 30 ;’d Fajar diufuk Keabadian
31
BAB 31 : Meldo Damai di Tanah yang Bersemi
32
BAB 32 : Simfoni Kehidupan dan Warisan cinra
33
BAB 33 : Musim Semi Di Rahim
34
BAB 34 : Panggilan dari Tanah Yang Membeku
35
BAB 35 : Labirin Kepercayaan di Valencia
36
BAB : Simpul Yang Mengecang
37
BAB 37 : Garis Depan yang Terbagi
38
BAB 38 : Gema dari Pengunungan Terlarang
39
BAB 39 : Darah dan Debu di Gerbang Selatan
40
BAB 40 : Menebus Tirai Es
41
BAB 41 : Jerit dari Kedalaman
42
BAB 42 : Fajar di Atas Reruntuhan
43
BAB 43 : Siasat di Balik Bayang Bayang
44
BAB 44 : Di Bawah Langit yang Retak
45
BAB 45 : Denyut di Tengah Keheningan
46
BAB 46 : Rapat di Balik Tirai Besi
47
BAB 47 : Cermin di Balik Kabut
48
BAB 48 : Gema dari Masa Lalu yang Terkubur
49
BAB 49 : Virus Waktu
50
BAB 50 : Menebus Turau Keabadian
51
BAB 51 : Gema dari Takhta yang Kosong
52
BAN 52 : Jejak Sang Penenun
53
BAB 53 : Retakan di Dasar Jiwa
54
BAB 54 : Dilema Sang Penenun
55
BAB 55 : Gema di Langit yang Baru
56
BAB 56 : Benang yang Tak terputus
57
BAB 57 : Cakrawala yang Terkoyak
58
BAB 58 : Sisa Sisa yang Nernafas
59
BAB 59 : Kelahiran dalam Badai Realitas
60
BAB 60 : Fajar di Ujung Waktu
61
BAB 61 : Warisan Cahaya yang Kekal ( Ending )

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!