BAB 5 : Badai di perbatasan pengunungan Frostbite

Kereta kuda berlogo mawar emas Oakhaven terguncang keras saat roda-rodanya yang dilapisi besi melintasi jalanan berbatu yang terjal dan menanjak. Udara hangat dan harum bunga dataran rendah khas Veridia telah lama lenyap di belakang mereka, digantikan oleh embus angin pegunungan yang menusuk hingga ke tulang. Mereka kini telah resmi memasuki wilayah netral Pegunungan Frostbite—sebuah labirin tebing batu dan jurang curam yang menjadi batas alami pemisah antara Oakhaven dan dataran beku Kerajaan Valenica.

Di dalam kereta yang temaram, Putri Aurelia merapatkan jubah wol tebal berbulu serigala putih ke tubuhnya. Meskipun pemanas portabel berbasis batu sihir diletakkan di lantai kereta, hawa dingin tetap berhasil menyusup melalui celah-celah jendela kayu. Aurelia menatap jemarinya yang mulai memucat, mencoba mengusir rasa cemas yang terus menggerogoti hatinya sejak mereka meninggalkan ibu kota dua hari lalu.

Di hadapannya, duduk Pangeran Cassian dengan ketenangan yang hampir membuat Aurelia jengkel. Pria itu melepaskan jubah bulunya, hanya mengenakan kemeja hitam ketat berlapis zirah ringan pada dadanya. Dengan gerakan ritmis dan santai, ia sedang membersihkan sebilah belati perak berukir lambang elang utara menggunakan selembar kain sutra. Cassian tampak sama sekali tidak terpengaruh oleh suhu ekstrem yang sanggup membekukan napas manusia biasa ini.

"Kita akan mencapai pos perbatasan pertama Valenica sebelum matahari terbenam sepenuhnya," ujar Cassian tanpa mengalihkan pandangannya dari bilah belati yang berkilau tajam. "Namun, jangan lengah. Jalur tebing di depan adalah tempat paling rawan bagi para penyamun... atau mereka yang berpura-pura menjadi penyamun."

Aurelia mengalihkan pandangannya keluar jendela, menyaksikan kabut tebal berwarna abu-abu yang mulai turun menyelimuti hutan pohon pinus purba di sisi jalan. Batang-batang pohon itu berdiri kaku seperti barisan prajurit mati. "Apakah menurutmu pamanku benar-benar akan bertindak sejauh ini? Mengirim pembunuh ke wilayah netral yang dijaga ketat?"

"Duke Valerius kehilangan momentum terbaiknya begitu kita memutuskan untuk meninggalkan istana Oakhaven lebih cepat dari jadwal," Cassian mendongak, sepasang mata abu-abunya yang sewarna badai kini mengunci pandangan Aurelia. Tatapannya begitu tajam, seolah mampu membaca ketakutan terdalam sang Putri. "Jika dia ingin menghentikan pernikahan politik ini dan merebut takhta dari ayahmu yang sekarat, membunuhmu di jalanan sepi ini dan mengambinghitamkan bandit lokal adalah pilihan paling bersih serta tak berisiko yang dia miliki."

Tepat setelah Cassian menyelesaikan kalimatnya, takdir buruk seolah langsung menjawab ucapan tersebut. Kereta kuda mendadak berhenti dengan sentakan yang sangat hebat hingga membuat Aurelia hampir terlempar dari kursinya jika Cassian tidak dengan cepat menangkap lengannya.

Dari luar, terdengar pekikan kuda-kuda jantan yang panik, disusul oleh suara teriakan para pengawal dan denting logam pedang yang saling beradu dengan bising. Suasana damai pegunungan seketika pecah menjadi medan pertempuran yang kacau.

"Tetap di posisi rendah dan jangan keluar," perintah Cassian. Suaranya tidak lagi santai; nada bicaranya berubah menjadi dingin, tegas, dan penuh otoritas mutlak seorang panglima perang. Dalam satu gerakan yang nyaris tak terlihat oleh mata, ia menyarungkan belatinya dan menarik pedang panjang berhulu hitam dari sarungnya di lantai kereta.

Namun, sebelum Cassian sempat membuka pintu kereta untuk memimpin pasukannya, benturan keras menghantam bagian atas kereta. Atap kayu jati yang kokoh itu hancur berantakan menjadi serpihan tajam. Dua orang pria bertopeng hitam dengan pakaian zirah ringkas melompat turun ke dalam kabin kereta, langsung menghunuskan belati panjang yang berlumur racun hijau pekat ke arah dada Aurelia.

Cassian bergerak bagai kilat yang menyambar di malam hari. Ia memutar tubuhnya, menangkis serangan penyerang pertama dengan bilah pedangnya. Benturan dua logam itu memicu percikan api di ruang sempit kabin yang kini dipenuhi debu kayu. Memanfaatkan momentum, tangan kiri Cassian yang bebas mencengkeram kerah zirah penyerang kedua, mengangkat tubuh pria itu, dan melemparkannya keluar melalui jendela kereta yang hancur hingga terdengar suara berdebam di atas tanah berbatu.

Aurelia yang terdesak di sudut kursi tidak tinggal diam begitu saja. Ketika penyerang yang pertama kali ditangkis Cassian mencoba merangkak kembali dan mengarahkan belati cadangan ke arah pergelangan kaki sang Pangeran yang sedang lengah, tangan Aurelia bergerak secara insting. Ia meraih lentera besi berat berisi minyak menyala yang tergantung di dinding kereta, lalu menghantamkannya sekuat tenaga ke bagian belakang kepala pria bertopeng itu.

PRAKK!

Lentera itu pecah, memercikkan minyak panas dan membuat pria bertopeng itu melolong kesakitan sebelum akhirnya ambruk tak sadarkan diri di lantai kereta yang mulai terbakar kecil.

Cassian melirik ke belakang sekilas, menatap pria yang pingsan lalu beralih pada Aurelia yang masih memegang sisa gagang lentera dengan napas terengah-engah. Sudut bibir sang Pangeran terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang berbahaya sekaligus penuh apresiasi. "Kerja bagus, Putri Oakhaven. Ternyata mawar ini benar-benar memiliki duri."

Dengan satu hentakan pedang yang presisi untuk memastikan penyerang di bawahnya tidak bangun lagi, Cassian kemudian melompat keluar dari atap kereta yang hancur. Ia bergabung ke tengah badai salju yang mulai turun, membantu sisa prajurit Valenica memburu para pembunuh bayaran yang kian terdesak.

Aurelia menatap punggung tegap Cassian yang mulai menjauh di antara kabut dan serpihan salju yang menghapus jejak darah di atas tanah beku. Di tengah kengerian itu, Aurelia menyadari satu hal: perjalanan menuju Utara ini baru saja dimulai, dan ia harus terus mengasah durinya jika ingin tetap hidup di sisi sang serigala Valenica.

*•*

*•*

*•*

*•*

*•*

*•*

*•*

Episodes
1 BAB 1 : Sang Putri di menara kaca
2 BAB 2 : Dansa di atas es tipis
3 BAB 3 : Intrik di balik kain sutera
4 Bab 4 : bidak catur pertama
5 BAB 5 : Badai di perbatasan pengunungan Frostbite
6 BAB 6 : Hangat di balik Dinding Batu
7 BAB 7 : Sambutan Srigala dan Takhta Es
8 BAB 8 : Racun Dalam Cawang Perak
9 BAB 9 : Sandiwara dibalik Kabut Barat
10 Bab 10 : Recana dibalik Badai Es
11 BAB 11 : Umpan di Ngarai Gigi Naga
12 BAB 12 : Konsolidasi Kekuatan
13 BAB 13 : Menebus Batas Dua Dunia
14 BAB 14 : Seruan Di Kota Perbatasan
15 BAB : Racun di Istana Oakhaven
16 BAB : 16 Duri dibalik Dinding Emas
17 BAB 17 : Darah diatas Marmer suci
18 BAB 18 : Bayang - Bayang di Sempadan Selatan
19 BAB 19 : Langkah Kaki di Lembah Kelam
20 BAB 20 : Malam di Ambang Kehancuran
21 BAB 21 : Fajar Pertempuran Onsidian
22 BAB 22 : Labirin Bayangan Dan Rahasia Kelam
23 BAB 23 : Benteng Pertahanan Terakhir Sang Ksatria
24 BAB 24 : Konfrontasi Garu Depan Altar Utama
25 BAB 25 : Pecahnya Tabir Kristal dan Kebangkitan Kegelapan
26 BAB 26 : Keretajab Takdir dan Kebangkitan Bayangan Kuno
27 BAB 27 : Runtuhnya garis pertahan Murni
28 BAB 28 : Gema Dua Jiwa
29 BAB 29 : Pengorbanan di Ambang Jurang
30 BAb 30 ;’d Fajar diufuk Keabadian
31 BAB 31 : Meldo Damai di Tanah yang Bersemi
32 BAB 32 : Simfoni Kehidupan dan Warisan cinra
33 BAB 33 : Musim Semi Di Rahim
34 BAB 34 : Panggilan dari Tanah Yang Membeku
35 BAB 35 : Labirin Kepercayaan di Valencia
36 BAB : Simpul Yang Mengecang
37 BAB 37 : Garis Depan yang Terbagi
38 BAB 38 : Gema dari Pengunungan Terlarang
39 BAB 39 : Darah dan Debu di Gerbang Selatan
40 BAB 40 : Menebus Tirai Es
41 BAB 41 : Jerit dari Kedalaman
42 BAB 42 : Fajar di Atas Reruntuhan
43 BAB 43 : Siasat di Balik Bayang Bayang
44 BAB 44 : Di Bawah Langit yang Retak
45 BAB 45 : Denyut di Tengah Keheningan
46 BAB 46 : Rapat di Balik Tirai Besi
47 BAB 47 : Cermin di Balik Kabut
48 BAB 48 : Gema dari Masa Lalu yang Terkubur
49 BAB 49 : Virus Waktu
50 BAB 50 : Menebus Turau Keabadian
51 BAB 51 : Gema dari Takhta yang Kosong
52 BAN 52 : Jejak Sang Penenun
53 BAB 53 : Retakan di Dasar Jiwa
54 BAB 54 : Dilema Sang Penenun
55 BAB 55 : Gema di Langit yang Baru
56 BAB 56 : Benang yang Tak terputus
57 BAB 57 : Cakrawala yang Terkoyak
58 BAB 58 : Sisa Sisa yang Nernafas
59 BAB 59 : Kelahiran dalam Badai Realitas
60 BAB 60 : Fajar di Ujung Waktu
61 BAB 61 : Warisan Cahaya yang Kekal ( Ending )
Episodes

Updated 61 Episodes

1
BAB 1 : Sang Putri di menara kaca
2
BAB 2 : Dansa di atas es tipis
3
BAB 3 : Intrik di balik kain sutera
4
Bab 4 : bidak catur pertama
5
BAB 5 : Badai di perbatasan pengunungan Frostbite
6
BAB 6 : Hangat di balik Dinding Batu
7
BAB 7 : Sambutan Srigala dan Takhta Es
8
BAB 8 : Racun Dalam Cawang Perak
9
BAB 9 : Sandiwara dibalik Kabut Barat
10
Bab 10 : Recana dibalik Badai Es
11
BAB 11 : Umpan di Ngarai Gigi Naga
12
BAB 12 : Konsolidasi Kekuatan
13
BAB 13 : Menebus Batas Dua Dunia
14
BAB 14 : Seruan Di Kota Perbatasan
15
BAB : Racun di Istana Oakhaven
16
BAB : 16 Duri dibalik Dinding Emas
17
BAB 17 : Darah diatas Marmer suci
18
BAB 18 : Bayang - Bayang di Sempadan Selatan
19
BAB 19 : Langkah Kaki di Lembah Kelam
20
BAB 20 : Malam di Ambang Kehancuran
21
BAB 21 : Fajar Pertempuran Onsidian
22
BAB 22 : Labirin Bayangan Dan Rahasia Kelam
23
BAB 23 : Benteng Pertahanan Terakhir Sang Ksatria
24
BAB 24 : Konfrontasi Garu Depan Altar Utama
25
BAB 25 : Pecahnya Tabir Kristal dan Kebangkitan Kegelapan
26
BAB 26 : Keretajab Takdir dan Kebangkitan Bayangan Kuno
27
BAB 27 : Runtuhnya garis pertahan Murni
28
BAB 28 : Gema Dua Jiwa
29
BAB 29 : Pengorbanan di Ambang Jurang
30
BAb 30 ;’d Fajar diufuk Keabadian
31
BAB 31 : Meldo Damai di Tanah yang Bersemi
32
BAB 32 : Simfoni Kehidupan dan Warisan cinra
33
BAB 33 : Musim Semi Di Rahim
34
BAB 34 : Panggilan dari Tanah Yang Membeku
35
BAB 35 : Labirin Kepercayaan di Valencia
36
BAB : Simpul Yang Mengecang
37
BAB 37 : Garis Depan yang Terbagi
38
BAB 38 : Gema dari Pengunungan Terlarang
39
BAB 39 : Darah dan Debu di Gerbang Selatan
40
BAB 40 : Menebus Tirai Es
41
BAB 41 : Jerit dari Kedalaman
42
BAB 42 : Fajar di Atas Reruntuhan
43
BAB 43 : Siasat di Balik Bayang Bayang
44
BAB 44 : Di Bawah Langit yang Retak
45
BAB 45 : Denyut di Tengah Keheningan
46
BAB 46 : Rapat di Balik Tirai Besi
47
BAB 47 : Cermin di Balik Kabut
48
BAB 48 : Gema dari Masa Lalu yang Terkubur
49
BAB 49 : Virus Waktu
50
BAB 50 : Menebus Turau Keabadian
51
BAB 51 : Gema dari Takhta yang Kosong
52
BAN 52 : Jejak Sang Penenun
53
BAB 53 : Retakan di Dasar Jiwa
54
BAB 54 : Dilema Sang Penenun
55
BAB 55 : Gema di Langit yang Baru
56
BAB 56 : Benang yang Tak terputus
57
BAB 57 : Cakrawala yang Terkoyak
58
BAB 58 : Sisa Sisa yang Nernafas
59
BAB 59 : Kelahiran dalam Badai Realitas
60
BAB 60 : Fajar di Ujung Waktu
61
BAB 61 : Warisan Cahaya yang Kekal ( Ending )

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!