BAB 3 : Intrik di balik kain sutera

Pagi hari setelah malam pesta dansa yang menegangkan, Istana Veridia tampaknya diselimuti oleh kabut tebal yang enggan beranjak. Aurelia terbangun dengan rasa lelah yang menggelayuti pundaknya. Kehadiran Pangeran Cassian masih membayangi pikirannya, seperti bayangan hitam yang tak kunjung hilang meski matahari telah terbit tinggi. Sentuhan tangan pria itu dan tatapan matanya yang sepekat badai seolah masih tertinggal di kulitnya.

Untuk menenangkan pikirannya yang kalut, Aurelia memutuskan untuk berjalan-jalan di Taman Mawar Putih. Tempat itu adalah satu-satunya sudut di Istana Veridia di mana ia bisa menghirup udara segar tanpa harus dikelilingi oleh para pengawal yang mengawasi setiap gerak-geriknya. Kelopak mawar yang basah oleh embun pagi memancarkan aroma harum yang menenangkan, namun kedamaian itu tidak bertahan lama.

Saat melintasi koridor luar yang berbatasan langsung dengan paviliun barat, Aurelia mendengar bisikan-bisikan mencurigakan dari balik pilar marmer besar yang ditumbuhi tanaman merambat. Langkah kakinya seketika terhenti. Instingnya memperingatkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Aurelia menahan napas dan merapatkan tubuhnya ke dinding batu yang dingin, mencoba mendengarkan lebih dekat.

"...pernikahan ini tidak boleh terjadi," sebuah suara berat yang sangat dikenalnya berbisik dengan nada tajam dan penuh penekanan.

Jantung Aurelia berdegup kencang. Itu adalah suara Duke Valerius, pamannya sendiri, yang juga menjabat sebagai kepala penasihat militer Oakhaven.

"Jika aliansi dengan Valenica terbentuk, pengaruh kita di dewan kerajaan akan habis tak bersisa," lanjut Duke Valerius dingin. "Raja Alistair sudah semakin lemah dan sekarat. Kita harus bertindak cepat sebelum gadis itu dikirim ke Utara."

"Tapi apa rencana Anda yang sebenarnya, Yang Mulia?" suara lain menyahut dengan nada cemas. Aurelia mengenalinya sebagai Lord Brandon, bendahara kerajaan yang selama ini dikenal sebagai pengikut setia ayahnya.

"Racun yang lambat akan menyelesaikan tugasnya pada sang Raja dalam beberapa minggu ke depan. Dan untuk sang Putri... sebuah 'kecelakaan' tragis di perjalanan menuju Utara akan mengakhiri semuanya. Kita akan membuat Valenica mengira bahwa Oakhaven-lah yang mengkhianati perjanjian ini. Perang akan kembali berkobar, dan dalam kekacauan itu, kita akan mengambil alih takhta yang kosong," jawab Duke Valerius tanpa setitik pun keraguan atau penyesalan.

Darah Aurelia mendadak terasa membeku di dalam pembuluh darahnya. Pengkhianatan. Pamannya sendiri, orang yang sering tersenyum hangat padanya saat makan malam, merencanakan pembunuhan ayahnya dan dirinya demi sebuah takhta yang retak. Tangannya gemetar hebat, dan ia hampir saja menjatuhkan kipas sutra yang dipegangnya ke lantai batu.

Menyadari bahaya yang mengancam jiwanya, Aurelia melangkah mundur dengan sangat hati-hati, berniat untuk segera melarikan diri dan melaporkan hal ini kepada ayahnya. Namun, saat ia berbalik, tubuhnya langsung menabrak dada bidang seseorang.

Aurelia hampir memekik histeris karena terkejut, tetapi sebuah tangan kokoh yang terbungkus sarung tangan kulit hitam dengan cepat mendekap mulutnya. Di saat yang sama, lengan kuat lainnya melingkari pinggangnya, menarik tubuh mungilnya masuk ke dalam ceruk gelap di balik semak-semak mawar yang rimbun dan lebat.

Aroma pinus yang segar bercampur dengan dinginnya salju langsung menyerbu indra penciuman Aurelia. Kehangatan tubuh yang mendekapnya begitu familier hingga ia tidak perlu mendongak untuk mengetahui siapa orang itu. Pangeran Cassian.

"Ssst," bisik Cassian tepat di telinga Aurelia. Napas hangatnya menggelitik leher sang Putri, mengirimkan getaran aneh yang membuat bulu kuduknya berdiri. "Jika Anda bersuara sekarang, paman tercinta Anda akan tahu bahwa rahasianya telah bocor, dan hidup Anda tidak akan bertahan sampai matahari terbenam."

Aurelia mendongak, matanya membelalak menatap wajah Cassian yang berada sangat dekat darinya. Mata abu-abu pria itu tampak waspada, mengawasi celah di antara daun-daun mawar. Beberapa detik kemudian, terdengar langkah kaki Duke Valerius dan Lord Brandon yang menjauh, meninggalkan keheningan yang mencekam di taman itu.

Setelah memastikan situasi benar-benar aman, Cassian perlahan melepaskan tangannya dari mulut Aurelia. Namun, ia tidak mundur. Ia tetap berdiri begitu dekat, mengurung Aurelia di antara tubuhnya dan dinding batu yang dingin.

"Bagaimana... bagaimana Anda bisa ada di sini?" tanya Aurelia dengan suara gemetar, berusaha menutupi kepanikan dan rasa takut yang mendera dadanya.

"Saya suka berjalan-jalan pagi, Putri. Dan tampaknya, taman istana Anda menyimpan jauh lebih banyak duri beracun daripada mawar yang indah," jawab Cassian dengan senyuman miring yang dingin namun penuh teka-teki. "Jadi, apa rencana Anda sekarang? Berlari ke hadapan ayah Anda yang sekarat dan menangis memberi tahu bahwa adiknya adalah seorang pengkhianat?"

Aurelia mengepalkan tangannya di dada Cassian, mencoba mendorong pria itu agar memberi jarak, namun dada bidang itu terasa sekeras dinding batu. "Saya harus menyelamatkan ayah saya! Duke Valerius meracuninya!"

"Dan Anda pikir dewan istana yang korup itu akan mempercayai Anda tanpa bukti fisik?" potong Cassian tajam, meraih pergelangan tangan Aurelia yang mengepal dan mencengkeramnya dengan lembut namun tegas. "Ayah Anda terlalu lemah untuk bertindak. Begitu Anda menuduh Valerius, dia akan memutarbalikkan fakta dan menuduh Anda berhalusinasi atau sengaja ingin menggagalkan aliansi karena takut menikah dengan saya. Anda akan dikurung di menara itu selamanya, atau disingkirkan dengan cara yang lebih sunyi."

Aurelia menatap Cassian dengan frustrasi yang mendalam. Air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk matanya, namun ia menolak untuk membiarkannya jatuh. Pria di hadapannya ini benar. Istana Oakhaven telah digerogoti dari dalam, dan ia tidak memiliki sekutu yang cukup kuat untuk melawan pamannya sendiri.

"Lalu apa yang Anda usulkan, Pangeran?" tanya Aurelia dengan suara bergetar namun memancarkan tekad yang keras. "Apakah Anda hanya akan menonton saya dan kerajaan saya hancur?"

Cassian menatap wajah Aurelia yang menantangnya, memperhatikan binar kemarahan di mata sang Putri. Tatapannya melembut sesaat sebelum kembali mengeras seperti es Utara.

"Saya tidak datang jauh-jauh ke Selatan untuk membiarkan calon pengantin saya dihancurkan oleh tikus-tikus istana," ujar Cassian dingin. "Kita percepat pernikahan ini. Kita pergi ke Valenica minggu ini juga. Di sana, Anda akan aman di bawah perlindungan pedang saya, dan dari sana, kita akan menyusun rencana untuk menghancurkan paman Anda bersama-sama."

Sebuah tawaran kerja sama dari sang "monster". Aurelia tahu bahwa menyerahkan diri ke dalam pelukan Valenica adalah hal yang sangat berbahaya, tetapi di tengah badai pengkhianatan yang mengintai di Oakhaven, Cassian adalah satu-satunya jangkar yang ia miliki untuk bertahan hidup.

*•*

*•*

*•*

*•*

Episodes
1 BAB 1 : Sang Putri di menara kaca
2 BAB 2 : Dansa di atas es tipis
3 BAB 3 : Intrik di balik kain sutera
4 Bab 4 : bidak catur pertama
5 BAB 5 : Badai di perbatasan pengunungan Frostbite
6 BAB 6 : Hangat di balik Dinding Batu
7 BAB 7 : Sambutan Srigala dan Takhta Es
8 BAB 8 : Racun Dalam Cawang Perak
9 BAB 9 : Sandiwara dibalik Kabut Barat
10 Bab 10 : Recana dibalik Badai Es
11 BAB 11 : Umpan di Ngarai Gigi Naga
12 BAB 12 : Konsolidasi Kekuatan
13 BAB 13 : Menebus Batas Dua Dunia
14 BAB 14 : Seruan Di Kota Perbatasan
15 BAB : Racun di Istana Oakhaven
16 BAB : 16 Duri dibalik Dinding Emas
17 BAB 17 : Darah diatas Marmer suci
18 BAB 18 : Bayang - Bayang di Sempadan Selatan
19 BAB 19 : Langkah Kaki di Lembah Kelam
20 BAB 20 : Malam di Ambang Kehancuran
21 BAB 21 : Fajar Pertempuran Onsidian
22 BAB 22 : Labirin Bayangan Dan Rahasia Kelam
23 BAB 23 : Benteng Pertahanan Terakhir Sang Ksatria
24 BAB 24 : Konfrontasi Garu Depan Altar Utama
25 BAB 25 : Pecahnya Tabir Kristal dan Kebangkitan Kegelapan
26 BAB 26 : Keretajab Takdir dan Kebangkitan Bayangan Kuno
27 BAB 27 : Runtuhnya garis pertahan Murni
28 BAB 28 : Gema Dua Jiwa
29 BAB 29 : Pengorbanan di Ambang Jurang
30 BAb 30 ;’d Fajar diufuk Keabadian
31 BAB 31 : Meldo Damai di Tanah yang Bersemi
32 BAB 32 : Simfoni Kehidupan dan Warisan cinra
33 BAB 33 : Musim Semi Di Rahim
34 BAB 34 : Panggilan dari Tanah Yang Membeku
35 BAB 35 : Labirin Kepercayaan di Valencia
36 BAB : Simpul Yang Mengecang
37 BAB 37 : Garis Depan yang Terbagi
38 BAB 38 : Gema dari Pengunungan Terlarang
39 BAB 39 : Darah dan Debu di Gerbang Selatan
40 BAB 40 : Menebus Tirai Es
41 BAB 41 : Jerit dari Kedalaman
42 BAB 42 : Fajar di Atas Reruntuhan
43 BAB 43 : Siasat di Balik Bayang Bayang
44 BAB 44 : Di Bawah Langit yang Retak
45 BAB 45 : Denyut di Tengah Keheningan
46 BAB 46 : Rapat di Balik Tirai Besi
47 BAB 47 : Cermin di Balik Kabut
48 BAB 48 : Gema dari Masa Lalu yang Terkubur
49 BAB 49 : Virus Waktu
50 BAB 50 : Menebus Turau Keabadian
51 BAB 51 : Gema dari Takhta yang Kosong
52 BAN 52 : Jejak Sang Penenun
53 BAB 53 : Retakan di Dasar Jiwa
54 BAB 54 : Dilema Sang Penenun
55 BAB 55 : Gema di Langit yang Baru
56 BAB 56 : Benang yang Tak terputus
57 BAB 57 : Cakrawala yang Terkoyak
58 BAB 58 : Sisa Sisa yang Nernafas
59 BAB 59 : Kelahiran dalam Badai Realitas
60 BAB 60 : Fajar di Ujung Waktu
61 BAB 61 : Warisan Cahaya yang Kekal ( Ending )
Episodes

Updated 61 Episodes

1
BAB 1 : Sang Putri di menara kaca
2
BAB 2 : Dansa di atas es tipis
3
BAB 3 : Intrik di balik kain sutera
4
Bab 4 : bidak catur pertama
5
BAB 5 : Badai di perbatasan pengunungan Frostbite
6
BAB 6 : Hangat di balik Dinding Batu
7
BAB 7 : Sambutan Srigala dan Takhta Es
8
BAB 8 : Racun Dalam Cawang Perak
9
BAB 9 : Sandiwara dibalik Kabut Barat
10
Bab 10 : Recana dibalik Badai Es
11
BAB 11 : Umpan di Ngarai Gigi Naga
12
BAB 12 : Konsolidasi Kekuatan
13
BAB 13 : Menebus Batas Dua Dunia
14
BAB 14 : Seruan Di Kota Perbatasan
15
BAB : Racun di Istana Oakhaven
16
BAB : 16 Duri dibalik Dinding Emas
17
BAB 17 : Darah diatas Marmer suci
18
BAB 18 : Bayang - Bayang di Sempadan Selatan
19
BAB 19 : Langkah Kaki di Lembah Kelam
20
BAB 20 : Malam di Ambang Kehancuran
21
BAB 21 : Fajar Pertempuran Onsidian
22
BAB 22 : Labirin Bayangan Dan Rahasia Kelam
23
BAB 23 : Benteng Pertahanan Terakhir Sang Ksatria
24
BAB 24 : Konfrontasi Garu Depan Altar Utama
25
BAB 25 : Pecahnya Tabir Kristal dan Kebangkitan Kegelapan
26
BAB 26 : Keretajab Takdir dan Kebangkitan Bayangan Kuno
27
BAB 27 : Runtuhnya garis pertahan Murni
28
BAB 28 : Gema Dua Jiwa
29
BAB 29 : Pengorbanan di Ambang Jurang
30
BAb 30 ;’d Fajar diufuk Keabadian
31
BAB 31 : Meldo Damai di Tanah yang Bersemi
32
BAB 32 : Simfoni Kehidupan dan Warisan cinra
33
BAB 33 : Musim Semi Di Rahim
34
BAB 34 : Panggilan dari Tanah Yang Membeku
35
BAB 35 : Labirin Kepercayaan di Valencia
36
BAB : Simpul Yang Mengecang
37
BAB 37 : Garis Depan yang Terbagi
38
BAB 38 : Gema dari Pengunungan Terlarang
39
BAB 39 : Darah dan Debu di Gerbang Selatan
40
BAB 40 : Menebus Tirai Es
41
BAB 41 : Jerit dari Kedalaman
42
BAB 42 : Fajar di Atas Reruntuhan
43
BAB 43 : Siasat di Balik Bayang Bayang
44
BAB 44 : Di Bawah Langit yang Retak
45
BAB 45 : Denyut di Tengah Keheningan
46
BAB 46 : Rapat di Balik Tirai Besi
47
BAB 47 : Cermin di Balik Kabut
48
BAB 48 : Gema dari Masa Lalu yang Terkubur
49
BAB 49 : Virus Waktu
50
BAB 50 : Menebus Turau Keabadian
51
BAB 51 : Gema dari Takhta yang Kosong
52
BAN 52 : Jejak Sang Penenun
53
BAB 53 : Retakan di Dasar Jiwa
54
BAB 54 : Dilema Sang Penenun
55
BAB 55 : Gema di Langit yang Baru
56
BAB 56 : Benang yang Tak terputus
57
BAB 57 : Cakrawala yang Terkoyak
58
BAB 58 : Sisa Sisa yang Nernafas
59
BAB 59 : Kelahiran dalam Badai Realitas
60
BAB 60 : Fajar di Ujung Waktu
61
BAB 61 : Warisan Cahaya yang Kekal ( Ending )

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!