BAB 4 : PESAN DARI MASA LALU

Udara di dalam ruangan berubah.

Sejuk yang tadinya menenangkan kini semakin terasa berat. Menyelimuti seluruh penjuru. Turun dari langit-langit yang tertutup debu.

Suasana jadi hening. Bahkan terlalu hening.

Detak jantung sendiri pun kini terdengar jelas.

Cahaya api berubah. Tidak lagi kuning. Kini terlihat lebih terang dan lembut keperakan tidak menyilaukan mata.

Bayu dan Karta belum sempat menarik napas. Detak jantung mereka masih berdebar kencang.

Lalu suara itu datang.

Tidak berwujud. Hanya suara lirih penuh kebijakan.

“Aku Karsa Djojodilogo, mantan Panglima Kerajaan Galuh,” ucap suara itu tenang dan wibawanya.

“Senjata yang kalian pegang memiliki kekuatan tiada tanding tetapi bukan untuk disombongkan.”

Bayu dan Karta mematung.

Rasa lemas dan pusing yang tadi menyerang seolah hilang seketika. Digantikan rasa hormat yang dalam.

Tanpa sadar mereka menunduk. Seolah di hadapan mereka berdiri sosok yang derajatnya jauh lebih tinggi.

Suara itu berhenti.

Seolah memberi waktu agar kata-katanya meresap ke tulang.

Suara itu terdengar lagi dengan nada yang berbeda lebih tegas dan tajam.

“Busur SANGHYANG RASA kini menjadi bagian dari hati mu, Bayu Suta.”

Bayu mengangkat wajahnya sedikit.

“Ia tidak akan membidik sesuai arah matamu. Melainkan sesuai arah rasamu. Panah itu akan mencari sasaran seperti kata hatimu.”

Hening....

“Namun ingat. Ia hanya melumpuhkan tidak untuk membunuh. Jika niatmu berubah dan ingin menghabisi nyawa orang tak yang tak berdosa, tali busur itu akan menjadi kaku dan tidak akan bisa ditarik.”

Suara itu bergeser. Kini menghadap Karta yang masih berdiri kaku dengan mata terbelalak seqkan tidak percaya apa telah ia dengar.

“Dan pisau SANGHYANG WAJA sekarang menjadi mata dan telingamu, Karta.”

Karta spontan memegang gagang pisau yang tadi ia letakkan.

“Bilahnya akan terasa tajam luar biasa ketika dipakai untuk memotong atau melindungi yang lemah.”

“Tapi jika diarahkan kepada orang yang tidak bersalah. Atau dipakai untuk membalas sakit hati... Kekuatannya akan hilang seketika.”

Udara semakin terasa berat menekan dada. Seolah memaksa mereka meresapi setiap kata.

“Jika kalian memakai kedua benda ini untuk memuaskan rasa dendam. Atau bertindak sewenang-wenang seperti mereka yang membakar kampungmu...”

“...maka keduanya akan berubah menjadi batu.”

Kata-kata itu begitu keras menghantam.

“Semua ilmu yang mengalir ke tubuh kalian akan hilang. Dan kalian akan kembali menjadi dua orang biasa. Bahkan lebih lemah dari sebelumnya.”

Kalimat terakhir begitu menggema di kepala dan sanubari mereka.

“Jagalah hati kalian seperti menjaga senjata senjata di tangan. Karena hati yang gelap akan memakan kekuatan yang dimiliki. Bukan melindunginya. Ingat pesan ini sampai akhir perjalanan.”

Sunyi.

Bayu ingin bertanya. Ke mana harus pergi? Siapa yang harus dihadapi? Kapan waktu yang tepat?

Karta ingin bertanya. Bagaimana cara mengendalikannya? Berapa lama efeknya?

Tapi mulut mereka terkunci.

Perlahan suara itu menghilang.

Sinar keperakan yang menyelimuti ruangan meredup. Kembali menjadi cahaya biasa dari balik pintu.

Udara sejuk yang menenangkan kini berganti dengan kesunyian. Kabut halus di udara menghilang seolah tidak pernah ada.

Begitu kehadiran itu pergi, tubuh Bayu langsung ambruk.

Rasa tenang yang menahan tenaganya lepas seketika.

Semua rasa sakit kini berlipat ganda.

Bahu kanannya semakin terasa terbakar. Seperti ada api di dalam daging dan tulang.

Kepalanya serasa berputar di ikuti dengingan keras menghantam telinganya.

Ia terhuyung mundur.

Darah segar merembes lagi dari balik kain pembalut di bahunya. Menetes ke lantai meninggalkan noda noda merah di lantai goa.

“Kang Bayu! Kang Bayu!” teriak Karta panik. Ia melompat maju menahan tubuh Bayu agar tidak jatuh terbentur tapi tenaganya terlalu lemah.

Bayu terhuyung ke samping, lututnya menekuk lalu tubuhnya jatuh tergeletak di atas lantai batu yang berdebu.

Matanya terpejam rapat, napasnya terengah dan wajahnya pucat seperti kertas. Dalam sekejap ia pingsan karena tenaganya terkuras saat menerima pesan.

Karta berlutut di sampingnya, tangannya gemetar memegang bahu Bayu seolah takut menekan luka. Ia menoleh ke sekeliling dan ruangan kembali sunyi.

Kotak kayu masih terbuka di atas meja batu, busur dan pisau terbaring diam seolah tidak pernah mengeluarkan kekuatan apa pun.

Dadanya bercampur aduk antara takut, hormat dan bingung. Kekuatan baru saja diberikan tapi bersamaan dengan itu datang pula rantai yang mengikat. Arah sudah ditunjukkan tapi peringatan tentang musuh terbesar juga ikut terdengar, yaitu diri sendiri.

Karta mengusap keringat dingin di dahinya lalu menarik kain pembalut yang terlepas dan memeriksa luka di bahu Bayu. Darah masih menetes tidak secepat tadi. Ia membalutnya kembali lebih rapat dan menekan dengan kain tambahan agar darah berhenti.

Setelah selesai ia duduk bersandar ke dinding di samping tubuh Bayu yang terbaring. Tangannya memeluk lutut dan matanya tidak lepas dari api di pintu goa dan menjaganya agar tetap menyala.

Di luar suara air menetes masih berirama seolah tidak peduli apa yang terjadi di balik pintu batu. Di luar malam mulai turun membungkus Bukit Cijambe dengan gelap dan kesunyian.

Karta tidak tahu berapa lama Bayu akan pingsan, tidak tahu apa yang akan mereka hadapi setelah ini dan tidak tahu apakah mereka sanggup menjalani perjalanan ditunjukkan oleh suara tanpa wujud. Tapi satu hal telah tertanam kuat di kepalanya, bahwa kekuatan itu ada tapi harus dijaga dan jalan itu terbuka tapi harus dipilih dengan hati bersih.

Mulai saat ini hidup mereka tidak akan pernah sama lagi terikat oleh janji amanah dan takdir yang sudah menunggu ratusan tahun untuk di tepati.

Ia menatap wajah Bayu yang pucat lalu berbisik pelan, “Ulah nyerah Kang, urang kudu maju teuneung ludeung tandang makalangan.”

Api kecil berkedip menerangi dua sosok anak manusia di dalam gua. Di tangan mereka ada senjata, di dada mereka ada beban dan di depan mereka ada jalan yang belum selesai.

Episodes
1 BAB 1 : API DI CIKABUYUTAN
2 BAB 2 : PINTU DI BALIK LUMUT
3 BAB 3 : BUSUR DAN PISAU PENUNGGU GOA
4 BAB 4 : PESAN DARI MASA LALU
5 BAB 5 : HARGA SEBUAH KEKUATAN
6 BAB 6 : DUA PILIHAN
7 BAB 7 : DI ANTARA PUING DAN RERUNTUHAN
8 BAB 8 : KEDATANGAN JAKA WIRADIPA
9 BAB 9 : SANGHYANG RASA BERAKSI
10 BAB 10 : PAMANAH RASA
11 BAB 11: MEMBANGUN KEMBALI CIKABUYUTAN
12 BAB 12 : PASAR CIKAWUNG
13 BAB 13 : KETELEDORAN KARTA
14 Bab 14 : PERKELAHIAN TAK TERDUGA
15 BAB 15 : PETUNJUK MISTERIUS
16 BAB 16 : SALAH PAHAM
17 BAB 17 : WARUNG MAKAN SEDERHANA
18 BAB 18 : HANYA PEDAGANG DESA
19 BAB 19 : BERTARUNG BERSAMA
20 BAB 20 : PAMANAH RASA
21 BAB 21 : BURONAN KADIPATEN
22 BAB 22 : FITNAH ISTANA
23 BAB 23 : KARTA SANG MATA MATA
24 BAB 24: JEBAKAN DI WANA KELOR
25 BAB 25 : PERAMPOK BERHATI MULIA
26 BAB 26 : KEMUNCULAN KI JAKA JAGAD
27 BAB 27 : KECURIGAAN LARASATI
28 BAB 28 : PENYUSUPAN KARTA DI KADIPATEN
29 BAB 29 : PERTARUNGAN DI JEMBATAN
30 BAB 30 : ANTARA BENCI DAN CEMBURU
31 BAB 31 : GUDANG HARTA KEBOBOLAN
32 BAB 32 : KARTA TERTANGKAP
33 BAB 33 : MENYELAMATKAN KARTA
34 34 : BUKTI DI HUTAN
35 BAB 35 : FITNAH SEMAKIN KUAT
36 BAB 36 : RENCANA KARTA
37 BAB 37 : PERTEMUAN DI KUIL TUA
38 BAB 38 : RENCANA KONYOL
39 BAB 39 : SERIGALA BERBULU DOMBA
40 BAB 40 : BUKTI
41 BAB 41 : FITNAH RADEN SUKMA
42 BAB 42 : KARTA JADI PAHLAWAN
43 BAB 43 : PERAMPOKAN TERAKHIR
44 BAB 44 : TOPENG JAKA JAGAD
45 BAB 45 : PANAH KE 7
46 BAB 46 : SIDANG RAKYAT
47 BAB 47 : PEMECATAN ADIPATI RANGGA
48 BAB 48 : TAWARAN RAJA
49 BAB 49 : PERMINTAAN MAAF SUKMA
50 BAB 50 : NAMA BARU
51 BAB 51 : CERITA DI BALIK PINTU RAHASIA
52 BAB 52 : TAMU DI BATAS DESA
53 BAB 53 : KERIS DAN TONGKAT
54 BAB 54 : GUNUNG SANGKUR
55 BAB 55 : MENUJU PUNCAK
56 BAB 56 : UJI RASA
57 BAB 57 : PENGINTAI
58 BAB 58 : JEJAK
59 BAB 59 : PINTU GERBANG
Episodes

Updated 59 Episodes

1
BAB 1 : API DI CIKABUYUTAN
2
BAB 2 : PINTU DI BALIK LUMUT
3
BAB 3 : BUSUR DAN PISAU PENUNGGU GOA
4
BAB 4 : PESAN DARI MASA LALU
5
BAB 5 : HARGA SEBUAH KEKUATAN
6
BAB 6 : DUA PILIHAN
7
BAB 7 : DI ANTARA PUING DAN RERUNTUHAN
8
BAB 8 : KEDATANGAN JAKA WIRADIPA
9
BAB 9 : SANGHYANG RASA BERAKSI
10
BAB 10 : PAMANAH RASA
11
BAB 11: MEMBANGUN KEMBALI CIKABUYUTAN
12
BAB 12 : PASAR CIKAWUNG
13
BAB 13 : KETELEDORAN KARTA
14
Bab 14 : PERKELAHIAN TAK TERDUGA
15
BAB 15 : PETUNJUK MISTERIUS
16
BAB 16 : SALAH PAHAM
17
BAB 17 : WARUNG MAKAN SEDERHANA
18
BAB 18 : HANYA PEDAGANG DESA
19
BAB 19 : BERTARUNG BERSAMA
20
BAB 20 : PAMANAH RASA
21
BAB 21 : BURONAN KADIPATEN
22
BAB 22 : FITNAH ISTANA
23
BAB 23 : KARTA SANG MATA MATA
24
BAB 24: JEBAKAN DI WANA KELOR
25
BAB 25 : PERAMPOK BERHATI MULIA
26
BAB 26 : KEMUNCULAN KI JAKA JAGAD
27
BAB 27 : KECURIGAAN LARASATI
28
BAB 28 : PENYUSUPAN KARTA DI KADIPATEN
29
BAB 29 : PERTARUNGAN DI JEMBATAN
30
BAB 30 : ANTARA BENCI DAN CEMBURU
31
BAB 31 : GUDANG HARTA KEBOBOLAN
32
BAB 32 : KARTA TERTANGKAP
33
BAB 33 : MENYELAMATKAN KARTA
34
34 : BUKTI DI HUTAN
35
BAB 35 : FITNAH SEMAKIN KUAT
36
BAB 36 : RENCANA KARTA
37
BAB 37 : PERTEMUAN DI KUIL TUA
38
BAB 38 : RENCANA KONYOL
39
BAB 39 : SERIGALA BERBULU DOMBA
40
BAB 40 : BUKTI
41
BAB 41 : FITNAH RADEN SUKMA
42
BAB 42 : KARTA JADI PAHLAWAN
43
BAB 43 : PERAMPOKAN TERAKHIR
44
BAB 44 : TOPENG JAKA JAGAD
45
BAB 45 : PANAH KE 7
46
BAB 46 : SIDANG RAKYAT
47
BAB 47 : PEMECATAN ADIPATI RANGGA
48
BAB 48 : TAWARAN RAJA
49
BAB 49 : PERMINTAAN MAAF SUKMA
50
BAB 50 : NAMA BARU
51
BAB 51 : CERITA DI BALIK PINTU RAHASIA
52
BAB 52 : TAMU DI BATAS DESA
53
BAB 53 : KERIS DAN TONGKAT
54
BAB 54 : GUNUNG SANGKUR
55
BAB 55 : MENUJU PUNCAK
56
BAB 56 : UJI RASA
57
BAB 57 : PENGINTAI
58
BAB 58 : JEJAK
59
BAB 59 : PINTU GERBANG

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!