Bip! Bip! Bip!
Alarm di ponsel Lulu meraung tepat pukul 06.00 WIB. Lulu tersentak bangun dari tidur yang gelisah, napasnya memburu seolah habis berlari jauh. Sisa-sisa mimpi buruk yang samar masih menggelayuti benaknya, namun ketakutan itu langsung berganti dengan kepanikan yang nyata saat melihat jam. Hanya satu nama yang langsung menghantam kesadarannya yaitu Angga.
Pria itu tidak kenal kata toleransi. Bagi Angga, satu detik keterlambatan atau satu kesalahan kecil dalam berkas adalah dosa besar yang taruhannya adalah karier.
Tanpa membuang waktu untuk meregangkan badan, Lulu melompat dari tempat tidur, menyambar handuk dan menyelesaikan urusan kamar mandi dalam waktu rekor. Ia mengabaikan perutnya yang melilit perih karena belum diisi sejak semalam. Rasa lapar jauh lebih bisa ditoleransi daripada menghadapi tatapan mematikan Pak Angga.
Ia menyambar map dokumen tebal yang semalaman ia kerjakan hingga matanya berkaca-kaca, mengenakan kemeja dan kacamata seadanya, lalu berlari keluar kamar kos.
"Lulu! Tumben berangkat jam segini?" sapa Lastri, tetangga kosnya, keheranan melihat Lulu berlari kesetanan menuju taksi online yang baru saja tiba.
"Aku buru-buru, Las! Takut Pak Angga sudah di kantor!" teriak Lulu tanpa sempat menoleh, langsung melompat masuk ke dalam mobil.
Di dalam taksi yang membelah kemacetan Jakarta, dada Lulu masih berdegup kencang. Ia memeluk erat map dokumen di pangkuannya, seolah itu adalah perisai nyawanya. Sudah dua tahun ia bertahan di bawah tekanan pria sedingin es itu.
Pak Angga usianya yang baru 28 tahun sudah memegang kendali penuh atas divisi Administrasi dan Pergudangan dengan tangan besi. Parasnya tampan di atas rata-rata, namun auranya begitu dominan dan matanya seakan bisa menembus pikiran siapa pun yang menatapnya.
Begitu taksi berhenti, Lulu berlari melintasi lobi, menempelkan sidik jari di mesin fingerprint dan akhirnya bernapas lega saat berhasil menginjakkan kaki di ruang divisinya.
"Hah... Syukurlah, tepat waktu" Lulu menyeka keringat dingin di dahinya.
"Eits, tumben baru sampai? Biasanya jam lima subuh sudah stay," sapa Rama, rekan kerjanya tersebut dari balik meja.
"Aku menyelesaikan laporan ini semalaman, Ram. Sesuai arahan Pak Angga" sahut Lulu sambil meletakkan tumpukan berkas tebal di meja.
Rama melotot melihat ketebalan berkas itu.
"Gila... Cuma kamu yang tahan sama siksaan Pak Angga. Harusnya kamu yang jadi bos di sini, bukannya dia yang sukanya cuma menekan bawahan"
"Hush! Jaga ucapanmu, Ram!" Bisik Lulu panik, matanya melirik ke sekeliling ruangan, takut sang bos tiba-tiba muncul.
Tiba-tiba, pintu ruangan terdorong kasar. Indah berlari masuk dengan wajah pucat pasi, pelipisnya basah oleh keringat dingin.
"Gawat... Gawat banget!" suara Indah gemetaran, matanya berkaca-kaca menatap Lulu dan Rama.
"Kamu kenapa, Ndah?" tanya Rama bingung melihat kepanikan total rekannya itu.
"Dokumen pencatatan barang yang diminta Pak Angga hari ini... aku belum menyelesaikannya" bisik Indah, suaranya hampir hilang.
"Gimana ini? Pak Angga pasti bakal pecat aku..." Ujarnya kembali.
Seketika, atmosfer di ruangan itu membeku.
Seluruh staf tahu aturan main tunggal di divisi ini yaitu Kesalahan satu orang adalah kegagalan satu tim dan hukuman dari Angga adalah neraka.
Prok! Prok! Prok!
Suara tepukan tangan yang pelan dan ritmis, namun bergema dingin memotong udara yang mencekam.
Semua orang di ruangan itu mendadak mematung, seolah darah mereka berhenti mengalir. Langkah kaki bersepatu kulit mahal terdengar mantap mendekati mereka. Sosok pria bertubuh tegap dengan kemeja hitam yang lengannya tergulung hingga siku berdiri tepat di belakang Indah. Auranya begitu pekat dan dominan, mengintimidasi setiap pasang mata.
Angga...
Pria itu tidak tersenyum. Matanya tajam, dingin dan menusuk. Tanpa memedulikan Indah yang sudah gemetar hebat, Angga melangkah maju dan menyandarkan sebelah tangannya di meja Lulu. Ia menunduk sedikit, mengikis jarak hingga wajahnya hanya tersisa beberapa sentimeter dari Lulu. Manik matanya yang kelam mengunci pandangan Lulu tanpa ampun.
"Jadi..." suara Angga berat, tenang, namun menyengat hingga ke tulang belakang.
"...siapa yang mau bertanggung jawab atas keteledoran ini sebelum saya membuat kalian semua menyesal pernah bekerja di sini?"
Lulu menahan napas. Jantungnya berdegup begitu keras dan liar di dalam rongga dadanya, menimbulkan sensasi sesak yang menghimpit. Di bawah kungkungan tatapan tajam pria yang kini menatapnya seolah ia adalah satu-satunya objek berharga sekaligus mangsa utama di ruangan itu, Lulu benar-benar membeku tak mampu berkutik ataupun berpaling.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Yue xin🥀(◍•ᴗ•◍)
pak Angga CEO yang tegas ya
2026-08-18
2
ginevra
ya mau gimana lagi, kita kerja kan butuh gaji. kalau nggak ditahan mau kerja apa. zaman sekarang cari kerjaan itu susah. ya kan lulu
2026-08-13
1
Renarenn
lulu plis jangan jadi pahlawan ya aku takut kamu nutupin keslahan si indah kamunya yang kena marah huhuhu
2026-08-21
1