Pagi itu, ketukan keras di pintu kamar membuat mimpi Lulu buyar.
"Lu! Kamu di dalam, kan? Cari sarapan, yuk! Lapar nih!" suara Lastri terdengar melengking dari luar. Karena tak kunjung mendapat jawaban, Lastri mulai cemas.
"Apa dia enggak pulang semalam? Tapi biasanya selalu kasih kabar..."
"Heii, Lastri!"
Suara lengkingan lain menyambar dari balik jendela. Ibu Ina, sang ibu kos yang terkenal cerewet dan berjiwa gosip membara, muncul dengan wajah berseri-seri.
"Astagfirullah, Ibu..." desah Lastri, terkejut.
"Kamu tahu enggak?" Bu Ina mendekat, berbisik heboh. "Tadi subuh, si Lulu diantar cowok cakep piiisaan! Pakai mobil bagus banget depan kos!" Ucap Ibu Ina membuat Lastri terbelalak.
"Ah, masa sih Bu? Palingan driver taksi online."
"Eleh! Kamu pikir saya enggak bisa bedain supir taksi sama cowok kaya?" Bu Ina bersungut sewot.
"Tanya aja sama temenmu itu kalau enggak percaya!" Bu Ina pun berlalu dengan muka bersungut-sungut karena merasa infonya diragukan.
Lastri mematung di depan pintu. Lulu? Diantar cowok tampan? Lulu yang dikenal sangat tertutup, berpenampilan polos dan kerap disisihkan pria-pria di sekitarnya?
Sebagai jurnalis sekaligus sahabat sejak SMA, insting Lastri langsung menyala. Namun, rentetan panggilannya ke ponsel Lulu tak juga diangkat.
"Pasti masih ngorok" gumam Lastri sambil memegang perutnya yang mendadak keroncongan.
"Daripada pingsan, aku cari sarapan dulu deh" Ucap Lastri lalu berlalu pergi ke warung terdekat di dekat area kos - kosan.
Di tempat lain, suara getaran ponsel yang terus-menerus memaksa Angga membuka mata. Waktu menunjukkan pukul 07.00 WIB. Pria itu mengusap wajahnya yang sembab akibat begadang menunggui Lulu semalam.
Saat memeriksa tas ranselnya, Angga baru tersadar. Ponsel yang sedari tadi bergetar dan menampilkan nama kontak 'Lastri' di layarnya bukanlah miliknya, melainkan milik Lulu yang tak sengaja terbawa.
Angga sempat mematung.
"Kalau aku angkat, bisa-bisa makin banyak gosip tak penting" batinnya dingin. Ia memutuskan memasukkan kembali ponsel murahan itu ke dalam tas. Rencananya, ia akan menyerahkannya langsung di kantor.
Usai mandi dan mengenakan kemeja putih yang mencetak tegas lekuk tubuh atletisnya, Angga bergegas menuju garasi. Menjaga kebugaran bukan sekadar gaya hidup baginya, melainkan sebuah pertahanan diri atas "alasan masa lalu" yang terus mengejarnya.
Sementara itu, Lulu baru terbangun saat jarum jam menunjuk angka 11 siang. Ia panik luar biasa ketika menyadari ponselnya hilang. Mengingat perintah Angga yang mengizinkannya istirahat, Lulu justru tidak tenang. Pekerjaan menumpuk sudah memanggil-manggil di bayangannya.
"Ya Tuhan, ponselku ketinggalan di kantor!" serunya panik setelah mengingat-ingat kejadian semalam.
Tanpa membuang waktu, Lulu mandi kilat, mengenakan kacamata tebalnya dan bersiap pergi. Begitu membuka pintu kamar, ia hampir menabrak Lastri yang baru kembali dari membeli sarapan.
"Lu! Katanya kamu diantar cowok ganteng tadi subuh?" goda Lastri tanpa basa-basi.
Wajah Lulu memerah.
"I..itu Pak Angga... manajerku"
"Si Angry Bird yang suka kamu ceritain itu?!" Lastri melotot, lalu tertawa tebal.
"Eeh,, itu siapa lagi namanya.. Pak Angga, Kan ?"
"Cieee! Kamu suka ya sama dia?"
"Mana ada! Aku bukan tipenya, lagian dia galak banget" potong Lulu cepat sembari melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB.
"Udah ah, aku buru-buru!" Lulu mencubit gemas pipi sahabatnya lalu berlari kabur.
"Aduh! Awas ya, aku doain si Angry Bird beneran suka sama kamu!" teriak Lastri tertawa.
Suasana lantai divisi Real Estate siang itu tampak tegang. Indah keluar dari ruangan Angga dengan wajah ditekuk.
"Cie, dapat bonus apa lagi dari Pak Angga?" ledek Rama.
"Bonus dihukum, iya!" serapah Indah kesal.
"Aku dianggurin, disinisin! Padahal aku cuma pengen dianggap!"
"Ya kamu mikir dong, Ndah..." potong Rama tajam, menuangkan kopi.
"Salahmu itu besar dan berulang. Terima konsekuensinya, jangan malah minta diperhatikan kayak anak kecil. Lulu benar, kamu tuh harusnya belajar dari kesalahan"
Indah mengepalkan tangan, menatap sinis saat Lulu tiba di ruangan tak lama kemudian. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Indah menyambar tasnya dan pergi begitu saja.
...****************...
"Tumben terlambat, Lu? Katanya sakit?" tanya rekan yang lain dengan heran.
"Ponselku tertinggal semalam" jawab Lulu lugas, lalu bergegas menuju ruangan manajernya setelah bertanya pada Rama.
Tok... tok... tok...
"Masuk" sahut suara dingin dari dalam.
Lulu melangkah canggung ke dalam ruangan bernuansa gelap itu. Vika yang baru selesai menyerahkan berkas tersenyum pamit, meninggalkan Lulu berdua saja dengan Angga. Suasana seketika berubah menjadi canggung dan sarat tekanan.
"Sudah sehat?" tanya Angga tanpa mengalihkan pandangan dari dokumennya.
"S-sudah, Pak"
"Bagus. Saya tidak butuh karyawan manja. Hari ini pekerjaan kamu berlipat ganda," ceplos Angga ketus, menggeser ponsel tua Lulu di atas meja.
"Ini ponselmu. Lain kali jangan ceroboh"
"Terima kasih banyak, Pak..." Lulu bernapas lega, lalu bersiap pamit.
"Mau ke mana? Tugas semalam belum selesai. Bawa ini semua!" Angga menyodorkan setumpuk dokumen tebal yang hampir setinggi dada Lulu.
Lulu menelan ludah. Rasa simpati pada Angga semalam seketika menguap. Manajernya ini memang iblis tanpa perasaan! Dengan susah payah, Lulu mendekap tumpukan kertas itu hingga wajah dan pandangannya tertutup rapat.
"Berhenti!" panggil Angga tiba-tiba saat melihat satu lembar dokumen penting terjatuh di dekat kakinya.
Terkejut, Lulu memutar badannya dengan cepat. Malang, keseimbangannya hilang.
"Aah!"
Dokumen berhamburan ke udara. Sebelum tubuh Lulu menghantam lantai hard-wood yang keras, Angga bergerak kilat menahannya. Namun dorongan beban membuat mereka berdua roboh bersamaan!
Brak!
Kertas-kertas putih berterbangan bagai salju. Lulu jatuh tepat di atas dada bidang Angga. Kacamata Lulu miring dan jarak wajah mereka kini hanya terpaut beberapa sentimeter. Wajah Angga mengeras, napas hangat mereka beradu dalam keheningan yang mencekam.
Cklek!
Pintu ruang kerja mendadak terbuka tanpa ketukan.
"Pak Angga..Ini..." Kalimat Vika terputus di udara.
Di belakang Vika, berdiri seorang pria bertubuh jangkung dengan setelan jas mahal. Matanya yang tajam menatap pemandangan di lantai dengan kilatan permusuhan yang tak tersembunyi.
Angga mendongak, matanya bertabrakan langsung dengan pria itu.
"Riko...?" desis Angga dingin, menyebut nama pria yang paling tidak ingin ia lihat dalam hidupnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
Nisa Nisa
kayak nya udah ada rasa cuma pak Angga nya aja belum sadar, masih terjebak sama masa lalu
2026-08-26
1
Kartika Candrabuwana
oh, ternyata orang yang dikenal dan dibenci juga sepertinya. ada apa di masa lalunya?
2026-08-22
1
ginevra
galak kan karena posisinya jadi manager, coba kalau udah jadi pacar, pasti lembut lah.
2026-08-17
1