Episode 2

Bab 2: Lahir Kembali

Pipi Bu Yati terbakar.

Rasa panas itu begitu nyata sampai ia mengira neraka memang dimulai dari wajah sendiri. Kepala yang tadi pecah di ujung gang terasa berdenyut, tetapi kini bukan hujan yang membasahi kulitnya. Bukan tanah becek yang menempel di punggungnya.

Ia duduk di lantai ruang tengah rumah Pak Tono.

Di depannya, Watini berdiri dengan napas memburu. Tangannya masih terangkat, jari-jarinya merah setelah menampar wajah mertua sendiri.

"Ibu jangan pura-pura lemah!" bentak Watini. "Dari tadi diajak bicara baik-baik malah diam. Kalau memang kerja tetap itu mau dikasih ke Gus, ya kasih kompensasi ke Mas Anto!"

Bu Yati menatap perempuan itu.

Jantungnya berhenti sesaat, lalu berdetak terlalu keras.

Watini masih muda. Wajahnya belum kusam oleh kesusahan, perutnya belum buncit oleh kehamilan berikutnya yang kelak tidak sempat lahir. Anto berdiri di sampingnya dengan muka kesal, rambut masih hitam tebal. Bagus bersandar dekat pintu kamar, matanya licin seperti orang yang sudah menghitung untung rugi sebelum orang lain selesai bicara.

Dan di kursi rotan dekat meja, Pak Tono duduk sambil memegang gelas teh.

Hidup.

Hartono masih hidup.

Bu Yati menahan napas. Ruang tengah sempit itu berputar. Kalender lama di dinding menunjukkan tahun yang mustahil. Di rak televisi, ada foto keluarga yang dulu sudah lama dibuang setelah rumah tua dijual. Suara tukang sayur terdengar dari gang, bercampur adzan Dhuha dari musholla kecil.

Ini bukan malam hujan.

Ini pagi.

Pagi bertahun-tahun sebelum ia mati.

Pagi ketika Watini pernah menamparnya karena rebutan jatah kerja tetap.

Bu Yati menunduk melihat tangannya sendiri. Kulitnya masih keriput, tapi belum sekering malam kematian itu. Jari-jarinya masih kuat. Tidak ada darah di pelipis. Tidak ada lumpur. Hanya bekas tamparan di pipi yang panasnya merayap sampai ke telinga.

Ia kembali.

Allah memberinya ulang.

Untuk beberapa detik, seluruh suara di rumah itu menjauh. Yang terdengar hanya hujan dari masa depan, pintu yang dikunci Guntur, lampu rumah Anto yang padam, centang biru dari Bagus, dan nama Tari yang pecah di dalam dada.

Tari masih hidup.

Istri Bagus juga masih hidup.

Pak Tono belum mati.

Semua belum terlambat.

"Bu!" suara Anto memotong pikirannya. "Jangan diam saja. Tin benar. Kalau lowongan kerja tetap di PT Sandang Jaya itu Ibu kasih ke Gus, aku sebagai anak pertama dapat apa?"

Bu Yati mengangkat wajah pelan.

Anak pertama.

Dulu kata itu cukup untuk membuatnya mengalah. Anak pertama harus dibantu. Anak lelaki harus diutamakan. Anak perempuan jangan banyak berharap. Ibu harus nrimo, karena kalau ibu tidak mengalah, rumah akan ribut.

Sekarang kata itu hanya terdengar seperti ember kosong dipukul di telinganya.

"Kamu minta apa?" tanya Bu Yati.

Suaranya serak. Terlalu tenang.

Watini menyilangkan tangan. "Dua juta rupiah. Murah itu, Bu. Kerja tetap gajinya bisa empat juta sebulan. Kalau Gus yang dapat, masa Mas Anto nggak dapat bagian?"

Bagus langsung meluruskan badan. "Lho, Mbak Tin. Kok bawa-bawa aku? Ibu memang dari awal bilang lowongan itu buat aku."

"Makanya kamu enak!" Watini menoleh tajam. "Kamu belum punya tanggungan sebesar Mas Anto. Kami punya anak."

"Aku juga punya anak," balas Bagus, mulai panas. "Anakku juga masih kecil."

"Anak perempuan," cibir Watini.

Kalimat itu menampar bagian lain dari hati Bu Yati.

Anak perempuan.

Di kepalanya muncul wajah Tari kecil yang tersenyum sambil mengambil potongan tempe paling kecil. Muncul juga tubuh Tari yang tidak sempat ia lihat terakhir kali, hanya kabar dingin dari kampung bahwa anaknya mati saat melahirkan.

Tangan Bu Yati mengepal di pangkuan.

Pak Tono meletakkan gelas dengan suara pelan. "Sudah, sudah. Jangan ribut pagi-pagi. Tetangga bisa dengar."

Watini langsung menunjuk pipi Bu Yati. "Tadi Ibu yang bikin saya emosi, Pak. Saya ini cuma menantu. Dari pagi saya bicara baik-baik, tapi Ibu diam saja. Kalau Ibu adil, saya juga nggak akan sampai lepas tangan."

Lepas tangan.

Tamparan pada ibu mertua disebut lepas tangan, seolah tangannya tersandung angin.

Pak Tono menghela napas, bukan pada Watini, melainkan pada Bu Yati. "Bu'e, kamu juga. Kenapa diam saja dari tadi? Bicarakan yang enak. Kalau Anto dan Tin merasa kurang adil, ya kita cari jalan tengah."

Bu Yati menatap laki-laki itu lama.

Wajah yang sama. Nada yang sama. Gelas teh di tangan yang sama. Selama puluhan tahun, Hartono selalu berdiri di tengah, tapi tubuhnya condong ke orang yang paling keras bersuara. Kalau Bu Yati menangis, ia menyuruh diam. Kalau anak-anak menuntut, ia menyuruh Bu Yati mengalah.

"Jalan tengah apa?" tanya Bu Yati.

Pak Tono tampak lega karena istrinya akhirnya bicara. "Begini. Lowongan kerja itu tetap kasih ke Gus dulu. Untuk Anto, kita kasih uang dua juta sedikit-sedikit. Kalau belum cukup, kamu bantu-bantu dulu di rumah Pak Wiro. Bu Yem katanya butuh orang bantu masak dan cuci karena mereka mau ada acara keluarga. Anggap saja bentuk baik kita sebagai besan."

Ruang tengah mendadak sunyi.

Watini mengangkat dagu, jelas puas. Anto membuang napas, seperti merasa keputusan itu wajar. Bagus menunduk, menyembunyikan senyum tipis.

Bu Yati hanya menatap suaminya.

Dulu, pada pagi yang sama, ia menelan kalimat itu. Ia pergi ke rumah keluarga Watini tiga hari berturut-turut, mencuci piring, menyapu halaman, mengulek bumbu, mendengar Bu Yem menyebutnya mertua tidak tahu diri. Setelah itu, uang dua juta tetap keluar dari tabungan yang seharusnya ia simpan untuk Tari.

Uang untuk Tari.

Uang yang dulu ia niatkan sebagai bekal kecil kalau anak perempuannya menikah baik-baik atau mencari kerja di kota.

Uang itu habis untuk menutup mulut Anto.

Dan Tari mati.

Panas di pipi Bu Yati pelan-pelan turun ke dada, lalu berubah menjadi bara.

"Pak Tono," katanya.

Pak Tono mengerutkan kening. Biasanya Bu Yati memanggilnya Pak'e. Bukan Pak Tono.

"Kalau rumah Pak Wiro butuh orang masak dan cuci," lanjut Bu Yati, "kenapa bukan kamu yang pergi?"

Anto melongo. Bagus menoleh cepat. Watini menurunkan tangan dari dada.

Pak Tono seperti salah dengar. "Apa?"

"Kamu kan besan juga." Bu Yati bangkit dari lantai. Lututnya berdenyut, tapi tubuhnya berdiri tegak. "Kamu laki-laki, tenagamu lebih kuat. Pergilah. Cuci piring di sana. Sapu halaman di sana. Kalau Bu Yem minta dipijat, pijat sekalian."

"Maryati!" Pak Tono memerah.

Bu Yati tersenyum tipis. "Malu?"

"Kamu bicara apa ini?"

"Aku tanya, malu?" Suara Bu Yati makin jelas. "Kalau kamu malu disuruh jadi pembantu di rumah besan, kenapa mulutmu ringan sekali menyuruh istrimu pergi?"

Watini maju setengah langkah. "Bu, jangan kasar sama Bapak. Kita ini bicara baik-baik."

Bu Yati menoleh padanya. "Baik-baik?"

Ia menyentuh pipinya sendiri.

"Ini tanganmu, kan?"

Watini sempat gentar, tapi cepat membusungkan dada. "Saya menantu, tapi saya juga manusia. Kalau disudutkan terus, siapa yang nggak emosi?"

"Kamu manusia," ulang Bu Yati pelan. "Aku apa? Keset?"

"Ibu jangan membesar-besarkan. Cuma tamparan sekali."

Cuma.

Kata itu mematahkan sisa kesabaran Bu Yati.

Ia melangkah maju.

Watini belum sempat mundur ketika telapak tangan Bu Yati menghantam pipinya.

Plak!

Suara itu meledak di ruang tengah.

Watini terhuyung, memegang wajahnya dengan mata membelalak. Anto refleks maju. "Ibu!"

Plak!

Tamparan kedua mendarat di pipi Anto.

Anak sulung itu membeku.

Bu Yati tidak berhenti. Ia menarik kerah baju Anto, menatap mata anak yang dulu pernah ia gendong sambil menahan demam semalaman.

"Kamu mau dua juta?" tanyanya.

"Bu, lepas!"

Plak!

"Uang itu buat Tari."

Plak!

"Adik perempuanmu."

Plak!

"Yang kamu anggap rugi karena dia lahir bukan laki-laki."

Anto mencoba menangkis, tapi Bu Yati lebih cepat. Bukan karena tubuhnya lebih muda. Bukan karena ia tiba-tiba kuat seperti pendekar. Tapi karena kemarahan puluhan tahun membuat tangannya tidak lagi gemetar.

"Ibu sudah tua, ya?" Bu Yati mendorong dada Anto dengan satu tangan. "Makanya gampang kalian hitung. Gampang kalian suruh kerja. Gampang kalian minta uang."

Plak!

Anto mundur selangkah. Watini menjerit, tapi tidak berani mendekat.

"Dua juta itu kamu sebut kompensasi." Bu Yati menampar lagi, membuat wajah Anto menoleh ke samping. "Padahal itu uang yang kusimpan buat adikmu. Buat Tari kalau suatu hari dia butuh ongkos pulang, butuh baju layak, butuh pegangan agar tidak bergantung pada laki-laki sembarangan."

"Bu, aku nggak tahu!" Anto berusaha bicara.

"Kamu memang tidak pernah mau tahu."

Plak!

"Yang kamu tahu cuma bagianmu. Hakmu. Urutanmu sebagai anak pertama."

Plak!

"Saat adikmu disuruh mengalah, kamu diam. Saat istrimu menampar ibumu, kamu juga diam. Tapi saat uang tidak masuk ke tanganmu, mendadak kamu paling lantang."

Wajah Anto merah bercampur malu. Untuk pertama kalinya sejak ia menikah, ia tidak bisa memakai tubuh Watini sebagai tameng. Semua kalimat ibunya mendarat tepat di depan Pak Tono dan Bagus.

Pak Tono berdiri panik. "Bu'e, sudah! Kamu kesetanan apa?"

Bu Yati menoleh, matanya merah. "Aku baru sadar."

Kata itu membuat Pak Tono diam sesaat.

"Sadar kalau selama ini aku yang kesetanan karena terus menganggap kalian keluarga."

Bagus menelan ludah.

Watini menjerit, "Mas Anto, lihat ibumu! Dia mukul kamu!"

Anto yang pipinya merah langsung terdorong oleh suara istrinya. Ia mengangkat tangan, mungkin hendak menahan Bu Yati, mungkin hendak mendorongnya.

Bu Yati melihat gerakan itu.

Dalam ingatannya, tangan anak-anak lelaki itu kelak tidak membuka pintu. Tangan mereka kelak menghitung uang hasil rumah tua. Tangan mereka kelak menunjuk saudara lain saat ditanya siapa yang mau merawat ibu.

Sekarang tangan itu berani terangkat di depannya.

Bu Yati menangkap pergelangan Anto, lalu mendorongnya keras ke arah Watini. Pasangan itu jatuh bertabrakan ke kursi bambu. Kursi berderit. Gelas teh Pak Tono tumpah ke lantai.

"Ya Allah!" Pak Tono berteriak.

Bagus cepat mundur sampai punggungnya menempel ke lemari.

Bu Yati membungkuk, meraih rambut Watini.

"Aduh! Lepas, Bu! Sakit!"

"Sakit?" Bu Yati menariknya bangun. "Saat kamu menampar ibu mertua, kamu kira rasanya seperti dielus?"

Watini menjerit memanggil Anto. Anto berusaha bangun, tapi Bu Yati menendang kaki kursi hingga menghalangi jalannya. Semua terjadi begitu cepat sampai Pak Tono hanya bisa berputar-putar seperti ayam kehilangan arah.

"Bu'e, jangan bikin malu!" katanya.

Bu Yati menyeret Watini ke arah pintu.

"Justru hari ini aku mau semua orang lihat."

"Bu!" Bagus akhirnya bersuara. "Kalau ribut sampai luar, satu RT tahu!"

Bu Yati berhenti di ambang pintu, menoleh pada anak keduanya.

"Bagus. Kamu diam kalau masih mau gigimu utuh."

Bagus langsung mengatupkan mulut.

Watini mencakar tangan Bu Yati, tapi cengkeraman perempuan tua itu seperti besi. Pintu depan dibuka. Cahaya pagi masuk bersama bau gorengan dari warung ujung gang. Di seberang rumah, dua ibu-ibu yang sedang membeli sayur berhenti mengobrol. Seorang anak kecil di dekat pos ronda ikut menoleh.

Bu Yati menarik napas.

Inilah pintu yang dulu selalu ia jaga agar aib keluarga tidak keluar.

Hari ini, ia sendiri yang membukanya.

"Mau semua orang lihat?" katanya tepat di telinga Watini. "Ayo. Kita tunjukkan siapa yang berani pukul mertua."

Lalu Bu Yati menyeret Watini keluar.

Di depan gang Kampung Sumber, ibu-ibu yang tadi hanya melirik mulai mendekat. Satu orang mengangkat HP. Yang lain menutup mulut, matanya membesar.

Pintu rumah Pak Tono terbuka lebar.

Dan seluruh kampung melihat Bu Yati berdiri dengan satu tangan mencengkeram rambut Watini.

Terpopuler

Comments

Dewiendahsetiowati

Dewiendahsetiowati

bagus Bu Yati hajar para benalu itu

2026-07-28

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
Episodes

Updated 131 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!