Episode 3

Bab 3: Ke Rumah Mertua

Dan seluruh kampung melihat Bu Yati berdiri dengan satu tangan mencengkeram rambut Watini.

Pagi yang semula biasa saja langsung pecah seperti piring jatuh.

Ibu-ibu yang tadi membeli bayam berhenti di tengah jalan. Tukang sayur mematikan suara klakson kecilnya. Dari warung depan gang, dua orang keluar sambil mengelap tangan ke celemek. Mata mereka membesar melihat Watini, menantu yang biasanya paling nyaring bicara, kini setengah terseret dengan rambut dalam genggaman ibu mertuanya.

"Bu Yati?" salah satu tetangga berseru ragu. "Ya Allah, ada apa ini?"

Watini menutup wajah dengan kedua tangan. "Lihat, Bu! Ibu mertuaku gila! Aku dipukul!"

Bu Yati menarik rambutnya sedikit lebih kuat. Watini langsung meringis.

"Tadi waktu tanganmu menampar pipiku, kamu tidak teriak gila," kata Bu Yati lantang. "Sekarang baru malu?"

Suara itu cukup keras untuk membuat pintu-pintu rumah lain terbuka.

Anto keluar tergesa, pipinya merah sebelah. Pak Tono berdiri di belakangnya dengan wajah pucat. Bagus tidak ikut mendekat. Ia hanya muncul di ambang pintu, matanya menghitung jumlah tetangga yang mulai berkumpul.

"Bu'e, masuk dulu," desis Pak Tono. "Jangan bikin tontonan."

Bu Yati menoleh pelan. "Tontonan? Waktu istrimu disuruh jadi pembantu di rumah besan, itu bukan tontonan? Waktu menantumu menampar ibu mertua di dalam rumah, itu bukan aib?"

Beberapa ibu langsung saling pandang.

"Menantu mukul mertua?"

"Serius?"

"Kok bisa?"

Satu ponsel terangkat. Lalu satu lagi. Dalam hitungan detik, kamera-kamera kecil itu seperti mata baru yang tidak bisa dipaksa tutup.

Watini makin panik. "Jangan rekam! Jangan rekam!"

"Rekam saja," ujar Bu Yati. "Biar kalau nanti ada yang memutar cerita, videonya sudah ada."

Kalimat itu membuat Watini terdiam.

Dulu Bu Yati takut sekali pada omongan tetangga. Ia menyapu halaman lebih pagi agar tidak disebut malas. Ia menahan lapar agar anak-anak tetap terlihat terurus. Ia tersenyum pada orang yang menyindir, karena Pak Tono selalu berkata keluarga baik-baik tidak membuka aib.

Hari ini, aib itu ia angkat sendiri ke tengah gang.

"Jalan," perintah Bu Yati.

"Ke mana?" Watini menangis kesal.

"Ke rumah orang tuamu."

Wajah Watini berubah. "Apa?"

"Katanya ibumu butuh orang bantu masak dan cuci. Katanya bapakmu keluarga terhormat. Ayo. Kita tanya langsung, menantu seperti apa yang mereka ajari sampai berani memukul ibu mertuanya."

Anto langsung maju. "Bu, jangan ke sana. Ini urusan rumah kita."

Bu Yati menatapnya. "Kamu baru ingat ini rumah kita setelah istrimu mau kuantar pulang?"

Anto tercekat.

Pak Tono mencoba meraih lengan Bu Yati, tapi ia menepis tangan itu. "Kalau kamu malu, tutup saja mukamu pakai sarung. Aku tidak malu lagi."

Mereka berjalan melewati gang.

Bukan berjalan sebenarnya. Watini terseret, kadang tersandung sandal sendiri, kadang memaki pelan, kadang memohon pada Anto agar menolong. Anto mengikuti dengan wajah kusut. Pak Tono berjalan di belakang sambil berkali-kali meminta tetangga bubar, tetapi tidak ada yang benar-benar pergi. Beberapa ibu-ibu mengikuti dari jarak aman. Ada yang mengirim voice note ke grup RT. Ada yang mengetik cepat di WhatsApp arisan.

Kabar di Kampung Sumber bergerak lebih cepat daripada angin.

Saat mereka tiba di rumah orang tua Watini, halaman depan sudah ada beberapa tamu. Sebuah motor matic baru terparkir rapi. Di ruang tamu, tampak keluarga lain sedang duduk, mungkin membicarakan perjodohan adik laki-laki Watini. Ada piring kue kering di meja, gelas teh manis, dan senyum sopan yang langsung beku saat Bu Yati masuk ke halaman sambil menyeret anak perempuan tuan rumah.

Ibu Watini keluar lebih dulu.

"Astaghfirullah! Tin!" jeritnya. "Apa-apaan ini, Bu Yati? Lepaskan anak saya!"

Bu Yati melepaskan rambut Watini begitu saja. Watini jatuh terduduk di ubin teras.

Namun sebelum siapa pun sempat bicara lagi, Bu Yati menepuk dadanya sendiri lalu menangis keras.

Tangisnya pecah, panjang, menyayat, sampai semua orang yang tadi siap memarahinya justru mundur setengah langkah.

"Ya Allah, lihatlah nasibku!" ratap Bu Yati sambil duduk di teras. "Aku membesarkan anak lelaki sampai besar, menikahkan dia baik-baik, tapi apa balasannya? Menantuku menampar aku di rumahku sendiri!"

Ibu Watini kaget. "Jangan sembarangan bicara!"

"Sembarangan?" Bu Yati mengangkat wajah, air matanya masih jatuh, tapi matanya tajam. "Pipiku masih panas. Kalau tidak percaya, tanya tetangga. Banyak yang lihat aku keluar setelah dipukul. Videonya juga ada."

Ibu-ibu yang mengikuti dari Kampung Sumber langsung mengangguk-angguk.

"Saya lihat sendiri Bu Yati keluar sambil pipinya merah."

"Mbak Tin juga teriak jangan direkam."

"Kalau tidak salah, ada urusan kerja tetap itu."

Wajah ibu Watini berubah merah. Ia menoleh ke anaknya. "Tin?"

Watini menangis. "Mak, aku cuma emosi. Ibu itu tidak adil. Lowongan kerja dikasih ke Gus, Mas Anto tidak dapat apa-apa."

Ayah Watini keluar dari ruang tamu. Laki-laki itu berusaha terlihat tenang, tetapi matanya gelisah melihat tamu-tamu yang mulai berdiri.

"Bu Yati," katanya dengan suara ditahan. "Masuk dulu. Jangan ribut di depan orang."

Bu Yati memukul lantai teras dengan telapak tangan.

"Justru di depan orang aku mau bicara. Anak perempuanmu memukul aku. Suamiku malah menyuruh aku datang ke rumah ini untuk masak dan cuci sebagai ganti dua juta rupiah. Aku ini ibu mertua atau pembantu gratis?"

Tamu perempuan di ruang tamu saling pandang. Salah satunya, perempuan berkerudung krem yang duduk paling dekat pintu, menatap adik laki-laki Watini dengan ragu.

Bu Yati melihat itu.

Ia mengusap air mata, lalu menatap pemuda itu dari kepala sampai kaki. Dalam ingatannya, laki-laki itu kelak membuat banyak masalah. Tabiatnya kasar, mulutnya manis hanya saat ada calon mertua. Bu Yati tidak perlu menyebut masa depan. Cukup menusuk bagian yang sekarang terlihat.

"Dan kamu," katanya pada adik Watini. "Kalau keluargamu menganggap perempuan tua bisa disuruh-suruh dan ditampar, bagaimana nanti kamu memperlakukan istrimu? Baru calon saja sudah duduk seperti raja, teh diambilkan, kue disodorkan. Jangan-jangan setelah menikah, perempuan juga kamu anggap barang rumah."

Pemuda itu berdiri tersinggung. "Lho, kok saya dibawa-bawa?"

Perempuan berkerudung krem langsung menunduk. Ibunya berbisik sesuatu, lalu berdiri dengan wajah kaku.

"Sepertinya kami pulang dulu," kata sang ibu. "Urusan keluarga ini... kami tidak enak ikut mendengar."

Ayah Watini tercekat. "Lho, Bu, tunggu dulu. Ini salah paham."

Namun keluarga tamu itu sudah berjalan keluar. Pemuda tadi ingin mengejar, tetapi ibunya sendiri menahan lengannya dengan tajam.

Wajah ibu Watini berubah makin buruk.

"Bu Yati!" bentaknya. "Kamu sengaja merusak acara anak saya?"

Bu Yati berhenti menangis. Tangisnya hilang secepat kompor dimatikan.

"Anakmu merusak wajahku dulu."

Anto yang sejak tadi diam akhirnya bersuara lemah, "Mak, sudah. Kita pulang saja."

Watini menoleh padanya, marah. "Pulang? Setelah aku dipermalukan begini?"

Ibu Watini menunjuk Anto. "Kalau keluargamu memang tidak bisa menghargai anak saya, lebih baik cerai saja! Anak saya masih bisa hidup tanpa kamu."

Pak Tono langsung panik. "Jangan sampai begitu. Kita keluarga. Jangan bicara cerai."

Bu Yati tertawa pendek.

Semua orang menoleh.

"Cerai?" Ia berdiri pelan. "Silakan."

Watini membeku.

Anto seperti kehilangan tulang.

Pak Tono melotot. "Bu'e!"

Bu Yati tidak memedulikannya. "Kalau anak perempuanmu mau cerai, bawa pulang. Aku malah lega. Tapi sebelum itu, tamparan tadi harus dibayar."

Ayah Watini menyipit. "Maksudnya?"

"Ganti rugi."

"Berapa?"

"Delapan juta rupiah."

Halaman langsung riuh.

"Delapan juta?"

"Bu Yati, itu kebanyakan."

"Tamparan kok mahal amat."

Bu Yati menoleh pada para ibu yang berbisik. "Murah. Kalau aku lapor ke Polres, visum, pakai UU PKDRT, urusannya bisa lebih mahal. Belum lagi video ini masuk grup RT, grup arisan, sampai saudara-saudara mereka tahu anak perempuan rumah ini memukul mertua."

Ayah Watini menelan ludah. Ibu Watini masih ingin memaki, tapi suaminya mengangkat tangan memberi isyarat diam.

Orang seperti mereka paling takut bukan pada salah, melainkan pada malu yang menyebar.

"Empat juta," kata ayah Watini akhirnya. "Saya kasih empat juta. Selesai sampai sini."

Bu Yati menggeleng. "Empat juta uang, satu informasi kerja."

"Kerja apa lagi?"

"Aku dengar keluarga kalian punya kenalan di mal. Ada toko pakaian yang butuh pegawai perempuan lulusan SMA. Beri alamat dan nomor kontaknya."

Watini mendongak curiga. "Buat siapa?"

"Bukan urusanmu."

Tentu saja untuk Tari.

Uang di tangan, jalan kerja di depan mata. Kali ini anak perempuannya tidak akan dibiarkan tenggelam di kampung orang.

Perundingan berlangsung alot hampir satu jam. Ibu Watini berkali-kali mengumpat, Watini menangis seolah ia korban terbesar, Anto hanya berdiri seperti suami tanpa suara. Pak Tono beberapa kali mencoba menurunkan angka, tetapi setiap kali ia bicara, Bu Yati menatapnya sampai ia diam sendiri.

Akhirnya sebuah amplop cokelat dikeluarkan dari lemari. Empat juta rupiah dihitung di atas meja teras, lembar demi lembar. Setelah itu, ayah Watini menulis alamat toko di sebuah pusat perbelanjaan kecil Cirebon dan nomor pemiliknya di kertas sobekan kalender.

Bu Yati menghitung uang itu dua kali.

Lalu ia memasukkannya ke dalam tas kain lusuh yang ia bawa dari rumah.

"Mulai hari ini," katanya pada Watini, "kalau tanganmu gatal mau menampar orang tua, ingat harga satu tamparanmu."

Ibu Watini mendorong Anto dan Watini ke arah jalan. "Pergi! Gara-gara kalian, acara adikmu bubar!"

Watini menangis makin keras. Anto ikut terseret, kali ini bukan oleh Bu Yati, melainkan oleh kemarahan keluarganya sendiri.

"Mak, aku ini anakmu!" Watini memekik.

"Justru karena kamu anakku, aku malu!" balas ibunya. "Apa kurang ajarku mengajarimu sampai kamu berani mengangkat tangan ke mertua? Kamu pikir orang-orang akan menyalahkan siapa? Mereka akan bilang rumah ini tidak bisa mendidik anak perempuan!"

Ayah Watini juga tidak lagi memakai suara halus. Ia menunjuk Anto tepat di dada.

"Dan kamu. Laki-laki macam apa membiarkan istrimu bikin rusuh sampai calon besan adik iparmu kabur? Kamu mau uang dua juta, kan? Lihat sekarang. Uang empat juta keluar dari lemari saya karena kalian berdua tidak bisa menahan mulut dan tangan."

Anto menunduk, wajahnya makin merah. "Pak, saya..."

"Jangan panggil saya Pak kalau cuma mau bawa rugi."

Kalimat itu membuat ibu-ibu yang menonton berdesis pelan. Watini yang tadi masih berani menangis mendadak terisak tanpa suara. Selama ini ia selalu pulang ke rumah orang tuanya dengan dada tegak, yakin keluarganya akan membela apa pun yang ia lakukan. Hari ini, untuk pertama kalinya, pintu rumah itu juga terasa seperti menolaknya.

Bu Yati melihat pemandangan itu tanpa berkedip.

Dulu ia yang selalu dipojokkan dua keluarga sekaligus. Hari ini, Anto dan Watini berdiri di tengah halaman seperti anak kecil yang ketahuan mencuri uang warung.

Rasanya tidak manis.

Rasanya panas, tajam, dan membuat napasnya lebih lega.

Bu Yati berjalan pulang tanpa menoleh. Di belakangnya, ibu-ibu masih berbisik. Beberapa menatapnya dengan takut, beberapa dengan kagum. Bu Yati tidak peduli.

Di ujung gang, ia berhenti di bawah pohon mangga kecil. Tangannya meraba tas kain, memastikan amplop itu masih ada. Empat juta rupiah. Satu alamat kerja. Dua benda yang dulu tidak ia pertahankan, kini terasa seperti nyawa baru untuk Tari.

Ponsel murahnya bergetar.

Bu Yati mengeluarkannya.

Di layar retak itu, nama Tari muncul.

Pesan WhatsApp baru masuk.

Mama, aku mau nikah sama dia. Nggak apa-apa kan?

Jari Bu Yati langsung dingin.

Amplop empat juta di tasnya terasa mendadak berat seperti batu.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
Episodes

Updated 131 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!