Episode 4

Bab 4: Uang Gaji dan Janda Sri

Amplop empat juta di tasnya terasa mendadak berat seperti batu.

Bu Yati berdiri di bawah pohon mangga kecil cukup lama sampai layar ponselnya redup sendiri. Pesan Tari masih seperti duri yang tertancap di matanya.

Mama, aku mau nikah sama dia. Nggak apa-apa kan?

Dulu, Bu Yati menjawab terlambat. Dulu ia berkata pelan lewat telepon, "Kalau kamu sudah yakin, Ibu ikut saja." Kalimat itu terdengar sabar, terdengar seperti restu, padahal sebenarnya ia hanya takut ribut dengan Pak Tono dan anak-anak lelaki.

Kali ini, ibu jarinya menekan layar dengan mantap.

Tunggu Mama. Jangan putuskan apa pun sebelum Mama datang.

Pesan itu terkirim dengan centang satu.

Sinyal Tari di kampung memang sering hilang. Justru itu yang membuat dada Bu Yati makin sesak. Anak perempuannya jauh, sendirian, dan mungkin sedang dikepung mulut-mulut yang menyuruhnya menerima nasib.

Bu Yati menyimpan ponsel. Sebelum berangkat menjemput Tari, ia butuh uang, kartu gaji, dan rumah yang tidak lagi bisa mengikat kakinya.

Sore turun saat ia kembali ke rumah Pak Tono. Anto dan Watini belum pulang. Bagus duduk di kursi bambu, pura-pura memperbaiki charger HP, tapi matanya langsung menempel ke tas kain Bu Yati. Pak Tono mondar-mandir di ruang tengah seperti orang kehilangan tempat duduk.

"Bu'e," katanya begitu melihat Bu Yati masuk. "Tadi kamu keterlaluan. Sampai satu kampung tahu."

Bu Yati meletakkan tas di atas meja. "Bagus. Berarti besok tidak perlu menjelaskan lagi."

Pak Tono terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.

Sebelum ia menemukan kalimat baru, pintu depan dibuka kasar. Guntur masuk dengan seragam SMP kusut, rambut basah keringat, tas disampirkan satu bahu.

"Mak, minta uang seratus lima puluh ribu," katanya tanpa salam.

Bu Yati menatap anak bungsunya.

Tur. Anak yang pada malam kematiannya mengunci pintu lebih rapat.

Wajah remajanya masih penuh kesal, belum ada garis lelah laki-laki dewasa. Di matanya ada manja yang dulu selalu membuat Bu Yati luluh.

"Untuk apa?" tanya Bu Yati.

"Les tambahan. Guru minta bayar hari ini."

"Nama gurunya siapa?"

Guntur mengerutkan kening. "Lho, Mak kok nanya?"

"Kalau untuk sekolah, Ibu antar langsung besok pagi. Sekalian minta kuitansi."

Guntur langsung mendecak. "Ribet amat! Teman-teman bayar sendiri."

"Teman-temanmu bayar les atau bayar nongkrong di warnet belakang pasar?"

Wajah Guntur berubah. Bagus yang duduk di kursi hampir tertawa, tapi cepat menunduk saat Bu Yati meliriknya.

"Mak nggak percaya sama aku?"

"Tidak."

Jawaban pendek itu membuat ruang tengah hening.

Guntur seperti ditampar tanpa tangan. "Ya sudah! Pelit sekarang!" Ia membanting tas ke kursi, lalu mengambilnya lagi. "Aku keluar."

"Keluar boleh," kata Bu Yati. "Pulang sebelum Isya. Kalau lewat, pintu kukunci."

Guntur berhenti di ambang pintu, menoleh dengan mata menyala. "Mak berubah."

"Iya."

Bu Yati menatapnya tanpa berkedip. "Lebih baik kamu tahu dari sekarang."

Guntur pergi sambil menghentak sandal. Pintu bergetar saat tertutup. Pak Tono langsung menghela napas panjang.

"Anak masih kecil jangan dikerasi begitu. Nanti makin liar."

Bu Yati berbalik padanya. "Yang bikin anak liar itu uang mudah dan bapak yang selalu bilang sudahlah."

"Maryati..."

"Keluarkan kartu gajimu."

Pak Tono membeku. "Apa?"

"Kartu gaji. Buku tabungan. PIN mobile banking. Semua."

Bagus benar-benar berhenti memainkan charger.

Pak Tono tertawa kaku. "Kamu ini habis dari rumah besan langsung mau rampok suami sendiri?"

"Bukan rampok. Mulai hari ini, uang rumah dipegang aku."

"Selama ini juga aku kasih uang belanja."

Bu Yati mengambil ponsel Pak Tono dari meja. Laki-laki itu refleks ingin merebut, tapi Bu Yati mengangkat wajah.

"Mau aku buka di depan Bagus atau di depan satu RT?"

Pak Tono menelan ludah. Ia tahu istrinya hari ini bukan lagi perempuan yang takut pada pintu terbuka.

"PIN," kata Bu Yati.

"Itu privasi."

"PIN."

Bagus batuk pelan. "Pak, kasih saja. Daripada nanti ramai lagi."

Pak Tono menatap anaknya marah, tapi akhirnya menyebut angka dengan suara tertahan.

Bu Yati membuka aplikasi bank. Riwayat transfer muncul. Ia tidak perlu mencari lama. Nama Sri berkali-kali muncul di layar, jumlahnya tidak besar sekali, tapi rutin. Dua ratus ribu. Tiga ratus ribu. Lima ratus ribu menjelang Lebaran. Ada catatan kecil dari Pak Tono sendiri: buat obat, buat beras, buat anak.

Bu Yati memutar layar ke arah Bagus.

"Lihat."

Bagus mendekat, alisnya naik. "Sri? Janda Sri?"

Pak Tono langsung mengeras. "Dia tetangga butuh bantuan. Suaminya sudah tidak ada."

"Aku juga istrimu," kata Bu Yati. Ia menarik ujung dasternya yang sudah pudar. Jahitan di ketiaknya terlihat jelas. "Tapi aku pakai daster bolong. Dia pakai batik baru waktu pengajian minggu lalu, ya?"

Wajah Pak Tono merah. "Jangan fitnah."

"Transfer ini fitnah?"

Bu Yati menggulir layar lagi. Ada lebih banyak daripada yang ia ingat. Uang kecil yang dulu membuatnya menahan beli minyak goreng, uang kecil yang membuat Tari tidak punya ongkos pulang saat butuh, uang kecil yang setelah bertahun-tahun menjadi lubang besar di hidupnya.

"Mulai bulan ini," kata Bu Yati, "gajimu masuk ke aku. Kamu pegang lima ratus ribu untuk bensin dan makan di bengkel. Kalau kurang, bawa kuitansi."

"Aku kepala keluarga!"

"Kepala keluarga yang mengirim uang ke janda sementara anak perempuan sendiri mau dijual nasibnya ke kampung orang?"

Pak Tono tersentak. "Tari kenapa?"

"Itu urusanku. Karena selama ini kalau soal Tari, kamu selalu bilang nanti."

Bagus pelan-pelan duduk lebih tegak. "Bu, soal lowongan kerja..."

Bu Yati menoleh. Senyum Bagus langsung muncul, manis dan hati-hati.

"Aku pikir, kalau aku dapat kerja tetap, gajiku bisa bantu rumah. Aku juga bisa bantu Ibu jemput Tari nanti."

"Tidak."

Senyum Bagus patah sedikit. "Tidak bagaimana?"

"Lowongan itu tidak untuk kamu. Tidak untuk Anto. Tidak untuk siapa pun dulu. Aku simpan."

"Bu, dari awal katanya buat aku."

"Dari awal aku juga bodoh. Sekarang tidak."

Bagus diam. Di matanya ada hitungan baru, lebih tajam dari sebelumnya.

Bu Yati mengambil kartu ATM dari dompet Pak Tono, lalu memasukkannya ke dalam tas kain bersama amplop empat juta.

"Aturan rumah mulai malam ini," katanya. "Siapa pun yang tinggal di sini dan sudah punya penghasilan, setor lima ratus ribu sebulan untuk makan, listrik, air, dan beras. Yang tidak setor, jangan buka tudung saji seenaknya."

Pak Tono duduk lemas di kursi. Bagus tidak protes lagi, tapi rahangnya bergerak kecil.

Malam belum benar-benar turun ketika suara azan Magrib terdengar dari musholla. Bu Yati menutup tas kainnya rapat. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, uang rumah berada di tangannya.

Namun lega itu tidak sempat tumbuh.

Bagus tiba-tiba melihat ke arah pintu belakang. "Ratih belum pulang dari siang."

Bu Yati mengangkat kepala.

"Melati juga nggak ada," lanjut Bagus, wajahnya perlahan mengeras. "Dia bawa Mel ke rumah ibunya pagi tadi."

Di luar, langit berubah gelap.

Dan kali ini, dingin yang merayap di punggung Bu Yati bukan karena hujan.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
Episodes

Updated 131 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!